
Sara berjalan sendirian di tepi jalan, melawan dinginnya udara kota Montegi di musim gugur, dengan hanya terbungkus dress yang berbahan sifon sudah pasti tak mampu menahan dinginnya sambaran udara di malam hari yang dingin ini. Sara hanya terus berjalan sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya, untuk menahan dingin.
"Ternyata benar! Erika cinta pertamamu adalah Erika Zhang yang luar biasa itu."
Batin Sara sungguh terasa teriris mengetahui kenyataan ini, ia ingin sekali menepis itu semua dan berkata bahwa semua ini hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tenggorokan Sara mula terasa tercekik menahan air matanya agar tidak keluar.
"Sekarang, aku semakin yakin dan sadar jika aku dan dia memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama, terlalu jauh perbedaan diantara kami, bukan dia, tapi bagiku dirinya terlalu jauh untuk aku gapai."
"Salahku, Seharusnya aku sadar dari awal aku hanya wanita biasa yang kebetulan adalah Ibu dari anaknya," ungkap Sara yang masih menahan tangisnya di sepanjang jalan.
Lonceng gereja berdentang, burung-burung berterbangan di atas langit dengan riuh di musim migrasinya. Sara berhenti dan berdiri di dekat gereja itu.
Dulu aku pernah punya mimpi saat masih kecil. Waktu itu aku bermimpi jika aku besar dan menemukan pasangan yang mencintaiku, aku ingin sekali merasakan pemberkatan di sebuah gereja dengan taburan kelopak bunga yang berhamburan menyambutku datang menuju altar dan mengikat janji suci dengan pria impianku.
Tak terasa air mata Sara yang sudah tak terbendung, jatuh menetes membasahi pipinya yang putih merona.
Pada kenyataannya Impian tetap hanya sebuah mimpi yang tidak nyata.
Sadar, aku bukanlah seorang putri kerajaan di dalam buku bergambar yang dipenuhi warna, dan imajinasi. Ironisnya hidupku adalah kebalikan mimpiku, entah masih bisa bahagia atau tidak, semua itu tergantung restu Tuhan dan semesta.
Sara memandangi langit sambil merasakan hantaman dinginnya cuaca dingin tanpa mantel tebal membungkus dirinya.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih seperti menghampiri Sara yang kin tengahi berjalan di trotoar.
"Sara, kau sudah mau malam begini kenapa berjalan sendirian tanpa pakaian hangat begitu?," ucap pengemudi mobil putih itu yang ternyata adalah Rony.
Sara pun menengok ke Arah Rony yang kini sengaja melambatkan laju mobilnya.
"Rony?"
Rony menghentikan mobilnya, dan meminta Sara masuk ke mobilnya. Sara awalnya menolak namun apa daya dinginnya udara memang sulit dikompromikan, akhirnya ia pun masuk ke dalam mobil Rony.
~Kairaku Bar n Lounge
Jason, Yoshiki, Alin bermaksud merayakan kepulangan Erika dengan bersulang. Namun tidak dengan Ryuzen, ia hanya minum sendirian saja sejak tadi. Melihat hal itu Erika pun berinisiatif mendekati Ryuzen.
"Ryu, apa aku boleh duduk disampingmu?" Erika meminta izin.
"Tempat ini bukan milikku, untuk apa kau minta izin padaku?!" balas Ryuzen dengan ekspresi datar dan kembali menenggak minumannya.
Erika pun duduk di sebelah Ryuzen dengan jarak yang begitu dekat, Ryuzen yang menyadari hal itu pun langsung berkata,
"Kau tahu, sejak lima tahun terakhir ini aku termasuk pria yang paling sering jadi sasaran media untuk dijadikan skandal di Negeri ini, jadi jika kau tidak ingin karirmu sebagai Desainer bermasalah di Negeri ini, jagalah jarakmu denganku!"
"Ryu, kenapa kau dingin sekali padaku? Bagaimanapun kita kan pernah memiliki hubungan yang sangat dalam di masa lalu," terang Erika menyentuh pundak Ryuzen.
Erika tak suka melihat Ryuzen yang tak mau disentuh olehnya.
"Kenapa?! Bahkan ku sentuh saja kau tidak mau, sebenci itukah kau padaku, hanya karena aku pergi meninggalkanmu untuk mengejar karirku sebagai desainer!" ujar Erika dengan keras hingga membuat Jason dan lain memperhatikannya.
"Aku sudah tidak membencimu karena itu," jawab Ryuzen datar.
"Lalu kenapa? kenapa kau begitu dingin padaku!" seru Erika emosi.
Ryuzen tersenyum simpul, ia menaruh gelas minumannya.
"Erika, bukankah tujuh tahun lalu kau pergi meninggalkanku untuk mengejar mimpimu, dan kini kau telah berhasil meraih mimpimu itu, lalu kenapa sekarang kau marah padaku?"
Erika mengepalkan jari-jari tangannya,
"Ryuzen, jika kau benci padaku, untuk apa hari ini kau bersedia datang dan memberiku buket bunga itu!" ujar Erika.
"Aku melakukan itu semua karena aku tidak ingin lagi ada ketidakjelasan diantara kita, jadi aku sekarang anggap kita impas," ucap Ryuzen yang tiba-tiba beranjak dari sofanya.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Erika melihat Ryuzen yang sudah beranjak dari sofa.
"Maaf, tapi sekarang aku harus pergi," Ryuzen melangkah pergi.
"Ryuzen tunggu, apa kau pergi untuk wanita yang kau nikahi itu?" seru Erika.
Ryuzen menghentikan langkahnya,
"Jadi kau sudah tahu soal itu? Baguslah kalau begitu," balas Ryuzen.
Erika tertunduk lemas, ia tidak menyangka Ryuzen akan menikahi wanita lain selain dirinya.
"Aku pergi dulu!" ucap Ryuzen, yang melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan kairaku.
"Jason, ini bohong kan?" ucap Erika yang kini tertunduk kaku.
"Kau harus mulai menerima kenyataan ini Erika," balas Jason, yang kemudian bersama dengan Yoshiki dan Alin meninggalkan Erika sendiri yang kini hanya duduk mematung.
"Menikah ya? Heh, memangnya wanita mana selain aku yang pantas bersanding dengan Ryuzen?" ungkap Erika tersenyum simpul dengan amarah yang kini bergejolak di hatinya.
🌹🌹🌹
Like, comment, vote ya...😉