Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 32


"Bibi Gina, kenapa sih papi dan mamiku tidak bisa menjemputku hari ini? Tadi saat aku menelpon mami juga, terdengar nada suara mami seperti sedang kurang baik. Apakah sedang ada masalah dengan kedua orang tuaku?" ujar Arvin yang duduk di kursi sebelah Gina yang kini tengah mengemudikan mobilnya.


Apa yang harus aku katakan? Anak ini tidak seperti anak seusianya yang lain, yang bisa dengan mudah dikelabui hanya dengan kata-kata tipuan. Huh! Anaknya Ryuzen ini kadang merepotkan juga.


"Hem, aku juga tidak tahu jelasnya.Tapi aku rasa mereka baik-baik saja. Trust me!"


"Justru dengan bibi bilang begitu, aku jadi semakin yakin kalau sebenarnya mereka sedang tidak baik-baik saja. Iya kan?"


Astaga...!


Gina memijat bagian pelipis matanya, ia tidak tahu lagi harus menjawab apa. Pasalnya dirinya sendiri juga baru saja menginjakkan kakinya di kota ini beberapa jam yang lalu, ditambah Sara belum cerita apa-apa. Jadi wajar saja jika dirinya masih tidak tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Meski begitu, apa yang diucapkan oleh Arvin adalah benar, karena dirinya juga sama merasakan ada hal yang tidak baik sedang terjadi saat ini pada temannya itu.


Gina menoleh ke arah Arvin yang kini sedang bersandar sambil menyilangkan kedua tangannya di perut, sambil memasang ekspresi wajah datar.


"Hei, hei ayolah..., daripada kita bingung begini. Bagaimana jika sekarang kita pergi berjalan-jalan sebentar sambil membeli makanan lezat?" usul Gina.


Dasar Arvin yang memang dasarnya masihlah anak-anak pun menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Oke! Meluncur...," sahut Gina dengan semangat.


~~


Jordan Han tengah membersihkan sebuah makam, dan setelah selesai memebersihkan makam tersebut, tak lupa iya ia meletakan sebuket bunga mawar yang tadi didapatkannya dari c-lovely. Dirinya menatap batu nisan bertuliskan nama Laulin diatasnya.


"Sayangku Laulin, setiap kali aku menemuimu disini.


Saat itu juga entah kenapa hatiku selalu merasakan sakit dan terluka. Luka yang sepertinya tak akan bisa lagi mengering. Maafkan aku istriku, maaf atas segala kesalahan yang aku ciptakan selama ini. Maafkan aku karena tak bisa bersamamu hingga akhir hayatmu. Maafkan aku yang tak mempercayaimu. Dan, maafkan aku yang tak bisa menjaga anak kita. Terlalu banyak dosa ya aku buat hingga menyakitimu dan yang lainnya."


Angin berhembus, desiran dan semerbak wangi musim semi di kota ini begitu terasa. Tak kuasa Jordan Han meneteskan air mata penyesalannya di depan pusara sang istri yang telah lama pergi meninggalkannya. Jordan sesekali menyentuh nisan sang istri menyapu nisan itu agar tak dikotori oleh kelopak bunga yang jatuh karena tertiup angin, semua ia lakukan agar makan sang istri tercinta selalu bersih.


Sejak lima tahun terakhir, Jordan memang hampir setiap hari mengunjungi makam Laulin. Bahkan tak jarang dirinya sesekali melihat Ryuzen yang juga tengah berkunjung ke makam sang Ibu.


"Sayang, apa kau tau? Bunga hari ini yang aku bawakan untukmu sangatlah spesial. Bunga ini dipilihkan dan dirangkai oleh seorang gadis muda yang sifatnya mengingatkanku padamu. Dia begitu ramah dan menyenangkan seperti dirimu, tapi kau tenang saja. Meski begitu kau tetaplah satu-satunya Laulinku." Jordan nampak sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Dan kau tahu sayang? Aku dengar putra kita sudah menikah. Aku belum tahu seperti apa istrinya, tapi aku berharap istri pilihannya bisa sebaik dan sehebat dirimu." Sekali lagi Jordan mengulurkan senyumnya. Hingga perlahan seketika senyum itu mulai memudar diganti dengan tatapan sendunya.


"Laulin sayang, aku sudah memutuskan! Meskipun aku masih ragu. Tapi... aku sudah bertekad, aku akan menemui anak kita. Meski aku harus mengumpulkan seluruh keberanianku untuk bisa berkata jujur padanya, jika akulah ayah kandungnya. Ayah yang tega menghancurkan putranya sendiri, Ayah yang tidak pernah bahkan setitikpun memberinya kasih sayang. Dan, Ayah yang sejatinya diriku mungkin tak pantas untuk disebut sebagai seorang Ayah. Jadi, tolong kau pinjami aku keberanianmu ya sanyang."


Tenggorokan Jordan terasa terbakar mengucapkan hal itu. Batinya seolah tersayat-sayat ribuan mata pisau. Ia menyeka air matanya yang membasahi pelupuk matanya.


"Sayangku, aku pamit dulu. Tolong kau doakan aku dari jauh sana." Setelah melakukan semua ritual dan berkeluh kesah di depan pusara sang istri, Jordan pun akhirnya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan makam itu.


~~


Berjalan-jalan sore di sekitaran taman memang menyenangkan. Hal itu pula yang dilakukan Arvin bersama Gina sore hari ini.


"Hei Arvin!" ujar Gina yang berjalan beriringan di sebelah Arvin.


"Tidak jadi, aku bingung harus berkata apa," Gina pun terkekeh.


"Huh! Ingin bicara tapi tidak jadi. Kebiasaan orang dewasa yang menyebalkan," gerutu Arvin.


Melihat keponakannya begitu, Gina hanya bisa tertawa gemas karena raut wajahnya yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Oh, ayolah! Jangan kesal keponakanku yang tampan." Gina mencoba memperbaiki mood Arvin yang sepertinya memang sedang kesal karena dirinya.


"Bagaimana jika aku traktir hamburger dari kedai keliling langgananku yang letaknya tak jauh dari sini?"


Dan sepertinya, tawaran gina Gina cukup efektif untuk menaikan mood Arvin. Arvin pun mengangguk pelan tanda setuju.


"Baiklah, ayo kita kesana!" Seru Gina mengajak Arvin.


"Tidak mau!"


"Loh, kenapa? Kau bilang tadi mau makan hamburger bukan?" sahut Gina terlihat bingung dengan tingkah Arvin.


"Iya, tapi aku tidak ingin beranjak kesana. Aku biar disini saja bermain dengan anak-anak lain disini."


Gina menghela napasnya.


"Oh Ayolah..., aku minta maaf. Jangan ngambek lagi Arvin sayang," Gina mencoba membujuk keponakan kecilnya itu.


"Aku tidak apa-apa Bibi, aku hanya ingin disini saja. Aku sedang malas ikut mengantri. Lagipula, aku tidak ngambek kok!" tukas pria kecil itu.


"Kau yakin tak ingin ikut?" Gina memastikannya sekali lagi.


"Iya, aku tunggu di taman ini saja. Aku tidak akan kemana-mana kok! Janji," ujar Arvin berjanji sambil mengangkat kedua jarinya membetuk huruf 'V'.


Karena Gina tak bisa memaksa Arvin ikut dengannya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi sendiri untuk membeli hamburger di seberang taman. Sebelum pergi ia pun menasihati Arvin terlebih dulu.


"Kalau begitu, kau tunggu bibi disini, dan jangan nakal, Okey?"


"Oke!" balas Arvin dengan cepat.


Gina akhirnya pergi membeli hamburger sendirian, sedangkan Arvin sendiri memilih untuk ikut bergabung dengan anak-anak lain di area tempat anak-anak yang bermain. Namun saat dirinya berjalan tak sengaja Arvin malah.


"Tunggu!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Thank you for all support. Selamat membaca semoga terhibur. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, comment ๐Ÿ™