
Ryuzen menarik laci di sisi meja kerja yang ada di hadapnnuaya. Ia bermaksud untuk menyimpan berkas data-data tersangka yang terlibat kejadian di ballroom semalam, yang diberikan oleh Kenzo tadi. Namun saat menaruh berkas itu, tiba-tiba hasrat seolah ditarik kuat oleh mengambil amplop yang berisi foto-foto candid dirinya dengan Sara, yang waktu itu sempat dikirimkan oleh seseorang tak dikenal medalui Kenzo.
Diambilnya amplop itu dan dipandanginya. Ryuzen menghela napas, lalu membuka penutup amplop berukuran sedang itu perlahan dan mengeluarkan foto-foto yang ada di dalamnya, "Entah kenapa instingku mengatakan jika seseorang yang sengaja mengirimiku foto-foto ini bukanlah Biyan. Tapi siapa?"
Raut wajah Ryuzen jelas terlihat sedang berusaha menelisik, siapakah orang yang ia curigai selain Biyan Dao yang mengiriminya amplop berisi foto yang dipegangnya itu. Raut wajah serius diikuti dengan jari-jari panjangnya yang kini menyentuh area pelipis matanya membuatnya kian terlihat serius menerka-nerka siapa orang tersebut? Tentu saja, bagi Ryuzen yang sejak belia sudah menjadi anggota black serpents, bukanlah hal aneh jika dirinya memiliki banyak musuh yang dendam padanya. Bahkan musuhnya bisa saja adalah orang-orang yang berada didekatnya saat ini. Hal
Sejak hari itu, aku berpikir aku hanyalah seseorang yang bahkan tak memiliki perasaan sama sekali. Aku hanya melakukan apa yang aku ingin, tanpa memikirkan orang lain. Aku merasa dengan bergabung dengan black serpents akan memberikan segala apa yang aku inginkan selama ini.
Tapi nyatanya aku harus menerima jika semua ini adalah rekayasa Biyan Dao. Dendam, rasa benci sudah mematikan seluruh nuraniku hingga kurasa tidak akan bisa bangkit kembali. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengannya. Dia yang membuka dengan perlahan ruang hatiku yang gelap dan terkunci. Menghiasinya dengan cahaya dan keindahan yang bahkan tidak aku tahu sejak kapan?
Ia mengisi segala relung hatiku yang kosong, dan memberiku harapan akan arti diriku sendiri bagi orang lain. Tanpa sadar dirinya menunjukkan padaku, betapa hidupku memiliki tujuan dan arti bagi banyak orang. Dirinya bagai oase di gurun pasir. Dirinya bagai bunga yang tumbuh mekar di lahan yang tandus. Dialah yang paling berharga bagiku.
Di masukkannya kembali lembaran-lembaran foto itu ke dalam amplop. Saat hendak memasukan foto-foto itu kembali ke dalam amplop, entah apa yang membuat raut wajah Ryuzen tiba-tiba berubah serius, dan matanya menyipit tanda dirinya baru saja terpikirkan sesuatu di dalam benaknya.
Mungkinkah?
Dikeluarkannya kembali foto-foto itu dari dalam amplopnya oleh Ryuzen. Tidak paham apa yang sedang dipikirkan oleh suami Sara Chen itu, dirobeknya sisi-sisi amplop tersebut oleh Ryuzen, hingga terlihatlah bagian sisi dalam amplop tersebut, dimana di bagian dalam sisi amplop tersebut terdapat sebuah tulisan tangan dengan pena hitam.
Ternyata benar, memang bukan Biyan Dao yang mengirimkan foto-foto ini untukku.
Mata tajam bagai elang yang tengah mengintai mangsanya itu seolah mengisyaratkan perasaan yang kini menyelimuti hati pria itu.
~~
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam nampak tengah berhenti di depan sebuah rumah sakit, tempat dimana saat ini nyonya Ivy Han tengah mendapatkan perawatan.
"Tuan?" ucap pria yang bisa dibilang sudah cukup berumur, yang duduk di kursi kemudi mobil sedan hitam yang kini tengah berhenti di depan rumah sakit itu. Dari pantulan kaca spion depan, terlihatlah pria paruh baya yang tadi membeli bunga di c-lovely florist. Pria parlente itu adalah pria yang sama dengan pelanggan yang dengan beruntung, diberi dua buah buket bunga secara cuma-cuma oleh Sara tadi.
Pria itu pun dengan ibu jari dan telunjuknya, akhirnya membuka kacamata hitamnya yang sejak tadi menyembunyikan kedua matanya. Mata abu-abu dengan tatapan dingin nan sendu nampak jelas di sorot mata pria itu.
"Apa aku masih pantas menemuinya setelah aku pergi meninggalkannya selama ini tanpa kabar?"
Suara pria itu terdengar parau, jelas terdengar rasa penyesalan yang teramat dalam dari nada biaranya barusan.
Tanpa menatap lawan bicaranya. Jordan Han hanya terus saja memandangi buket bunga aster yang ada di genggaman tangannya saat ini. Seperti yang diketahui bunga aster adalah bunga kesukaan Ivy Han.
"Jiro!"
"Iya Tuan?" balas Jiro dari depan kursi kemudi.
"Sepertinya aku masih belum bisa menemuinya, entah kenapa hatiku masih belum siap untuk melihatnya. Ibuku adalah wanita yang sangat baik, membayangkan bagaimana reaksinya nanti saat melihat diriku yang hadir di hadapannya, membuatku seolah seperti kelinci kecil yang meringkuk bersembunyi menghindari kejaran serigala besar. Aku benar-benar takut, aku seperti tak berdaya untuk melangkahkan kakiku."
"Tapi kau begitu merindukannya bukan?"
"Aku amat sangat merindukannya, terakhir kali aku melihatnya adalah dikala aku bertengkar besar dengan ayahku. Aku saat itu dengan segala arogansiku dan keegoisanku, aku memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke kediaman Han dan pergi."
"Saat itu aku melihat ibuku untuk terakhir kalinya, Dia menangis dan mencoba menahanku agar tidak pergi, dan dengan mudahnya tak ku hiraukan sama sekali. Aku lebih memilih jalan yang malah menghancurkan diriku dan menyeretku dalam lingkaran dosa yang tidak mungkin bisa aku hindari. Aku berdosa pada keluargaku, aku menyakiti mereka semua Jiro!"
Melihat Jordan begitu emosional untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sebagai teman, Jiro pun seolah ikut merasa rasa sedih Jordan saat ini.
"Aku rasa kau harus mulai berdamai dengan hatimu Jordan..." tukas Jiro.
Jordan pun hanya bisa tersenyum getir mendengar ucapan temannya itu.
"Jiro, kita ke pemakaman saja."
"Baiklah..."
Dan mobil sedan hitam itu pun bergerak melaju menuju pemakaman seperti yang dikatakan oleh Jordan Han.
๐น๐น๐น
Terima kasih para readers yang sudah mengapresiasi tulisanku. Semoga bisa menghibur dan menyenangkan kalian ya teman-teman. Dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, DAN VOTE! THANK YOU๐