Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 139


"Hai tuan-tuan! Boleh aku bergabung?" Kata wanita yang membawa segelas minuman itu pada Ryuzen dan teman-temannya.


"Ah silakan saja nona...!" Jawab Jason seperti biasanya ramah pada siapa saja. Meski wanita itu bicara pada Jason, tapi sorot matanya dapat terlihat jelas sejak tadi, matanya sejak awal sudah tertuju pada Ryuzen yang duduk di sebelah Jason dengan ekspresi datar.


"Oh ya, aku baru saja pindah di kota ini. Jadi belum familiar dengan suasana dan juga budaya orang-orang disini. Jadi... bisakah kalian bercerita sedikit tentang kota ini padaku?"


Wanita itu terus saja melirik Ryuzen, yang sama sekali tidak melihatnya sejak awal. Sebaliknya, justru Jason yang seolah seperti sengaja memberi celah pada wanita itu untuk menggoda sahabatnya tersebut. "Um, nona...kalau boleh saran, lebih baik kau tanya pada sahabat di sebelahku ini (Ryuzen). Dia sangat familiar dengan kota ini" Jason mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Kalau bisa kau dapatkan juga hatinya, itu pun kalau kau bisa..." bisik Jason yang kemudian bergeser menjauhi Ryuzen bersama wanita itu.


"Semoga berhasil nona!" Ucap Jason yang kini sudah berada di dekat Yoshiki yang tengah sibuk dengan gelas-gelas mewah miliknya. "Kau ini, dokter tapi kelakuanmu sama sekali tidak terpuji. Kau itu memang suka cari mati ya?" Tegur Yoshiki yang sudah hapal tabiat Jason itu.


"Ayolah... kapan lagi aku bisa mengerjai tuan muda Han," celoteh Jason yang terlihat sangat menikmati keusilannya pada Ryuzen itu.


"Tapi aku rasa tidak akan, kau tahu semua yang ada di dirinya sudah dilabeli dengan satu nama," tutur Yoshiki.


"Tapi nona itu cantik, badannya juga bagus, dan dia sepertinya juga seumuran dengan Sara," pungkas Jason yang terus fokus menonton Ryuzen dan wanita itu dari jauh.


"Terserah, kalau kau dihajarnya jangan merengek padaku ya dokter Jason!"


~~


Wanita itu pun akhirnya mendekati Ryuzen seperti kata Jason. Dengan gerak-geriknya yang seolah dibuat untuk menarik perhatian pria itu. Ryuzen pun tak kuasa melirik ke arah wanita yang kini mencoba menyentuhnya itu.


"Tuan kau sangat tampan, kalau boleh bisakah kita kenal lebih dekat," kata wanita yang bisa dibilang cukup memesona itu.


"Kau mau mengenalku?" Kata Ryuzen dengan ekspresi datarnya.


"Tentu saja!" Balas wanita itu sambil mengedipkan mata pada Ryu.


"Jika kau mau mengenalku, kau harus memenuhi kriteriaku!"


"Apa itu?" Tanya si wanita.


Ryuzen tersenyum miring, ia pun memandangi wanita itu dengan matanya yang seolah mampu membius ribuan wanita dalam sekali tatap.


"Pertama... wanita itu harus yang paling cantik."


"Kedua.."


"Kedua dia harus bisa bertahan dengan permainanku..."


"Lalu..."


"Dia harus mampu membuatku bertekuk lutut di hadapannya, hanya dengan menyentuhku sekali saja."


"Kalau aku?" Tanya wanita itu yang mulai berani menyentuh lengan Ryuzen.


Astaga, menyentuh lengannya saja aku tahu tubuh dibalik kemeja pria ini pasti luar biasa.


Ryuzen mendekatkan bibirnya ke dekat leher wanita itu. Wanita itu pun terlihat menarik napasnya karena gugup. Dia pasti sudah mulai tertarik padaku? Batin si wanita sambil mengulas senyum kemenangan.


Ryuzen berbisik di telinganya, "Nona kau cantik sih... tapi sayangnya... kau sama sekali tidak masuk kriteriaku!" Wanita itu pun langsung tampak kaget dan maludibuatnya. Ryuzen menjauhkan dirinya lalu dengan santai berkata, "Maaf sekaki nona, karena kriteria yang kusebutkan di atas itu yang punya hanya istriku."


"I- istri?" Ujar wanita itu yang tidak menyangka jika Ryu sudah menikah.


"Iya istriku."


"Ta- tapi bukankah kau sukaー"


"Nona aku kemari untuk minum, bukan cari perempuan. Kalaupun aku cari perempuan pastinya bukan perempuan yang hobi memperbesar ukuran dadanya sepertimu...." Ejek Ryuzen dengan santai.


"Kau itu, kurang ajar!" Wanita itu kesal, dan kemudian pergi meninggalkan Ryuzen sambil marah-marah.


Dari tempatnya, Jason hanya bisa tertawa geli melihat cara Ryuzen menyingkirkan wanita genit tadi. "Lidah tajam tuan Ryuzen, memang tidak pandang gender kalau sudah berucap!" Ujar Jaron yang masih belum berhenti tergelak.


"Sepertinya kau itu memang cari mati, lihat dia datang kemari!" Ujar Yoshiki melihat Ryuzen mendekat ke arah Jason. Dokter itu langsung berhenti tertawa, ia memejamkan matanya takut-takut Ryuzen akan memukulnya. Tapi nyatanya pria itu tidak memukul dirinya.


"Eh? Ku kira kau akan memukulku?" Tanya Jason heran.


"Untuk apa memukulmu? Aku mau membakarmu hidup-hidup juga tidak ada untungnya," ucap Ryuzen yang terlihat ingin melenggang pergi.


"Lalu sekarang kau mau pergi kemana Ryuzen?" Tanya Yoshiki.


"Ke rumah Kenzo!"


"Memangnya kau tidak pulang?" Tanya Jason.


"Sesekali menghukum istriku yang bandel itu tidak apa-apa kan?" Sahutnya. "Sudah ya Yoshiki, soal minumanku semua Jason yang bayar."


"Siap!" Sahut Yoshiki.


"Kenapa aku yang bayar?!"


Ryuzen melirik sinis, "Salah siapa menjadikanku mainan dengan wanita tadi? Anggap saja itu kompensasi atas ulah yang sudah kau buat padaku!"


"Huft...! Baiklah." Jason pasrah tak bisa berkelit lagi.


Ryu akhirnya pergi meninggalkan kairaku dan kedua sahabatnya itu disana.


~~


Pagi hari sudah menjelang sejak beberapa jam yang lalu. Sara nampaknya bangun lebih siang dari biasanya. Ia menoleh ke arah sebelahnya... biasanya dia akan melihat Ryu disebelahnya masih tertidur sambil memeluk dirinya, tapi kali ini tidak. Ryuzen ternyata memang tidak pulang ke rumah semalam. Sara meringsekan posisinya dan bersandar duduk di ranjang, matanya menoleh ke arah jarum jam dinding yang tengah berdetak.


Sara mengambil ponselnya di atas nakas, dirinya mengecek apa ada pesan dari suaminya itu atau tidak. "Ternyata memang dia marah padaku! Pesanku sejak semalam sama sekali tidak dibalasnya." Ucapnya dengan wajah muram. Tapi alih-alih pasrah, Sara tetap saja mengirimi Ryuzen pesan lagi. Aku akan tetap mengirimi dia pesan sampai dia lelah, dan mau memaafkanku! Sara bertekad dengan yakin.


"Nah sudah!" Setelah mengirimi Ryuzen pesan, Sara langsung saja menuju ke kamar mandi, setelah itu bersiap-siap barulah ia akan turun ke bawah untuk mengisi perutnya.


~~


Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian. Sara yang terlihat anggun menggunakan rok model tutu dipadukan dengan atasan crop top lengan panjang bermotif floral berjalan dari anak tangga menuju ke area dapur.


"Selamat pagi nona..." ucap para pelayan itu, saat melihat Sara berjalan ke arah dapur.


"Selamat pagi...!" Sara tersenyum ramah kepada para pelayannya itu.


"Akhirnya nona bangun, aku baru saja selesai membuatkan sarapan bergizi untukmu," ucap bibi Rachel.


"Oh iyakah?"


"Iya, nona silakan ke meja makan saja, biar aku antarkan makanannya untukmu."


"Baiklah kalau begitu." Sara langsung berjalan menuju ke ruang makan. Di ruangan itu terdapat meja makan ukuran besar, bagi Sara sebenarnya, meja makan di ruangan itu terlalu besar untuk dirinya sendiri.


Sara sudah duduk di kursi meja makan. Selang beberapa menit menunggu, bibi Rachel pun akhirnya tiba dengan membawa beberapa menu sarapan untuk Sara. Bibi Rachel langsung menghidangkan makanan yang dibawabya itu di depan Sara. "Silakan Nona."


Sara melihat dihadapannya sudah terdapat, sepiring omelet bayam dengan nasi merah dan segelas smoothie yang dibawakan oleh bibi Rachel. Makanan ini terlihat sehat dan enak dimata Sara. Wanita itu pun langsung mengambil alat makannya, tapi tiba-tiba saja dirinya kembali teringat Ryu yang semalam tidak pulang, hal itu membuatnya seketika kembali kehilangan selera makan. Kendati demikian, dirinya tetap harus makan demi bayi di perutnya. Sara pun akhirnya menyuapkan makanan itu ke mulut.


Melihat Sara yang seperti tidak semangat, bibi Rachel pun mencoba membuatnya bersemangat dengan berkata, "Ayolah nona kau harus semangat! Tuan Han sendiri loh yang neminta padaku membuatkan itu untukmu...!"


Huh benarkah? Sara mengerutkan keningnya.


"Tadi pagi-pagi sekali tuan muda menghubungiku, dan menanyakan apakah kau sudah bangun atau belum. Setelah tau kau belum bangun, tuan langsung berpesan padaku supaya hari ini, aku membuatkan menu sarapan ini untuk nona."


Senyum Sara seketika merekah, batinnya pun mulai merasa lega. Ternyata meski dia marah, dia tetap memperhatikanku dari jauh... aku jadi makin rindu padanya.


"Nona..., tapi aku mohon kau jangan bilang tuan ya, kalau aku memberitahu hal ini padamu."


"Memangnya kenapa Bibi?" Sara heran.


"Karena tuan bilang, ia tidak ingin kau tahu kalau dia berbuat begini padamu."


Jadi dia malu kalau aku sampai tahu? Ya Tuhan, selama ini dia memang selalu ada untuku, diaselalu menjagaku, dan membantuku bahkan tanpa sepengetahuanku. Huft... bodohnya aku seringkali tak sadar akan hal itu. Pantas saja kalau dia marah, karena aku tak mau jujur padanya.


"Oke Bibi, kau tenang saja. Aku janji akan tetap pura-pura tidak tahu soal ini," ucap Sara yang kini mood-nya sudah semakin baik setelah mengetahui hal tersebut dari bibi Rachel.


"Kalau begitu aku permisi dulu nona..."


"Bibi Rachel tunggu dulu!"


"Ada lagi apa nona?"


"Hari ini aku mau bawakan makan siang untuk Ryu!"


"Begitukah? Lalu, Nona mau aku masakan apa untuk dibawa nanti?"


"Oh tidak perlu, aku yang akan masak sendiri."


"Tapi nanti kau bisa capek."


"Oh sama sekali tidak, lagipula sudah lama juga aku tidak masak untuk Ryuzen, tidak apa-apa kan?" Ungkap Sara dengan begitu semangat.


"Baiklah kalau mau nona seperti itu, akan segera aku siapkan bahan-bahannya untukmu," tukas bibi Rachel yang langsung ke dapur.


"Oke bibi, terima kasih ya..."


Semoga saja dengan ini, dia segera memaafkan aku. Ujar batinnya dengan penuh optimis.


~~


Di kursi kerjanya Ryuzen terlihat tertawa kecil memandangi layar ponselnya. Ternyata dirinya sedang mengecek puluhan chat dari istrinya yang memang sengaja dia tidak balas sejak semalam. Dan beberapa saat lalu. Sara juga mengirimi pesan pada Ryuzen, yang mana pesan itu membuat Ryuzen begitu bersemangat dibuatnya.


Dari Sara ;


Pagi sayang... aku merindukanmu sampai ke dalam mimpi. Kenapa kau tidak juga balas pesanku? 🥺. Jangan marah padaku lagi ya.... I love you sayang, peluk cium untukmu."


Ryuzen benar-benar tampak puas membaca teks yang dikirimkan istrinya itu, membuatnya tersenyum puas. "Ada bagusnya juga aku menghukumnya begini. Dia jadi lebih jujur menuangkan persaannya lewat pesan sebelumnya dia kan jarang menulis kalimat begitu."


"I love you too honey...." Ucap Ryuzen sambil menatapi layar ponselnya yang kini sudah terpampang foto istrinya yang sedang tersenyum.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih kepada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author mohon maaf, karena tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering kali novelnya slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian.


Dan buat yang sudah baca novel ini, jangan lupa ya untuk selalu tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa juga untuk bantu di SHARE komik ini, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti sekali buat aku.


Satu lagi temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya... buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏