
"Aku ingin membeli dua buket bunga, bisakah kau buatkan sebuket bunga aster dan sebuket lagi bunga mawar merah?" pinta pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Tentu saja, silakan anda pilih sendiri Tuan, biar nanti aku buatkan buket bunganya," kata Sara. Tapi alih-alih memilih bunganya sendiri, pria itu malah lebih memilih untuk meminta Sara yang memilihkan beberapa tangkai bunga-bunganya. Tentu saja dengan senang hati Sara mengiyakan permintaan pelanggannya itu.
Setelah dirinya memilah-milah beberapa tangkai mawar dan aster segar, Sara pun dengan cekatan dan terampil merangkai bunga-bunga tersebut, hingga menjadi buket-buket bunga yang sangat indah.
"Ini Tuan, semuanya jadi tiga puluh lima dollar." Sara menyerahkan kedua buket itu pada pria paruh baya itu.
"Oh terima kasih, tapi maaf nona aku tak punya uang cash, bisakah kau mencatat nomorku agar aku bisa menghubungimu nanti?" ujar pria itu.
Sara hanya tersenyum, "Tuan, sepertinya anda membeli bunga-bunga itu untuk orang spesial ya?"
"Hum, bagaimana bisa kau tahu?" balas pria itu penasaran.
"Hanya, perasaanku saja. Memangnya untuk siapa buket-buket bunga itu, jika aku boleh tahu?" tanya Sara.
Pria berumur yang terlihat parlente itu pun menyunggingkan senyum getir di bibirnya.
"Kau benar nona, bunga-bunga ini memang sengaja aku beli, untuk dua orang wanita paling berharga di dalam hidupku."
Sara pun tersenyum manis mendengar jawaban pria itu, "Kalau begitu, karena aku melihat sepertinya kau sangat mencintai kedua wanita itu. Dua buket ini aku berikan cuma-cuma. Bagaimana?"
"Kau yakin Nona?" tanya pria itu, yang tak habis pikir dengan ucapan Sara yang begitu spontan.
"Ya, tentu saja aku yakin!"
"Tapi kenapa?"
"Entahlah... Aku hany merasa, melihat seseorang yang sangat mencintai wanitanya seperti yang tuan lakukan ini, aku tiba-tiba dibuat jadi terharu. Makanya aku berikan buket-buket itu cuma-cuma."
Pria itu pun melempar senyum senangnya pada Sara.
"Padahal baru pertama kali bertemu, tapi aku sudah merasa jika kau wanita yang sangat baik. Aku pastinya akan sangat beruntung jika kau bisa jadi menantuku," kelakar pria itu.
Sara membulatkan matanya mendengar pria itu bisa berkata begitu.
"Hum, tapi sepertinya akan sulit ya," diikuti gelak tawa kecilnya.
Sara pun agak bingung dibuatnya,
"Ya! Karena aku lihat sudah ada cincin yang melingkar di jari manismu. Apa kau sudah menikah?" sambung pria itu setelah dirinya melihat sebuah cincin indah, pemberian Ryuzen yang melingkar di jari manis Sara.
Sara pun hanya bisa tersenyum, lalu mengangguk dan melempar senyum kemudian menjawab, "Ya anda benar, sayangnya aku sudah menikah dengan pria pilihanku."
"Kalian pasti pasangan yang bahagia?" tutur pria itu dengan nada lembut.
"Aku sangat mencintai suamiku, dan begitupun dirinya juga begitu mencintaiku. Bagiku, dia adalah pria paling luar biasa yang pernah hadir di dalam kehidupanku," jelas Sara dengan mata berbinar-binar menceritakan tentang sosok Ryuzen pada pria pelanggan itu.
"Aku senang mendengar kau dan suamimu bahagia, aku harap dirimu dan suamimu selalu bahagia dan tak terpisah hingga akhir hayat."
"Terima kasih banyak Tuan," balas Sara.
Pria itu menghela napasnya, "Suamimu pasti sangat bahagia memiliki istri sepertimu. Dan, aku sangat berharap jika istri putraku juga sebaik dan semenyenangkan irimu."
"Putra anda pasti akan dapat yang jauh lebih baik dariku Tuan. Aku yakin itu!"
"Ya, semoga saja," balasnya lirih.
"Oh iya, sepertinya kita sudah harus mengakhiri percakapan kita kali ini Nona, karena sepertinya aku sudah harus pergi," ucap pria itu setelah melihat arah jarum jam di arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oke baiklah," balas Sara
"Aku pun begitu Tuan, semoga kita bisa bertemu kembali."
"Tentu saja! Kalau begitu aku pamit dulu. Sekali lagi terima kasih atas buket-buket cantik yang kau berikan secara cuma-cuma ini. Lain kali, jika kita bertemu kembali, biarakan aku berjanji untuk mentraktirmu."
"Tentu, dengan senang hati," balas Sara diikuti senyum manisnya.
Pria itu pun bergegas pergi, setelah beberapa saat mengobrol dengan Sara dengan membawa dua buket bunga ditangannya.
~~
[ Kantor Emerald ]
"Bagaimana?" ujar Ryuzen kepada Kenzo yang baru saja memasuki ruangannya. Kenzo pun dengan napas yang belum stabil, segera menyerahkan beberapa berkas laporan pada Ryuzen.
"Itu laporan data dan latar belakang orang-orang yang terlibat dalam insiden yang terjadi di acara di hotel gloria semalam, yang telah berhasil aku selidiki bersama Meilin dan Edgar," ucap Kenzo.
Ryuzen masih berjibaku dengan lembaran-lembaran dokumen yang diserahkan oleh Kenzo tadi. Lembaran itu berisi beberapa identitas yang mana terduga orang-orang yang kirany melakukan tindakan tersebut.
"Bagaimana dengan jumlah korban jiwa?" kata Ryuzen, yang pandangannya belum beranjak dari file
"Untungnya sama sekali tidak ada korban jiwa dalam insiden semalam, dan soal pemberitaan media soal kejadian semalam. Aku pastikan tidak akan ada media yang akan memberitakannya secara berlebihan. Meilin dan Edgar juga sudah bersedia untuk membantu kita Tuan."
Ryuzen mengangkat sebelah alisnya diikuti dengan lirikan tajamnya ke arah Kenzo.
"Mereka bersedia membantu atas kemauan mereka, atau karena ada imbalannya?" tanya Ryuzen.
"Soal itu... entahlah! Jujur saja aku tidak berpikiran hingga kesana. Maafkan aku Tuan!"
"Tidak apa Kenzo, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Karena masalah ini, aku jadi membuatmu harus bekerja di masa-masa pemulihan lukamu."
"Egh, tidak Tuan! Aku sudah baik-baik saja. Lihat! Tanganku sudah bisa bergerak dengan leluasa," Kenzo menggerak-gerakan lengannya untuk membuktikan pada bosnya itu jika dirinya sudah sehat, dan bisa bekerja.
"Baiklah...baiklah!" Balas Ryuzen.
"Oh iya Tuan, dari data nama-nama tersangka yang aku berikan padamu itu. Apa tidak lebih baik, kita libatkan pihak berwajib saja untuk menangani masalah ini."
Ryuzen menghela napas, "Jika semudah itu, mungkin sudah aku lakukan sejak awal. Masalahnya, yang kita hadapi saat ini adalah rubah licik yang bisa saja memanipulasi keadaan yang justru malah menyudutkan kita. Belum lagi segala tipu daya dan rencananya untuk menghancurkan diriku! Aku yakin sekali Biyan Dao tidak bergerak sendiri, bahkan mungkin dirinya sudah memiliki relasi dari pihak negara. Pamanku itu luar biasa licik!"
Kenzo mengernyitkan dahinya, seolah tengah menelaah ucapan Ryuzen barusan.
"Lalu, siapakah kira-kira seseorang atau kelompok yang menurutmu, membantu Biyan Dao saat ini?"
"Soal itu, masih terlalu dini untuk membuat spekulasi, yang jelas dia pasti orang yang juga tak menyukaiku."
Kenzo nampak serius, "Begitu ya, Tuan?"
"Ya, karena manusia sepertiku memang sudah sewajarnya memiliki musuh dimana-mana bukan?" cibir Ryuzen pada dirinya sendiri.
"... Kalau begitu Tuan, aku permisi dulu untuk mengerjakan tugas lain."
"Baiklah, terima kasih Kenzo!"
"Aku permisi Tuan," Kenzo yang kemudian meninggalkan ruangan Ryuzen.
๐น๐น๐น
LIKE, COMMENT, VOTE jangan lupa! THANK YOU๐
๐น๐น Terima kasih atas dukungan kalian semua. Sekali lagi mohon maaf jika updatenya suka tersendat dan lama. Dan terima kasih juga untuk yang sudah dengan baik hati memberikan vote dalam bentuk apapun untuk novelku. ๐น๐น