Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 127


"Jadi, bunga-bunga ini dikirim hampir setiap hari kepadamu, dan kau sampai saat ini tidak tahu siapa yang mengirimkannya untukmu?" Kata Jesper agak tidak percaya setelah mendengarkan cerita Sara tadi.


Sara mengangguk pelan, mengiyakan pernyataan Jesper tersebut.


"Lalu, apa Ryuzen sudah tahu hal ini?" Tanya Jesper lagi.


"Sejujurnya, dia sama sekali belum tahu soal ini," terang Sara dengan polosnya.


"Astaga Sara, kau ini sepertinya memang senang menyulut emosi suamimu, ya?" Terang Jesper yang tidak paham dengan cara berpikir wanita yang kini bersamanya itu.


Sara tertunduk lesu, "Habis, kalau aku beritahu dia, pasti dia akan marah, dan membuat hal sepele ini seolah serius dimatanya."


"Justru, dengan kau tidak jujur malah akan mempersulit semuanya. Karena hal yang kau anggap sepele ini, justru kedepannya mungkin saja akan berdampak besar jika kau anggap sepele begini," ujar Jesper seraya memberi nasihat pada Sara.


Wanita itu kini terlihat menyesalinya. Memang benar sih yang ucapkan Jesper barusan, tapi Ryuzen kan bukan Jesper, dirinya sulit untuk ditebak, emosinya pun kadang tidak terbaca, terlebih dia itu suka membesar-besarkan masalah.


Jesper tiba-tiba mengusap pelan kepala Sara, "Sudahlah jangan jadi mutung begitu, aku lebih suka kau yang ceria, kau tahu?" Sara pun mulai tersenyum kecil kembali. Diri mulai merasa lebih baik, setelah mendengarkan kata-kata Jesper yang bisa dibilang kata-kata magis yang seolah menyihir suasana hatinya. Entah kenapa, tiba-tiba saja Jesper seperti tertarik memandangi buket bunga tulip berwana pink, yang kini dipengang oleh Sara tersebut.


"Sara, boleh aku lihat buket bunga yang kau pegang itu?"


"Oh iya, tentu!" Sara langsung memberikan buket bunga itu pada Jesper untuk dilihat. Saat melihat buket bunga itu dengan lebih dekat, Jesper seolah menyadari sesuatu. Sepertinya buket bunga yang persis seperti ini aku pernah lihat, tapi dimana ya?


Kelopak mata Jesper seketika melebar, seperti dirinya menyadari sesuatu, "Oh iya, aku baru ingat Sara!"


"Eh ada apa?" Tanya Sara agak bingung mendengar ucapan Jesper barusan secara tiba-tiba.


"Bunga ini, aku merasa bunga ini persis seperti buket bunga yang dibawa pria yang tadi pagi aku jumpai di coffee shop!" Ujar Jesper


"Huh? Jadi kau tahu orang yang mengirimiku bunga-bunga ini?" Tanya Sara antusias.


"Aku tidak tahu pastinya orangnya sih, karena saat itu kami hanya mengobrol sekilas saja, itupun karena tidak sengaja. Dia juga mengenakan kacamata hitam saat itu, jadi aku tidak bisa melihat secara jelasnya. Tapi aku yakin, bunga ini sama persis seperti yang ia bawa tadi pagi."


"Tapi bukankah bentuk buket seperti ini ada banyak, bisa saja itu hanya kebetulan kan," ucap Sara yang mencoba realistis


"Memang benar yang kau katakan, tapi saat aku lihat lebih dekat, entah kenapa aku yakin buket ini sama persis seperti yang dibawa pria tadi," jelas Jesper yang merasa yakin.


Sara pun hanya bisa menghela napas panjang. "Sudahlah jes, kau tidak perlu membingungkan diri begitu, biarlah nanti aku sendiri yang akan menyelidikinya. Walau mungkin akan sulit sih...!"


"Maaf ya, jika infoku ini tidak terlalu membantu," kata Jesper tersenyum dengan kecewa. Menyadari hal itu Sara pun langsung berusaha menghibur Jesper agar tidak terlalu berpikir jika dirinya tidak berguna.


"Oh ayolah Jes, tidak apa-apa, lagipula kau cukup membantu kok! Setidaknya aku kan jadi tahu kalau yang mengirimiku bunga ini manusia," ujar Sara dengan nada bercanda, Jesper pun ikut tertawa kecil karenanya.


Sekali lagi maafkan aku Sara tidak bisa membantumu. Tapi setelah membahas ini, entah mengapa aku jadi semakin penasaran dengan pria yang memberimu bunga ini. Sepertinya akan coba mencari tahunya juga.


"Oh iya Jesper, tadi kau bilang mau membeli bunga kan? Bunga yang mana?" Tanya Sara, yang kemudian langsung beranjak dari kursinya, dan membawa Jesper untuk melihat-lihat bunga apa yang akan dibelinya.


~~


Di kediaman Jordan Han, Jordan tampak sedang memberi makan ikan-ikannya yang ada di kolam ikan miliknya. Ia tampak menaburkan butiran-butiran makanan untuk ikan-ikan koi yang ada di kolam ikan miliknya. Seketika, terdengar suara langkah kaki seseorang dari belakang Jordan.


"Tuan, seseorang yang anda tunggu sudah datang!" Ternyata Jiro yang datang, ia memberitahukan kepada Jordan jika seseorang yang ia tunggu sejak tadi, telah datang.


"Ah ya, dimana dia sekarang?" Tanya Jordan.


"Dia menunggumu di dekat lapangan tempat biasa berlatih menembak!"


"Tuan, apa aku perlu menemanimu?" Ujar Jiro pada Jordan yang sudah berjalan di depannya menuju ke tempat lapangan tembak tempat tamunya menunggu.


"Tidak perlu Jiro, kau cukup sampai disini saja."


"Baik tuan, aku mengerti." Jiro mengangguk paham.


~~


Jordan sudah tiba di lapangan belakang rumahnya, Tempat dimana ia pernah membawa cucunya Arvin juga beberapa waktu lalu. Dari tempatnya ia berdiri saat ini, Jordan bisa melihat jika pria yang sejak tadi ia tunggu itu, sudah berada disana berdiri menunggunya. Jordan pun langsung melangkah untuk mendekati pria itu.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ungkap Jordan sesampainya di tempat pria yang menjadi tamunya itu.


"Heh!" Pria itu menoleh ke arah Jordan, dengan bibir yang tengah mengapit sebatang rokok. Laki-laki dengan kemeja berwarna gelap, dipadukan dasi yang menggelangtung dikerahnya menoleh ke hadapan sang ayah, yang selama ini tidak ingin ia temui. Ya dialah Ryuzen, putra Jordan.


"Kita bicara di dalam saja bagaimana?" Usul sang Ayah.


"Tidak perlu, disini saja sudah cukup!" Ujar Ryuzen yang kemudian langsung mematikan putung rokoknya tersebut, dan membuangnya.


"Baiklah kalau begitu, mari kita bicara disana," Jordan membawa Ryu duduk di pinggir lapangan tembak itu. Disana terlihat buah-buahan dan minuman yang entah siapa yang menyiapkannya tiba-tiba di atas meja.


~~


Setelah mereka berdua duduk, Jordan sedikit mencoba beramah tamah sedikit dengan Ryuzen. "Apa kau suka gubuk tempat tinggalku ini?" Tanya Jordan basa-basi membuka obrolan dengan Ryu.


"Ya... lumayan! Selera king JH memang tidak diragukan lagi bukan?" Balas Ryuzen datar.


"Jadi...?" Jordan bermaksud untuk menanyakan maksud kedatangan putranya itu menemuinya secara tiba-tiba. Karena Jordan juga bukan pria bodoh, ia tahu, pasti ada sesuatu hal yang membuat Ryu mau menemuinya.


Ryuzen menyeringai, "Aku senang kau paham diriku, yang tidak suka terlalu banyak basa-basi ini." Ryuzen membenarkan cara duduknya dari bersandar ke kursi menjadi duduk tegap dengan kedua siku diatas meja dengan jari-jari saling menggengam.


"Apa kau tahu jika Biyan Dao kini jadi buronan polisi?" Tanya Ryuzen serius.


"Ya, aku sudah tahu soal itu."


"Heh, sudah kuduga!"


Jordan memandangi Ryuzen yang terlihat seperti enggan menatapnya. "Apa kau sedang mencurigai aku nak?" Tanya Jordan kemudian.


"Kau merasa aku curiga padamu?" Tanya Ryuzen balik menatap Jordan dengan sorot matanya yang sulit di jelaskan.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.


Dan temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏