
Sara dan Ryuzen kini dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menyusul nenek Ivy.
"Semoga nenek baik-baik saja!" Sara tak henti-hentinya dan terus berharap serta mendoakan nenek Ivy di sepanjang perjalanan.
Ryuzen sendiri yang kala itu menyetir di sebelah Sara, justru terlihat tengah serius memikirkan kemelut masalah yang harus ia hadapi setelah ini.
Pria tua itu benar-benar ingin menarikku dalam permainannya. Dan jika aku terus menghindar, justru ia akan semakin berusaha menyakiti orang-orang disekitarku, terutama Sara. Aku yakin dia akan menggunakan Sara sebagai alat untuk menghancurkanku. Apakah yang aku lakukan sampai saat ini sudah benar?
Sara menyentuh pundak Ryuzen yang tengah menyetir mobil dengan kecepatan sedang itu. Ryuzen pun dengan spontan menoleh kearah istrinya yang kini menatapnya lembut.
"Ryu, aku yakin semua akan baik-baik saja. Dan, aku berharap kau mau berbagi denganku semua masalah yang kau hadapi saat ini...," tukas Sara guna menenangkan sang suami, yang ia tahu sedang berpikir untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
Mendengar sang istri berbicara begitu, hati terdalam Ryuzen seolah tertampar keras. Kejadian yang terjadi di ballroom tadi membuatnya merasakan rasa sakit yang tak bisa dirinya jelaskan. Ryuzan pun semakin merasa berdosa pada Sara dan neneknya. Ia seolah merasa begitu lemah dan tak berdaya melindungi keluarganya.
"Maafkan aku Sara," lirih Ryuzen dengan tatapan sedingin es miliknya.
"Aku hanya ingin kau berbagi semua yang kau rasakan denganku," balas Sara.
~~
Setelah beberapa menit perjalanan, Sara dan Ryuzen akhirnya tiba di rumah sakit. Nenek Ivy tengah mendapatkan penanganan serius di ICU. Mereka semua termasuk Ryuzen, Sara, kak Miya, Henri dan tak lupa Rony juga disana menunggu kabar dari Jason, yang kini tengah melakukan penanganan intensif pada nyonya Ivy di ruang ICU.
Hampir satu jam lebih, akhirnya Jason keluar dari ruangan.
"Bagaimana?" tanya Sara dengan nada yang terdengar seolah mendesak Jason agar segera menjelaskan bagaimana keadaan nyonya Ivy di dalam sana. Pertanyaan lain yang serupa oleh cucu-cucu nyonya Ivy pun mulau menyerbu Jason yang baru saja keluar ruangan.
Jason membuka masker penutup hidung dan mulutnya. "Baiklah akan aku jelaskan kondisi nyonya Ivy saat ini. Saat ini kondisinya sudah lebih stabil, ia sudah melewati masa-masa kritisnya tadi. Detak jantungnya sempat melemah untuk beberapa saat, aku belum bisa menyimpulkan secara rinci keadaannya sekarang ini, karena aku menigindikasikan adanya gangguan di pembuluh darahnya. Nanti setelah semua hasil medis keluar akan aku jelaskan pada kalian secara detail. Tapi yang jelas, saat ini beliau setelah mendapatkan penanganan dari tim dokter, dan keadaannya sudah stabil."
Sara menghela napas, "Syukurlah, terima kasih Jason."
"Tentu," balas Jason
"Apa kami sudah boleh masuk ke dalam untuk melihat keadaannya?" tanya Miya ingin tahu.
"Untuk saat ini hanya bisa satu orang yang diperbolehkan masuk, Dan tadi nyonya Ivy sempat memanggil kau Ryu." Jason melihat ke arah Ryuzen yang kini hanya duduk diam bergeming dengan gesrtur yang tak mudah ditebak. Menopang dahi dengan kedua tangannya, yang mengepal saling berkaitan diatas pangkuannya.
Sara pun berniat ingin menghampiri Ryu, namun Ryuzen nyatanya lebih dulu berdiri dari duduknya dan melangkah bermaksud untuk segera ke dalam ruangan untuk memenmui neneknya yang ada di dalam.
"Ryu, kau silakan masuk! Kalian nanti bisa bergantian masuk," seru Jason pada semuanya yang ada disana.
Dengan menggunakan pakaian steril yang sudah menempel di tubuhnya, Ryuzen pun memasuki ruang ICU tempat sang nenek berada sekarag.
~~
Di tempat lain Biyan Dao tengah tertawa dengan bahagianya, dirinya seolah bersorak gembira akan keberhasilannya malam ini mengacaukan di acara peringatan hari jadi Emerald.
Biyan meneguk segelas anggur yang ia pegang dengan tangan kirinya, dirinya pun tersenyum puas karena keberhasilannya malam ini. Ia tertawa terbahak sambil menyandarankan kakinya pada meja biliar yang ada di sebelahnya.
"Wow, kau itu benar-benar pria yang tidak berperasaan ya Biyan Dao?" ujar seorang laki-laki yang baru saja datang dari arah pintu masuk sambil bertepuk tangan lambat.
Biyan Dao tersenyum licik.
"Perasaanku sudah mati, dan perasaanku hanya akan puas dan senang jika, Aku berhasil membuat Jordan Han menderita dan sakit hati, " balas Biyan Dao.
Seringai bak serigala tergambar jelas, pada pria yang tengah menjadi lawan bicara Biyan Dao itu.
"Kau memang partner tebaikku tuan Biyan Dao!" ujar pria itu diikuti seringai yang terurai dari bibirnya.
~~
Keesokan harinya ditempat kerja Sara terlihat tidak fokus, ia hanya terus-menerus menggunting tanaman bunga tanpa memperhatikannya. Dirinya justru malah fokus pada hal lain yang sedang ia pikirkan.
Apa maksud ucapan Ryuzen yang semalam, kenapa dia sangat membenci pamannya sendiri? Dan siapa yang ia maksud sebagai seorang pendosa?
"Kak Sara!" tutur Rina, yang sebenarnya sejak tadi sudah berulang kali memanggil nama Sara, namun tak di hiraukannya sama sekali.
"Eh, iya ada apa Rina kau memanggilku?" tanya Sara.
"Kak, kau itu kenapa? Kenapa sejak tadi kau menggunting tangkai-tangkai bunga itu dengan asal?"
Sara langsung melihat ke arah bawah yang mana ia baru sadar jika, dirinya sudah merusak bertangkai tangkai bunga karena melamun.
"Astaga! Kenapa aku tidak sadar, maaf ya...," tukas Sara menyesal.
"Kak Sara, ada apa?" tanya Rina.
"Tidak, aku baik-baik saja kok!" balas Sara diikuti senyum yang sengaja ia buat untuk menutupi masalahnya dari Rina.
"Oh, Baiklah..." kata Rina yang kemudian kembali bekerja.
Sara menghela napasnya, tanda agak lega karena Rina tidak terlalu mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaannya yang seringkali mengganggu.
[Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Sara]
Sara tiba-tiba tersenyum kala mengetahui siapa yang menghubunginnya lewat layar ponselnya.
Sara : Halo Gina!
Gina : Halo Sara, bagaimana kabarmu?
Sara : Aku tidak tahu.
Gina : Huh! Apa ada yang tidak baik? (terdengar khawatir)
Sara : Nanti saja aku ceritakan saat kita bertemu.
Gina : Oh, okey!
Sara : Gina, aku boleh minta tolong padamu?
Gina : Tentu saja.
Sara : Bisakah kau tolong jemput Arvin dari sekolahnya nanti, karena aku harus ke rumah sakit nanti bertepatan dengan jadwal pulang Arvin.
Gina : Rumah sakit? Kau sakit?
Sara : Tidak kok! Sudah ya nanti aku ceritakan semuanya padamu saat kita bertemu.
Gina : Baiklah... kalau begitu, sampai jumpa.
Sara : Sampai jumpa.
[ Mengakhiri panggilan ]
Huft...
Sara pun meneruskan pekerjaannya. Dirinya yang kini tengah merapikan dan mengecek tiap stok bunga di ditokonya, tiba-tiba kesibukan dirinya diganggu oleh seorang pelanggan pria paruh baya yang masih gagah, untuk seusianya.
"Ada yang bisa aku bantu Tuan?" ucap Sara kepada pelanggan pria yang menggunakan kacamata hitam dan bergaya parlente tersebut.
🌹🌹🌹
LIKE, VOTE, COMMENT! TERIMA KASIH 🙏