
Yoshiki baru saja tiba di depan sebuah hunian apartemen mewah milik Erika. Sebelum keluar dari mobil Erika dan Yoshiki pun, menyempatkan diri mereka untuk sekedar mengobrol sebentar.
"Yoshiki, apakah setelah bersalah, aku tak pantas mendapatkan kesempatan kedua?" lirih Erika.
Yoshiki menoleh ke arah Erika yang duduk di sebelahnya.
"Semua orang berhak atas itu Erika!"
"Tapi kenapa? Kenapa Ryuzen tak mau memberiku kesempatan kedua itu. Aku masih sangat mencintainya, dan dia juga mencintaiku bukan! Lalu kenapa dia malah menikah dengan wanita itu? Hiks!" Erika tak kuasa menahan air mata penyesalannya.
"Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tapi kesempatan kedua, bukan berarti kau akan mendapatkan kesempatan yang sama seperti di masa lalu. Hati manusia adalah sebuah misteri di dalam kehidupan manusia itu sendiri. Tidak ada yang mampu menebaknya dengan pasti, begitupun cinta. Hati manusia seolah memiliki cara kerjanya sendiri dalam memilih dan menemukan cinta yang tepat di hati mereka. Oleh karena itu, jangan pernah mengatur cara kerja hati, apalagi hatinya yang jelas-jelas bukan lagi milikmu."
"Tapi kenapa?! Apa bagusnya Sara dibanding aku! Dia memang cantik, aku akui itu, tapi... dibanding aku yang sudah sejak kecil mengenal Ryuzen. Apa lebihnya wanita itu, huh?!" Erika semakin tak kuasa menahan bulir air mata yang sejak tadi sudah mulai jatuh membasahi pipinya.
"Hapus air matamu! Jangan sampai kau keluar dari mobilku dengan keadaan mata sembab. Bisa-bisa orang akan berpikir tentang diriku yang tidak-tidak!" Yoshiki pun meberikan sapu tangannya pada Erika.
"Terima kasih Yoshiki!"
"Erika, aku mengenalmu sejak kecil dan aku tahu kau wanita yang baik. Tapi dalam hal ini aku tak bisa memksa siapapun, bagaimana hatimu adalah keputusanmu sendiri. Jika boleh aku beri Saran melangkahlah Erika kejar kebahagiaanmu sendiri dan berdamailah dengan hatimu."
"Entahlah, aku belum bisa menerima itu Yoshiki!"
"Aku berharap kau menemui kebahagiaanmu sendiri!"
"Semoga! Terima kasih tumpangannya Yoshiki!"
"Sama-sama,"
Erika melepaskan pun sabuk pengamannya dan menarik tuas pintu tuas mobil tersebut lalu keluar. Sebelum pergi Yoshiki menyempatkan mengucapakan sampai jumpa pada Erika sebelum benar-benar pergi, dan Erika membalasnya dengan gerakan melambaikan tangan dengan pelan.
Erika pun melangkah memasuki lobby apartemennya,
"Nona Erika!" ujar suara pria yang dengan tiba-tiba menghampirinya dari arah samping kanannya.
ย
~~
Emerald Tower
Ryuzen dan Kenzo masuk ke ruangan milik Ryuzen. Tanpa duduk dulu Ryuzen langsung menanyakan, soal penyelidikan siapa yang telah mengambil foto-foto dirinya dan Sara secara diam-diam.
"Tuan aku yakin orang yang mengambil foto anda dan nona diam-diam, dia adalah seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Hal itu terlihat dari caranya mengambil foto anda," Jelas Kenzo.
"Begitukah?" Ryuzen nampak menyalakan laptopnya.
"Kau bisa lihat di data yang aku kirimkan lewat e-mail, disana ada beberapa nama mantan wartawan yang kemungkinan salah satu dari mereka adalah yang mengambil foto-foto itu."
Ryuzen membuka soft copy yang dikirimkan oleh Kenzo. Disana tertera beberapa nama wartawan lengkap dengan daftar riwayat hidupnya. Dengan seksama Ryuzen mengamati dan membaca setiap berkas tiap wartawan itu. Hingga ia tertarik dengan salah satu wartawan yang bernama Kevin Wu.
"Kenzo, cari tau soal Kevin Wu!"
"Kau pikir dia orangnya?"
"Tidak seratus persen, tapi setelah aku melihat riwayat tulisan dan hasil gambar-gambar jepretam kamera yang ia dapatkan selama karirnya, sepertinya mirip sekali dengan hasil jepretan foto-foto yang dikirimkan kepadaku kemarin!" jelas Ryuzen.
"Baiklah aku akan menyelidiki orang itu! Tapi Tuan, menurut anda siapa dibalik ini semua?"
"Entahlah terlalu rumit, aku rasa banyak perkiraanku yang meleset. Biyan Dao sepertinya tidak bergerak sendirian dalam rencananya, seperti ada yang membantunya. Selain Black Serpents, sepertinya ada orang lain yang juga ikut andil dalam pergerakan Biyan dan aku belum bisa menebak siapa orang itu." Ryuzen terlihat tengah berpikir keras ia membuka kotak dari kayu yang berisi belati kecil miliknya itu dan memandanginya dengan tatapan yang tak bisa di deskripsikan.
"Aku rasa kedepannya akan semakin sulit!" Ryuzen yang kini memunculkan ekspresi dingin, sambil menggenggam erat gagang pisau belati miliknya itu, ia seolah tengah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
๐น๐น๐น
LIKE, COMMENT, VOTE THANK YOU๐