
Setelah selesai bertemu dan bersapa, kemudian saling menghilangkan rasa rindu yang tak terbendung antara tersepasang anak dan ibu. Akhirnya nenek Ivy pun sudah harus kembali beristirahat. Setelah nenek Ivy kembali kembali beristirahat, mereka bertiga pun meninggalkan nenek Ivy yang sudah tertidur.
"Mm..., kalau begitu aku pamit pulang duluan ya. Kak Miya juga sudah berpesan jika sebentar lagi akan datang kemari untuk menjaga nenek," ucap Sara.
"Kau mau pulang? Jika iya, bagaimana jika aku yang antar kau pulang?" ujar Jordan menawarkan tumpangan pada menantunya tersebut.
"Iya Sara, pulanglah dengan ayah mertuamu ini," imbuh Jason.
"Hem, baiklah!" Sara akhirnya setuju untuk pulang diantar oleh ayah mertuanya. Selain sudah malam, Sara berpikir dirinya bisa memanfaatkan momen tersebut, untuk mengobrol lebih dekat dengan Jordan, sekaligus mencari tahu apa alasan yang membuat Jordan sampai harus tega meninggalkan Ryuzen dan ibunya di masa lalu.
~
Setelah sekitar 30 menit di perjalanan. Sara dan Jordan akhirnya tiba di depan vila constel. Sara pun bergegas membuka sabuk pengamannya, dan bersiap untuk turun dari mobil Jordan.
"Nak, sebelum kau turun dan masuk kedalam aku ingin bertanya. Di perjalanan tadi kau mengatakan jika kau dan Ryu sudah memiliki seorang anak. Maksudku... "
"Maksudmu, kau ingin bertemu dengan cucumu?" ujar Sara tanpa ragu-ragu sebelum dirinya keluar dari mobil.
Jordan mengangguk pelan, tanda mengiyakan ucapan Sara yang barusan itu.
Sara pun membalasnya dengan tersenyum, "Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak mengizinkan seorang kakek, untuk menemui cucunya sendiri."
"Terima kasih Sara," balas Jordan.
"Apa kau ingin melihat dan menyimpan foto cucumu di ponsel?"
"Bolehkah?" tanya Jordan memastikan.
"Haha tentu saja." Dengan segera Sara merogoh ponsel miliknya dari dalam tas. Lalu dirinya membuka galeri ponselnya dan mencari foto Arvin untuk ditunjukkan pada ayah mertuanya tersebut.
"Ini!" Sara memperlihatkan foto Arvin yang ada di ponselnya.
"Kau yakin ini cucuku?" tanya Jordan dengan ekspresi yang terlihat terkejut setelah melihat foto Arvin.
"Iya, ini anakku dan Ryuzen. Memangnya, ada apa?" tanya Sara yang heran dengan reaksi kaget ayah mertuanya tersebut.
Jordan menghela napas panjang kemudian terkekeh kecil. "Takdir manusia itu memang sungguh lucu, benar-benar lucu."
"Maksudmu?" Sara semakin tidak paham dengan perkataan Jordan tersebut.
"Kau tau, beberapa hari yang lalu di taman dekat alun-alun kota. Aku bertemu dengan putra kalian."
"Benarkah?" Sara seolah tak percaya.
"Ya, bukan hanya bertemu bahkan aku sudah mengobrol cukup banyak dengannya. Kau tau tidak? Arvin adalah seseorang yang membuatku sadar jika masalah di hidup ini harus dihadapi, bukan dihindari. Dan dia juga yang memberiku keberanian sehingga akhirnya aku berani melihat ibuku setelah sekoan lama."
Sara pun tergelak, "Wow betapa sempitnya dunia ini ya! Aku rasa kau benar! Takdir manusia terkadang memang sangat lucu dan tak terduga."
"Ya, dan tidak ada siapapun yang bisa menebak bagaimana takdir akan membawa manusia itu sendiri," balas Jodan.
"Umm, Ayah mertua... lalu kapan?"
Jordan menyipitkan matanya, "Kapan, apa maksudmu?"
"Kapan kau akan memberanikan diri untuk mengakui jika dirimu adalah ayah kandung dari suamiku?"
Pertanyaan Sara barusan berhasil membuat nyali Jordan lagi-lagi menciut. Wajahnya yang tenang pun kini berubah menjadi gusar.
"Entahlah..., jujur saja aku benar-benar seolah tidak memiliki nyali untuk mengatakan itu padanya." Jordan tersenyum getir.
"Bahkan sepertinya, untuk menatapnya langsung saja, aku seolah tak mampu. Terlalu besar kesalahanku padanya, bahkan mungkin aku tidak pantas mendapatkan pengakuan seorang ayah darinya," ujar Jordan dengan nada sendu.
Sara tertawa mencibir, "Apa kau pikir aku tak punya kesalahan dalam hidupku? Apa kau pikir aku manusia suci? Dan apa kau pikir putramu tak memiliki kesalahan yang besar di hidupnya huh?" Sara menatap Jordan dengan tatapan serius.
"Tapi aku-"
"Ayah mertua, apa kau tau jika manusia selalu memiliki kesempatan kedua di dalam hidupnya?"
"Ya aku tau itu, tapi aku-"
"Kau manusia, dan setiap manusia selalu memiliki kesalahan di dalam hidupnya. Manusia mungkin terlahir bagai kertas lembaran putih, namun seiring semakin bertambahnya usia, dan banyak hal yang dilewati. Lembaran putih itu akan penuh terisi dengan berbagai macam tinta yang menjadikannya tidak putih lagi. Jadi, berhentilah merasa menjadi manusia paling bersalah di dunia. Setidaknya kau bisa menebus dosa-dosamu dengan menunjukkan jika kau benar-benar menyesal bukan?"
Sara tersenyum kecil dan menatap sang ayah mertua, "Aku tahu kau tidak menginginkan semua itu terjadi di masa lalu. Tapi yakinlah kau memiliki putra yang luar biasa."
Jordan kini terlihat lebih yakin dan berkata, "Ya, kau benar!"
"Kalau begitu, aku masuk dulu. Lain kali, aku akan mempertemukanmu dengan Arvin," kata Sara.
"Oh ya? Aku benar-benar menunggu saat-saat itu."
"Baiklah ayah mertua, selamat malam!"
"Selamat malam nak," balas Jordan dengan nada lembut.
Sara pun kemudian turun dari dalam mobil Jordan, dan berjalan masuk ke dalam villa.
~
Sara memasuki vila tempat dimana ia tinggal hampir satu tahun terakhir ini. Dirinya sudah tahu jika suaminya itu belum pulang karena ada urusan penting, yang di yakininya bukan urusan bisnis biasa. Wanita cantik itu langsung meletakan tasnya diatas meja dan menyandarkan tubuhnya diatas sofa, untuk membuat dirinya serileks mungkin. Bagi Sara hari ini cukup melelahkan terlebih setelah mengetahui jika Jordan adalah ayah kandung suaminya.
"Tentu saja tidak bisa menyalahkan Ryuzen atas semuanya. Dia berhak marah dengan ayahnya. Tapi... aku juga tahu dari sorot matanya, jika tuan Jordan benar-benar menyesal dan selalu diselimuti rasa bersalah. Aku harus membuat mereka saling bertemu!" ucap Sara yang kemudian menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
Namun tiba-tiba ponsel Sara berbunyi, dan ternyata adalah pemberitahuan sebuah pesan dari sang suami. Sara pun langsung saja membuka pesan dari suaminya itu.
Pesan dari Ryuzen
Kau sudah pulang? Kata Jason kau tadi mengunjungi nenek, kenapa kau tidak bilang padaku?
Sara segera membalas pesan itu,
Maaf ya sayang, aku tidak bilang padamu. Aku tadi juga tiba-tiba karena kak Miya yang meminta. Kau dimana?
Pesan dari Ryuzen.
Begitukah? Aku sedang ada di perjalanan menuju pulang. Kau tunggu aku, aku akan tiba sebelum 20 menit.
Sambil tertawa kecil Sara pun membalas pesan suaminya itu dengan kalimat usil.
Tidak! Pulang kurang dari 20 menit dan belikan aku roti isi di toko dekat alun-alun kota. Kalau terlambat aku pastikan tidak ada kecupan sambutan pulang
Pesan dari Ryuzen
Jadi kau menantangku? Baiklah jika aku berhasil tiba sebelum 20 menit dan membawa roti kesukaanmu. Jangan salahkan aku kalau aku menghajarmu hahaha....
Pesan dari Sara
Aku menunggumu....
Setelah membaca pesan balasan dari sang istri, Ryu langsung memerintahkan Kenzo.
"Kenzo, aku tidak mau tahu. Kau harus bisa membawaku pulang dalam waktu dua puluh menit!" titah Ryuzen.
"Eh, tapi Tuan?"
"Tidak boleh protes! Sekarang mampir dulu ke toko roti di dekat alun-alun," tukas Ryuzen.
Huh! Pasti ini titah ibu negara, makanya aku tidak boleh protes.
"Kenapa memasang wajah tidak ikhlas begitu?" ucap Ryuzen dengan nada datar namun tatapannya sebaliknya.
"Hahaha tidak kok tuan, b-baiklah laksanakan!" balas Kenzo pasrah yang kemudian langsung menuju tempat yang dimaksud bosnya itu.
๐น๐น๐น
Thanks for always keeping up and support me.
Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan comment, like, dan vote. Kritik dan sarannya juga ditunggu.
Happy reading fellas, i hope you like it ๐