
Sara kini pun hanya bisa diam saja dan mengikuti semua yang dilakukan Ryuzen, tanpa berkata apapun. Karena ia takut jika ia berisik, akan ada yang melihat mereka, apalagi awak media.
"Ini kedua kalinya dia menggendongku begini, kalau awak media lihat dan dijadikan berita, yang ada aku bisa dijadikan daging cincang oleh pemujanya Tuan Ryuzen."
"Ryuzen, aku masih bisa jalan kok, kau turunkan saja aku...."
"Nanti aku turunkan di jalan tol mau?"
Sara malah mengerucutkan bibirnya.
~~
Sesampainya di rumah Ryuzen membawa Sara ke kamarnya dan mendudukannya di atas ranjang di dalam kamarnya.
"Kau diam saja, aku akan ambil obat untuk kakimu," Sara pun diam dan menuruti kata-kata Ryuzen itu. Setelah mengambil obat, Ryuzen langsung mengolesi obat itu ke kaki Sara dengan begitu telaten hingga selesai.
"Sepatumu tidak pas kenapa tidak bilang sejak awal!" ucap Ryuzen dengan wajah seriusnya yang jujur bagi Sara malah terlihat makin tampan.
"Sudahlah... cuma lecet sedikit, besok juga sudah tidak apa-apa," jawab Sara dengan entengnya.
"Sara hal sekecil ini, kau bahkan tidak mau bilang padaku, apa semenakutkan itukah diriku bagimu?"
Wajah Ryuzen terlihat nampak begitu serius namun tidak menakutkan seperti tadi. "Aku memang tidak apa-apa, sejak kecil aku sudah biasa melakukan apa-apa sendiri dan menanggung apa-apa sendiri. Jadi, kalau hanya masalah sepatu yang tidak pas itu tidak usah dipikikan. Buktinya lihat! Aku baik-baik saja kan?" ujar Sara diikuti gelak tertawa kecilnya.
"Sebenarnya wanita ini bodoh sejak lahir atau bagaimana sih!" ungkap Ryuzen di pikirannya.
Ryuzen membuka tuxedo-nya dan kemudian berganti pakaian, dirinya lalu berjalan keluar kamar.
"Kau mau kemana? " tanya Sara.
"Ada yang masih harus aku kerjakan, kau istirahat saja disini. Tenang saja malam ini aku tidak akan menyentuhmu," ucap Ryuzen lalu keluar kamar.
"Ryuzen Han, tolong jangan terlalu baik padaku. aku takut pertahanan yang telah aku buat selama ini akan runtuh perlahan. Aku tidak mau jatuh dan sakit oleh hal yang tidak mungkin aku dapatkan."
**
Di ruang kerjanya Ryuzen mangambil sebuah kotak yang telah lama ia simpan, ia mengambil kotak berdebu itu untuk ia buka. Namun yang awalnya ia ingin membukanya malah urung ia lakukan, karena harus mengangkat telepon dari Kenzo.
~~
"Ya Tuhan... aku belum siapkan sarapan!" ujar Sara panik lalu bangun dari ranjangnya, dan langsung menuju dapur. Tapi entah mimpi atau bukan, diatas meja makan Sara melihat sudah tersedia sarapan dan secangkir teh chamomile, yang di sebelahnya terdapat sebuah pesan dari Ryuzen.
Aku berangkat pagi-pagi, hari ini kau bisa ambil cuti, yang terpenting kau habiskan sarapan yang telah aku pesankan buatmu. Tertanda -Ryuzen Han
"Aku tidak tahu, ternyata Tuan Muda Ryuzen yang begitu bisa peduli juga pada orang lain," Sara tersenyum memandangi sarapan yang telah disiapkan oleh Ryuzen.
Setelah menghabiskan sarapannya, Sara pun langsung mengirimi pesan ucapan terimakasih kepada Ryuzen.
"Aku akan kirimi dia pesan dulu deh!"
Pesan dari Sara
Terimakasih sarapannya, lain kali buatkan sarapan yang kau masak sendiri boleh ya? Hahaha *tidak aku hanya bercanda.
Ryuzen membaca pesan dari Sara lalu membalasnya.
Pesan dari Ryuzen
Aku akan masak untukmu, asalkan kau harus habiskan semuanya.
Pesan dari Sara
Tidak terimakasih ini sudah cukup, aku tidak ingin mengganggumu, kau teruskan saja kerjamu. Aku hanya ingin bilang terima kasih.
Beberapa saat setelah membaca pesan dari Sara, Kenzo masuk ke ruangan Ryuzen.
"Bagaimana?" tanya Ryuzen pada kenzo.
"Tuan! Sepertinya kecurigaan yang kau katakan padaku semalam kemungkinan besar adalah benar."
Ryuzen mendadak serius setelah mendengar perkataan Kenzo.
"Jadi, Sara benar-benar wanita lima tahun lalu?"
Bersambung....
Jangan lupa like, comment dan votenya ya temen-temen. Thank you ๐