Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 33


"Tunggu!" Seru Arvin pada sesorang yang dilihatnya tadi menjatuhkan pena, yang kini telah di pungut olehnya itu untuk dikembalikan. Mendengar seruan Arvin, pria itupun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Arvin yang kini tengah berjalan ke arahnya.


Arvin menghampiri pria yang ternyata adalah Jordan Han. Pria paruh baya itu membuka kacamata hitamnya dan menggantungkannya di saku luar jas yang dikenakannya itu.


"Hei pria kecil, ada apa?" tanya Jordan yang kini sudah berada berhadapan dengan Arvin.


"Ini!" Arvin mengulurkan satu tangannya ke arah Jordan yang jauh lebih tinggi darinya, untuk menyerahkan kembali pena milik Jordan yang dirinya lihat tadi terjatuh.


"Oh, terima kasih!" balas Jordan dengan sopan. Ia kemudian meraih kembali pena yang diserahkan oleh Arvin itu, dan menyimpannnya kembali dia saku dalam jasnya.


"Sepertinya pena itu sangat berarti buatmu ya?" tanya Arvin dengan rasa penasarannya. Jordan memicingkan matanya dan menatap ke arah Arvin.


"Kenapa kau bisa bilang begitu?" balas Jordan.


"Hanya asal menebak saja! Habisnya, tadi saat aku mengembalikan pena itu kepada kakek, wajah kakek seolah seperti orang yang baru saja selamat dari sebuah musibah besar."


Jordan terkekeh mendengar jawaban Arvin. Pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai banyak memutih itu pun kemudian berjalan ke arah kursi, yang ada di dekat dirinya dan Arvin yang saat ini tengah mengobrol. Dirinya pun duduk diatas kursi taman itu sambil menyelesaikan sisa tawanya tadi.


"Nak, kemarilah!" ujar Jordan sambil menepuk permukaan kursi disebelahnya dengan telapak tangannya, yang seolah mengisyaratkan Arvin untuk duduk di sebelahnya. Arvin jelas terlihat curiga pada Jordan, namun entah kenapa dirinya justru tetap saja nekad untuk mengikuti permintaan Jordan yang memintanya untuk duduk di sebelahnya itu. Seolah seperti tidak ada rasa takut dan canggung, yang dirasakan oleh Arvin saat tengah berbicara dengan pria yang baru saja ia temuinya itu.


Arvin pun duduk dengan posisi ternyamannya di sebelah Jordan Han.


"Kenapa?"


"Hum?" Jordan terlihat bingung dengan ucapan Arvin.


"Iya, kenapa kakek minta aku duduk di sebelah kakek?" tanya Arvin tanpa ragu.


Jordan tegelak, "Harusnya aku yang bertanya padamu pria kecil. Kenapa kau mau saja kuminta duduk di dekatku, bukankah aku ini orang asing bagimu?"


Dengan gaya khasnya, Arvin meletakan telunjuk dan ibu jarinya di dagu miliknya. "Begini, sebenarnya aku juga tidak terlalu paham kenapa aku bisa melakukan hal begini sama orang asing. Tapi yang jelas instingku mengatakan Kakek ini bukan orang yang jahat," tutur anak kecil yang belum genap lima tahun itu.


"Heh, begitu ya?" senyum getir terurai dari bibir Jordan.


"Kakek, bukan aku sok tahu ya. Tapi jika aku boleh menebak. Kakek ini sedang ada masalah ya?"


Jordan sekali lagi menatap Arvin dengan tatapan takjub. "Hei pria kecil, sebenarnya berapa usiamu sekarang ini? Kenapa bicaramu seperti orang dewasa," tutur Jordan teheran - heran.


Anak ini tampangnya terlihat polos padahal sangat cerdas.


"Aku beritahu ya kek, zaman sekarang itu usia tidak lagi menentukan kecerdasaan seseorang. Jadi, kakek tidak usah memasang ekspresi heran begitu melihatku yang cerdas ini," ucap Arvin dengan begitu percaya diri.


"Huft, menyenangkan memang menjadi anak-anak!" keluh Jordan.


Arvin berdecak, "Orang dewasa itu aneh sekali ya...?"


"Huh?" Jordan mengurai ekspresi tidak pahamnya.


"Iya, mereka orang dewasa itu aneh! Mereka suka mengatakan hal-hal yang mustahil ketika sedang menghadapi masalah. Dan seringkali mereka pura-pura jika tidak terjadi apa-apa di depan anak-anak. Jujur saja bagi kami anak-anak, kalian itu kadang menyebalkan!"


Jordan menghela napas menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang ia duduki saat ini.


"Ngomong-ngomong dimana orang tuamu, kenapa kau sendirian disini?"


"Papi dan mami sedang sibuk, aku kesini bersama bibi Gina. Sekarang bibi sedang membeli hamburger, dan aku memutuskan untuk menunggunya disini," terang Arvin.


"Begitu rupanya..."


"Kakek sendiri, sedang apa disini sendirian?"


"Tidak, aku hanya mencoba mau menenangkan diriku saja!" Balasnya yang wajahnya kini terlihat muram.


Dengan gaya spontannya Arvin pun berujar, "Biar ku tebak, pasti kakek habis buat kesalahan dan tidak berani minta maaf iya kan?"


Jordan memicingkan matanya.


"Nak, kau ini memang anak yang cerdas," puji Jordan.


Arvin memperlihatkan tampang jumawanya untuk beberapa saat.


"Tapi..., apa yang kau bilang barusan adalah benar. Aku memang membuat kesalahan, kesalahan yang besar." Jordan menatap dengan tatapan nanar, sambil menopang dagunya diatas kedua tangannya yang saling mengatup berkaitan, dirinya yang kini tengah merasakan kegundahan pun semakin nampak.


"Memangnya, kakek sudah berbuat kesalahan apa? Kenapa sampai terlihat merasa sangat bersalah begitu?" tanya Arvin dengan rasa penuh keingin tahuan.


"Aku... aku telah berbuat salah kepada ibuku,"


Jordan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berani untuk menemuinya, aku sangat takut."


"Aku juga pernah begitu!" celetuk Arvin


"Benarkah?" tanya Jordan.


Arvin menghela napas lalu menatap Jordan yang ada di sebelahnya itu. "Tentu saja! Aku rasa semua orang pernah merasakan hal itu."


"Lalu apa yang kau lakukan saat itu?"


"Tentu saja aku akan menemuinya, lalu minta maaf pada mamiku," balas Arvin.


Jordan sekali lagi menyunggingkan senyum getirnya, "Kau anak yang baik dan berani, pasti mamimu sangat beruntung memilikimu. Sayangnya... aku tidak seberani dirimu untuk menemui ibuku."


"Bukan mau menghina ya, tapi aku rasa kakek yang sudah setua ini. Apa masih pantas merasa takut untuk meminta maaf?"


"Terkadang, manusia semakin tua maka rasa takutnya akan semakin bertambah."


"Bukan mau sok pintar ya. Tapi tiap kali aku membuat masalah karena berbuat nakal atau melanggar nasihat mami, aku juga sering merasa takut untuk bertemu mami. Aku takut mami bersedih dan marah. Tapi setelah itu aku berpikir, jika aku hanya berdiam diri dan tidak meminta maaf. Sama saja aku tidak menyesali kesalahanku dan malah semakin menyakiti hati mamiku lagi.


"Jadi, aku rasa kakek harus meminta maaf pada ibu kakek!" Lanjut Arvin.


"Begitukah? Tapi bagaimana jika dia tidak mau memaafkanku?"


Dengan entengnya Arvin menjawab, "Setidaknya kakek telah mencoba dan memperbaiki diri kan? Paling tidak beban dihatimu akan sedikit berkurang karena sudah meminta maaf."


"Lagipula...semua orang pernah melakukan kesalahan bukan?" lanjut Arvin.


Jordan pun tersenyum, ia mengusap rambut Arvin diikuti rasa bangga terhadap Arvin yang tergambar jelas di wajahnya saat ini.


"Kau tahu pria kecil, kau itu sangat luar biasa! Setelah berbicara denganmu, jujur saja hatiku merasa jadi terhibur. Aku akan berusaha seberani dirimu."


"Itu baru laki-laki!" balas Arvin.


Jordan mengangkat satu alisnya.


"Papi suka memujiku seperti itu."


"Papimu pasti pria yang hebat, sehingga bisa memiliki putra sepertimu."


"Tentu saja, papiku adalah pria nomor dua yang terbaik dibumi ini!"


"Kedua?" Tanya Jordan bingung.


"Iya, kedua. Karena yang pertama adalah aku orangnya," balas Arvin dengan begitu percaya diri.


Jordan tergelitik mendengar celotehan Arvin barusan.


Bocah yang sangat menarik, dia sedikit mengingatkanku pada diriku saat muda dulu.


"Oh iya, memangnya ayahmu-"


"Arvin!" Terdengar suara Gina yang memanggil Arvin dari jauh.


"Bibi!" Arvin melambaikan tangannya pada Gina dan kemudian bangun dari duduknya.


"Oh iya kakek keren maaf, sepertinya aku sudah harus pergi! Kalau begitu aku duluan ya. Semoga kita bisa berjumpa lagi, dan semoga ibumu memaafkanmu. Bye bye kakek!" Arvin pun melambaikan tangan pada Jordan, dan kemudian langsung pergi meninggalkannya, untuk menghampiri Gina yang berada di ujung taman sana.


Semoga kita bisa bertemu lagi pria kecil, dan terima kasih telah menyadarkanku untuk tidak takut untuk menghadapi kenyataan.


~~


Di ruangannya Ryuzen hanya berdiam diri sambil menatap tajam ke arah luar jendela ruangannya. Jari-jari tangannya jelas terlihat merecengkram kuat amplop, yang ia sudah robek sisinya dan di dapatinya tulisan tangan seseorang.


Dia... ternyata! Heh, ternyata musuhku-musuhku memang bukanlah orang asing bagiku.


Tatapannya tajam dan penuh emosi yang tak bisa di jelaskan, terlalu banyak hal rumit yang di pikirkan pria itu.


🌹🌹🌹


Teman-teman terima kasih banyak atas apresiasi kalian terhadap karyaku. Semoga bisa menghibur🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, comment, votenya ya temen-temen. Makasih 🙏