
Setiap manusia memiliki masa lalu, baik itu buruk ataupun tidak. Saat kau telah berani menerima dan percaya akan segala masa lalu yang telah terjadi tanpa terkecuali, maka saat itulah kau bebas untuk menentukan kebahagiaanmu.
...***...
Hari ini terasa begitu kelabu, tak kecuali langit yang mendung seolah tengah menyaksikan detik-detik pemakaman Jordan menuju ke peristirahatan terakhirnya. Entah sudah berapa banyak tangis dan kesedihan yang pecah menghantarkan kepergiannya.
Ratusan pelayat berpakaian hitam berkumpul tak terkecuali Rony dan orang tuanya yang adalah saudara Ryuzen. Tidak lupa kerabat, dan para pegawai yang bekerja untuk Emerald. Serta beberapa media yang juga ikut meliputnya. Bahkan mereka (orang media) menautkan judul "Putra mahkota yang selama ini hilang, akhirnya pulang dengan hanya meninggalkan nama." Sungguh ironis namun itulah yang terjadi saat ini.
Ryuzen akhirnya meletakan foto sang ayah tepat diatas pusara makam Jordan. Makam itu berada persis disebelah makam ibunya Laulin yang juga telah lama pergi. Kini dirimu telah pergi menyusul sang pujaan hati menuju tempat yang lebih kekal dan abadi.
Tiba-tiba, pria kecil itu melangkahkan kakinya mendekati Ryu, meraih tangannya lalu memeluknya. "Papi... apa kakek bahagia bersama nenek di surga?"
"Ya... dia sangat bahagia," jawabnya dengan penuh bijaksana.
"Kau jangan tinggalkan aku dan mami ya...!" Tangan kecil itu menggenggam jari-jari Ryuzen lebih erat. Seolah takut, jika sang ayah juga akan pergi meninggalkan dirinya seperti yang dilakukan Jordan padanya.
Ryuzen lalu menggendong putra semata wayangnya tersebut, menyentuh dahinya dan berkata, "Aku tidak akan pergi semudah itu, aku sudah berjanji akan menjagamu dan Sara!"
Sara yang sejak tadi memperhatikan percakapan suami dan anaknya itupun akhirnya mendekat dan bergabung bersama mereka. "Sudah mau hujan," ungkap wanita yang mengenakan dress berwarna hitam longgar itu pada suami dan anaknya. Sara menggandeng tangan sang suami, dan menolehkan wajahnya dan berkata, "Para pelayat lain sudah pulang satu persatu. Apa kau masih ingin disini?"
"Tidak, lebih baik kita pulang saja," balas Ryuzen. Sara pun mengangguk, dan mereka bertiga pun menjadi yang paling terakhir meletakan tangkai bunga di atas makam Jordan.
"Kakek... selamat jalan, berbahagialah bersama nenek di surga."
"Selamat beristirahat dengan tenang ayah mertua. Kami akan selalu merindukanmu."
"Ayah... aku pamit dulu, sekarang kau sudah bisa pergi dengan tenang bersama ibu." Biar aku yang menuntaskan semua yang belum selesai. Aku berjanji!
...🌹🌹...
Dua minggu berlalu pasca kematian Jordan Han. Banyak media baik cetak maupun online, tak henti-hentinya membahas skandal dan masa lalu Jordan, mereka pun mulai membuat gosip tentang permasalahan internal di keluarga Han, serta membuat banyak rumor tak jelas bertebaran. Hal itu pun tak pelak semakin lama membuat Ryuzen muak.
Ryuzen melempar surat kabar yang barusan dibawakan oleh Kenzo. "Cih! Apa mereka (orang media) tidak bisa makan, jika memuat berita tanpa perlu menambahkan hal-hal yang berbau kontroversi! Apa jurnalis dan wartawan saat ini sudah tidak mampu memproduksi berita yang lebih berbobot!"
Kenzo pun hanya bisa menggaruk kepalanya, melihat Ryuzen yang mulai naik pitam. "Umh... tapi mau bagaimana lagi Tuan, orang-orang memang kebanyakan lebih suka membaca berita yang picisan dan bermuatan kontroversi! Dibanding realita yang lebih valid."
Mendengus pelan. "Sekarang juga, aku mau kau hubungi pihak media yang menuliskan berita sampah tentang ayahku maupun keluarga Han. Suruh mereka men- take down berita-berita sampah itu dan block link situs apapun! Yang memuat beritanya."
"Tapi tuan kalau merekaー"
"Kalau mereka tidak mau, akusisi saja perusahaannya. Atau kalau perlu akan kubuat perusahaan mereka collapse!"
"Tapi kalauー"
"Aku tidak menerima bantahan Kenzo, jadi lakukan saja apa yang kuminta!"
"Lalu, kenapa kau masih disini?"
"Oh..., ba- baiklah, kalau begitu aku pergi dulu... permisi tuan!" Kenzo pun akhirnya meninggalkan ruangan Ryu untuk, menjalankan apa yang diperintahkan oleh bosnya itu.
~~
Di tempat lain, Sara terlihat tengah asyik mengobrol dengan Gina di sebuah bangku taman, sambil menikmati jajanan ringan yang tadi mereka beli di salah satu kawasan street food. Dari mimik wajah kedua wanita itu, sepertinya tengah mengobrolkan hal yang cukup serius.
"Jadi Renji bekerjasama dengan Biyan Dao untuk memisahkanmu dengan Ryuzen begitu?"
"Ya... begitulah," Ungkap Sara yang tampak kecewa dengan hal tersebut.
"Gila! Dia benar-benar sudah gila!" Gina sampai geleng-geleng kepala dibuatnya mendengar cerita dari Sara tentang tragedi penculikan Arvin beberapa minggu lalu, yang akhirnya membuat Jordan Han harus kehilangan nyawanya.
"Jujur... terkadang aku merasa, jika semua masalah ini terjadi karenaku Gina...!"
"Sara...kau ini jangan bicara begitu." Gina mengusap pundak sahabatnya itu.
"Tapi... ini semua menang karena aku. Seandainya aku tidak mengenal Ryu ataupun Renji. Mungkin semua ini tidak perlu terjadi, aku memang selalu membuat masalah Gina..." Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah... ini bukan salahmu." Gina memberikan pelukan untuk menenangkan sahabatnya yang kini tengah merasa begitu kecewa dan gundah "Aku tahu kau pasti merasa harus bertanggung jawab akan semua kejadian yang telah terjadi. Sejak dulu kau selalu saja menyalahkan dirimu sendiri. Padahal bukan seperti itu... Sara! Semua hal itu terjadi memang karena harus terjadi, bukan karena salah siapapun."
"Tapi aku menyakiti banyak orang, termasuk kau!"
Huh? Apa maksudnya? "Kau bicara apa Sara, kau sama sekali tidak pernah menyakitiku... kau jangan bilang begitu." Gina menghapus air mata Sara.
"Kau mencintai Jesper, dan aku tidak bisa membantumu. Aku tahu, seringkali kau merasa tersakiti karena melihatku bersama Jesper iyakan?" Sara memaksa Gina untuk mengakui perasaannya.
Gina tertunduk dengan perasaan bimbang, hati kecilnya tidak mungkin mengatakan tidak. Karena pada nyatanya memang dirinya seringkali merasa terluka saat melihat Jesper begitu memperhatikan dan menomor satukan Sara dibanding dirinya. Tapi..., "Kau memang benar Sara... aku memang seringkali sedih, dan terluka saat melihat Jesper memperlakukanmu dengan begitu spesial. Tapi itu bukan salahmu, dan bukan salah siapa-siapa, karena perasaan itu memang tidak bisa dipaksakan pada siapapun. Termasuk padamu, padaku, dan Jesper. Itu semua terjadi secara tidak sadar, jadi kumohon jangan berkata begitu, karena hal itu hanya akan menyiksamu saja."
"Gina...." Sara pada akhirnya menangis sambil memeluk Gina. "Maafkan aku yang seringkali menyusahkanmu..."
"Tidak masalah Sara, tidak masalah...."
~~
Biyan Dao terlihat menikmati harinya. Dirinya yang jumawa merasa menang melihat akhirnya Jordan Han mati, dan berita-berita yang tidak baik tentang bagaimana tidak harmonisnya keluarga Han, akhir-akhir memang menjadi sasaran empuk media-media besar. Biyan terus tertawa dengan congak, melihat berbagai surat kabar yang menjadikan Keluarga Han sebagai topik headline di surat kabar harian mereka. "Dengan begini, semua orang di negeri ini akan tahu, jika dibalik keagungan keluarga Han yang mereka puja puja itu, ternyata memiliki banyak kisah yang menyedihkan... aku jadi semakin tidak sabar, melihat bagaimana reaksi Ryuzen saat masa lalu dengan istrinya itu terkuak oleh media. Bagaimana jika public tahu jika Tuan muda pewaris Emeral group ternyata pernah menjadi seorang pemerkosa dulunya!" Tawa girang itu kembali terdengar dari mulut Biyan. "Kau akan tahu siapa aku Ryuzen! Aku akan menghancurkan semua yang kau miliki!"
🌹🌹🌹
Jangan lupa VOTE, LIKE, dan COMMENTnya ya kawan-kawan. 😊
Love -C