Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 125


"Silakan dinikmati tuan Renji Haoran...!" Pungkas Yoshiki menyerahkan segelas koktail buatannya itu, sambil menatap pria yang sudah lama tidak dilihatnya itu.


"Thank you!" Renji pun kemudian meminum koktail racikan Yoshiki tersebut.


"Yeah, minuman ini luar biasa! Kau memang yang terbaik tuan Yoshiki. Tidak heran tempatmu ini selalu jadi tempat hiburan malam nomor satu di kota ini," puji Renji.


"Terima kasih atas pujiannya."


Renji kembali meneguk koktail di tangannya tersebut. Yoshiki juga kembali sibuk mengelap gelas-gelas mewah miliknya, sambil sesekali melirik ke arah Renji.


"Kau tidak perlu mengawasi aku sampai sebegitunya tuan Yoshiki, kau tahu kan, aku tidak akan membuat ulah di tempatmu ini!" Ujar Renji yang menyadari jika sejak tadi di perhatikan oleh Yoshiki secara diam-diam.


"Aku tahu! Jadi, apa apa tujuan dirimu datang tempatku lagi, setelah bertahun-tahun lamanya kau tidak pernah lagi datang kemari?"


Renji tersenyum sambil memandangi gelas koktail di hadapannya itu. Memang benar, setelah perseteruan hebat terakhirnya dengan Ryuzen delapan tahun yang lalu, dirinya memutuskan keluar dari black serpents dan pergi meninggalkan negara ini.


"Aku hanya ingin menengokmu dan bar ini saja. Tidak bolehkah?" Ungkap Renji.


"Jika memang itu maksud dan tujuanmu kemari, maka aku tidak ada hak untuk menghalangimu. Tapi jika dirimu bermaksud mengacau di tempatku ini, maka itu akan jadi masalah buatku!" Balas Yoshiki.


"Aku mengerti! Lagipula... aku rasa kau salah mengingatkan seseorang. Karena harusnya kau sudah tahu, sejak dulu siapa yang suka membuat ulah disini? Yang pasti bukan aku!"


Renji sedikit terpelanting dengan ucapan Renji barusan. Apa yang dikatakan Renji benar, kenyataannya sejak dulu Renji tidak pernah membuat ulah ataupun bermasalah di Kairaku ataupun ditempat ini. Justru kebalikannya, Ryulah sejak dulu yang lebih sering berbuat masalah di tempat ini.


"Maaf Ren jika pernyataanku tadi seolah memusuhimu. Sejujurnya aku tidak ada masalah denganmu. Aku pun tidak mau seolah membela salah satu darimu atau Ryu, hanya sajaー"


"Tidak apa kak Yoshiki, aku paham posisimu. Bagiku, dirimu yang netral sudah lebih dari cukup."


"Aku hanya berusah tidak ikut campur, tapi jika hal itu sudah menyangkut hal yang mengancam nyawa orang lain dan usahaku. Maka jangan salahkan aku jika aku ikut campur tangan di dalamnya," terang Yoshiki.


"Haisshhh...." Renji merileksasikan tubuhnya, kemudian menopang dagunya di atas meja bar.


"Sudah lama tidak kemari, tempat ini tidak terlalu banyak berubah. Hanya beberapa dekorasinya saja yang semakin baru, mengikuti perkembangan zaman. Jika di ingat-ingat sudah sekitar delapan tahun aku tidak pernah kemari lagi bukan?"


"Ya, kurang lebih selama itu. Dan aku ingat sekali, kau dulu selalu datang kemari untuk sekedar minum kala pulang dari menjalankan misi."


Renji tertawa hambar, mengingat masa lalu dimana dirinya dulu sering sekali mampir ke tempat ini, usai menyelesaikan misinya bersama Ryu kala itu.


"Ya, aku dan orang itu, dulu kami sering kali datang kemari."


"Masa lalu memang selalu menyenangkan untuk dikenang!" Sahut Yoshiki.


"Kau benar!"


Hingga aku menyaksikan sendiri, keparat itu yang membuat hidupku hancur. Kini dia harus menebus semuanya, dan aku buat dia merasakan apa yang aku rasakan. Sorot mata Renji tampak emosinal, raut wajahnya serius, terlihat aura kekecewan, marah, dan benci melebur menjadi satu dalam satu ekspresi yang sulit di deskripsikan.


Bahkan Yoshiki yang menyaksikannya seolah dapat merasakan, aroma dendam yang begitu menggebu dari ekspresi Renji saat ini. Tangan Renji terlihat mencengkeram gelas koktailnya, hingga tampak retakan yang diakibatkan oleh cengkeramannya itu. Yoshiki menepuk pundak Renji pelan, "Hei! Aku tidak tahu persis apa yang terjadi di antara kalian, tapi Renji, aku berharap semua keputusan yang kau lakukan atau apapun itu, kau sudah paham akan konsekuensinya."


"Aku tidak mau berjanji apapun Kak!" Ujar Renji menoleh ke arah Yoshiki dengan tatapan serius. Renji beranjak dari duduknya. "Terima kasih untuk minumannya yang sangat enak Kak Yoshiki, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang."


Renji merogoh saku jasnya mengambil kartu kreditnya, "Ini, untuk membayar minuman dan gelas yang aku retakkan barusan!" Tapi Yoshiki tidak mengambil kartu tersebut. "Kau tidak perlu membayar minumannya, anggap saja itu ucapan selamat datang dariku untukmu."


"Heh baiklah, kalau begitu aku duluan! " Renji pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kairaku dengan perasaannya yang masih emosional. Renji yang masih berada di tempatnya, hanya bisa berharap tidak ada lagi luka dan air mata yang tumpah, hanya karena dendam yang tak berujung.


~~


Pagi harinya, setelah selesai membantu Bibi Rachel menyiapkan sarapan, Sara pun kembali ke kamarnya untuk memberitahukan Ryuzen jika sarapan sudah siap dan memastikan, apakah suaminya itu sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Sepertinya Ryuzen sudah selesai bersiap-siap! " Sara langsung membuka pintu kamarnya itu yang ternyata tidak tertutup rapat. Dan dari ambang pintu tempatnya berdiri, Sara bisa melihat Ryuzen yang masih menggunakan kemeja tanpa dikancing, tengah berdiri menghadap jendela kamarnya yang masih tertutup tirai itu, sedang menelepon seseorang.


~~


"Jadi kau melihatnya...?" Ucap Ryuzen pada seseorang yang kini di teleponnya.


Ryuzen langsung menutup teleponnya.


"Telepon dari siapa?" Ujar Sara yang muncul tiba-tiba di hadapan Ryuzen dengan ekspresi polosnya. Melihat sang istri yang bertingkah polos itu, sontak membuat Ryuzen jadi gemas dibuatnya.


"Bukan siapa-siapa, hanya asistenku!" Ujarnya yang kemudian menarik Sara ke dalam dekapannya. Ryuzen terlihat menghidu aroma tubuh Sara yang harum bercampur dengan bau shampo yang biasa ia gunakan.


"Baumu enak! Aku jadi mau memakanmu," bisik pria itu di dekat telinga istrinya. Tidak mau digoda pagi-pagi begini, Sara pun langsung cepat-cepat menarik dirinya dari dekapan Ryuzen.


"Maaf Ryu, tapi ini masih pagi. Jadi macam-macam, okey sayang?" Ujar Sara memperingati suaminya itu layaknya seorang ibu menasihati putrannya.


"Tapi aromamu itu buatku lapar dan bersemangat."


"Ryuzen Han...!" Sara memicingkan matanya.


"Oke, oke!" Balas Ryuzen mengalah.


Melihat kemeja sang suami belum dikancing, Sara pun langsung berinisiatif mengancingkan kancing-kancing kemeja Ryuzen yang belum terkancing itu.


"Kau ini, aku pikir sudah selesai berpakaian. Ternyata masih sibuk menelpon!" Ucap Sara sambil terus mengaitkan kancing-kancing tersebut ke lubang kancing. "Nah sudah selesai! Sekarang tinggal pakai dasi, kau mau pakai dasi yang manー" Ryuzen menarik tangan Sara yang mau mengambil dasi. Ia malah mundur dan duduk di tepi ranjang sambil menarik sara agara duduk di atas pangkuannya.


"Ryu, lepaskan aku! Aku mau mengambil dasi untukmu." Tidak menggubris, Ryuzen justru malah tersenyum pada Sara dan langsung memeluknya dengan erat.


"Ryu..." panggil Sara, melihat Ryuzen yang kini menenggelamkan kepalanya di dada Sara yang baginya terasa begitu nyaman dan lembut.


"Aku tidak tahu apa jadinya hidupku tanpamu Sara," ucap Ryuzen tiba-tiba.


Ada apa dengan Ryu? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? Sara membelai kepala Ryuzen yang kini tengah bersandar pada buah dadanya. "Kau sedang ada masalah?" Tanya Sara.


"Nope! Hanya ingin begini saja."


"Okey... tapi kita harus segera turun untuk sarapan."


"Aku tahu, tapi aku mohon padamu hanya beberapa menit saja, biarkan aku bersandar tenang di dalam dekapanmu."


Sara tidak banyak bicara lagi, ia berpikir mungkin Ryuzen saat ini sedang penat karena banyaknya tekanan pekerjaan yang harus di hadapinya. Sebagai istri Sara pikir, jika dengan begini mungkin bisa membantu meringankan beban Ryu maka tidak apa-apa.


"Jika kau merasa lebih baik dengan begini. Aku akan menemanimu." Sara kembali membelai lembut Ryuzen yang saat ini baginya, terlihat seperti pria kecil yang sedang meringkuk manja pada ibunya.


Aku akan selalu bersamamu Ryu, aku akan menjadi kekuatan untukmu. Hanya satu, aku berharap, tidak ada yang sedang kau sembunyikan dariku lagi saat ini.


~~


Di sebuah coffee shop, tampak Jesper yang sedang menikmati sarapannya dengan ditemani buku-buku yang ada di hadapannya, ia membaca buku tersebut sambil menghabiskan sarapannya. Saat sedang membaca buku tidak sengaja buku yang ada di atas mejanya terjatuh. Beruntung ada orang baik yang mau mengambilkannya.


"Oh terima kasih," ucap Jesper pada pria tersebut.


"Sama-sama," balas orang tersebut.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.


Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏