
Akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Han.
"Mari kita turun!" Ajak Ryuzen yang turun terlebih dahulu, karena harus membukakan pintu untuk sang istri.
"Silakan turun Nyonya Ryuzen Han!" Ucap Ryuzen, sambil mengulurkan tangannya untuk mempersilakan Sara keluar dari mobil. Setelah turun dari mobil Sara tidak langsung masuk, dirinya justru memilih diam sejenak dan menikmati udara di tempat ia berpijak saat ini.
Padahal belum terlalu lama, tapi bisa kembali menghirup udara segar lagi rasanya benar-benar luar biasa.
"Mami ayo kita masuk!" Seru Arvin yang baru saja turun dari mobil dengan kaki yang dibalut perban. Melihat keadaan anaknya, Sara pun tak kuasa menawarkan bantuan, "Arvin, apa kau bisa berjalan? Kalau tidak, sini biar mami gendong saja ya."
"Tidak! Aku laki-laki kuat, aku bisa berjalan sendiri. Lagipula, mami pasti lelah sekali bukan?"
"Tuan kecil biar aku saja yang menggendongmu bagaimana?" Ucap Kenzo dari dalam mobil menawarkan bantuan.
"Tidak perlu paman, paman juga lelah kan? Lebih baik paman parkirkan saja mobilnya, dan segeralah pulang untuk beristirahat."
Sara nampak tersenyum bangga melihat putranya kini terlihat semakin dewasa dalam berucap.
Arvin bukan hanya secara fisik, tapi juga secara perilakunya Arvin jadi tambah dewasa. Pria kecilku sudah bertambah semakin dewasa ternyata ya?
"Eh? Papi kenapa tiba-tiba berjongkok memunggungiku begitu?" Papar Arvin.
"Kau bilang tidak mau digendong Kenzo, dan aku pun tidak mau istriku yang menggendongmu. Jadi kurasa, jalan terbaik adalah biar aku saja yang menggendongmu ke dalam, ayo cepat naik ke punggungku!" Titah Ryu.
Tanpa banyak interupsi Arvin langsung saja naik ke atas punggung ayahnya itu, dan digendongnya ia oleh sang ayah.
"Papi, sepertinya mami juga mau digendong," celetuk pria kecil itu.
Begitu ya? Ryu menatap Sara dengan tatapan penuh intrik.
Huh? Kenapa dia melihatku begitu? Ada apa?
"Aih! Turunkan aku Ryuzen! Kau sedang menggendong Arvin, kenapa menggendongku juga? Ayo cepat turunkan!" Sara meminta Ryu menurunkan dirinya yang kini tengah berada di gendongan sang suami.
"Mami tenang saja, kita tidak akan jatuh kok! Hal seperti ini bukan suatu yang sulit dilakukan oleh seorang Ryuzen Han, iyakan papi? "
"Anakku kau semakin pintar aku bangga padamu!"
"Huh! Kalian berdua ini." Sara pada akhirnya hanya bisa pasrah digendong begitu oleh suaminya. Tapi meski begitu, dirinya tidak bisa memungkiri jika ia merasa sangat nyaman dan senang diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Terlebih lagi, akhirnya ia dapat menyentuh, dan menghirup dalam-dalam parfum beraroma musk yang biasa digunakan Ryuzen di tubuhnya.
"Selamat datang tuan, nyonya, dan tuan muda...," sambut para pelayan di kediaman keluarga Han.
Sara melemparkan senyum kecilnya, guna membalas sambutan para pelayan itu. Meski para pelayan itu terlihat biasa saja melihat Ryuzen yang menggendong dirinya dan Arvin, tapi tetap saja bagi Sara hal itu membuatnya terasa aneh, dan malu. Sejak awal wanita cantik itu memang tidak biasa terlalu di perlakukan seistimewa ini. Tapi tak mau, ia harus menerima ini semua, karena ia sadar jika beginilah cara hidup di keluarga suaminya.
"Tuan anda sudah kembali, bersama nyonya dan tuan kecil. Aku benar-benar senang sekali," sambut kepala pelayan, yang tidak lain adalah bibi Rachel. Pelayan senior baik hati, yang sudah bekerja selama puluhan tahun di kediaman ini.
"Nyonya, aku senang melihat anda kembali lagi ke rumah ini," ucap bibi Rachel tanpa merasa risih, melihat Ryuzen yang kini bermenggendong dirinya dan Arvin.
"Oh iya, terima kasih bibi Rachel, aku pun senang sekali bisa melihatmu lagi."
Ryuzen memerintahkan bibi Rachel agar segera menyiapkan makan malam, dan segala keperluan Sara dan Arvin.
"Baik Tuan aku akan siapkan semua yang kau minta, kalau begitu aku permisi-"
"Tunggu dulu bibi Rachel!"
"Iya tuan, apa ada lagi yang perlu aku lakukan?"
Ryuzen sejenak menurunkan badannya, dan meminta Arvin turun dari gendongannya.
"Bibi Rachel tolong sebelum itu, kau bawa Arvin ke kamarnya dan bersihkan dan obati luka di kakinya, kalau perlu kau panggil dokter Jason kemari."
Melihat sang ayah terlalu berlebihan begitu, Arvin pun protes, "Tidak perlu panggil dokter Jason! Aku tidak apa-apa papi! Aku kan laki-laki."
"Kau yakin begitu Arvin sayang?" Tanya Sara yang masih kokoh berada di gendongan Ryuzen.
"Yes Mami! Lebih baik mami segera pergi dan istirahatlah di kamar. Biar aku dibantu bibi Rachel saja untuk bersih-bersih dan yang lainnya," ungkap Arvin.
"Baiklah, tapi jika kau merasa sakit atau apapun langsung beritahu mami ya!" Ujar Sara.
"Oke!"
Arvin pun langsung beranjak pergi bersama bibi Rachel untuk bersih-bersih. Sedangkan Ryuzen kembali meneruskan langkahnya menaiki tangga, menuju ke kamar mereka yang sudah lama tidak disinggahi
"Hei, aku rasa Arvin itu semakin lama semakin cerdas sepertiku!" Celoteh Ryuzen.
"Kenapa begitu?"
"Karena, dia tahu kalau orang tuanya sudah beberapa hari ini tidak bersama, jadi kita bisa melakukan hal-"
"Sudahlah! Kau ini. Kenapa sih selalu diotakmu itu tidak jauh-jauh dari melakukan hal itu!"
Ryuzen tergelak, "Memangnya hal itu yang aku maksud apa?"
"Hal itu ya, ya- ya hal itu!" Sara malah terlihat salah tingkah sendiri.
"Hum, padahal maksudku adalah kita bisa saling menghabiskan waktu berdua saja, seperti saling melepas rindu, menonton film dikamar tanpa diganggu. Atau jangan-jangan, kau memang sejak awal rindu melakukan olahraga malam denganku ya...?"
Ryuzen menggoda Sara, sambil terus berjalan ditangga.
"Sudah diam!"
"Lihat wajahmu merah, ternyata kau rindu melakukan hal itu denganku ya?"
"Aku memang menyebalkan, tapi kan kau suka!"
Ryuzen tertawa puas melihat wajah Sara yang memerah karena malu itu.
~~
Selesai bersih-bersih. Dikamar nampak Ryuzen yang hanya mengenakan bawahan celana panjang santai berwarna gelap, dengan telaten mengeringkan rambut indah milik istrinya yang kini hanya mengenakan bathrobe berbahan sutra miliknya itu.
"Aku tidak menyangka tuan CEO pandai mengeringkan rambut, layaknya hair stylist!" Puji Sara sambil menatap suaminya dari kaca yang ada di depan meja riasnya itu.
"Memang apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu?" Balas Ryuzen yang sudah hampir selesai mengeringkan rambut istrinya itu.
Sara hanya tersenyum manis di depan kaca sambil memandangi suaminya yang bertubuh atletis itu, tak mengenakan pakaian atasan, dan hanya celana bawahan yang ia kenakan.
Dengan tubuh begitu, mana mungkin ada wanita bisa menolaknya?
Tiba-tiba Ryuzen mendekatkan bibirnya ke telinga Sara, "Memandangiku dari pantulan cermin, dengan ekspresi begitu. Kau sedang berpikir tentang apa?"
Sara terperanjat. "Eh tidak kok! Aku hanya sedang berpikir...."
"Berpikir apa?" Tanya Ryuzen semakin dekat.
"Berpikir... berpikir jika badanmu bagus!" Ungkap Sara dengan wajah memerah. Hal itu berhasil membuat Ryuzen tak kuasa menahan gelak tawanya.
"Kenapa? Apanya yang lucu!"
"Lucu bagiku, melihat wajahmu memerah hanya karena memuji badanku, padahal setiap hari kita sudah melakukan hal itu hingga menghasilkan anak yang ada di kandunganmu itu saat ini."
"Itu semua kan salahmu!" Sara kesal.
"Apa salahku?"
"Salah karena kau...."
"Aku apa?"
"Kau terlalu sempurna, kau tampan, punya badan bagus, kaya raya. Sehingga aku yakin pasti banyak wanita yang akan menggodamu di luaran sana."
Ryu tiba-tiba memeluk Sara yang sedang duduk itu dari belakang dan berkata, "Dengar! semua yang ada di diriku ini mungkin takdir. Wajah tampan, tubuh bagus, dan kaya raya mungkin itu takdir. Sama halnya dengan hatiku, hatiku ditakdirkan hanya untuk mencintai satu wanita, yaitu kau Sara."
Seketika desiran angin musim semi yang hangat seolah merasuk ke batin Sara, kala mendengar perkataan Ryuzen barusan.
"Kalau begitu, aku adalah wanita beruntung yang bisa mendapatkan cintamu ya?"
"Tidak juga."
"Tidak? Apa maksudmu?"
"Karena bagiku, aku yang beruntung karena bisa mendapatkan istri luar biasa sepertimu," Tukas Ryuzen sambil mencubit kecil hidupng mancung Sara.
Tapi Tiba-tiba wajah Sara cemberut.
"Ada apa apa tiba-tiba cemberut begitu?
"Aku kesal, kau bilang kau beruntung mendapatkanku tapi, tadi saat di persidangan kau dan Erika, terlihat...."
"Kau kau cemburu melihatku mendekap Erika seperti tadi?"
"Huh? Siapa yang cemburu!" Sara memalingkan wajahnya guna menyangkal kenyataan jika sebenarnya dirinya memang cemburu melihat Erika dan Ryuzen seperti tadi.
"Oh jadi tidak cemburu ya? Kalau begitu aku boleh ya bersama wanita lain?
"Apa kau bilang?"
Ryuzen mencubit lembut dagu Sara, "Kau tahu, aku rasa akhir-akhir ini kau mudah cemburu, Mungkin dia perempuan?"
Sara membulatkan matanya.
Mungkin benar apa yang dikatakan Ryu, aku jadi gampang cemburu sejak hamil anak kedua ini.
Sara memegangi perutnya.
"Kau benar Ryu, mungkin akibat hamil aku jadi mudah cemburu, maaf ya."
Ryuzen mengecup singkat bibir Sara. "Tidak perlu minta maaf, justru aku suka kau cemburu padaku!" Ungkapnya dengan lembut.
Pria ini selalu saja bisa membuatku merasa istimewa, hanya dengan sebuah kata-kata saja.
*Tok tok tok! (Suara pintu diketuk dari luar)
๐น๐น๐น
Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update ๐ญ. Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca cerita ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian juga, tapi aku harap kalian yang masih setia, masih sabar untuk membaca ceritaku ini. Walau mungkin pembaca udah banyak yang pergi tapi aku tetap akan selesaikan cerita ini kok.
Dan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian yang sudah mau tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote aku sangat hargai itu ๐ฅบ
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and hopefully you like it.
For more info follow my instagram account ya @chrysalisha98 thank you ๐