Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 67


Beberapa menit setelah selesai dijenguk oleh Gina, Sara ternyata mendapati kedatangan seseorang lagi. Seseorang yang pastinya selalu ia rindukan di setiap saat.


"Akhirnya kau datang menemuiku lagi," Ujar Sara diikuti senyum manis yang mengembang di bibirnya.


"Jadi kau sangat merindukanku ya?" Goda Ryuzen yang kini sudah berada berdiri tepat di hadapan Sara.


Sara mengerucutkan bibirnya, ia malah mengelus perutnya sambil mengajak bicara anak didalam perutnya itu. "Nak, kau lihat kelakuan papimu yang menyebalkan ini?"


Melihat apa yang dilakukan Sara itu membuat Ryuzen terkekeh geli.


"Apanya yang lucu?" protes Sara.


"Tidak ada."


Ryuzen menundukan wajahnya dan menatap wajah istrinya yang tetap cantik meski terlihat agak lusuh. Ryu membelai rambut indah Sara dengan jari-jari panjanganya.


Melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu pun membuat Sara tidak bisa, menahan rona merah muda yang tiba-tiba menghiasi pipinya yang mulus.


"Kau malu?"


Sara tidak berani menatap suaminya. Bagi Sara meski telah menikah dan sudah sering melakukan hal-hal intim dengan Ryu layaknya suami istri pada umumnya, kebiasaan Ryuzen yang suka sekali menatap matanya secara tiba-tiba, masih seringkali membuat Sara jadi salah tingkah dan tersipu malu.


Dicubitnya pelan dagu lancip istrinya itu dan di dongakan kepalanya agar bisa menatap dirinya.


"Kita jadi suami istri sudah setahun, lalu kenapa kau masih saja malu begitu?"


"Huh! Tentu saja malu ini kan tempat yang tidak tepat, kau tau!" ujar Sara sebal.


Melihat Sara bersungut-sungut begitu, bukannya berhenti menggoda sang istri, Ryuzen malah mendekatkan bibirnya ke telinga sebelah kanan Sara dan berbisik, "Kalau kau tidak keberatan, bahkan aku dengan senang hati melakukan apa yang biasa kita lakukan dirumah saat ini juga."


Wajah Sara semakin memerah dibuatnya. Melihat Sara malu begitu Ryuzen jadi terkekeh kecil. Sara pun mulai jengkel dibuatnya, ia pun mendorong tubuh Ryuzen.


"Kau menyebalkan tuan muda Han...," gerutu Sara lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Ryuzen.


Ryuzen malah semakin terkekeh dibuatnya. Bahkan seolah kini beban pikiran yang membuatnya penat akhir-akhir ini, seperti sejenak dilupakannya. Namun, tetap saja hal itu hanya bertahan sejenak, saat dirinya ingat jika Sara masihlah berstatus sebagai tersangka, dan dirinya sendiri masih belum mendapatkan bukti kuat untuk menolong Sara.


Setelah menyadari hal itu. Akhirnya Ryuzen dan Sara mulai kembali serius. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. Ryuzen belum mulao berbicara lagi, ia hanya terus saja memainkan jari-jari lentik istrinya itu sambil memandanginya.


"Ryu..." panggil Sara dengan nada lembut.


Ryuzen pun langsung mengangkat pandangannya dan menatap mata sendu Sara yang kini membidik tepat di kedua bola mata miliknya.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Sara.


Jari-jari Ryu yang tadinya hanya memainkan jari-jari milik Sara itu, kini beralih menjadi menggenggam dengan eratnya jari-jari milik istrinya itu.


"Kau sedikit pucat, kau pasti sangat tertekan berada disini ya?" Lirih Ryuzen.


Sara tersenyum kecil, "Aku baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku." Dirinya kini tengah mencoba meyakinkan sang suami jika dirinya baik-baik saja.


Mata pria yang biasanya sedingin es itu seketika mencair oleh hangatnya senyuman dari wanita yang begitu di cintainya itu. Diraihnya tangan Sara dan diletakkan ke sebelah pipinya.


"Kau segalanya bagiku Sara. Kau adalah separuh dari nyawaku. Maafkan aku karena membuatmu jadi seperti ini."


Penyesalan itu memang selalu terasa begitu menyiksa, saat kita sadar semua itu terjadi karena kesalahan yang kita perbuat dimasa lalu.


Sara mengulur senyum indahnya,"Kau tidak perlu minta maaf Ryu, ini semua bukan salahmu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."


"Sara...."


"Ya?"


"Menurutmu..., jika aku menyerahkan Emerald pada pamanku sebagai ganti agar kau bisa keluar dari sini, apa ka-"


Sara dengan gerakan sigap langsung membungkam bibir Ryuzen dengan telunjuknya. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap mata sang suami dalam-dalam.


"Jika kau lakukan itu, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Tapi..."


"Ryu, apa kau tahu? Menurutku kau bukan hanya seorang pemimpin Emerald, tapi lebih dari itu, kau adalah tumpuan bagi banyak orang. Emerald adalah harapan bagi banyak nyawa di negeri ini. Jika kau serahkan perusahaan itu pada orang yang salah, bagaimana nasib semua pekerjamu nantinya. Aku akan merasa sangat berdosa jika demi aku, kau sampai harus mengorbankan banyak pihak. Aku tidak akan pernah setuju, jadi jangan pernah lakukan hal itu."


Ternyata Kenzo benar, Sara tidak akan membiarkan aku melakukan hal ini.


"Hei! Apa kau sudah kehilangan jati dirimu tuan Han?" Ujar Sara menyela perkataan Ryuzen.


"Apa seekor serigala yang gagah kini telah berubah menjadi musang kecil yang tak bedaya, hanya karena satu ancaman?" Lanjut Sara.


"Sara, tapi-"


"Kau itu suamiku, kau pria terhebat yang pernah aku temui seumur hidupku. Kau yang aku kenal tidak akan menyerah sebelum berperang, kau yang aku kenal tidak pernah gentar dan takut pada ancaman apapun, dan kau yang aku kenal pasti bisa menemukan cara untuk mengalahakan musuh-musuhmu!" Tegas Sara.


Jawaban Sara barusan membuat Ryuzen tersenyum senang. Ia mencubit hidung mancung kecil Sara,


"Kau memang satu-satunya yang pantas jadi istriku."


Sara tersenyum, melihat Ryuzen yang sepertinya sudah mulai kembali ke dirinya yang pedcaya diri seperti biasanya.


"Sayang, apa aku boleh bertanya padamu sesuatu?"


"Bertanya apa?"


Sara sudah siap menyimak, apa yang ingin ditanyakan oleh Ryu.


"Kau bilang, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua bukan?"


"Ya," jawab Sara sambil mengangguk.


"Bahkan jika orang itu sudah menyakitimu dengan sangat keji apa juga masih berhak akan kesempatan itu?" Lanjut Ryuzen.


Sara mengehela napasnya, meraih tangan suaminya dan menggenggam tanganya itu erat-erat. Sara menatap mata tajam Ryuzen dengan penuh kelembutan yang terpancar jelas dari bola mata berwarna kecoklatan miliknya.


"Ryuzen, kau harus tau. Setiap orang yang telah tumbuh dewasa dan menjalani hidupnya di dunia ini bukanlah orang suci. Manusia memang terlahir dalam keadaan tanpa dosa, tapi seiring berjalannya waktu, kesalahan dan masalah tidak mungkin bisa terelakan dalam kehidupan setiap orang. Apapun itu, besar atau kecil, semua orang pasti memiliki kesalahan."


"Tapi rasa sakit itu, benar-benar masih terasa sampai saat ini, bahkan jikalau pun aku membalaskan dendamku padanya, mungkin hatiku belum tentu bisa memaafkan dirinya."


"Karena memaafkan, memang bukanlah tetang membalas rasa sakit hati dengan membalas menyakiti Ryu...."


Ryuzen mengernyitkan dahinya, mencoba menelaah maksud ucapan Sara barusan.


"Ryu, memaafkan bukan tentang bagaimana kau menyembuhkan luka ataupun menghilangkan rasa benci dihatimu. Tapi memaafkan adalah dimana kau bisa berdamai dengan egomu sendiri dan merelakan segala yang telah terjadi di masa lalu dengan caramu sendiri,"


"Sejatinya kaca yang telah retak tidak akan pernah bisa kembali utuh, tapi setidaknya kaca itu masihlah kaca yang sama walau tidak berbentuk sama seperti saat pertama kali dibuat. Sama halnya dengan manusia, yang pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini."Sara menggenggam tangan Ryu dan menciumnya.


"Jadi Ryu, aku harap kau mau berdamai dengan dirimu. Jangan memupuk rasa benci yang hanya akan terus menyiksa batinmu setiap waktu. Aku tidak memintamu memaafkan, karena memaafkan atau tidak, itu hak setiap orang. Aku hanya ingin, kau bahagia dan berhenti menyakiti diri sendiri dengan rasa bencimu pada seseorang yang mungkin saja dia juga sama merasakan sakit seperti dirimu."


Mata yang berbinar dari wanita cantik dihadapan Ryuzen, seolah menciptakan pancarona yang tak kasat mata, yang berhasil membuatnya merasa bersemangat kembali.


"Kau memang anugrah terindah yang dikirimkan Tuhan untukku Sara," ungkap Ryuzen dengan penuh rasa bahagia.


"Jadi..., kau sudah tau apa yang harus kau lakukan?"


"Aku mengerti apa maumu ratuku." Ryuzen membelai pipi Sara.


"Kalau begitu, pergilah dan selamatkan aku besok!"


"Perintahmu adalah kewajiban bagiku!"


"Aku mencintaimu Ryu,"


"Aku pun mencintaimu bahkan untuk seribu tahun lagi."


Mungkin benar adanya, harus ada satu diantaranya yang mengalah demi kebahagiaan keduanya. Jika, mengalahkan egoku adalah jalan tebaik untukmu maka akan aku lakukan Sara.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.๐Ÿ˜‰