Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 87


Di sepanjang perjalanan menuju ke restoran dimana mereka akan makan malam, sepasang suami istri itu terus bergandengan tangan. Bahkan tidak jarang sambil menyetir Ryu terlihat berulang kali menciumi punggung tangan istrinya itu. Sara juga begitu terlihat bahagia didekatnya.


"Kau tidak nyaman ya, saat berjalan bergandengan bersamaku tadi diantara para pegawai yang ada di kantor?" Tanya Ryuzen.


"Um, awalnya memang iya. Tapi sepertinya akan mulai terbiasa dengan situasi seperti itu. Memangnya kenapa?"


Ryuzen tidak menjawab, dirinya justru kembali mencium punggung tangan Sara berkali-kali. Bagi Ryu yang terbiasa dengan sorotan media, memperlihatkan kemesraan di depan banyak orang adalah hal biasa untuknya. Tapi bagi Sara yang kehidupannya, 180 derajat berbeda dengan dirinya mungkin akan agak sulit dengan sorotan banyak orang.


"Ryu..."


"Iya sayang," balas Ryuzen dengan lembut.


"Aku berencana, lusa nanti mau mengajakmu dan juga Arvin, untuk berziarah ke makam nenek dan juga ibumu."


"Huh? Kenapa tiba-tiba ingin berziarah?" Tanya Ryuzen menoleh ke arah Sara.


"Aku... aku hanya ingat, jika aku belum pernah sekalipun mengunjungi makam mereka. Apalagi saat nenek meninggal, aku sama sekali tidak ada disana," ungkap Sara terlihat yang kini terlihat murung.


Ryuzen pun langsung menyentuh kepala Sara dengan sebelah tangannya, guna menyemangati istrinya dan berkata, "Baikalah, lusa kita pergi berziarah bertiga."


Sara yang murung pun berubah kembali senang setelah mendengar jawaban Ryuzen, hingga membuat senyum manisnya kembali mengembang.


~~


Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit. Mereka akhirnya tiba di restoran yang mereka tuju. Di parkiran Ryuzen dengan penuh perhatian membukakan pintu untuk istrinya itu, dan menggandengnya menuju ke dalam restoran. Sara terlihat tidak berhenti memandangi dan mengamati gedung restoran tersebut dengan seksama, seolah tengah ada yang ia pikirkan saat ini soal restoran itu.


"Kenapa? Apa kau sedang teringat kenangan pertama kita di tempat ini?" Ryuzen mencoba menebak pikiran Sara. Dan itu benar adanya, pikiran Sara ternyata tengah bernostalgia dengan tempat ini. Dirinya ingat betul jika restoran ini adalah restoran tempat dimana dirinya, dan Ryuzen pertama kali bertemu dan membuat perjanjian saat itu.


"Bagaimana bisa kau tau aku sedang memikirkan hal itu?" Ungkap Sara tak mengira.


"Tentu saja aku tahu, semua ekspresi dan apa yang ada di otakmu itu semua aku tahu."


Sara hanya bisa tercengang mendengarnya, "Ya ya ya kau memang hebat!"


~~


Sesampainya di depan pintu masuk, sepasang suami istri itu sudah langsung disambut oleh para pelayan restoran dengan hangat.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," ucap para pelayan yang bediri di dekat pintu masuk tersebut.


Saat memasuki restoran, tiba-tiba Sara merasa heran, pasalnya restoran ini seperti terlihat sepi, padahal biasanya ramai dengan pengunjung.


"Tidak usah memasang wajah bingung begitu. Kau tidak ingat siapa suamimu?" Menyewa sebuah restoran tentu hanyalah perkara kecil bagi CEO sekelas Ryuzen.


"Kenapa kau harus samapai mem-booking restorannya begini?" Tanya Sara heran.


"Ya karena aku ingin, jadi aku lakukan! Apa itu salah?"


Huft darah milyader suamiku sepertinya memang sudah bawaan sejak lahir ya?


"Sudah jangan memikirkan hal tidak penting, sekarang mari kita duduk dan memesan makan malam." Ryuzen menarik tangan Sara lembut menuju ke bagian meja yang akan mereka gunakan.


Ryu pun menarikkan sebuah kursi untuk Sara, mempersilakannya duduk, "Silakan duduk istriku yang paling cantik," ucapnya dengan penuh kelembutan.


Cara Ryuzen memperlakukan dirinya tentu saja akan banyak membuat wanita lain iri jika melihatnya. Bagaimana tidak, Ryuzen selalu menatap dengan penuh penuh keagungan dan kelembutan, bak seorang dewa memuja dewinya.


Setelah mereka berdua duduk. Dengan tanpa diminta, pelayan pun langsung datang dengan membawakan sebotol anggur kualitas tebaik dan juga segelas susu untuk mereka. Melihat susu itu membuat Sara senang.


Jadi dia memikirkannya juga, dia tahu aku tengah hamil dan tidak bisa minum, jadi dia meminta pelayan untuk memberikan susu untukku.


"Kau mau makan apa?" Tanya Sara yang sibuk membolak balikan daftar menu tersebut.


"Aku ingin makan apapun yang kau pesankan untukku."


"Oke, baiklah...."


Sara pun akhirnya memutuskan menu apa saja yang ia inginkan untuk makan malam


"Baiklah tuan dan nyonya, tunggu sebentar. Silakan nikmati minuman dan musiknya sambil menunggu pesanan makanannya datang."


"Claire de Lune!"


"Huh?" Sara kembali membuka matanya, saat mendengar Ryuzen mengucapkan kata-kata yang terdengar asing baginya itu.


"Ya musik yang tengah dimainkan ini, adalah salah satu suita piano karya seorang Claude Debussy, Claire de Lune yang artinya cahaya rembulan."


Sara tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Ryuzen saat ini. Sara menopang dagunya dengan satu tangan, menatap kagum pada pria yang ada dihadapannya itu dengan segala karisma miliknya menjelaskan tentang musik klasik padanya.


"Kenapa melihatku begitu?"


"Hemm... tidak apa-apa, hanya sedang kagum saja."


"Kagum?"


"Iya kagum. Aku kagum dan tidak menyangka ternyata, dibalik sifatmu yang kejam, intoleran, dan suka mengintimidasi orang lain. Ternyata kau punya sisi lembut bak seorang seniman."


"Kau kaget?"


"Tidak juga, hanya tidak menyangka saja kalau kau ternyata paham soal musik klasik. Apa kau bisa bermain musik?"


"Sedikit!" balas Ryuzen setelah menenggak anggurnya.


Tiba-tiba Ryuzen bangkit dari kursinya dan mendatangi Sara, ia mengulurkan satu tanganya dan berkata, "Mau berdansa?"


Senyuman manis itu merekah menghiasi wajah cantiknya, ia pun dengan tanpa ragu menjawab, "Dengan senang hati tuan Han."


~~


Ryu dan Sara sudah turun ke lantai dansa, mereka berdansa pun mulai berdansa diiringi alunan musik dari permainan piano yang mengalun merdu.


"Kau masih bisa berdansa dengan baik, apa tidak apa-apa jika kau berdansa se-enerjik ini saat tengah hamil?"


"Tidak apa-apa! Aku malah pernah mengayuh sepeda selama berjam-jam saat usia kandungan Arvin memasuki depalan bulan lho..." kelakar Sara.


Mendengar celotehan Sara tidak membuat Ryuzen tertawa sama sekali. Hal itu justru membuatnya merasa bersalah, karena tidak ada disamping Sara saat masa itu terjadi. Namun Sara yang peka akan hal itu langsung saja, mengalihkan fokus Ryu agar tidak menyalahkan dirinya berlarut-larut lagi.


"Tuan muda Han, aku tidak suka berdansa dengan pria yang malah sibuk dengan pikirannya sendiri."


Ryu sepertinya paham keinginan istrinya saat itu.


"Maafkan aku nona."


Alhasil kini mereka pun berdansa dengan lepas hingga selesai, diakhiri dengan pose saling berhadapan dimana Ryuzen melingkarkan kedua tangannua di pinggang Sara, dan Sara yang mengaitkan kedua lengannya di bahu Ryuzen.


"Sudah puas berdansanya senorita?" Tukas Ryu.


"Yes!"


"Kalau begitu sekarang kita habiskan makan malam kita ya, anak diperutmu harus makan bukan?"


"Ya, kau benar!"


Mereka berdua akhirnya memutuskan kembali ke meja makan, dan menyantap makan malam yang telah dipesannya tadi.


🌹🌹🌹


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Happy reading and hopefully you like it y all...


[Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]