
Kenzo membuka matanya perlahan, samar-samar ia mulai dapat melihat sosok Ryuzen yang berada berdiri tepat di tepi ranjang rumah sakit, tempat dimana dirinya berbaring saat ini.
"Kau sudah sadar?" ucap Ryuzen kala melihat Kenzo yang kini telah sadar dan membuka matanya.
"Tu-tuan, aku dimana?" Kenzo masih merasakan sedikit nyeri di bahu dan kakinya yang kini diperban dengan rapat.
"Kau sudah ada di rumah sakit," terang Ryuzen.
"Tuan, kau benar mobil itu telah--"
"Arrkh..." Kenzo masih kesakitan kala mencoba duduk menyenderkan tubuhnya di ranjang.
"Bodoh! Jangan banyak bergerak!" Ryuzen memegangi Kenzo agar bisa duduk bersandar dengan benar, dan tidak merasa sakit.
"Tuan maaf, aku tidak membantumu malah merepotkanmu," ucap Kenzo tiba-tiba.
Ryuzen menghela napas sambil memicingkan matanya.
"Kenzo, kau tidak usah merasa bersalah. Semua ini sama sekali bukan salahmu, ini semua memang resiko yang harus aku terima dan aku hadapi."
"Oh iya, ini!" Ryuzen melemparkan korek api milik Kenzo yang di berikan olehnya dulu saat di Anglo.
Kenzo menangkapnya dengan satu tangannya yang tidak di perban. "Tuan, korek ini?"
Ryuzen tersenyum simpul.
"Tuan, bagaimana dengan nona Sara?"
"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu memikirkan apapun saat ini. Cukup pulihkan dirimu dan kembalilah setelah sembuh.".
"Baik tuan," balas Kenzo
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Ryuzen hendak melangkah pergi.
"Tuan Ryu!"
"Hem?" Ryuzen menarik kembali langkah kakinya, mendengar suara Kenzo memanggil dirinya.
"Tuan, terima kasih atas semuanya selama ini!" ujar Kenzo dengan penuh emosional hingga air matanya hampir keluar.
Ryuzen meletakkan tangannya di atas kepala Kenzo. "Sama-sama Kenzo," ucap Ryuzen sambil mengacak-acak pelan rambut asistennya itu. Senyum pun terurai dari bibir Kenzo dan air matanya juga ikut jatuh karena terharu.
"Hapus air matamu! Kalau kau begitu aku yakin, kau akan semakin sulit dapat pacar!" tukas Ryuzen dengan ekspresi datarnya.
Kenzo menyeka air matanya, " Maaf tuan!"
"Kalau begitu aku pergi dulu, kau cepat sembuh!"
"Iya Tuan, aku akan cepat sembuh dan kembali bekerja untukmu lagi!"
"Bagus!" Ryuzen pun akhirnya melangkah keluar meninggalkan ruangan tempat Kenzo di rawat.
~~
Keesokan harinya.
Sara yang ditemani oleh Rina, kini tengah berjalan di koridor rumah sakit.
"Kak Sara! Kenapa sih aku harus ikut menjenguk si pria menyebalkan itu!" gerutu Rina yang berjalan dibelakang Sara.
"Memang kenapa? Kenzo itu baik kok! Dia juga lumayan tampan lho...?" Sara melirik pada Rina yang kini sudah berada di sebelahnya, dengan nada menggoda.
"Kak Sara...!"
Sara tergelak sambil terus saja berjalan menuju ruangan Kenzo.
Sesampainya di depan ruangan tempat Kenzo di rawat saat ini, Sara langsung membuka pintu kamar tersebut dan masuk.
"Selamat pagi..." ucap Sara yang baru saja masuk kedalam ruangan, diikuti oleh Rina yang berada mengekor di belakangnya.
"Oh, Nona Sara?" Kenzo yang tadinya sedang menatap layar tabletnya pun langsung menaruh layar tabletnya itu, dan menyambut kedatangan Sara yang sengaja memang datang untuk menjenguknya.
Ekspresi Kenzo seolah berubah kala melihat Rina yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh Sara.
"Heh, gadis bedada rata kau kemari juga?" tutur Kenzo.
"Huh! Dengar ya, kalau bukan karena Kak Sara yang minta aku menemaninya kesini, aku juga tidak akan sudi datang kemari!"
Melihat dua orang itu saling adu mulut, Sara pun tak kuasa untuk menggelengkan kepalanya karena bingun. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa supaya Kenzo dan Rina tak bertengkar.
"Nona Sara, seharusnya kau tidak perlu repot-repot membawakan aku makan. Kalau tuan muda tahu kau repot gara-gara diriku, bisa-bisa malah aku yang kena masalah."
Sara menghela napasnya dengan singkat setelah mendengar ucapan Kenzo.
"Kau tenang saja, aku sudah bilang pada suamiku kok!"
"Begitu ya...," balas Kenzo yang kini sudah duduk bersandar di bantal.
Sara pun memberikan rantang itu pada Rina.
"Lho? Kenapa malah diberikan padaku?" Rina terlihat bingung dan hanya melihat ke arah rantang itu.
"Kau suapi Kenzo!" ujar Sara.
"Apa?!" ujar Rina dan Kenzo kompak, mereka berdua pun kemudian saling melempar pandangan dan kemudian membuang muka.
"Yasudah kalau tak mau, kau pulang sendiri ya Rina!" tukas Sara.
"Kak Sara, kau kejam!" Rina memelas.
"Nona Sara sepertinya kau itu sudah terkontaminasi dengan tuan muda yang suka memaksa," batin Kenzo dibuatnya.
"Jadi?"
"Baiklah, aku... mau!" ungkap Rina dengan wajahnya yang seolah mengungkapkan rasa terpaksanya.
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu ya..." Sara menjinjing tasnya lalu berjalan ke arah pintu untuk ke luar.
Melihat Sara yang akan pergi membuat Rina dan Kenzo bertanya-tanya, "Kak Sara mau kemana?"
"Nona Sara kau mau pergi kemana?" tandas Kenzo.
Sara pun hanya menoleh ke arah Kenzo dan Rina yang kinu sudah duduk di atas kursi, sambil mengulurkan senyum pada mereka
"Aku mau beli sesuatu dulu, jadi aku harap selama aku pergi kalian tidak bertengkar."
Kenzo dan Rina tak menjawab.
"Kalian dengar aku kan?"
"Iya Kak, aku mengerti"
"Tentu saja Nona, aku paham!"
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu..." Sara akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar meninggalkan Kenzo dan Rina di ruangan.
Kenzo dan Rina hanya diam dan saling menatap tajam.
"Apa lihat-lihat?" tukas Rina
"Siapa yang mau lihat kau!" balas Kenzo kemudian membuang muka.
"Sudah cepat buka mulutmu!"
Kenzo pun tersetak saat melihat Rina sudah mengarahkan sendok yang berisi makanan itu ke arahnya.
"Ka- kau mau...."
"Sudah ini makan!" Rina langsung memasukan sendok berisi makanan tersebut ke mulut Kenzo yang agak menganga. Melihat Kenzo yang kaget karena suapannya barusan pun berhasil membuat Rina tertawa geli. Kenzo yang melihat Rina menertawainya pun tak marah, entah mengapa dirinya justru merasa terhibur saat ini.
"Huh! baiklah gadis berdada rata ini kalau tertawa lucu juga ternyata." Kenzo pun kemudian lanjut memakan makanan yang di berikan oleh Rina.
"Kenapa menatapku begitu?" kata Rina yang sadar di pandangi oleh Kenzo
"Tidak... kok!"
"Baiklah," balas Rina yang kemudian kembali menyuapi Kenzo.
~~
Di luar, Sara yang baru saja keluar dari sebuah minimarket dekat rumah sakit untuk membeli beberapa makanan kecil, seolah dibuat penasaran kala dirinya melihat Erika yang tengah berjalan sendirian menggunakan kacamata hitamnya.
Erika? Mau kemana dirinya berjalan sendirian begitu.
Tanpa berpikir panjang, Sara pun langsung saja diam-diam mengikuti Erika yang berjalan tak terlalu jauh darinya saat ini. Sara mengikuti Erika tanpa ketahuan, hingga akhirnya dirinya melihat Erika berjalan masuk menuju sebuah rumah sakit jiwa.
Rumah sakit jiwa? Untuk apa Erika ke rumah sakit jiwa?