
Setelah menghindari serbuan awak media dengan susah payah. Akhirnya, Ryuzen, Sara dan Arvin bisa berkumpul di dalam satu mobil untuk menuju pulang ke kediaman mereka. Arvin yang duduk diantara kedua orang tuanya itu, tidak hentinya terus saja menggenggam tangan Sara sambil terus menampakkan wajah sumrigah di sepanjang perjalanan.
"Apa kau sangat merindukanku, hingga tidak mau melepaskan tangaku sedetik pun?" Seloroh Sara.
Dengan malu-malu Arvin menjawab, "Ya, aku merindukan mami."
Mendengar jawaban putranya itu, sontak membuat Sara tak kuasa untuk memeluk Arvin dengan segala kerinduannya yang sudah tidak terbendung lagi.
"Aku juga selalu menrindukanmu anakku...."
Sepasang ibu dan anak itu terlihat saling melepas rindu, bahkan sampai Ryuzen yang ada disebelah mereka seolah terbaikan. Dan lucunya, Ryuzen yang duduk disebelah Arvin jelas-jelas terlihat cemburu melihat anak dan istrinya saling bercengkrama begitu.
Heh! Harusnya kan yang dipeluk pertama itu aku bukan dia.
Menyadari gelagat sang papi yang cemburu, terang saja di otak Arvin langsung muncul ide untuk menjahili Ryuzen.
"Mami hari ini aku ingin tidur bersama mami saja berdua ya....?" rengek Arvin.
Huh? Apa-apaan!
Mata pria yang berada disebelah Arvin itu pun menyipit, tanda merasa terusik dengan ucapan anaknya.
"Tidak bisa!" Tegas Ryuzen.
"Kenapa?" Arvin mulai protes.
"Pokoknya aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa," pungkas Ryuzen dengan entengnya.
Hahaha.... Papi, kau pikir aku akan kalah darimu? Lihat aja akan ku buat dirimu kesal. Pikir Arvin diikuti senyum liciknya yang terlihat lucu.
"Huhu... mami, lihat kakiku sakit...! Aku ingin sekali mami yang merawatku. Tapi mami lihat? Papi malah seperti marah padaku."
Anak ini....! Mau bertarung denganku ya? Kau pikir pria kecil sepertimu bisa menang dariku, heh kita lihat saja!
"Oh jadi anak pintar sakit ya? Mana coba papi lihat!" Ryuzen menarik kaki Arvin yang terluka, dan meletakannya ke atas pangkuannya.
"Papi mau apa? Kakiku kan- sedang terluka!"
"Papi hanya mau periksa, separah apa lukamu itu sehingga membuatmu tiba-tiba jadi manja begitu. Jangan-jangan kakimu harus di amputasi?"
"Apa?!" Tukas Sara kaget mendengar kata amputasi.
"Istriku tidak perlu kaget, kau tenang saja biar aku periksa dulu keadaan anak kita." Ryuzen seolah terlihat ingin menyiksa anaknya dibanding dibilang memeriksa.
Kenapa aku punya papi sadis begini? Apa yang mau dia lakukan pada kakiku yang sakit. Arvin menatap ekspresi Ryuzen yang kini tersenyum datar padanya.
Kenapa papi tersenyum begitu? Arvin mulai punya firasat buruk.
Mau menjahili aku nak? Biar aku tunjukan dulu ada dimana levelmu, berani menjahili ayahmu heh!
"Aaa.. baiklah! Aku, aku tidak usah tidur dengan mami," ungkap Arvin tanda menyerah.
"Kenapa teriak? padahal aku belum mulai memeriksa kakimu," balas Ryuzen meledek.
"Tidak usah! Aku..., aku sudah tidak apa-apa kok papi!"
"Lihat! Aku menang, kau kalah! Terlalu cepat untukmu menjahili aku nak," bisik Ryuzen pada Arvin.
Dasar orang tua kejam! Papiku itu memang sepertinya lebih cocok disebut sebagai jelamaan iblis licik yang terlepas dari neraka.
"Arvin sayang, kau sungguh baik-baik saja? Kalau kau mau, kau boleh tidur dengan mami kok!" ungakap Sara terlihat khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa kok Mami, sungguh! Aku tidur dikamar biasa saja."
"Melihatmu begini, mami malah jadi ingin menemanimu," Tukas Sara yang tidak tega dengan anaknya yang sedang terluka itu.
"Tidak apa Mami. Bagiku... mami sudah tidak dipenjari di tempat itu saja aku sudah sangat bahagia," tukas Arvin sumringah.
Sementara itu, Ryuzen hanya bisa tersenyum bahagia, melihat istri dan anaknya kini sudah berada berkumpul bersamanya, dan saling bercengkrama.
Aku bersyukur memiliki kalian di dalam hidupku. Entah bagaimana hidupku jika tanpa kalian.
Tiba-tiba Arvin menarik jas Ryuzen.
Huh?
"Aku juga sayang papi," tukas Arvin melirik Ryu.
Dan ketiganya pun saling berpelukan dengan penuh rasa suka cita dalam kehangatan keluarga kecil mereka. Lewat kaca spion, Kenzo yang sedang menyetir, melihat pemandangan keharmonisan keluarga tuannya itu pun ikut teharu dibuatnya.
"Hiks, aku senang sekali melihat kalian berkumpul. Benar-benar seperti keluarga bahagia yang sempurna. Aku yakin, siapapun orang yang mencoba memisahkan kalian, pasti orang itu tak memiliki kebahagiaan di hidupnya."
"Terima kasih paman Kenzo! Tapi sepertinya..., kau juga harus segera cari pacar dan menikah deh," celetuk Arvin.
Sara hanya bisa menahan tawa mendengar celotehan putrannya itu.
"Anakku benar! Kenzo carilah pacar! Apa perlu aku yang carikan untukmu?"
"Eh tuan, ti-tidak perlu, aku bisa mencari sendiri kok!" Kenzo mulai kesal dengan topik pembicaraan ini.
"Atau paman Kenzo mau aku yang bantu carikan?" Goda Arvin.
Kenapa ucapan mereka kesannya malah terdengar seperti, aku ini sedang di ledek oleh mereka ya?
Batin Kenzo meratap.
"Paman Kenzo tidak usah malu begitu, aku dan papiku kan tampan dan menawan. Pasti lebih sudah pandai soal menggaet hati wanita di luar sana, jadi jangan sungkan untuk minta bantuan," terang Arvin.
"Betul yang dikatakan anakku!" Sahut Ryuzen dengan perangai jumawanya.
"Ehem!" Suara deham terdengar dari tenggorokan Sara, yang kini sedang memasang raut wajah masamnya.
"Jadi, mahir menggaet wanita ya? Wanita yang bagaimana kalau boleh tau?" Tanya Sara bernada sinis.
Arvin melihat ke arah Ryuzen.
"Papi, mami cemburu sepertinya!" Gumam Arvin.
Ryuzen hanya terdiam. Ia malah tersenyum geli melihat istrinya yang kini terlihat tengah cemburu itu. Ryzuen pun tiba-tiba berbisik pada Arvin, dan menyuruh Arvin mengatakan apa yang dibisikannya itu kepada Sara.
"Mami coba rendahkan kepalamu sebentar," pinta Arvin. Dengan tanpa banyak tanya Sara langsung saja mengindahkan permintaan anak laki-lakinya itu.
"Ada apa?"
Arvin pun langsung mendekatkan bibirnya dan membisikan sesuatu ke telinga Sara, "Papi bilang, dia mudah menggoda wanita, tapi sayangnya dia hanya tergoda dengan satu wanita cantik, yaitu dirimu."
Sara seketika tersipu malu, wajahnya berubah memerah bak buah ceri yang telah matang.
"Huh! Dasar pria narsis," Gumam Sara sambil menutupi ekspresinya yang kini tersipu malu.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update ðŸ˜. Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak buat kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca cerita ini. Sekali lagi maaf banget karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian yang masih setia, dan masih sabar untuk membaca karyaku sederhanaku ini. Walau mungkin pembaca udah banyak yang pergi tapi aku akan tetap selesaikan cerita ini, karena itu tanggung jawabku sebagai yang memulai cerita ini.
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mau tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote aku sangat berterima kasih🥺
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading guys and hopefully you like it.
For more info follow my instagram account @chrysalisha98 yaw..😉