Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 40


Sara menatap pria yang tengah berada di hadapannya itu, "Kau kan...?"


Pria itu membuka kacamata hitamnya dan mengaitkan gagang kacamatanya pada saku blazer abu-abu yang dikenakannya.


"Syukurlah, ternyata kau masih ingat padaku." Pria itu mengulurkan senyum hangatnya pada Sara.


"Tentu saja aku ingat, kau kan tuan baik hati yang dengan senang hati, repot-repot mengantarku pulang, dan menghiburku di taman kala itu, iya kan?" balas Sara yang kini sudah selesai membereskan sisa-sisa guntingan pita yang ia gunakan tadi untuk membuatkan buket bunga untuk pelanggan.


Pria itu tertawa kecil, wajah tampannya yang tengah tersenyum itu bahkan tak bisa terelakkan.


"Hem, jadi hanya itu ya, yang kau ingat dariku?" balas sosok tinggi yang kini tengah berbicara berhadapan langsung dengan Sara.


"Ya, semuanya. Aku ingat kita bertemu pertama kali saat kau dan aku belanja di supermarket yang sama. Lalu kita sama-sama sedang mencari buah apel dan akhirnya apel terakhir itu kita bagi dua." Sara tergelak mengingat kejadian saat pertama kali bertemu dengan laki-laki yang kini juga tengah tertawa kecil itu.


Istri Ryuzen itu akhirnya kembali bertingkah layaknya pemilik toko terhadap pembelinya.


"Jadi, Tuan! Bunga apa yang ingin kau beli?"


Laki-laki itu belum menjawab Sara, matanya masih terlihat sibuk mencari-cari bunga yang akan dibelinya.


"Apa untuk kekasih atau istrimu?" ujar Sara bertanya.


Pria itupun berhenti memandangi bunga-bunga dan beralih menatap ke arah Sara yang tengah melihat ke arahnya juga.


"Hei Tuan, jadi mau pesan bunga apa?" tanya Sara sekali lagi dengan suara yang kali ini, terdengar lebih tinggi dari biasanya.


"Oh ya, bisakah kau tolong buatkan buket bunga krisan pink untukku?"


"Oh ya, tentu saja." Kemudian Sara pun segera memilah -milah beberapa tangkai bunga krisan merah muda. Selesai memilah beberapa tangkai bunga, wanita cantik itu tak lupa mengambil gunting dan juga wrapping paper berwarna peach, serta pita plastik untuk membuat buket bunga pesanan si pria. Sementara si pria itu sendiri justru malah terlihat fokus, memperhatikan Sara yang tengah sibuk menggerakan jemari lentiknya, guna membentuk sebuah buket bunga yang dipesannya itu.


"Hei," seru sang pria.


Dengan polosnya Sara pun menjawab, "Ya?" kemudian mendongakkan kepalanya menatap pria itu.


Pria itu tersenyum lucu. "Kenapa malah tertawa begitu?" tanya Sara yang kemudian kembali fokus merangkai buket bunga.


"Tidak, hanya merasa kau itu...."


Sara lagi-lagi mendongak menatap pria itu.


"Aku kenapa?" tanya Sara.


"Penasaran ya?"


"Huh! Terserahlah," balas Sara dengan ekspresi setengah kesal.


"Baiklah maaf, aku hanya ingin-"


"Baikalah... ini, sudah selesai." Sara menyerahkan buket bunga krisan merah jambu kepada laki-laki yang kini berada di hadapannya tersebut.


"Wah ini sangat cantik, terima kasih nona...?"


"Sara, namaku Sara Chen," ungkap Sara sambil mengulurkan tangannya tanda perkenalan pada laki-laki yang juga belum ia ketahui namanya itu.


"Aku Renji, Renji Haoran," balas pria tersebut, yang kemudian menyambut uluran tangan sara dan berjabat tangan.


Mereka saling bersalaman untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Sara yang merasa mulai tidak nyaman pun sengaja berdeham, hal itu dimaksudkan agar Renji segera melepaskan genggaman tangannya dari tangannya.


"Oh ya, jadi berapa yang harus aku bayar?" tanya Renji memecah suasana canggung.


"Lima belas dollar."


"Baiklah, ini!" Renji memberikan beberapa lembar uang untuk membayar buket tersebut.


"Terima kasih! Semoga orang yang menerima buket bunga tersebut akan senang," ungkap Sara diikuti senyuman manis dari bibirnya.


"Ya, aku berharap dia akan senang jika melihatnya! Tapi sayangnya, orang yang akan menerima bunga ini sudah tidak ada."


Sara pun terperanjat mendengar ucapan Renji barusan. Dirinya dapat melihat dengan jelas raut wajah sendu mulai menyelimuti wajah tampan Renji.


"Um Tuan Renji, maaf aku tidak bermaksud untuk-"


"Sudahlah, tidak apa-apa toh kau kan tidak tahu," balas Renji tersenyum getir. Walau begitu, bagi Sara dirinya tetap saja merasa tidak enak, karena merasa ucapannya barusan menyebabkan Renji menjadi terlihat sedih sekarang ini.


"Kecuali jika kau bertanya pada orang itu," gumam Renji.


"Apa? Orang itu, siapa maksudmu?"


"Hahaha, tidak bukan siapa-siapa. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Sekali lagi terima kasih atas buket bunganya cantik. Buket bunga yang sangat cantik secantik gadis yang merangkainya." Renji mengerlingkan matanya.


Renji hanya tersenyum singkat. "Kalau begitu sampai jumpa lagi Nona Sara. Tapi aku rasa kita akan sering bertemu kedepannya," balas Renji yang kemudian belambaikan tangannya, dan berbalik badan pergi meninggalkan Sara.


"Sering bertemu? Apa maksudnya?" gumam Sara.


~~


[ Emerald Tower ]


*tok tok


Terdengar suara pintu ruangan Ryuzen terketuk. Ryuzen yang tadinya sibuk dengan layar laptopnya pun terpaksa menoleh ke arah monitor cctv, yang ada di ruangannya. Ternyata Morin sekretarisnya yang hendak masuk untuk menemuinya.


Tak perlu waktu lama, Morin pun masuk dan menyampaikan pesan pada Ryuzen.


"Ada apa?" tanya Ryu dengan nada santai.


"Tuan Han, Tuan Biyan Dao menunggu anda di lobby. Aku sudah bilang jika anda sedang sibuk tapi Tuan Dao tetap bersikeras untuk bertemu denganmu," jelas Morin.


"Biarkan saja! Biarkan dia melakukan apapun yang dia suka," ujar Ryuzen dengan tatapan dinginnya.


"Baik Tuan."


"Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"


"Tidak tuan, kalau begitu aku permisi dulu." Morin akhirnya pergi meninggalkan ruangan bosnya itu setelah selesai menyampaikan, apa yang ingin ia sampaikan.


Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan pria tua itu?


Bagai berusaha keluar dari labirin yang dirinya bangun sendiri. Bagaimana bisa keluar, dirinya sendiri saja tidak tahu dimana titik ujung labirin itu.


~~


Sara dan Gina kini tengah menikmati makan siang mereka di salah satu restoran dekat toko bunga milik Sara.


"Jadi, kemarin kau diajaknya berkunjung ke mansion yang diam-diam dibangun Ryuzen untukmu?" tanya Gina usai menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


Sara mengangguk sambil tersenyum.


"Wah, sepertinya Tuhan Han yang arogan benar-benar sudah berhasil ditaklukan oleh sahabatku ini ya?" ujar Gina menggoda Sara.


"Entahlah, yang jelas aku sangat bersyukur karena takdir mengikatku dengan dirinya. Meski aku belum sepenuhnya mengenal dirinya yang sebenarnya."


Gina memicingkan matanya, "Apa maksud ucapanmu?"


"Aku merasa banyak hal yang ia rahasiakan dariku. Mulai dari siapa ayah kandungnya, lalu pamannya yang berusaha menghancurkannya, hingga masa lalunya. Sampai detik ini dia tidak menceritakan hal itu dengan jelas padaku, dan tiap kali aku berusaha membuatnya agar mau bercerita padaku, dia selalu saja memiliki cara untuk menghindar."


"Suamimu itu bukan orang biasa, tidak heran jika masalah kehidupannya rumit. Tapi aku yakin cepat atau lambat kau akan mengetahuinya, aku yakin!" jelas Gina, yang kemudian melanjutkan makan siangnya.


Berbeda dengan Gina, Sara justru sejak tadi tak memakan makanan yang sudah dipesannya. Ia hanya mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa memakannya sedikitpun. Menyadari hal itu Gina pun menegur temannya itu, "Sara, kenapa kau tidak makan makananmu?"


"Tiba-tiba aku tidak lapar dan ingin makan yang lain saja. Dan tiba-tiba aku mau makan jajanan pasar malam."


"Huh? Kau ingin jajanan pasar malam jam segini? Ayolah Sara jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda Gina, lagi pula akhir-akhir ini aku jadi malas makan masakan restoran," keluh Sara.


"Sara kau ini, seperti orang yang sedang hamil saja banyak maunya!"


Sara pun tersentak dengan ucapan Gina barusan. Pasalnya dirinya tidak berpikir hal itu sama sekali.


Gina tiba-tiba menatap Sara dengan serius, "Sepertinya aku harus mengantarmu ke dokter."


~~


Ryuzen tengah berada berdiri diatas atap Emerald Tower sambil menghisap sebatang rokok. Sebenarnya dirinya enggan menemui Biyan Dao. Tapi apa mau dikata, dirinya dapat menebak kehadiran Biyan kemari pasti bukan tanpa maksud. Sehingga suami Sara itu pun meminta Biyan menemui dirinya di atap.


"Halo keponakan!" Seru Biyan. Ryuzen pun menoleh ke arah darimana datangnya Biyan Dao.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Thank you for always support me.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, vote, dan comment.


Happy reading and i hope you like it fellas ๐Ÿ˜‰