Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 57 : Sang Penembak Jitu


Ryuzen membawa Arvin ke tempat dirinya biasa berlatih menembak. "Wow..., jadi begini tempat orang-orang biasanya latihan menembak," ujar Arvin terkagum-kagum.


Ryuzen yang sudah melepas jas dan dasinya, kini sedang menggulung kemejanya hingga ke siku dan bersiap untuk menembak.


"Sara bilang kau mau jadi sniper ?" tanya Ryuzen pada putranya tersebut.


"Iya" angguk Arvin dengan mantap.


"Kau tahu kan, menjadi seorang sniper, maka taruhannya adalah nyawamu sendiri," terang Ryuzen yang sedang mengokang pistolnya.


"Aku tahu, tapi hidup itu kan memang harus banyak tantangan, baru bisa seru!" balas Arvin.


Ryuzen tersenyum simpul mendengar perkataan Arvin barusan.


"DNA-ku mengalir pada dirinya, good job Arvin! Kau memang Benar-benar anakku."


"Ini, kau pakai ini dulu!" Ryuzen memberikan penutup telinga pada Arvin, dan menyuruh memakainya untuk melindungi dirinya dari kerasnya suara tembakan. Ryuzen mulai menarik pelatuknya dan menembak layaknya marksman handal pada umumnya.


Bang! Bang! Bang!


Semua tembakannya tepat mengenai sasaran dengan sempurna.


"Woah... one shoot one kill, kau luar biasa Paman!" seru Arvin melihat aksi menembak Ryuzen barusan.


"Tuan Muda kau memang yang terbaik!" ujar Kenzo yang baru saja datang dan melihat aksi Ryuzen barusan.


"Paman asisten kau lihat, tadi itu keren sekali bukan!?" sahut Arvin kagum.


"Ya, aku melihatnya!"


"Sudah jarang sekali aku melihat Tuan muda menunjukan keterampilannya menembak, dan aku senang sekali bisa melihatnya lagi sekarang. Terimakasih Tuan kecil semua ini karenamu." Kenzo sumringah


"Akhirnya kau datang juga! Arvin kau ikut kenzo, di dalam sana ada mesin simulator menembak virtual."


Karena Arvin masih kecil, Ryuzen tidak mungkin membiarkannya langsung menggunakan senjata api saat ini, meskipun Ryuzen tahu putranya sudah mampu.


"Kenapa...? Kenapa tidak disini saja?" protes Arvin.


"No! Kau belum saatnya, setidaknya tunggu hingga kau betul-betul mahir cara memegang pistol dengan benar, setelah itu baru aku akan langsung mengajarimu," jelasn Ryuzen memberi pengertian.


"Huh..., tapi baiklah. Paman! Aku akan belajar dengan sangat cepat, kau lihat saja nanti!" ujar Arvin yang kemudian ikut dengan Kenzo.


Setelah Arvin dan Kenzo pergi ke ruang simulator virtual yang ada di dalam. Ryuzen yang kini sendirian pun mengganti pistol laras pendeknya, dengan assault rifle yang dulu sering ia pakai saat masih di Black Serpents.


Ryuzen membidik sasaran dan "Bang!"


"One shoot two kills! Kau memang luar biasa Ryu... kemampuanmu sama sekali tidak berkurang, meski sudah lama meninggalkan Black Serpents," puji Yoshiki yang datang tiba-tiba tanpa memberitahu Ryuzen lebih dulu.


"Memangnya kenapa, lagi pula ini kan masih belum malam, bar masih tutup!"


"Ada apa? Mau coba latihan bersama?" ajak Ryuzen yang kini menetralkan senapan miliknya.


"Tidak, aku kesini mengantar teman masa kecil kita yang baru pulang dari Luar Negeri. Dia bilang rindu padamu setelah lama pergi ke luar negeri, jadi kubawa saja dia kemari."


"Hallo Boss Emerald! Apa kabarmu?" sapa seseorang yang baru saja datang itu.


"Jadi dokter Jason Bai, sudah pulang dari jalan-jalannya?" tanya Ryuzen dengan santai.


"Jalan-jalan kepalamu! Aku ini baru selesai melakukan penelitian tahu tidak sih!" jelas Jason merasa kesal.


"Oh tadinya aku pikir, kau ke luar negeri untuk berkelana mencari jodoh," sahut Yoshiki ikut meledek.


"Kalian membullyku begitu, harga diriku sebagai dokter seperti terinjak-injak tahu!" ujar Jason merasa ternistakan oleh kedua temannya itu.


"Sudahlah.... sudah lama kita tidak bertemu begini, kenapa tidak pergi ke kairaku saja malam ini untuk merayakannya," ajak Yoshiki memberi usul.


"Tidak bisa hari ini, ada hal penting yang harus aku selesaikan, lain kali saja."


"Masalah Lizo Xiao dan Pamanmu itu?" tanya Yoshiki pada Ryuzen.


"Kalau masalah mereka tinggal tunggu eksekusinya saja, yang ini masalahnya jauh lebih penting."


"Begitu ya, baiklah, baiklah, bagaimanapun kau bosnya Tuan sibuk!" seloroh Jason.


"Ngomong-ngomong, dimana asisten kesayanganmu, biasanya kalau ada kau ada dia?" tanya Jason, celingak celinguk mencari Kenzo yang biasanya selalu di dekat Ryuzen.


"Dia sedang mengajari Arvin menembak dengan mesin virtual."


"Huh, Arvin itu siapa?" tanya Jason.


"Anakku."


"Kau pasti bercanda!" sahut Yoshiki.


"Lelucon musim gugurmu benar-benar lucu Ryu..." kelakar Jason yang tertawa mendengarnya.


"Terserah! Kalian mau percaya atau tidak, bukan urusanku...!" balas Ryuzen dengan raut wajah datarnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Like, comment, dan vote jangan lupa... ๐ŸŒท


Thank you fellas...