Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 11


Taman belakang~


Erika duduk di kursi yang ada di halaman belakang kediaman Han menunggu disana sambil merapikan riasan wajahnya ia menunggu Ryuzen. Sampai akhirnya yang ia tunggu-tunggu pun datang. Dengan pakaian santainya Ryuzen berjalan ke arah Erika. Namun ekspresi wajahnya tiba-tiba langsung terlihat masam, tatkala matanya melihat Sara yang merangkul lengan Ryuzen dan berjalan beriringan dengan pria idamannya.


Erika menutup kaca bedaknya dan berdiri seolah memberikan sapaan pertemuan pada si tuan rumah.


"Hai apa kabar Ryu?" ucap Erika dengan nada sumrigah.


"Apa kabar Sara?" lanjutnya dengan nada datar.


"Aku baik! Nona Erika," jawab Sara.


"Panggil saja aku Erika," ujar Erika.


"Baiklah, Non... maksudku Erika. Oh iya silakan duduk Erika!" tukas Sara.


Bagi Erika ucapan Sara barusan terdengar seolah tengah memamerkan status dirinya, yang kini adalah bagian dari pemilik kediaman Han.


"Cih! Mau pamer status di hadapanku? Jangan mimpi Sara!" Erika nampak mengepalkan jari-jari tangannya guna menahan rasa geramnya.


Ryuzen yang juga sudah duduk, langsung menanyakan maksud kedatangan mantan kekasihnya saat itu juga. "Ada apa kau datang kemari?"


"Sebelum itu mulai, Erika kau mau minum apa?" tanya Sara dengan sopan.


"Apa saja,"


Sara pun hendak berdiri untuk ke dapur untuk meminta pelayan membuatkan minuman untuk Erika.


"Kau mau kemana sayang!" Ryuzen seolah menahan Sara.


"Aku mau ke dapur dan meminta bibi Rachel untuk membuatkan minuman untuk Erika tamu kita."


"Oh, oke! Baiklah"


Erika mencengkram kuat gagang tas di pangkuannya itu, sekali lagi untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap Sara yang dia pikir sengaja memamerkan statusnya sebagai istri Ryuzen saat ini.


"Sayang? Kau tidak pantas dipanggil begitu oleh Ryuzen, dan kenapa Ryuzen harus bersikap begitu pada Sara di depanku? Apa jangan-jangan dia ingin membuatku cemburu?" ujar Erika dalam hatinya sambil menahan rasa jengkel dan marah yang meliputi suasana hatinya.


"Jadi, ada apa?" tegas Ryuzen sekali lagi.


"Ayolah Ryu, tidak bisakah kita lebih santai dan mengobrol sebentar dulu."


"Kau ingat tidak, dulu kita suka membaca buku bersama di taman ini? Dulu kau selalu saja mengajariku pelajaran yang sulit sampai aku paham. Dan setelah selesai kita-


"Erika! Jika aku hanya ingin berceloteh tentang masa lalu antara kau dan aku, maka aku tegaskan dari sekarang. Aku tidak ada waktu kalau untuk hal itu. Jadi silakan ke intinya...." Dengan tatapan seriusnya Ryuzen menatap Erika.


"Kau memang sudah benar-benar membenciku sepertinya ya?" Erika menatap Ryuzen dengan tatapan sendu.


"Erika, bagiku antara kau dan aku-


"Baiklah, sebenarnya aku kemari hanya ingin menawarkan proposal kerja sama." Erika menyerahkan sebuah proposal kerja sama pembukaan cabang tokonya yang rencananya ingin di buka di Aquatic mall milik Emerald group.


"Kerjasama?" Ryuzen mengangkat satu alisnya.


Dengan cepat suami Sara itu pun langsung mengambil dan membaca proposal yang diberikan oleh Erika itu. Ia membaca proposal kerjasama itu kata demi kata dengan sangat jeli dan tanpa terlewat satu kata pun. Erika yang melihat wajah Ryuzen yang tengah serius pun menjadi terpana.


"Kau tidak pernah berubah ya, selalu saja serius kalau tengah mempelajari apapun," celetuk Erika.


Ryuzen yang mendengar ucapan Erika, seketika langsung berhenti membaca proposal tersebut dan bersiap mengatakan sesuatu. Belum sempat Ryuzen berujar, Sara malah sudah datang duluan seraya menghentikan apa yang ingin Ryuzen katakan.


"Kalian tengah membicarakan soal apa?" ujar Sara yang baru saja datang kembali dari dapur sambil membawa secangkir teh untuk Erika, dan duduk bergabung bersama mereka.


"Ini teh untukmu Erika." Sara menyodorkan secangkir teh itu pada Erika.


"Terima kasih!" Erika langsung menyeruput teh buatan Sara, setelahnya ia langsung mengeluarkan suara seperti deham kecil.


"Tidak, tehnya enak! Aku hanya lucu saja padamu Sara. Kau sudah jadi nyonya rumah, tapi masih saja melakukan pekerjaan pelayan seperti membuatkan minum untuk tamu, benar-benar lucu!" Erika seolah menertawakan Sara.


Melihat hal itu tentunya membuat Sara kesal, tapi dirinya tidak merasa marah ia hanya tersenyum kecil dan menjawab, "Maaf Erika, tapi menurutku membuatkan minuman untuk tamu itu adalah keharusan bagi nyonya rumah. Karena itu bagian dari caraku untuk menyambut tamu, apalagi tamu itu adalah seseorang yang terkenal dan spesial sepertimu. Di tambah kau itu kan dulu pernah dekat dengan suamiku. Jadi apa salahnya membuatkan minuman untuk mantan suamiku. Aku betulkan Ryu?"


Sara menatap Ryuzen, kemudian menatap Erika sambil tersenyum. Ryuzen pun membalasn dengan tersenyum bangga pada istrinya itu.


"Kau memang istriku yang paling hebat," puji Ryuzen.


Melihat Sara dan Ryuzen yang terlihat mesra tentu saja membuat api cemburu di hati Erika tak lagi terelakan. Gerahamnya mulai menggertak dan tangannya mengepal dengan begitu kerasnya.


"Sara sialan! Kau pikir kau itu spesial bagi Ryuzen? Dasar wanita kampung! Lihat saja nanti di akan ku buat kau sadar dimana kastamu!"


"Erika kenapa tidak di minum tehnya lagi?" ujar Sara.


Erika melihat ke arah jam tangan miliknya, "Lain kali saja ya, karena aku harus pergi sekarang. Ada banyak pertemuan dan meeting dengan klien hari ini."


"Oh! Baiklah." balas Sara.


"Ryu, tolong kau pelajari semua proposalnya ya, hari senin nanti, kita akan bertemu kembali untuk membahasnya berdua!" ujar Erika yang kemudian menatap Sara seolah memprovokasinya.


"Oke!" tukas Ryuzen santai.


Erika pun bersiap mengangkat pegangan tas jinjingnya pertanda akan segera pergi. Tapi sebelum beranjak dari duduknya, Erika sempat menyesap sekali lagi secangkir teh yang dibuatkan oleh Sara tadi.


"Teh buatanmu enak, mungkin kau memang sudah paling cocok kalau harus melakukan pekerjaan rumah dan dapur saja."


Erika memang sengaja berkata begitu untuk menghina Sara, yang bagi Erika hanya pantas menjadi pelayan dibanding nyonya rumah.


Mendengar hal itu Sara pun hanya membalasnya dengan santai, "Aku memang biasa mengerjakan semua pekerjaan rumah dan dapur sambil bekerja di luar. Aku sih tidak kaget kau akan bicara begitu! Karena untuk desainer sekelas Erika yang sibuk ini, pasti hampir tidak pernah sempat menyentuh dapur. Tapi Erika apa kau tahu? Bagiku tak masalah jika aku harus jadi pelayan setiap hari, arena yang aku layani adalah suamiku sendiri." Sara menatap Erika sambil tersenyu.


"Dan aku bersyukur memiliki istri yang bisa merawatku dengan baik, seperti Sara." celetuk Ryuzen.


"Kurang ajar! Beraninya kau meremehkanku di depan Ryuzen."


Dengan menahan segala rasa kesal dan cemburunya, Erika pun langsung bergegas pergi.


"Baiklah aku permisi dulu ya, sampai ketemu lagi Ryuzen!" tukas Erika lalu berjalan pergi.


"Aku pasti akan membalasmu Sara, lihat saja nanti!"


~


"Kau itu bodoh, tapi kadang-kadang jadi pintar juga ya kalau sedang cemburu!" Ryuzen seolah meledek Sara.


"Salah sendiri mantan cinta pertamamu itu menyebalkan!" Sara mengerucutkan bibirnya dan membelakangi Ryuzen, seolah sedang kesal dan tak mau melihat suaminya itu.


"Aku tidak peduli cinta pertama, aku cuma peduli dengan istriku sekarang dan selamanya," ucap Ryuzen yang kini memeluk Sara dari belakang dengan Erat sambil menghirup aroma harum dari tengkuk leher istrinya itu.


"Sara, aku hanya mau kau yang jadi wanitaku untuk selama-lamanya, sekarang, nanti, dan di kehidupan selanjutnya. Aku hanya mau dirimu, jadi jangan pernah kau berani lari dariku!"


Sara memutar tubuhnya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Ryuzen, dan membelai wajah tampannya.


"Ryuzen Han! Selamanya diriku dan hatiku adalah milikmu."


"Sara...."


Mereka pun saling berpelukan dan berciuman.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, COMMENT, VOTE YA... THANK YOU