Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 82


"Kenapa kau tertawa?" Ryuzen hanya bisa heran melihat Sara yang tertawa, serta bibi Rachel yang malah tersenyum berdiri di dekat sofa nampak tidak khawatir sama sekali.


"Dan Bibi Rachel, kenapa kau juga malah senyum-senyum begitu?"


"Tuan maaf sebelumnya, tapi setauku ketika wanita yang tengah hamil itu merasa mual dan muntah secara tiba-tiba itu wajar adanya, jadi anda tidak perlu terlalu panik seperti tadi."


Melihat ekspresi Ryuzen setelah mendengar penjelasan dari bibi Rachel, membuat Sara malah semakin tergelak dibuatnya. Merasa diledek oleh istrinya yang dari tadi tertawa. Ryuzen pun mencubit gemas hidung mancung istrinya itu.


"Hei!" Ujar Sara sambil menepis tangan Ryuzen agar melepaskan jari-jarinya dari hidung miliknya.


Ryuzen pun melepaskan jarinya dari hidung Sara,


"Kau sejak tadi tertawa, sengaja ya meledek suamimu begitu?" Ekspresi wajah Ryuzen datar tapi Sara tau jelas di dalam hati Ryu, pasti dia kesal bukan main pada dirinya.


"Um, tidak kok! Tapi... tapi aku tidak bisa menahan tawaku melihatmu yang tadi terlihat panik begitu," ungkap Sara.


~~


Beberapa saat kemudian Kenzo pun akhirnya kembali dengan mengajak dokter Jason bersamanya.


"Tuan, aku sudah panggil dokter Jason!" Ujar Kenzo yang juga panik, karena mendengar Ryuzen tadi menyuruhnya dengan nada bicara yang terdengar panik, Kenzo jadi mengira ada hal gawat yang terjadi pada Sara.


"Ada apa sebenarnya? Apa ada yang gawat?" Tanya Jason yang sudah siap dengan tas berisi peralatan dokternya. Tapi saat bersiap memeriksa bukan situasi panik yang dilihatnya, melainkan ia hanya melihat sepasang suami istri yang tengah bersantai bersama.


Sepertinya semua baik-baik saja? Tapi kenapa Kenzo tadi seperti panik sekali saat menemuiku? Sebenarny ada apa Ryu memanggilku kemari?


"Jason kau pulang saja!"


"Eh?"


"Huh? Tuan, kenapa kau malah menyuruh dokter Jason pulang? Bukankankah kau sendiri tadi sangat panik, sehingga memintaku memanggil dokter Jason kemari?


"Tidak jadi panik, sudah kau pulang sana!" Perintah Ryuzen dengan santainya.


Orang ini! Kalau saja bukan temanku, rasanya ingin sekali kujahit mulutnya yang berbisa itu.


Sara merasa tidak enak dengan Jason yang sudah datang tapi malah diminta pulang. Merasa bertanggung jawab atas semua ini, Sara pun mencoba merayu suaminya yang sedang bad mood karena ulahnya tadi itu supaya tidak menyuruh Jason pergi. Sara merarik lengan kemeja Ryuzen yang belum ia buka sejak pulang tadi, lalu berbisik, "Maaf ya sayang semua ini gara-gara aku, sebagai gantinya nanti aku pijat pungungmu deh, tapi izinkan Jason untuk memeriksaku dulu ya?"


Sepertinya akan berhasil?


"Baiklah Jason! Cepat periksa istriku!"


Tadi mengusir sekarang aku diminta untul memeriksa istrinya. Dasar pria labil!


Jason memerika Sara mulai dari tekanan darah, detak jantung hingga kandungannya. Meski Jason bukan dokter kandungan, namun dirinya sedikit banyak tahu soal permasalahan yang ada.


"Istrimu baik-baik saja, kalau gejala mual, muntah, perubahan mood tiba-tiba, hingga ngidam yang aneh-aneh itu hal wajar bagi ibu hamil, jadi kau tidak perlu terlalu khawatir berlebihan Ryuzen! Asal istrimu menjaga pola makan serta asupan nutrisinya dengan baik, aku yakin semua akan baik-baik saja. Dan jangan lupa rutin cek kandungan," jelas Jason pada Ryuzen.


"Oke! Terima kasih penjalasannya dokter, sekarang kau bisa pulang."


"Setidaknya tawari aku makan malam dulu baru menyruhku pulang!" Gerutu Jason. Tapi mau bagaimana lagi, Jason tau persis watak sahabatnya itu. Terpaksa ia yang harus mengikuti maunya untuk pulang setelah selesai memeriksa Sara.


"Baiklah sepertinya aku memang harus pulang. Sara jaga kesehatanmu ya."


"Jason tunggu!" Seru Sara menahan Jason pergi.


Ryuzen mengernyitkan dahinya.


Apa lagi yang ingin dilakukan istriku ini?


"Jason, kau tidak mau makan malam dulu disini?"


Benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba. Siapa sangka si suami menyuruh Jason pulang, malah si istri menawarinya makan malam.


"Ya... kalau tidak ada yang keberatan, aku sih mau sekali makan malam disini," tukas Jason sambil melirik ke arah Ryuzen yang jelas sekali tengah menunjukan rasa keberatan.


"Tenang saja, tidak akan ada yang keberatan. Iyakan sayang?" Sara memperlihatkan wajah memelas pada Ryuzen, agar meyakinkan jika suaminya itu setuju dengan keinginannya.


"Aku sebenarnya tidak masalah Sara, tapi bukankah kau bilang tidak jadi lapar tadi?" Pungkas Ryuzen mencari-cari alasan.


"Iya sih, tapi tidak tau kenapa, tiba-tiba aku jadi merasa sangat lapar sekarang."


Mungkin bawaan bayi?


Ryuzen mau tidak mau akhirnya mengikuti kemauan Sara, agar mengizinkan Jason dan Kenzo untuk makan malam di kediamannya hari ini.


~~


Para pelayan sudah hampir selesai menghidangkan menu makan malam. Semua orang juga telah berkumpul di ruang makan dan duduk di kursi masing-masing, kecuali Ryuzen yang memang sedang bersih-bersih terlebih dahulu, sebelum dirinya turun dan bergabung dengan yang lainnya di meja makan.


Di atas meja makan yang mewah itu sudah tersaji berbagai macam masakan. Ikan salmon panggang, lengkap dengan mash potato dan juga salad buah, telah tersaji dengan indah dan menggugah selera.


"Hem..., aku selalu suka aroma masakan buatan bibi Rachel!" Puji Jason yang sepertinya sudah lapar sekali. Begitupun Kenzo yang sejak tadi perutnya memang sudah keroncongan.


"Maaf ya, suamiku memang terkadang suka lama," tukas Sara menanggapi ekspresi Jason dan Kenzo yang kelaparan.


"Baiklah, karena suamiku sudah turun mari kita makan!" Seru Sara, tanpa memperhatikan raut wajah Ryu yang terlihat tengah menunjukan rasa tidak sukanya, mengingat dirinya yang sebenarnya tidak mau jika Jason dan Kenzo makan malam di rumahnya.


Kenapa Sara seperti mengabaikanku? Dirinya malah sibuk melayani Jason dan Kenzo!


Belum lagi, dirinya seolah melihat Sara yang sepertinya sejak tadi terus memperhatikan Kenzo yang sedang makan.


Argh sial!


Ryuzen benar-benar semakin kesal dibuatnya dengan apa yang ia lihat saat ini. Istrinya malah sibuk memperhatikan asistennya, hingga akhirnya Ryuzen pun protes.


"Ehem!"


Semuanya yang duduk tiba-tiba menatap ke arah Ryuzen yang barusan berdeham.


"Ada apa Ryu?" Tanya Sara.


"Tidak, aku hanya heran saja padamu. Kenapa sejak tadi kau semangat menyuguhkan makanan untuk Jason dan Kenzo, tapi kau sendiri tidak makan apa-apa."


Sara sontak terdiam, dirinya malah kebingungan ingin mengatakan apa pada Ryu.


"Ada apa Sara?" Tanya Jason yang juga penasaran kenapa sejak tadi melihat Sara memang tidak makan sama sekali, dan malah beberapa kali ia juga memergoki istri Ryu itu seperti mencuri-curi pandang melihat ke arah Kenzo, yang tengah menikmati makan malamnya.


"Kenapa kau melihat ke arah Kenzo terus?" tanya Ryuzen dengan ekspresi tidak sukanya.


"Uhuk! Uhuk!" Mendengar namanya disebut-sebut oleh Ryu, membuat Kenzo tersedak tiba-tiba.


Apa maksud tuan Ryuzen menyembut namaku di dalam pertanyaannya pada nona Sara?


"Um, soal itu sebenarnya aku..."


Semua yang ada diruang makan, serentak memasang ekspresi wajah penasaran, apa yang ingin dikatakan oleh Sara.


"Sebenarnya aku melihat Kenzo, karena sejak tadi..., sejak tadi aku ingin sekali makan malam tapi di suapi olehnya!" Terang Sara yang akhirnya membuatnya agak merasa malu.


Semuanya pun sontak terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sara, terutama Ryuzen.


"A-apa maksudmu? Huh!" Ujar Ryuzen terlihat sekali tidak senang.


"Um... No- nona Sara, apa kau sedang melakukan sebuah prank?"


"Tidak, aku memang ingin sekali makan disuapi oleh Kenzo sejak tadi, hanya saja... aku takut dan agak malu mengatakannya."


"Sara kau benar ngidam hal seperti itu?" Tanya Jason memastikan hal itu.


"Ya,." Sara mengagguk.


Jason menoleh ke arah Ryuzen. Ia yakin sekali jika suasana hati bosnya itu pasti sedang panas, melihat istrinya malah ngidam disuapi oleh pria lain.


Jujur aku ingin menertawakan hal ini, tapi aku khawatir Ryuzen itu malah akan melemparkan sebuah piring tepat diwajahku yang tampan ini. Pikir Jason.


"Aku- aku juga tidak paham dengan keinginanku ini!" Celoteh Sara dengan polosnya.


Ryuzen sungguh ingin sekali marah, dan menendang keluar semua pria yang ada di hadapannya saat ini. Tapi dirinya ingat kata Jason, jika ngidam adalah hal yang lumrah terjadi pada wanita yang tengah mengandung, dan sebagai suami harus sebisa mungkin menurutinya.


Ryuzen menghela napas panjang guna menetralkan emosinya, "Lakukan jika itu memang keinginan si bayi!"


"Wah! Asyik....!" Sara benar-benar terlihat senang.


Akhirnya Kenzo pun juga menyanggupi untuk menyuapi istri bosnya itu. Kenzo menyuapi Sara dengan tubuh penuh keringat dingin, diikuti tangan yang agak gemetar.


"Kenzo kenapa kau berkeringat dan gemetar begitu?" Tukas Sara.


"Iyakah? Hehehe..."


Bagaimana aku tidak gemetar dan gugup, aku disini menyuapi istri bosku sendiri didepan matanya langsung.


Tentu saja Kenzo frustasi melihat, tatapan tajam Ryuzen yang sejak tadi terus saja mengintai gerak gerik Kenzo. Dan tak jarang mata Ryu seolah bergerak memberi peringatan agar Kenzo tidak mencuri pandang pada istrimya itu.


Berani mencuri pandang pada istriku, tamat riwayatmu Kenzo! Dewa perang di dalam batinnya seolah tengah berapi-api.


Oh Tuhan kapan ini berakhir? Aku bisa gila jika terus dicecar oleh tatapan mata bosku, yang seolah melihatku sebagai musuhnya yang siap diterkam huhuhu....


🌹🌹🌹


Hallo my beloved readers...


Terima kasih ya buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon maaf ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan janga lupa di share juga ya. Thank you


Happy reading and hopefully you like it all...


[Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]