
Di tempatnya sekolah.... Arvin terlihat sudah berada di luar sekolah, ia kini duduk di kursi dekat area bermain, bersama anak-anak lain yang juga tengah menunggu orang tuanya menjemput. "Kenapa belum ada yang datang menjemputku...? Apa mereka semuanya sedang sibuk, sehingga lupa menjemputku?" Arvin terlihat beberapa kali melihat waktu pada jam tangan digitalnya yang dilengkapi GPS itu. Ia berkali-kali menghela napas, karena merasa bosan menunggu.
"Apa aku telepon mami saja ya? Tapi kan, papi bilang mami dan dirinya mau pergi ke luar negeri karena suatu urusan. Meskipun aku tidak tahu urusan apa, tapi aku yakin urusan ini penting. Dan seperti biasa mereka akan menutupinya dariku yang mereka kira tidak tahu apa-apa. Heuh! Dasar orang tua zaman sekarang....!" Arvin nampak menyilangkan tangannya di atas perut dengan ekspresi datar. Melihat yang dilakukannya saat ini hanyalah, menyoroti anak-anak lain yang terlihat sibuk bermain ayunan maupun sekedar berlari-larian, sementara dirinya hanya duduk menunggu, dan tidak ikut bermain. Sejatinya Arvin bukan tidak punya teman untuk bermain, tapi dirinya hanya tidak sedang mood saja untuk bermain.
Di tengah-tengah kebosanannya menunggu, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menyodorkan sekotak jus apel kemasan dari sebelah kanannya. Arvin pun langsung menoleh ke atas, ke arah seseorang yang menyodori dirinya jus apel tersebut.
"Paman berikan untukku?" Tanya Arvin pada pria yang tingginya kira-kira sama dengan papinya itu.
"Hum! Untukmu!" Pria itu mengangguk, "Boleh aku duduk disebelahmu nak?" Ujarnya.
"Tentu saja bebas," jawab Arvin dengan santai pada laki-laki dewasa yang sepertinya seumuran dengan papinya itu.
"Jadi kau mau jus apel ini atau tidak?" Kata pria itu yang ternyata adalah Renji.
Sepertinya orang ini baik! Arvin yang merasa jika Renji adalah orang yang baik, akhirnya menerima sekotak jus apel pemberiannya itu. Toh ini hanya sekotak jus apel kemasan, pikir Arvin. "Terima kasih paman," ujar Arvin yang menerima pemberian jus itu. "Oh iya... paman kemari mau menjemput siapa? Barangkali saja aku kenal dengan anak yang ingin kau jemput!" Ujar Arvin yang kemudian meminum jus apelnya.
Renji kemudian tersenyum lembut. "Tadinya, aku kemari untuk menjemput keponakanku, tapi ternyata dia sudah di jemput oleh ibunya... jadi aku putuskan saja untuk berkeliling sekolah ini, karena kebetulan aku juga ingin mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak kurang beruntung."
"Woah! Benarkah? Kau baik sekali paman!" Puji Arvin.
"Biasa saja," balasnya dan tertawa kecil. "Dan.. kau sendiri, apa kau sedang menunggu orang tuamu kah?"
"Yes! Memangnya apalagi?
Terdengar suara gelak tawa dari dalam tenggorokan Renji. Mendengarnya Arvin pun bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba seperti menahan tertawa begitu Paman? Apa ada hal yang lucu sehingga buatmu tertawa?"
"Iya, karena kau lucu!"
"Aku?" Arvin jadi bingung dibuatnya.
"Iya kau lucu, karena kau anak kecil pertama yang aku tahu, terlihat sama sekali santai dan tidak takut berbicara dengan orang asing sepertiku ini."
"Hal begitu lucu ya?" Celetuk Arvin merasa tidak ada yang lucu dengan hal itu.
"Buatku, iya!"
"Aku rasa bukan aku yang lucu, tapi paman saja yang aneh. Lagipula... aku berbicara padamu karena naluriku mengatakan kau itu bukan orang jahat yang ingin menculikku. Ditambah lagi, dari pakaian yang paman kenakan... aku yakin kalau paman itu orang kaya. Dengan kata lain, secara umum tidak mungkin orang kaya akan jadi penculik anak-anak demi uang. Karena kalaupun kau memang mau menculik pasti bukan karena uang. Iya kan?" Jelas Arvin yang langsung melihat ke arah Renji tanpa terlihat takut sedikitpun.
Dari sifatnya yang saat ini, jelas dia adalah anaknya Ryuzen, tapi matanya... matanya mirip sekali dengan milik Sara.
Sadar diperhatikan oleh Renji, Arvin pun berkata, "Paman! Kenapa kau memperhatikanku begitu? Memang belum pernah lihat pria setampan diriku ya?"
Sekali lagi, ucapan Arvin berhasil membuat Renji tertawa geli.
"Heh! Lagi-lagi tertawa!"
"Maaf tapi kau lucu sekali nak...! Oh ya siapa namamu?"
Arvin memicingkan matanya ke arah Renji. "Kenapa paman tiba-tiba bertanya begitu?"
"Um... memang salah ya?
"Tidak salah juga sih.... Tapi jujur saja ya, aku ini tidak mudah di dekati oleh orang yang baru saja aku kenal sekalipun kau sudah beri aku jus apel ini. Jadi jangan sakit hati ya Paman, jika aku tidak bersedia memberi tahukan namaku padamu yang masih orang asing bagiku!"
Anak ini benar-benar semakin mirip dengan Ryuzen. Blak blakan tapi tidak mudah ditebak, anak yang menarik!
"Ah... baiklah, kau benar memang kita tidak boleh terlalu akrab dengan orang asing. Pasti orang tuamu telah mengajari hal itu padamu ya?"
"Ya begitulah..."
"Aku yakin, pasti mereka sangat beruntung memilikimu."
"Tentu saja!"
"Aku jadi penasaran dengan ayah dan ibumu? Pasti mereka orang-orang yang hebat."
"Biar aku beritahu, mamiku itu... dia wanita yang sangat cantik dan penyayang, walau sering cerewet dan kurang pintar sih.... Tapi bagiku dia adalah wanita yang paling aku sayang di dunia."
Mendengar Arvin mendeskripsikan Sara, hati Renji langsung berdesir. Ternyata dia bukan hanya wanita yang baik, tapi juga ibu yang baik untuk putranya. Pria manamu pasti bertekuk lutut padanya termasuk Ryuzen sialan itu!
"Wah pasti ayahmu sangat mencintai mamimu itu. Iya kan?"
"Hem tentu saja!" Angguk Arvin, "Papi sangat mencintai mami, apapun pasti akan dia lakukan untuknya."
"Apa papimu pria yang juga luar biasa?"
"Oh tentu saja... kebalikan mami dia pandai dalam segala hal, dan apapun yang aku ingin dia juga selalu memberikannya. Dengan syarat nilaiku selalu bagus, dan lagi... papi itu pria yang akan selalu bisa melakukan apapun agar aku dan mami senang. Pokoknya dia pria terhebat nomor dua di dunia."
"Iya nomor dua, karena yang nomor satunya adalah aku!"
Dan lagi-lagi, gelak tawa Renji kembali pecah melihat ucapan putra semata wayang Sara tersebut.
"Huh! Lagi-lagi tertawa."
"Habisnya... kau sangat lucu, kau terlihat begitu polos dan menyebalkan secara bersamaan."
"Itu sebabnya aku nomor satu karena aku ini unik...!" balas Arvin dengan bangga.
Renji mengusap-usap kepala Arvin lalu tersenyum, "Kau pasti akan jadi pria yang sangat hebat kalau sudah besar nanti!" Aku berharap kau akan tumbuh besar dengan sifat-sifat Sara.
"Eh, itu mobil paman Kenzo!" Ujar Arvin melihat sekilas mobil Kenzo yang telah datang untuk menjemputnya dari jauh.
"Dan sepertinya.... kita juga harus segera berpisah, iyakan?" ucap Renji yang kemudian mengenakan kacamata hitamnya.
"Kau benar Paman!"
"Kalau begitu sampai jumpa anak ajaib!" Ujar Renji melihat Arvin yang tengah bersiap-siap untuk pergi meninggalkannya.
"Oh iya Paman! Sebelum berpisah aku ingin kau tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Aku rasa paman pria yang keren! Aku suka pada paman! Mungkin kau bisa masuk kadidat pria terkeren nomor tigaku suatu hari nanti. Kalau begitu... aku pergi dulu! Sampai jumpa paman, bye bye!" Arvinpun pergi meninggalkan Renji.
Renji hanya bisa tersenyum getir. "Jadi aku ini nomor tiga ya...? Heh!" Andai saja kau tahu hal buruk yang dilakukan oleh ayahmu padaku nak...!
~~
"Tuan kecil!" Ujar Kenzo yang baru saja keluar dari mobil untuk menghampiri Arvin. "Huh! Paman Kenzo kukira paman kemari naik siput!" Sindir Arvin yang terlihat agak ngambek sepertinya.
"Maaf tuan kecil tadi itu aku..."
"Halo Arvin kecil!" Sapa Rina yang tiba-tiba membuka kaca mobil.
"Huh? Bibi Rina, kenapa kau bisa bersama paman Kenzo? Jangan-jangan kau...." Arvin langsung menoleh ke arah Kenzo dengan tatapan penuh arti.
Eh anak ini kenapa melihatku begitu?
"Baiklah...! Aku sudah tahu alasan kenapa Paman terlambat menjemputku!" Pungkas Arvin yang langsung masuk masuk ke mobil. Disusul Kenzo yang juga ikut masuk ke dalam mobil.
~~
Di kursi belakang Arvin masih terlihat bad mood. Kenzo pun terus saja minta maaf, begitupun Rina yang juga minta maaf atas keterlambatannya. Sebenarnya Arvin sudah tidak masalah dengan Kenzo yang terlambat. Tapi melihat kedua kerabat orang tuannya mengira jika ia masih ngambek, spontan ide usil langsung muncul di pikira Arvin saat ini.
"Begini, kalau kalian mau aku maafkan, kalian harus mau melakukan reka ulang adegan saat kalian resmi menjadi sepasang kekasih di hadapanku!"
"Apa?!" Ujar Kenzo dan Rina.
"Ta- tapi...tuan kecil.. ka-kami..."
"Tapi hal itu kan...," Rina sudah pasti gengsi dibuatnya.
"Ya terserah... kalau kalian tidak mau, aku tinggal bilang saja sama papi dan mami kalau kalian terlambat menjemputku, karena malah asyik pacaraー"
"Stop! Okey baiklah...! Aku akan lakukan, tapi jangan telepon tuan muda."
"Good job Paman Kenzo...!" Arvin tersenyum penuh kemenangan. Hehehe.... aku agak keterlaluan tidak sih? Tapi biar saja, sesekali mengganggu pasangan yang baru resmi kan lucu juga.
Dasar Ryuzen kecil! Tidak ayah tidak anak, kenapa suka sekali mengancam diriku ini...?
Aku tidak menyangka Arvin yang manis ini, bisa berubah jadi sekejam ini. Huhu....
Akhirnya... Kenzo dan Rina pun terpaksa melakukan apa yang diminta Arvin. Maaf ya bibi Rina aku juga terpaksa mengerjaimu kali ini hihi...
🌹🌹🌹
Hallo my beloved Readers... masih setiakan sama romansa RyuSara dan teman-temannya? Hehehe.... Author cuma mau ingetin! Jangan lupa kalau habis baca dikasih LIKE, COMMENT & VOTEnya... karena itu berarti buatku...
Dan jangan lupa juga follow akun instagramku di @chrysalisha98
Happy reading fellas 😃