
"Renji... kau sudah selesai dengan urusanmu?" Ujar Sara menyambut Renji.
"Hem, aku sudah!" Renji melirik dan membalas tatapan sinis Jesper dengan tersenyum. "Hai! Kau Tuan Jesper Lin kan?"
Pria ini kenapa tidak sama sekali terprovokasi denganku? "Oh hai, tidak menyangka kita akan bertemu lagi tuan RenHao," sahut Jesper.
"Jadi kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Sara yang tidak menyangka.
"Iya, kebetulan aku dan tuan Jesper pernah mengobrol beberapa waktu lalu! Bukan begitu tuan Jesper?"
"Begitulah..." Renji Haoran, apa sebenarnya yang ia rencanakan saat ini?
"Tidak kusangka dunia begitu sempit!" Sahut Gina yang baru kali ini melihat Renji.
"Dan kau... pasti nona pengacara Gina, teman Sara, iyakan?"
"Iya kau benar, aku Gina senang bertemu dengan anda tuan Renー"
"Ji, Renji, kau dan tuan Jesper juga, kalian bisa panggil aku Renji saja, itu nama asliku."
"Baik... tuan Renji senang bertemu denganmu," Gina dan Renji saling berjabat tangan. Di lain sisi, Jesper masih terus saja mengamati Renji dengan was-was. Karena bagi Jesper, Renji tetap saja terlihat mencurigakan. Diawasi begitu, Renji pun membalas dengan menoleh ke arah Jesper, kemudian tersenyum miring padanya."Tuan Jesper, dari tadi menatapku? Apa kau sedang mengawasi aku?"
"Ah tidak, mungkin itu hanya perasaan tuan Renji saja."
"Heh! Ya... mungkin perasaanku saja." Kau pikir aku tidak tahu kau sejak tadi mengawasiku Jesper Lin?
"Gina, bisakah kita pulang sekarang? Aku merasa lelah sekali, dan ingin segera beristirahat!" pinta Sara sambil memegangi pelipisnya merasa penat berlama-lama di rumah sakit.
"Baiklah... kita pulang." Gina mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Sara. Sebenarnya Gina ingin sekali menginterogasi semua kejadian yang menimpa Sara hari ini. Tapi melihat keadaan Sara yang kurang baik, Gina pun akhirnya mengurungkan niatnya. Biarlah dia bercerita jika sudah lebih baik!
Di belakang Gina yang mendorong Sara, Renji dan Jesper tampak saling mengintai satu sama lain. Berbeda dari pertemuan mereka yang pertama, kali ini mereka sama sekali tidak ramah satu sama lain. "Tuan Renji, maaf sebelumnya... tapi apa hubunganmu dengan Sara?"
Renji tersenyum miring. "Hubunganku dengannya, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu tuan Jesper."
"Kau!" Jesper geram dibuatnya oleh jawaban Renji barusan.
"Kau marah? Kau suka pada Sara? Heh! Lucu sekali ya... pura-pura jadi teman baik, ternyata memendam rasa cinta yang betepuk sebelah tangan!"
Merasa sedang diejek Jesper pun membalas denga tersenyum mengejek kepada Renji. "Heh, bukankah... kau juga begitu tuan Renji?"
"Setidaknya aku tidak sepertimu tuan Jesper! Aku tidak berpura-pura menjadi teman baik, padahal di dalam hatinya sangat berharap memiliki! So sad..."
Sial! Dia terus mengejekku! Jesper yang kesal, hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosinya.
~~
Sesampainya di parkiran. Renji dengan sigap langsung membantu Sara masuk ke dalam mobil. Melihat hal itu tentu saja membuat Jesper tidak suka, terlebih hingga saat ini, Jesper melihat apa dilakukan Renji saat ini, sepertinya memiliki maksud tertentu.
Ternyata kau masih suka pada Sara ya? Gumam Gina dalam hati, melihat Jesper terus saja meratapi Renji yang tengah memegangi Sara.
"Renji, terima kasih banyak..., aku berhutang banyak hal padamu," ucap Sara yang kini sudah berada di dalam mobil.
"Tidak apa Sara, karena apapun untukmu.... Aku akan selalu ada setiap saat," tukas Renji diikuti senyuman simpul dibibirnya.
"Tuan Renji... kalau begitu, kami pamit dulu! Permisi." Ujar Gina pamit pada Renji.
"Ya, hati-hati menyetirnya tuan Jesper...!" Seru Renji melirik Jesper dari balik kaca mobilnya yang masih turun. "Sara... kau cepat sembuh!" Imbuhnya.
Dan akhirnya... mereka bertiga pun pergi membawa Sara pulang, meninggalkan Renji disana.
Semakin banyak penghalang! Tapi tidak apa, Jesper bukan ancaman bagiku sama sekali!
~~
Di perjalanan pulang, Gina menoleh ke kursi belakang. Disana ternyata Sara terlihat tengah tidur, mungkin karena kelelahan.
"Dia tertidur?" Tanya Jesper yang masih sibuk menyetir.
Hem! "Jes, apa yang sebenarnya terjadi pada Sara? Dan kenapa bisa Renji yang bersamanya? Banyak yang ingin aku tanyakan, terlebih... saat tadi aku tanya ada apa, kenapa Sara seperti ketakutan, apakah hal buruk menimpanya?"
"Apa?" Gina tampak tertegun dan tak menyangka mendengar cerita dari Renji tersebut. "Kenapa ada orang setega itu mau menyakitinya!" Gina merasa iba pada sahabatnya itu.
"Aku pun tak menyangka, bagaimana bisa ada orang yang mau menyakitinya sampai seperti itu.... dan lagi-lagi pertanyaanku sama, kenapa Renji bisa tahu dimana Sara saat itu!"
"Entahlah Jes, aku hanya.. tidak bisa bayangkan bagaimana terpukulnya Sara saat ini. Belum lagi... aku tidak bisa bayangkan, bagaimana reaksi Ryuzen kalau sudah kembali nantinya? Huft...! Kepalaku pusing memikirkan masalah sahabatku satu ini."
Jesper menepuk pundak Gina dan mengusapnya mencoba menenangkan Gina. "Sudahlah... kau jangan terlalu memikirkannya, kau juga harus ingat dengan kesehatanmu sendiri."
Gina tersenyum mendengar perkataan Jesper barusan, yang cukup membuatnya menjadi merasa lebih baik.
~~
Di tempatnya bernaung... Orizel tampak tak berdaya duduk diatas sofa, kakinya nampak diperban hingga dirinya tidak bisa berjalan jika tak dibantu. Disana, Biyan Dao yang melihatnya justru malah menertawakan Orizel.
"Sial! Kenapa kau malah menertawakanku? Dasar orang tua tak tau diri!"
Biyan terus saja tertawa. Bagaimana tidak, dirinya sampai merasa tak habis pikir. Orizel yang tadinya ingin bermain dengan seorang wanita malah berakhir menyedihkan begini.
"Diam kau pria tua!" Ujar Orizel kesal melihat Biyan yang terus menertawakannya tak henti-henti.
"Ternyata kau memang pecundang Orizel, bahkan mendapatkan istrinya untuk menemanimu saja kau tak mampu, bagaimana kau mau menghancurkan Ryuzen!" Gelak tawa mengejek Biyan terdengar renyah.
"Cih! Kalau saja si brengsek Renji tidak datang aku pasti sudah menjalankan rencanaku dengan mudah!"
Biyan Dao mengernyitkan dahinya. "Apa kau bilang? Renji?"
"Ya! Pria sialan itu yang menembak kakiku, dan menendangnya sampai cidera seperti ini!"
Kenapa Renji menolong istrinya Ryu? Apakah Renji tengah merencanakan sesuatu? Biyan dibuat bertanya-tanya akan hal itu. Mengingat Biyan tahu betul jika, Renji sangat membenci Ryuzen. Tunggu dulu! Waktu itu juga.... Biyan langsung teringat saat kasus yang dirinya memfitnah Sara, dan menjebloskannya ke penjara. Biyan ingat sekali, Renjilah waktu itu yang membantu Sara terbebas dari jeratan hukum, dengan mencuri flashdisk darinya diam-diam. Oh... Aku paham sekarang...! Jadi dua pria dengan kelemahan yang sama. Ryuzen, tunggu saja... kali ini kau yang akan terjebak pada permainan yang akan aku buat. Senyum licik itu terlukis jelas di bibir Biyan.
"Hei pria tua! Kenapa kau diam, cepat kau bantu aku berdiri!" Ujar Orizel yang kesulitan berdiri. Biyan berjalan medekati Orizel untuk membantunya. Namun alih-alih membantu Orizel, Biyan malah dengan sengaja melepaskan pegangannya pada Orizel di tengah-tengah lantai, hingga membuat pria itu jatuh lunglai diatas lantai. Orizel pun spontan mengerang kesakitan. "Apa yang kau lakukan pria tua!"
Biyan Dao berdiri di hadapan Orizel sambil memandang rendah pria yang kini tak bisa berdiri itu. Orizel mendongakan kepalanya, "Biyan Dao, kau...!"
"Orizel! Kau itu sudah gagal!"
"Apa maksudmu berkata begitu!"
"Bagiku... kau tidak lebih dari sekedar sampah yang sudah tidak berharga lagi."
Orizel tampak meringis menahan sakit di kakinya. "Kurang ajar! Beraninya kau berkata padaku begitu orang tua!"
"Memalukan! Sudah gagal tapi masih berani sombong. Kau pikir, kau tidak bisa membantuku menghancurkan Ryu?"
Sialan kau Biyan!
"Hukum alam memang selalu berlaku, apa yang tidak kau butuhkan maka harus kau buang! Orizel... mulai saat ini... dimataku... kau hanyalah sampah yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Jadi mulai sekarang... apapun yang terjadi padamu, bukanlah urusanku!" Ujar Biyan memandang rendah Orizel.
Orizel geram ia pun langsung menarik bagian celana Biyan sambil berteriak, "Kau pria tua sialan! Beraninya kau membuangku seperti sampah saat kau sudah tidak membutuhkanku lagi. Kau itu...!"
Bug!
Biyan langsung melepaskan tangan Orizel dengan menendangnya, hingga bibirnya terluka. "Memang apa yang aku harus harapakan dari pria pecundang sepertimu Orizel...?"
Ugh...sialan! Biyan menarik rambut Orizel dan berucap, "Aku ucapkan terima kasih atas kebodohanmu. Urusan kita selesai!" Biyan Dao pun melepaskan rambut Orizel dengan kasar, lalu pergi.
Selamat tinggal Orizel, nikmati saja sisa waktu di hidupmu, sebelum kau kau mati ditangan orang lain!
"Keparat kau Biyan Dao...!" Teriak Orizel yang tak berdaya dihempas bagai sampah oleh Biyan Dao.
🌹🌹🌹
Hai my beloved Readers... terima kasih ya buat kalian yang masih setia dengan kisah novel yang kubuat ini. Terutama yang sudah menyediakan waktu untuk LIKE, COMMENT, VOTE author sangat berterima kasih sekali.
Jangan lupa juga untuk follow my IG di @chrysalisha98