
~Keesokan harinya.
Sayup sayup wanita itu membuka matanya, ia langsung saja melirik ke sekitar tempat tidurnya, seolah menyadari ada sesuatu yang kurang.
Ryu, Arvin?
Sara yang akhirnya sadar sepenuhnya, kini mendapati jika suami dan anaknya ternyata sudah tidak ada di atas ranjang.
Huh? Mereka sudah bangun lebih dulu ya?
Sara menyapu-nyapu kedua matanya dengan kedua tangan, kemudian melirikan matanya ke arah jam weker digital diatas nakas, yang ternyata kini tengah menunjukkan pukul 09.30 pagi.
"Astaga! Ternyata sudah jam segini, pantas saja mereka sudah bangun. Jadi memang akunya saja ya, yang terlalu lama menikmati tidur," ungkap Sara menyindir diri sendiri.
Setelah merenggangkan sendi-sendinya kaku karena terlalu lama tidur. Wanita cantik itu pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengosok gigi, sebelum dirinya turun untuk sarapan. Tapi siapa sangka, setelah dirinya selesai, lalu membuka pintu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih, di atas meja malah sudah tersedia sarapan lengkap penuh nutrisi yang Sara perlukan.
"Tunggu dulu, bahkan aku belum meminta bibi Rachel membawakanku sarapan? Tapi kenapa....?"
"Selamat pagi!" Sapa kedua pria tampan yang kini sudah berpenampilan santai dan bersih.
"Mami silakan menikmati sarapamu," ujar Arvin yang cerah hari ini.
"Jadi semua ini kalian yang-?" Sara tidak menyangka jika suami dan anaknyalah yang menyiapkan semua menu sarapan ini.
"Ya, aku dan Arvin menang sengaja tidak membangunkanmu, dan menyiapkan semua ini khusus untukmu."
Perlakuan suami dan anaknya itu, membuat Sara benar-benar merasa sangat senang. Dirinya merasa begitu istimewa dibuatnya oleh perlakuan kedua jagoannya itu.
"Mami, ayo cepat habiskan sarapannya, nanti kalau dingin jadi tidak enak!" Titah Arvin.
"Oh ya, tentu saja! Akan aku lahap semuanya sampai habis." Sara kemudian duduk, dan mulai menyantap Sarapannya dengan lahap. Hingga ia sadar, jika hampir lupa mengajak suami dan anaknya itu untuk ikut sarapan.
"Oh iya, kalian tidak sarapan?"
"Aku dan Arvin sudah sarapan sehabis olahraga tadi," jelas Ryuzen yang kini duduk di hadapan Sara.
"Pantas saja, kenapa kalian tidak membangunkan aku...?"
"Biasanya mami yang selalu menyiapkan segalanya untuk kami, jadi aku dan papi sepakat untuk gantian yang menyiapkan segalanya untuk Mami."
"Woah itu manis sekali, terima kasih untuk kalian berdua jagoanku. Aku berasa jadi ratu," ungkap Sara terkekeh
~~
Sarapan sudah dihabiskan, kini Sara bermaksud untuk memberitahukan Arvin soal dirinya yang tengah mengandung calon adiknya itu. Sara pun sudah membicarakan hal ini pada Ryu semalam, dan mereka sepakat untuk segera memberi tahunkanya pada Arvin. Mereka terlihat bersama-sama menuruni anak tangga menuju ke taman belakang, untuk sejenak bersantai bersama. Ketiganya kini sudah duduk berkumpul bersama, di sebuah bangku taman dengan posisi berjajar dimana Arvin berada duduk diantara kedua orang tuannya.
"Jadi apa yang ingin Papi dan Mami sampaikan padaku?" Arvin nampak sudah tidak sabar mendegar apa yang ingin diberitahukan oleh kedua orang tuanya itu.
Sara mengusap lembut pipi Arvin dan tersenyum, "Arvin sayang, kau sudah jadi anak baik mami selama ini. Makanya hari ini mami akan beritahu sebuah kabar."
"Apa itu Mami?" Rasa penasaran makin berkecamuk di dalam pikiran putra Ryuzen, yang wajahnya kini makin terlihat menggemaskan karena rasa penasaran. Tidak ingin membuat Arvin semakin penasaran, Sara langsung meraih tangan pria kecil itu dan meletakan telapaknya di perut miliknya. Arvin tentunya dibuat aneh dengan maksud sang mami berlaku demikian.
Sebenarnya ada apa sih?
"Arvin, mami hanya ingin kau tahu jika di dalam perut mami yang kini kau raba saat inu, di dalamnya ada calon adikmu."
Arvin membulatkan matanya, ia agak terkejut dengan ucapan Sara barusan.
"A- apa yang mami bilang serius?"
Sara hanya tersenyum dan tidak menjawab,hingga sang ayah akhirnya buka suara dan meyakinkan Arvin jika yang dikatakan Sara itu adalah benar adanya.
"Ja- jadi... aku....? Yey! Yey! Aku akan jadi kakak, akhirnya aku punya adik! Hore...!" Berita itu benar-benar membuat pria kecil itu senang tak terperi, hingga membuat dirinya yang biasa bertingkah tenang kini bak kelinci yang tengah berjingkrak berlompatan.
"Aku masih tak menyangka sebentar lagi aku akan punya adik." Arvin tiba-tiba kembali mengusap perut Sara sambil mengajak bicara calon adiknya yang ada di dalam perut sang mami.
"Adik sayang, kau baik-baik ya di dalam sana. Jangan terlalu banyak bergerak karena itu bisa menyakiti mami. Kakak berjanji, nanti setelah kau lahir kakak akan mengajakmu bermain bersama oke?"
"Mami yakin, kau pasti akan jadi kakak yang baik," ujar Sara pada Arvin.
"Hem!" Angguk Arvin.
"Kau suka adik laki-laki atau perempuan?" Tanya Ryu tiba-tiba.
"Aku... aku suka dua-duanya! Karena kalau perempuan pasti dia cantik dan baik hati, kalau laki-laki akan aku ajari dia menjadi keren seperti aku!"
Sara yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala, pasalnya dia saja belum tahu apa jenis kelamin anak yang dikandungnya saat ini.
"Tapi terserah saja, bagiku mau laki-laki atau perempuan aku akan selalu menjaga dan melindunginy dengan baik."
"Good boy!" Puji Ryuzen dengan penuh rasa bangga sambil mengusap kepala anaknya itu.
~~
Di tempat bekerja, Erika terlihat tengah sibuk dengan pekerjaannya mendesain rancangan terbaru untuk koleksi musim dingin yang akan ia pamerkan di New york bulan depan.
*tok tok
Terdengar suara pintu ruangan Erika diketuk.
"Masuklah!"
Ternyata asisten Erika yang datang menemuinya.
"Ada apa?" Tanya Erika yang masih terus fokus pada detail gambar-gambar rancangannya itu.
Erika tiba-tiba menghentikan fokusnya dari pada gambar-gambar yang ada di atas mejanya itu.
"Siapa memangnya?" Tanya Erika dengan rasa penasaran, siapa orang yang ingin bertemu dengannya.
"Orang itu sebenarnya...."
~~
Erika yang dari ruang kerjanya pun langsung berjalan menemui orang yang mencarinya tersebut. Orang itu kini tengah berada menunggu di ruang tamu vip miliknya.
"Oh, angin apa yang membawa CEO Emerald datang ke kantorku tiba-tiba?"
Ryuzen yang berpenampilan kasual mengenakan kaos turtleneck berlengan panjang berwarna gelap itu, bangkit dari duduknya
"Apa aku mengganggumu Erika?"
"Menurutmu?"
Ryuzen kembali duduk ketika Erika duduk dan meminta dirinya untuk juga duduk kembali
"Kau mau minum apa? Anggur kualitas terbaik?"
Ryuzen nampak sedikit tergelitik "Tidak kusangka kau masih tau betul apa yang aku suka."
Erika hanya tersenyum masam. "Semua yang kau suka dan tidak aku sudah mengingatnya di luar kepala."
"Begitu ya?" Gumam Ryu, melihat Erika langsung menyuguhkan dirinya dengan segelas anggur kualitas terbaik, yang ada di ruangan milik Erika tersebut.
"Ada apa kau kemari? Kau tidak takut, jika tiba-tiba ada media yang melihatmu datang ke tempatku dengan gaya kasual begini. Bisa-bisa nanti muncul berita macam-macam tentang kita. Kau tidak takut Sara cemburu?"
Ryuzen hanya tersenyum kecil, " Justru Sara yang ingin agar aku datang untuk menemuimu."
Oh jadi lagi-lagi, karena istrinya dia mau menemuiku? Erika nampak kecewa mendengar ucapan Ryu barusan.
"Erika, aku kemari sebenarnya ingin berterima kasih padamu karena kau sudah-"
"Sudah menolong istrimu, itu kan yang ingin kau katakan padaku?"
"Ya!"
"Padahal sudah kubilang pada istri kesayanganmu itu, jika ingin berterima kasih, berterima kasihlah pada anak kalian yang sudah nekat menemuiku."
"Aku tau, Arvin juga sudan cerita padaku dan Sara. Tapi aku secara pribadi ingin mengucapkan terima kasih secara langsung padamu," ungkap Ryuzen.
Erika mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya. Karena tidak bisa dipungkiri jika rasa cintanya untuk Ryuzen masihlah kuat hingga saat ini. Tapi dilain sisi, dirinya juga sudah lelah dengan semua keinginannya untuk kembali pada pria yang kini sudah menjadi milik orang lain itu.
Tapi Erika tetap mencoba menahan emosinya agar tidak kacau. "Baiklah, kau sudah mengucapkan terima kasih, so... jika sudah tidak ada urusan lain lagi, maka aku akan meninggalkanmu, karena aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Erika mencoba menyembunyikan rasa sedihnya dengan tidak menatap Ryu saat berkata hal itu. Tapi Ryuzen tau jelas, meski Erika mencoba menahannya, ia masih bisa merasakan getar suara Erika saat berucap barusan.
"Erika, sebelum pergi aku ingin minta maaf."
"Untuk apa?"
"Maaf karena mungkin aku tidak bisa menjadi laki-laki yang kau harapkan, maaf juga karena aku tidak bisa kembali lagi padamu, dan terakhir... maaf karena membuatmu bersedih dan tersiksa batin."
Namu Erika sudah tidak kuasa menahan air matanya untuk jatuh, tubuhnya pun mulai bergetar meluapkan kesedihan yang ditahannya sejak tadi. Erika pun akhirnya lepas kontrol dan langsung memeluk Ryuzen.
"Kenapa kau datang menemuiku lagi? Aku senang seketika, tapi saat aku tahu alasanmu menemuiku karena wanita itu, hatiku sakit Ryu...."
Ryu hanya bisa diam dan tidak membalas pelukan Erika sama sekali.
"Aku sadar diriku bersalah, tapi bukan salahku juga jika aku masih mencintaimu kan? Hikss...."
Erika?
"Erika maafkan aku...," Ryuzen menarik tubuhnya menjauh dari rengkuhan tubuh Erika.
"Aku kemari hanya ingin mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf. Selebihnya aku dan dirimu sudah tidak ada lagi hubungan apapun."
"Ya, kau benar! Aku memang bukan lagi siapa-siapa bagimu, dan aku paham!" Wanita itu pun menyeka air matanya yang membasahi pipi.
"Kalau begitu... aku pergi dulu. Aku harap kau segera menemukan kebahagiaanmu sendiri Erika."
Selamat tinggal masa laluku.
Ryuzen pun meninggalkan ruangan itu bersama Erika sendirian di dalamnya.
"Selamat tinggal Ryuzen Han...." lirihnya dengan pasrah sambil menahan rasa kecewa dan menyesal yang kini meusuk batinnya.
Memang benar, katerlihat dekat dan nampak mudah, tapi nyatanya semua itu hanyalah fatamorgana. Mungkin ini yang dinamakan sebuah takdir semesta. Takdir yang sulit untuk dihindari meski kita berusaha sekuat tenaga untuk mengelaknya.
πΉπΉπΉ
Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update π. Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca cerita ini. Sekali lagi maaf karena sering tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian yang masih setia, masih sabar untuk membaca cerita sederhana dariku ini. Tapi tenang, meski mungkin banyak pembaca yang sudah pergi tapi aku akan tetap selesaikan cerita ini.
Terima kasih juga teruntuk kalian yang sudah mau tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote aku sangat berterima kasih atas apresiasinya.
Pokoknya sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian. Happy reading fellas and hopefully you like it.
For more info follow my instagram account @chrysalisha98 thank you.π