Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chapter 114 : Merasa takut


Di Ruang utama Sara masih gamang, ia terlihat membawa kotak obat ditangannya, Sara ingin sekali melihat Ryuzen dan mengobati lukanya. Namun dirinya juga takut Ryuzen akan melakukan hal mengerikan lagi seperti tadi padanya.


"Tapi aku benar-benar ingin melihat keadaannya saat ini."


Akhirnya Sara pun memberanikan diri untuk menemui Ryuzen, karena dirinya benar-benar ingin melihat keadaannya saat ini. Sara mulai untuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Sara yang sudah sampai di depan pintu kamar, dirinya membuka pintu kamarnya tersebut dan ternyata, disana Ryuzen yang tubuhnya topless dan hanya mengenakan celana bahawan tengah duduk di pinggir ranjang. Ia menatap ke arah Sara yang baru masuk dengan membawa kotak p3k ditangannya.


Sara berjalan mendekati Ryuzen dan duduk di sebelahnya. Sara menyentuh bagian dahi sebelah kanan Ryuzen yang terdapat bekas sedikit memar dan goresan akibat benturan vas tadi.


"Kenapa kau kemari?" tanya Ryuzen pelan dengan suara beratnya.


"Kau terluka," Sara menyentuh luka di dahi Ryuzen.


"Sara, aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini,"


Sara mengambil kapas dan obat untuk dioleskan ke luka di dahi Ryuzen.


"Aku tahu, tapi tetap saja yang namanya luka harus diobati!"


Sara pun mengolesi luka itu dengan hati-hati, lalu menempelkan plester lukanya.


"Sudah!" Sara selesai mengobati luka Ryuzen.


"Sara, apa kau takut padaku?" tanya Ryuzen tiba-tiba.


Sara membuang wajahnya tidak berani menatap Ryuzen.


"Aku..., aku seperti melihat sosok dirimu yang dulu pernah menyakitiku," ucap Sara lirih.


"Sudah ku duga, maafkan aku yang lepas kendali dan hampir menyakitimu," ungkap Ryuzen dengan penuh penyesalan.


Sara memandang Ryuzen dan bertanya,


"Apa kau sengaja memukul kepalamu, untuk mencegah dirimu yang mulai kehilang kendali secara emosinal agar tidak menyakitiku?"


Ryuzen hanya tersenyum simpul dan tak menjawabnya.


"Ryuzen apa kau punya...."


"Aku tidak apa-apa Sara," Ryuzen menyela ucapan Sara.


"Baiklah...."


Suasana menjadi hening sejenak, hingga akhirnya Ryuzen membuka suaranya.


"Sara, boleh aku tanya sesuatu padamu?"


"Ya tentu saja."


"Apa kau pernah merasa ragu, terhadap perasaanmu sendiri terhadap orang lain?"


Sara tersenyum getir, Sara berpikir jika Ryuzen berkata begini, karena sedang membicarakan dirinya yang ingin kembali merajut cinta lamanya dengan Erika.


"..., Aku rasa semua orang pernah merasakan itu."


"Lalu jika merasa ragu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ryuzen lagi.


"Aku tidak tahu, tapi aku rasa keraguan muncul dikarenakan kau tidak punya keberanian untuk mengatakan dan melakukannya. Jadi menurutku, lakukan saja apa yang hatimu inginkan dan percayai, memang butuh keyakinan lebih, tapi itu lebih baik dari pada menyikasa batinmu dengan keraguan yang tak berujung."


"Dan setidaknya kau masih punya harapan atas Erika, tidak sepertiku yang jelas-jelas tidak punya harapan!"


"Seandainya, yang kau dapat tidak sesuai seperti yang kau inginkan," ungkap Ryuzen.


"Setidaknya setelah itu rasa ragu tidak akan lagi menghantuimu kan?" sahut Sara.


"Kau mau menyatakan perasaan ya?" tanya Sara dengan suara lirih.


"Tapi aku takut di tolak, aku takut diriku tidak diinginkan olehnya," ucap Ryuzen untuk pertama kalinya mengatakan takut didepan Sara.


Sara tergelak, mendengar jawaban Ryuzen barusan.


"Aku hanya merasa lucu saja, seorang Ryuzen Han yang memiliki tingkat percaya diri diatas orang normal takut ditolak, bukankah itu sebuah lelucon?" Sara masih tertawa.


"Aku juga manusia, aku punya lapisan batasku sendiri Sara," balas Ryuzen.


Sara pun berhenti tertawa, melihat sisi lain Ryuzen dihadapannya yang kini terlihat layaknya manusia lain yang juga memiliki hati dan rasa takut.


"Jadi dia juga bisa merasakan takut? Padahal kesempatan kembali dengan Erika terbuka lebar, Aneh!


"Tapi kenapa melihatnya seperti ini, aku seperti melihat sisi tersembunyi yang selama ini tidak ingin ia perlihatkan pada siapapun. Aku bahkan tidak pernah melihat Pria ini meluapkan emosinya secara gamblang."


"Ryuzen, jujur saja ya, terlalu melankolis begini sepertinya tidak cocok sama sekali buatmu deh!" Sara mencoba membuat Ryuzen kembali seperti biasanya karena sejujurnya.


"Jadi, aku lebih cocok yang bagaimana?" goda Ryuzen sambil menyentuh dagu Sara.


"Eh kenapa cepat sekali kembali ke sifat alaminya, sepertinya aku harus kabur sekarang!" ungkap Sara dalam hati mencari cara kabur dari Ryuzen.


"Emm, Ryuzen, sepertinya aku harus masak makan malam, jadi lebih baik kita...."


"Kita selesaikan disini saja," ucap Ryuzen menyela yang kini sudah berada diatas Sara


"Ryuzen aku belum mandi lho...!" Sara mencari-cari alasan supaya bisa lepas dari pria yang saat ini lebih cocok disebut serigala lapar.


"Aku suka aroma alamimu jadi tidak masalah," bisik Ryuzen di telinga Sara


"Tapi... tapi...," Sara memejamkan matanya melihat Ryuzen makin dekat, seolah dia tak bisa lari lagi. Beberapa detik Sara memejamkan mata, tapi tidak terjadi apa-apa, ia pun membuka matanya dan melihat Ryuzen yang justru malah sedang berdiri dan mengambil pakaian dari lemari sambil menertawai Sara.


"Ryuzen kau menyebalkan!" omel Sara yang ternyata hanya dijahili oleh suaminya itu.


"Aku lapar betulan, kita makan diluar saja ya."


tiba-tiba Perut Sara juga bersuara.


"Sepertinya suara dari perutmu sudah mewakili jawabanmu," kata Ryuzen. Sara pun terlihat agak malu dibuatnya.


~


Sara dan Ryuzen pun makan di luar, mereka makan di restoran Paman dan Bibi Huang, kebetulan Sara juga sudah agak lama tidak kesana


~Restoran Huang~


"Ini makanannya," ucap Bibi Huang mengantarkan beberapa menu yang dipesan Sara dan Ryuzen.


"Terima kasih banyak Bibi, maaf aku jarang mengunjungi Bibi."


"Tidak apa-apa Sara, lagi pula punya suami super hot begini mana mungkin tahan di luar lama-lama," bisik Bibi menggoda Sara.


"Bibi, kau bicara apa sih?!" gumam Sara yang wajahnya jadi merah karena malu.


"Bibi, masakanmu lezat sekali," puji Ryuzen setelah memakan makanan yang ada di masak di Restoran ini.


"Oh terima kasih banyak Tuan muda Han, aku benar-benar tersanjung mendapat pujian dari anda," ungkap Bibi tersenyum senang.


"Sayang sekali Arvin tidak ikut, pasti dia rindu juga pada Paman dan Bibi," sahut Sara yang ingat Arvin.


"Lain kali kalian bertiga harus datang kemari, nanti akan aku siapkan makanan spesial untuk kalian," ucap Bibi


"Terima kasih!" jawab Ryuzen singkat yang terus melanjutkan makan.


"Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Bibi huang yang harus mengerjakan pekerjaan lainnya.


"Ngomong-ngomong, disini kenapa yang datang hanya kita berdua saja?" tanya Ryuzen yang tidak melihat orang lain, selain dirinya dan Sara yang makan disini.


"Ini kan sudah jam 11 malam, sedangkan restoran ini tutup jam 10 malam jadi ya begini," jelas Sara.


⚘⚘


Setelah akhirnya mereka selesai makan malam, mereka pun pamit pulang. Di perjalanan pulang, Sara meminta Ryuzen menghentikan mobilnya sebentar, ia ingin menikmati udara segar di tengah malam. Ryuzen pun mengindahkan permintaan Sara tersebut.


Like, comment dan vote ya...😘