Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 167


Di tempatnya berada sekarang. Biyan terlihat memasuki sebuah ruangan, dan ruangan itu ternyata adalah tempat dimana Arvin disekap saat ini. Biyan pun berjalan mendekati Arvin yang kaki dan tangannya diikat, serta mulutnya dibungkam dengan plester.


Melihat Biyan mendekatinya, Arvin yang tetap tenang dan memandang sinis pada Biyan. Siapa kakek tua ini sebenarnya? Kenapa dia menculikku?


Biyan berdiri di hadapan Arvin lalu membuka penutup mulutnya. Bibir Arvin panas saat plester yang tadi membungkamnya itu dilepas. "Siapa kau!? Kenapa kau menangkapku?" Ujar Arvin dengan tatapan sinisnya pada Biyan Dao.


Tawa Biyan menggelegar tiba-tiba... karena melihat putra keponakannya itu, ternyata tidak sedikitpun terlihat takut padanya. "Menarik!" Ujar Biyan, lalu berjongkok menatap Arvin yang sejak tadi memandanginnya dengan tatapan tidak suka.


"Kau... ternyata mirip sekali dengan ayahmu, sama-sama tidak takut mati!"


"Kau sebenarnya siapa, kenapa kau bisa kenal ayahku?" Tanya Arvin.


Biyan tersenyum mendengus. "Jadi kau belum mengenalku? Baiklah...biar aku perkenalkan diriku padamu. Aku Biyan Dao, aku adalah sepupu dari kakekmu dan juga paman dari ayahmu... Jadi... bisa dibilang kita masih ada hubungan keluarga, maka... kau bisa panggil aku dengan sebutan kakek."


"Cih! Siapa yang sudi memanggilmu kakek, kau itu bukan kakek! Kau itu lebih cocok dipanggil penjaー uggh....!" Biyan tiba-tiba mencekik leher Arvin.


"Ternyata kau itu bukan hanya sama-sama tidak takut mati, seperti ayahmu... tapi juga sama arogannya seperti dia." Biyan menghentakkan leher Arvin dan melepaskannya.


Uhuk uhuk uhuk! Arvin terbatuk-batuk akibat cengkeraman Biyan barusan.


Biyan yang membelakangi Arvin, tiba-tiba memalingkan badannya sambil memegang kotak coklat. "Tapi meski begitu, kita lihat saja... apa kau dan ayahmu masih bisa bersikap arogan saat aku memasang benda ini ditubuhmu!"


Itu...? Mata Arvin seketika terbelalak, kala melihat Biyan mengeluarkan sebuah benda dari kotak coklat yang di dapatnya dari Renji tempo hari.


~~


"Bagaimana? Apa Sara dan kandungannya baik-baik saja?" Tanya Ryuzen yang nampak khawatir


"Sara dan kandungannya baik-baik saja, dia hanya pingsan karena disebabkan oleh banyaknya tekanan pikiran sehingga memperngaruhi saraf otaknya."


"Syukurlah aku senang mendengarnya," ucap Kenzo.


"Tapi Ryu... sebenarnya ada apa? Hal apa yang sampai membuat Sara pingsan?" Tanya Jason.


Kenzo membuka suaranya, "Um... sebenarnya... hal itu karenaー"


"Arvin diculik dan disandera oleh Biyan!" Sahut Ryuzen.


"Apa!? Ba- bagaimana bisa?" Ujar Jason kaget.


"Itu karena salahku dokter Jason," sesal Kenzo kembali merasa bersalah.


"Sudahlah Kenzo! Sekarang yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menemukan Arvin. Karena aku yakin, Biyan tidak akan memberitahukan dimana Arvin berada sekarang."


*Suara ponsel Ryu kembali berdering.


Dan lagi-lagi dari Binyan.


Ryu : Jadi apa yang kau inginkan?


Biyan : Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu merasa menderita. Itu tujuanku.


Ryu : Kau...!


Biyan : Tapi kau tenang saja keponakanku... aku yakin dengan otakmu yang cerdas itu, kau pasti bisa menemukan putramu. Hanya saja... kau harus cepat! Karena jika kau tidak menemukan putramu dalam waktu kurang dari satu jam, maka aku pastikan putramu akan... boom!


Ryuzen terkesiap.


Ryu : Apa maksudmu?


Biyan : Aku rasa kau pasti sudah paham. Baiklah itu saja, semoga beruntung keponakan! Ciao...


*tut...tut...


"Sial...! Dia sengaja mempermainkanku, dia tidak memberiku celah sama sekali!" Ryuzen benar-benar dibuat emosi karenanya.


Ponsel Ryu kembali didera pemberitahuan, dan itu adalah chat dari Biyan, yang bertuliskan.


Keponakan, kau harus cepat! Karena pemicu bomnya akan meledak dalam waktu 40 menit. Jadi gunakan waktumu.


Tak lupa juga, Biyan mengirimkan foto Arvin yang kini sedang disandera dengan bom yang menempel ditubuhnya. Geraham Ryuzen pun seketika gemeretak, sorot matanya menunjukan kemurkaan yang tak biasa.


"Ryuzen ada apa?" Tanya Jason khawatir melihat sahabatnya itu tampak luar biasa murka.


Ia pun langsung menunjukan kepada Jason dan Kenzo, foto Arvin yang tengah disandera dengan bom yang menempel ditubuhnya.


"Astaga... tuan kecil!"


Kali ini Ryuzen benar-benar kebingungan, ia benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Arvin saat ini. Aku harus apa sekarang? Ryuzen menoleh dan menatap pilu ke tubuh Sara yang terbaring belum sadarkan diri. Arvin adalah putraku dan Sara, ia juga nyawa bagi Sara, tapi saat ini aku justru terlihat tak berdaya menolong anakku sendiri. Maafkan aku Sara...


"Tunggu! Tuan... aku rasa kita bisa melacak keberadaan Biyan Dao, lewat nomor ponselnya!" Usul Kenzo.


"Betul juga," sahut Jason.


Ryuzen pun mencoba melacak keberadaan nomor Biyan, sayangnya... nomor itu sepertinya sudah dihancurkan. "Aku rasa jika kita ingin mengetahui dimana Biyan, kita tentu butuh bantuan operator dan itu terlalu membuang waktu."


"Lalu bagaimana ini tuan?"


~~


Disuatu tempat kawasan pantai, Renji terlihat berdiri di pinggiran pantai. Ia tengah mengangkat ponselnya yang berdering. "Halo... tuan Han, akhirnya kau meneleponku...!" Senyum Renji mengembang seketika.


.....


"Kau memang cerdas Ryuzen, tapi sayangnya... aku tak bodoh. Kau pasti sudah tahu kan, jika ingin aku melakukan sesuatu untukmu, maka harus ada kesepakatan diantara kita."


....


"Oke... kita bertemu di dermaga dekat pusat kota dalam waktu lima belas menit."


Renji pun langsung memutus obrolannya dengan Ryu. Ia menyematkan senyum penuh kemenangan diwajahnya. "Kali ini aku pastikan, kau akan kehilangan seseorang yang kau sayang Ryuzen!"


~~


"Tu- tuan, apa yang kau akan lakukan dengan menelepon Renji?" Tanya Kenzo keheranan.


"Maaf, tapi aku harus pergi menemui Renji di dermaga dekat pusat kota, secepat mungkin!"


Kenzo bingung dengan perkataan bosnya itu. "Ta- tapi untuk apa Tuan?"


"Karena selain si tua keparat itu, hanya Renji yang tahu dimana Arvin berada sekarang."


"Tapi Ryuzen, bagaimana dengan Sara...?"


"Kau dan Kenzo tolong jaga dia, dan aku mohon, jangan katakan hal apapun yang akan membuatnya khawatir."


"Tapi tuanー"


"Lakukan saja yang kuperintahkan!" Ryuzen membentak Kenzo dengan suara rendahnya yang terdengar sangat marah.


"Ba- baik Tuan!"


"Aku pergi!" Ryu akhirnya pergi untuk menemui Renji, ia meninggalkan Sara bersama dengan Kenzo dan Jason di salah satu resort yang ada di pesisir pantai.


Tatapan Ryuzen dingin. Dengan yakin pria itu. melangkahkan kakinya, menatap penuh harap disamping kecemasan yang harus ia abaikan. Aku tidak tahu kali ini apa yang aku lakukan benar atau tidak.Tapi satu yang pasti, nyawa anakku dan kebahagiaan istriku adalah harga matiku!


~~


"Hei bocah, bagaimana jika kau ikut saja denganku! Karena jika kau mau ikut aku, aku akan buat dirimu lebih hebat dari ayahmu...!"


Arvin pun langsung menggeleng tidak mau.


Biyan melihat ke arah bom yang menempel ditubuh Arvin, yangmana menyisakan waktu tinggal 35 menit sebelum bom itu benar-benar meledak mengahancurkan tubuh kecil Arvin. "Baiklah jika kau memilih disini... kalau begitu aku hanya akan mengatakan... selamat tinggal! Berdoa saja malaikat maut belum mau menjemputmu... hahaha..." Biyan pun pergi meninggalkan Arvin diruangan itu sendirian. Tentu saja meski terlihat berani, Arvin tetaplah anak-anak yang juga akan ketakutan jika berada disituasi seperti ini. Papi... aku mohon cepat datang tolong aku...! Aku tidak mau mati seperti ini. rintih pria kecil itu di dalam hatinya yang tengah mencoba melawan ketakutan.


~~


"Ah... akhirnya kau datang juga tuan Ryuzen Han!" Sapa Renji melihat kedatangan Ryuzen ke hadapannya.


"Jadi dimana putraku!"


Renji berjalan mendekati Ryuzen, dan menepuk pundaknya. "Kau tenang saja... aku akan beritahukan dimana anakmu. Asal..."


"Apa yang kau mau? Memintaku membayar kematian adikmu dengan nyawaku?"


Renji tertawa geli, "Oh tentu saja bukan, mantan partnerku... aku tidak butuh darahmu untuk membayar kematian Alex...!" Renji mendekatkan bibirnya ke telinga Ryuzen. "Yang perlu kau lakukan hanya satu, kau lepaskan Sara untukku!"


Seketika Amarah Ryuzen pun memuncak, ia langsung saja menarik kerah kemeja Renji, menatapnya dengan murka, lalu meninju wajah Renji dengan keras hingga terjatuh. "Kau gila! Sampai mati pun aku tidak akan melepaskan istriku pada baj!ngan sepertimu Renji!"


Renji tampak mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya karena pukulan Ryuzen tadi. Ia pun berdiri dan kembalin tersenyum... "Kalau begitu relakan saja anakmu mati."


"Kau..." Ryu hampir ingin memukul Renji lagi, namun dirinya tidak jadi melakukannya, karena merasa percuma saja, hal itu tidak akan menyelamatkan siapapun. Kali ini untuk pertama kalinya... Ryuzen merasa lemah dan tak berdaya di hadapan musuhnya, yang tidak lain adalah rekan terbaiknya dulu saat di black serpents.


Ryuzen hanya bisa mengepalkan tangan-tangannya. Merasakan dirinya bagai pencundang yang kalah sebelum berperang. Bagaimana bisa aku melepaskan salah satu diantaranya...? Sara adalah nyawaku, dan Arvin adalah napasku, bagaimana bisa aku hidup tanpa salah satunya...! Apakah aku harus memilih? Ryuzen tak kuasa meneteskan air matanya.


"Kenapa Ryu? Kini kau takut bukan, jika harus kehilangan salah satu bagian dari hidupmu?" Renji berdiri di hadapan Ryuzen. "Kau takut kan jika kehilangan mereka, sayangnya... aku sudah pernah merasakan saat aku kehilangan satu-satunya anggota keluargaku! Apa kau tau!" *bug Kini giliran Renji yang memukul Ryuzen dengan keras hingga dirinya terlepanting.


"Aku hidup sendirian kau tahu, tanpa keluarga, tanpa kasih sayang. Tapi kau! Kau bahagia, kau masih memiliki ayah... putramu dan... dan kau memiliki dia..., satu-satunya wanita yang aku cintai sejak lama. Kau juga mengambilnya dariku... kenapa Ryuzen, kenapa? Belum cukupkah kau mengambil adikku!"


Ryuzen kembali berdiri... ia pun menatap Renji dengan tatapan nanar.


"Akhirnya kau kembali berdiri. Baiklah... karena waktu terus berjalan. Sekarang waktunya kau tentukan, mana yang akan kau pertahankan. Kehilangan putramu, atau melepas Sara?"


Biasanya... aku selalu mengambil keputusan dengan mudah. Tapi kali ini... aku harus dihadapkan pada pilihan sulit, pilihan antara hidup dan mati. Aku tidak punya waktu lagi. Ryuzen pun membuka mulutnya, "Aku memilih..."


"Tidak ada yang perlu dipilih!"


🌹🌹🌹


Hello... readers setiaku, terima kasih masih mau menunggu. Jangan lupa ya LIKE, VOTE, dan COMMENTnya..


jangan lupa juga follow IGku @chrysalisha98


Love -C