Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 169


Ryu dan Jordan bergegas menuju ke sebuah gudang penyimpanan dekat dermaga yang sudah lama tak digunakan lagi.


"Itu tempatnya!" Ujar Jordan menunjuk ke arah bangunan gudang tua yang ia yakin di dalamnya, ada Arvin yang kini sedang disekap didalamnya. Dan tanpa berlama-lama, Ryuzen pun segera memberhentikan mobilnya itu di dekat gudang penyimpanan tua yang ditunjuk oleh sang ayah.


~~


Sepasang ayah dan anak itupun langsung turun dari mobil, dan bergegas memasuki gudang tua yang sudah lama tidak di urus tersebut. Mengingat sudah begitu sore dan hampir gelap, Ryuzen dan Jordan tampaknya harus lebih fokus dalam mencari Arvin, mengingat pencahayaan saat ini, tak seterang jika siang hari.


Di perjalanan memasuki bagunan gudang itu, Jordan yang berjalan hampir sejajar dengan Ryu tiba-tiba bertanya. "Kenapa kau begitu langsung percaya kepadaku?"


"Apa kau tidak bisa tanyakan hal itu nanti saja pak tua!" Balas Ryuzen.


"Baiklah...!"


"Tapi... entah ini alasan yang kendengarannya konyol atau tidak. Tapi aku percaya karena hati kecilku mengatkan orang tua tidak mungkin bohong pada anaknya!" Ujar Ryuzen yang kemudian mempercepat gerak langkahnya, agar segera memasuki area dalam gudang tersebut.


Sementara Jordan, dirinya hanya bisa mengulas senyum senang sesaat setelah mendengar jawaban dari putranya tersebut. "Begitu ya... orang tua pada anaknya. Jadi kau sudah memganggapku ayahmu."


~~


Setibanya di depan pintu masuk gudang. Ryuzen langsung saja mendobrak pintu usang itu dengan kakinya. Kedua pria itu pun akhirnya berhasil masuk ke dalam bangungan tersebut. Mereka memanggil dan meneriakan nama Arvin berulang-ulang.


"Tidak bisa begini caranya!" Ryuzan merasa tidak bisa membuang waktunya seperti ini. Akhirnya... dirinya dan sang ayah pun memutuskan untuk berpencar, dan mencari Arvin di tiap sudut ruangan yang ada.


~~


Dari kejauhan... tampak sosok Biyan Dao yang tengah meneropong gerak gerik Ryu dan Jordan dari atas speedboat pribadinya. Biyan tampak tertawa, dan ia pun kemudian berujar, "Jadi... Renji si pengemis cinta itu tidak berhasil menjalankan rencananya sendiri? Ka-si-han! Tapi terserah, aku tidak peduli dengan hal itu. Yang jelas, dengan begini, besar kesempatanku untuk bisa menghabisi ayah dan anak itu secara bersamaan. Atau... mungkin ketiganya saja mati lebih baik." Gelak tawa Biyan Dao kembali terdengar.


~~


Ryuzen menyapu tiap ruangan, ia pun beberapa kali terlihat menatap waktu pada arlojinya. "Sial! Waktunya hanya tersisa tidak sampai sepuluh menit! Dimana kau Arvin!" Ryuzen tetap terus mencari dan mencari."Kalau begini, sepertinya aku memang harus minta bantuan!" Ryuzen pun mengeluarkan ponselnya. Ia mengirimkan pesan kepada Kenzo asistennya.


~~


Di tempatnya menunggu, Sara tampak tak bisa menutupi rasa gelisahnya. Dirinya sejak tadi, terlihat terus saja berjalan kesana kemari, sambil menarik-narik bahan dress yang dikenakannya. Melihat istri bosnya begitu, Kenzo pun berniat untuk menenangkannya. Namun, saat Kenzo baru saja ingin menghampiri Sara, dirinya malah mendapat pesan dari Ryu agar ia, segera menyusul ketempat yang lokasinya baru saja dibagikan itu padanya.


Aih, bagaimana ini? Apa aku ajak nona Sara kesana juga? Tapi... kalau tuan muda tidak setuju?


Kenzo mengacak-acak rambutnya. "Haiss... sudahlah... tak ada waktu lagi! Sekarang disini aku yang harus tentukan." Kenzo pun akhirnya mengambil keputusan, "Nona Sara...!" Kenzo menghampiri Sara dan mengatakan rencananya pada istri bosnya itu.


~~


Di gudang tua, Ryu dan ayahnya masih terus mencari-cari dimana Arvin berada sebenarnya. Hingga pada akhirnya, Jordan melihat satu ruangan tertutup di seberang tempatnya berdiri. Dan tidak butuh berpikir lama, Jordan pun segera melangkahkan kakinya ke depan pintu ruangan tersebut, kemudian membukanya. Pintu pun akhirnya terbuka, dan benar saja yang ia lihat.


"Arvin!" Jordan langsung bergegas menghampiri cucunya yang ternyata sejak tadi disekap di ruangan tersebut.


Sesaat kemudian, Ryuzen pun datang menghampiri ruangan yang telah lebih dulu ditemukan oleh sang ayah.


"Arvin!" Dengan langkah cepat, Ryuzen menghampiri sang putra yang masih dalam kondisi disandera.


~~


Lega dan murka, hal itulah yang langsung dirasakan oleh Ryuzen ketika ia melihat keadaan putranya sekarang. Betapa tidak, orang tua mana yang tidak murka melihat darah dagingnya di perlakukan seperti itu. Tak butuh waktu lama, Ryu dan Jordan segera menyingkirkan bom dan melepas ikatan tangan dan kaki Arvin. Hingga terakhir dengan perlahan, Ryuzen membuka plester yang menutupi bibir Arvin.


Ryuzen pun nembalas pelukan putra semata wayangnya itu sambil mengusap-usap punggung kecilnya. "Jangan takut lagi... aku sudah menemukanmu. Sekarang aku akan segera membawamu pada Sara."


"Tapi... sepertinya kita tidak bisa langsung pergi semua dari sini!" Ungkap Jordan.


"Argh, Sial!" Ryuzen baru ingat jika disini masih ada bom yang pemicunya adalah waktu, yang mana kurang dari lima menit lagi akan meledak.


"Lalu bagaimana ini papi?" Ujar Arvin khawatir.


"Kita tidak bisa membiarkan bom ini meledak begitu saja. Di sekitar sini masih ada beberapa pemukiman nelayan, jika bom ini meledak kemungkinan akan membahayakan nyawa mereka," jelas Jordan.


"Kau benar!" Ryuzen mau tak mau harus segera melakukan sesuatu.


"Waktunya tinggal tersisa, tiga menit empat puluh tujuh detik lagi sebelum meledak!" Ujar Arvin.


"Aku tahu harus apa!" Jordan menatap ke arah putra dan cucunya. Jordan pun menjelaskan idenya, dan meminta Ryu untuk membawa Arvin segera pergi dari tempat ini.


"Apa maksdumu!" Ujar Ryuzen emosi mengetahui ide sang ayah.


"Iya kakek apa maksudmu memintaku dan papi pergi duluan? Aku tidak mau! Kita harus keluar bersama-sama."


"Kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita hanya menununggu pasukan penjinak bom datang. Dan juga, bom ini ledakannya dipicu oleh waktu, jadi sekalipun kita memotong kabelnya belum tentu waktunya akan berhenti!" Jelas Jordan pada anak dan cucunya.


"Kau... kenapa selalu seenaknya dalam bertindak!?" Teriak Ryuzen pada sang ayah.


"Ryu akuー"


"Kau itu tidak hidup sendiri, jadi jangan merasa kalau kau yang paling harus berkorban diantara kita. Jangan bodoh!" Tukas Ryuzen yang sebenarnya khawatir pada sang ayah.


Jordan tiba-tiba tersenyum lalu memegang pundak Ryu dengan tatapan lembut. "Kau tahu nak, aku memang egois, dan mungkin juga bodoh. Tapi... setelah semua kejadian yang terjadi, aku belajar banyak hal. Terkadang untuk menjadi bahagia, kita tidak harus mendapatkan persis seperti yang kita inginkan dan rencanakan. Jadi... kali ini saja, aku mohon biarkan aku melakukan hal yang benar!"


"Orang tua kau....!" Ryuzen mengangkat tangannya seperti ingin memukul Jordan. Namun salah, Ryu justru malah memegang pundak sang ayah. "Baiklah... aku akan ikuti caramu. Tapi berjanjilah... bernjanjilah padaku untuk kembali dengan keadaan hidup, karena ada yang ingin aku katakan padamu."


Senyum Jordan mengembang seketika. "Pasti nak... aku pasti akan kembali dengan keadaan hidup!"


"Kau telah berjanji padaku!" Ryu akhirnya setuju dengan cara sang ayah. Ia pun menggendong Arvin dan membawanya pergi. "Tapi papi...kakek!?" Ujar Arvin yang melihat kakeknya pergi membawa bom itu.


"Sudah Arvin, kau percayakan saja pada kakekmu, dia pria yang luar biasa! Dan dia adalah keturunan Han, jadi semua pasti akan baik-baik saja."


"Oke papi..." balas Arvin menurut sambil terus melihat memandangi sang kakek yang pergi membawa bom itu. Kakek... kau harus kembali...!


Dan akhirnya partnerku adalah ayahku dan putraku sendiri. Aku, Arvin dan Pria itu. Kami adalah pria dari garis keturunan yang sama. Jadi... Ayah, kau berhutang janji padaku untuk kembali degan selamat.


🌹🌹🌹


Jangan lupa LIKE, VOTE, COMMENTnya ya all...


follow my IG @chrysalisha98 🌹


Love -C