
"Akhirnya mereka bisa berduaan juga..." Sara berjalan sambil tersenyum kegirangan sambil membayangkan jika kedua sahabatnya itu pasti kini sedang bermesraan.
Sara sebenarnya tidak tahu ingin pergi kemana, tapi berhubung dirinya sudah tidak ada pilihan lain ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan santai dengan berkeliling ke tempat-tempat, yang dulu pernah sangat berarti baginya semasa kecil. Kaki Sara yang ramping dengan tubuh yang sedikit mulai tak bisa leluasa itu bergerak mengikuti kata hatinya. Ia melangkah menikmati udara segar, hingga langkah kaki membawanya mendatangi taman kanak-kanak tempatnya dimana Sara dulu bersekolah.
Setelah itu Sara berhenti di pinggiran danau, tempat dimana dulu ayah dan ibunya sering membawanya naik perahu. Sara memandangi danau yang indah itu, terlihat banyak bebek dan burung-burung air yang hinggap menghiasi permukaan danau. Sara pun tak kuasa menghirup udara dalam-dalam, merasakan dan mengenang kembali kenangan masa kecilnya yang dulu dihabiskannya di Cardia. "Hum... bernostalgia memang begitu menyenangkan. Meski tempat-tempatnya sudah mengalami banyak perubahan tapi, tetap saja memori indah masa kecilku tidak akan hilang dengan kota ini."
Setelah beberapa saat menikmati keindahan danau, Sara pun kembali berjalan menyusuri kota Cardia, dan tanpa sadar langkahnya malah terhenti di sebuah taman kecil di pinggiran kota Cardia yang sangat tidak asing bagi Sara. Ia pun menoleh melihat taman itu, seolah nyaris tidak ada yang berubah, persis seperti belasan tahun lalu saat Sara masih kecil. Kakinya pun seperti tertarik untuk melangkah ke area taman tersebut. Dilihatnya pohon ceri yang rindang berdiri kokoh di hadapannya. Siapa sangka pohon tua tersebut ternyata masih kokoh hingga saat ini. Sara pun menyunggingkan senyumnya, ia mengangkat satu tangannya lalu menyentuh batang pohon ceri tersebut. "Aku tidak menyangka pohon ini masih ada hingga detik ini."
"Aku juga tidak menyangka!" Tiba-tiba seseorang dari arah belakang Sara berujar. Mata Sara pun membulat, ia langsung bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan pemilik suara tersebut? Sara pun langsung menggerakan tubuhnya, membalikan badannya guna mengetahui siapa sebenarnya pemilik suara tersebut. Sara akhirnya berbalik badan, dan siapa sangka saat Sara membalikan tubuh, dirinya langsung melihat sosok pria yang kini tengah mengulum senyum kepadanya.
"Renji?" Ujar Sara yang tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Renji di Cardia.
Namun Renji tidak menjawab apapun, ia masih terus saja tersenyum memandangi Sara yang berada di hadapannya. Tak lama, Renji malah melangkahkan kakinya dan menghampiri Sara.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Sara seolah langsung penasaran dengan kehadiran Renji di kota kelahirannya itu. Apa mungkin dia mengikutiku? Tak pelak pertanyaan itu langsung hinggap di dalam benak Sara. Tapi Sara berusaha menepisnya, bagaimanapun ia tidak bisa langsung dengan mudah menyimpulkan hal itu.
Ehem! "Maaf aku tadi mengagetkanmu!" Renji akhirnya buka suara.
"Ya... tidak masalah. Jadi...?"
Renji tertawa kecil lalu menghela napas. "Aku tidak tahu ini jodoh atau kebetulan, tapi... kau masih ingat tempat ini?"
Sara mengangkat alisnya, ia mencoba menelaah perkataan Renji.
"Mungkin kau lupa, karena itu memang sudah lama sekali bukan?" Renji kembali tersenyum, namun kali ini senyumnya nampak getir. Sebaliknya, Sara justru tertawa renyah menanggapi perkataan Renji barusan.
"Kenapa kau tertawa?" Ujar Renji yang aneh melihat reaksi Sara terhadapnya.
"Oh ayolah Renji, kau itu serius sekali."
"Serius?" Renji mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Iya, kau serius sampai-sampai kau berpikir aku lupa dengan tempat ini kan?"
"Jadi kau ingat?" Renji terlihat tak menyangka.
Sara menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum lalu menatap Renji. "Tentu saja aku ingat, aku justru merasa semua ini seperti kembali ke belasan tahun yang lalu, dimana waktu itu adalah saat dimana aku dan kau pertama kali bertemu di tempat ini."
Dan tanpa sadar, Renji pun jadi ikut bernostalgia dengan kejadian belasan tahun lalu, dimana saat itu Sara memberikan sebuah sapu tangan pada Renji yang sedang terluka.
Renji pun menghela napas dengan cukup panjang."Huft..., masa lalu,"
"Hem... begini saja, karena kita sudah berada disini, kenapa kita tidak berjalan bersama-sama saja, sambil menikmati kota Cardia ini, bagaimana menurutmu?" Sara mengangkat kedua alisnya.
"Yes, of course!" Ujar Sara sambil mengangguk.
Renji tersenyum miring, "Aku pikir... baiklah, karena kau yang mengusulkan kenapa tidak?" Renji pun menyambut ajakan Sara. Tapi maaf, aku tidak bisa menjamin apa akan terjadi nanti Sara.
~~
Di dalam perjalanan menuju bandara Ryuzen terlihat terus memandangi kotak berlian berhiaskan pita berwarna putih yang dipenggangnya saat itu. Tak henti-hentinya, suami Sara itu mengulum senyum kecil, seolah tidak bisa menutupi gejolak hasrat di hatinya yang sudah tidak sabar untuk memberikan hadiah tersebut pada sang istri. Melihat hal itu, Kenzo sang asisten pribadi yang tengah mengemudikan mobil pun tak kuasa jadi ikut dibuat geleng-geleng kepala karenanya. Tuan muda kalau sudah menyangkut dengan nona Sara pasti langsung seperti itu, senyum-senyum sendiri sampai dia lupa kalau aku ini melihatnya.
"Kenapa kau senyum-senyum?" Ujar Ryuzen tiba-tiba yang ternyata menyadari apa yang dilakukan Kenzo.
"Eh, ti- tidak apa-apa kok tuan," balas Kenzo kikuk.
"Lebih baik kau percepat menyetir, karena aku mau kita sudah tiba di Montegi sebelum malam."
"Siap bos!" Kenzo pun menambah kecepatan laju mobilnya dan segera menuju bandara.
~~
Sementara itu, Gina dan Jesper pun setuju untuk berjalan-jalan berdua saja, dengan berjalan kaki keduannya dengan santai menikmati jajanan ditangan mereka sambil terlibat obrolan santai.
"Yumm! Ternyata makanan khas kota ini enak sekali ya!" Ujar Gina yang baru pertama kali menikmati salah satu jajanan khas kota Cardia.
"Tentu saja, selain makanan yang kau makan itu masih banyak lagi makanan enak lain. Dan yang pasti, harga makanannya lebih murah dibanding makanan yang ada di Montegi."
Gina seketika tergelak, "Ah ya, kau benar!"
Dan mereka pun tiba-tiba sejenak saling tediam, Gina yang sibuk mengunyah, dan Jesper yang sibuk memandangi Gina yang tengah menikmati makanannya hanya tampak tersenyum kecil. Sadar dirinya diperhatikan oleh Jesper, Gina pun protes, "Hei, jangan suka memandangi wanita yang sedang makan, itu tidak bagus kau tahu!"
"Begitu ya?"
"Lagipula kenapa kau memandangiku begitu, aku rasa tidak ada yang aneh denganku?"
"Memang tidak ada yang aneh, hanya saja... entah mengapa melihatmu itu membuatku selalu memikirkan hal-hal yang menyenangkan."
Gina mengerutkan dahi, "Ma- maksudmu?"
"Maksudku... ya begitu... kau tampak lucu dan menggemaskan," jawab Jesper. Gina pun berhasil dibuat tersipu mendengarnya, demi membuat dirinya tenang Gina pun berlari seolah meninggalkan Jesper.
"Hei tunggu! Kenapa kau malah lari meninggalkanku!" Seru Jesper lalu mengejar Gina.
๐น๐น๐น....