
Musik pengiring pun selesai dimainkan, semua penonton riuh memberikan tepuk tangannya.
"Nomor 17 kalian keren!"
"Pasangan nomor 17 harus menang!"
"Eh tujuh belas itu, nomor peserta kita kan?" kata Sara pada Ryuzen.
Ryuzen hanya mengedipkan matanya singkat, pertanya meng-iyakan ucapan Sara.
~
Tak selang beberapa lama, MC acara pun mulai mengumumkan pemenang lomba berdansa pasangan massal tersebut, Setelah mengumumkan siapa saja pemenang juara 3 dan 2, kini giliran mengumumkan siapa pemenang juara pertama-nya.
MC pun mulai berbicara dengan microphon-nya, "Dan juara pertama, pemenang hadiah liburan romantis di perlombaan kali ini adalah.... peserta nomor tujuh belas...!"
Sara yang tidak menyangka dirinya akan menang. Wanita berambut panjang itu terlihat semangat sekali mendengarnya, tapi bagi Ryuzen, dirinya tidak bisa menemani Sara ke tengah acara untuk menerima penghargaan, karena dirinya tidak bisa terlalu vokal menampkan dirinya di tengah publik secara terang-terangan.
Apalagi saat ini, bisa saja ada wartawan atau orang yang dengan iseng mengambil gambarnya, dan disebarkan secara diam-diam ke khalayak luas dengan berita yang simpang siur. Selain itu, hal itu juga bisa saja membahayakan Sara, mengingat berita dirinya pasti di pantau jelas oleh Biyan Dao.
Sara memahami apa yang menjadi alasan Ryuzen itu, karena sejatinya Sara juga tidak butuh penghargaan itu.
"Kau yakin tidak mau menerima medalinya?" Ryuzen mencoba menyakinkan.
"Ya, aku tidak butuh pialanya aku hanya butuh hadiahnya."
Ryuzen mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu kau ingin hadiahnya? Bukankah tadi kau bilang tidak masalah hadiahnya."
Sara hanya tersenyum, ditangan Sara sudah ada dua tiket liburan untuk pasangan. Sambil membawa tiket liburan tersebut, Sara menarik tangan Ryuzen dan mengajaknya mengikutinya. Setibanya di dekat kedai paman yang tadi tempat mereka makan, Sara pun langsung mengajak Ryuzen kembali kesana.
"Untuk apa kesana lagi? Kau masih mau makan?" tanya Ryuzen. Sara pun menatap Ryuzen dan menjelaskan maksud dirinya ikut berpartisipasi di lomba tadi.
"Ryuzen, sebenarnya aku mengajakmu ikut lomba itu supaya kita bisa memenangkan tiket ini, dan memberikannya pada paman di kedai tadi. Aku lihat saat dia bercerita tentang istrinya seolah dia sangat menyesal tidak bisa ikut di kompetisi itu, karena istrinya yang sudah tidak bisa lagi berdansa. Jadi aku putuskan saat kita mendaftar tadi, jika aku menang, akan kuberikan hadiah tiket ini untuk paman itu dan istrinya yang ada dirumah," ucap Sara lalu tersenyum.
Ryuzen hanya diam dan menatap penuh arti pada istrinya itu.
"Ryuzen, tidak apa-apa kan, aku berikan ini pada paman itu?" tanya Sara melihat sang suami tak segera meresponnya.
Ryuzen langsung memeluk Sara dalam dekapannya dengan erat, "Melihatmu yang begini bagaimana mungkin rasa cintaku padamu sampai berkurang, yang ada semakin bertambah."
"Nnghh.., kau bisa lepaskan aku sekarang Ryuzen, kau memelukku terlalu kuat!"
Ryuzen pun melonggarkan pelukannya dan melepaskan Sara, dan memandanginya.
"Kau memang istrinya Ryuzen Han yang luar biasa!" ucap Ryuzen dengan nada bangga.
Sara pun tersenyum senang.
~
Mereka pun tiba di kedai makanan paman yang tadi, Paman yang baru saja melayani pembeli pun langsung menyapa Sara dan Ryuzen,
"Wah, kalian kemari lagi? Apa kalian mau makan lagi?" tanya paman itu.
"Tidak! Tapi istriku yang baik hati ingin memberimu sesuatu." Ryuzen menoleh menatap Sara mengisyaratkan dirinya agar segera memberikan tiket hadiah itu pada sang paman.
Sara mendekati paman itu, lalu menyodorkan tiket hadiah tersebut, "Paman tiket hadiah ini aku berikan untukmu."
Paman itu bingung dan tak menyangka, "Apa... apa maksudmu Nona?"
"Istriku ingin kau ajak istrimu pergi liburan dengan tiket ini!" ujar Ryuzen.
"Paman, tadi aku dan suamiku berhasil memenangkan perlombaan dansa masal yang kau bilang tadi, dan aku ingat kau ingin sekali ikut tapi tidak bisa karena keadaan istrimu yang sudah tidak memungkinkanya untuk berdansa seperti dulu. Jadi aku putuskan untuk memberikan hadiah ini untukmu dan istrimu! Aku harap kau menerimanya ya," jelas Sara sambil berharap sang paman mau menerimanya.
Akhirnya paman itu dengan senang hati menerima pemberian Sara tersebut, dan mengucapkan terima kasih, "Terima kasih atas hadiah ini, istriku pasti bahagia menerimanya."
Sara hanya bisa tersenyum bahagia melihat paman itu dengan senangnya menerima pemberiannya.
"Nak, kalian orang-orang yang baik. Aku berdoa semoga pernikahan kalian bahagia selalu dan diberkati Tuhan," ucap sang paman pada Ryuzen dan Sara.
"Terima kasih banyak paman atas doamu," kata Sara diikuti senyum tulusnya.
~
Setelah memberikan hadiah itu pada paman di kedai tadi, Ryuzen dan Sara memutuskan untuk pulang ke kediaman Sara yang ada di kota ini. Saat hendak memasuki mobil Ryuzen meminta Sara berhenti sebentar.
"Ada apa Ryu...?" tanya Sara.
"Aku mau kau lepaskan cincin yang kuberikan itu, dari kalung di lehermu itu!"
"Memangnya kenapa?" tanya Sara sambil melepaskan kalung itu dari lehernya, dan meberikannya pada Ryuzen. Ryuzen melepas cincin itu dari kalung tersebut.
"Mana tanganmu?" kata Ryuzen.
Sara pun langsung menyodorkan satu tangannya ke arah Ryuzen, yang kemudian langsung memasangkan cincin tersebut di jari manis nan lentik wanita di hadapannya itu.
"Mulai detik ini kau milikku, dan selamanya tetap milikku, paham!" ucap Ryuzen pada Sara, yang kini tengah memandangi cincin indah yang melingkar di jari manisnya.
"Sejak dulu aku juga sudah jadi milikmu kan?" ujar Sara.
Ryuzen mengeluarkan secarik kertas dari blazernya, Sara pun terheran dengan apa yang ingin di lakukan Ryuzen dengan kertas itu.
"Itu kertas apa?" tanya Sara penasaran.
"Kertas kontrak!"
"Huh, kontrak lagi?" ucap Sara tidak senang.
"Ini kontrak pernikahan diantara kita waktu itu!"
"Lalu?" Sara semakin penasaran.
Ryuzen mengeluarkan korek api miliknya dari saku, lalu membakar kontrak itu di hadapan Sara. Sara pun cukup terkejut melihat hal itu.
"Ryuzen, kenapa... kau...?"
"Aku tidak ingin hubungan kita di dasari karena kontrak, aku hanya ingin hubungan kita, pernikahan kita, didasari karena cinta! Jadi mulai detik ini kau dan aku adalah suami istri yang saling mencintai," terang Ryuzen yang kemudian melepaskan kertas kontrak yang akan terbakar habis kurang dari satu sentimeter lagi dari ujung yang dipenggang Ryuzen.
"Ryuzen Han, kau satu-satunya pria yang aku cintai," ucap Sara menatap Ryuzen dengan mata sayu miliknya.
"Dan kau satu-satunya yang mampu mengisi ruang kosong di hatiku, yang aku cari seumur hidupuku! Terima kasih Sara!"
Mereka pun berpelukan dengan mesra di bawah langit malam.
~~
Semantara itu di ruang kerjanya di Emerald, Kenzo tengah sibuk memantau saham Emerald yang justru melonjak tajam.
"Tuan muda memang hebat, prediksinya tepat!" ujar Kenzo.
Trik yang dimainkan Ryuzen di hadapan Lizo memang sengaja ia memanfaatkan untuk menaikkan harga saham Emerald. Memanfaatkan isu hilangnya dirinya yang tanpa kabar, justru malah berdampak positif pada saham Emerald. Bahkan hampir seluruh perusahaan dan produk yang berada di bawah naungan Emerald group pendapatannya naik drastis sejak isu dirinya beredar.
Efek masyarakat yang penasaran dengan isu hilangnya CEO Emerald juga berhasil membuat nama Ryuzen Han dan Emerald, menjadi daftar kata yang paling dicari di situs mesin pencarian.
~~
Kediaman Sara di Cardia.
Sara baru saja selesai mandi, ia pun masih mengenakan pakaian mandinya dan berniat untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ryuzen sendiri justru sedang sibuk melihat berita tentang dirinya yang sedang heboh, sambil menunggu pesan laporan dari Kenzo.
"Bagus! Semuanya berjalan seperti yang aku perhitungakan!" pikir Ryuzen menatap serius, setelah membaca pesan dari Kenzo.
๐น๐น๐น
Like,vote,comment ๐