
Di kafe dekat rumah sakit jiwa tempat ibu Erika dirawat, Sara dan Erika akhirnya memutuskan untuk menikmati segelas jus sembari mengobrol disana. Tapi berbanding terbalik dengan apa yang diniatkan, kedua wanita itu malah tampak jelas saling tidak bersahabat, mereka justru sibuk dengan urusan masing-masing, satu sibuk dengan ponsel dan satunya lagi malah sibuk mengaduk-aduk minumannya sendiri.
Pada akhirnya Erika yang sudah tidak tahan, memutuskan untuk memecah suasana keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Huft...sudah cukup! Jadi apa tujuanmu datang ke rumah sakit, tempat ibuku dirawat?"
"Aku..., sebenarnya hanya ingin berterima kasih padamu, karena sudah mau bersaksi untukku di persidangan waktu itu."
Kenapa ucapannya sama persis seperti Ryu? Sejodoh itukah wanita ini dengan Ryu? Senyum getir itu kembali terukir di bibir Erika.
"Huh...! Padahal sudah aku katakan sebelumnya, jika ingin berterima kasih, berterima kasihlah pada anakmu itu. Tidak perlu repot-repot mengunjungiku sambil membawakan buket bunga ke tempat ini."
Sara hanya tersenyum kecil menanggapi Erika.
"Kenapa kau malah tersenyum aneh begitu?" Tanya Erika yang kemudian menyeruput minumannya.
"Aku hanya merasa jika kau ini adalah, orang baik yang sedang berpura-pura menjadi manusia yang tidak baik."
Erika menyipitkan matanya, "Apa maksud ucapanmu?"
"Aku hanya merasa, jika kau yang selalu menampilkan sikap dingin dan tidak suka padaku itu hanyalah topeng yang kau gunakan untuk mengelabui orang lain, demi menjaga sebuah reputasi.
"Lalu?"
"Tapi nyatanya, saat putraku memohon padamu untuk bersedia membantuku, kau akhirnya mau membantuku. Itu tanda jika kau sebenarnya manusia dengan rasa kasih yang tinggi, iya kan?" Papar Sara.
Erika tertawa mengejek, "Jadi kau pikir begitu ya? Heh! Kau memang wanita naif Sara."
"Justru kau yang selalu denial dengan segala kenyataan dalam hidupmu Erika."
"Oh ya?"
"Iya Erika!"
Padahal waktu itu aku pun tidak tahu, kenapa aku bisa pada akhirnya luluh pada ucapan anaknya Sara dan Ryu.
Erika pun teringat saat Arvin mendatanginya waktu itu. Dirinya ingat betul kejadian saat Arvin menemuinya waktu beberapa waktu lalu.
Flashback on
Arvin dengan keadaan kakinya yang terluka karena terjatuh itu, memaksa berjalan dengan terseok-seok menuju lobby apartemen mewah itu, guna menemui Erika yang kini berada di apartemennya.
"Arvin tunggu!" Seru Rony yang membantu mengantar Arvin datang ke apartemen Erika. Sayangnya, Arvin tidak menghiraukan seruan kakak sepupunya itu. Ia malah terus saja berjalan ke arah diamana pintu lift berada.
"Aku bilang tunggu Arvin!" Rony menarik lengan adik sepupunya itu, untungnya tepat waktu karena Arvin belum sempat melangkahlan kaki memasuki kabin lift itu.
"Kenapa kau mengehentikanmu Kak? Aku mau menolong mami, jadi tolong lepaskan tanganku kak Rony! Lepaskan!" Arvin terus memberontak sekuat tenaga, sayang hal itu tidak merubah apapun. Rony tetap lebih kuat darinya.
"Arvin kau tenang dulu," pinta Rony pada adik sepupunya agar menenangkan dirinya terlebih dulu. Pasalnya, Rony melihat darah yang mengucur di lukanya Arvin makin terlihat parah. Sebagai kakak sepupunyai, dirinya tidak mungkin membiarkan luka Arvin lebih lama lagi tidak diobati. Akhirnya dengan bermodalkan kotak P3K yang di pinjamnya dari staff apartemen. Rony sebisa mungkin membalut luka Arvin.
"Nah sudah!"
Setelah dibalut lukanya oleh Rony, Arvin lansung kembali pada tujuan utamanya datang ke tempat tersebut, yakni bertemu Erika.
Aku harus cepat! Mami bisa dipenjara selamanya jika aku tidak segera melakukan sesuatu. Rony mengejar Arvin yang kini sudah berada di depan pintu lift menunggu lift terbuka untuk bisa membawa dirinya untuk bertemu Erika.
Pintu lift pun akhirnya terbuka, Arvin segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kabin lift. Beruntung Rony masih berhasil mengekor adik sepupunya itu di detik-detik pintu lift tertutup. Namun entah sudah digariskan atau bukan. Sebab, saat lift yang di naiki oleh Arvin dan Rony itu berhenti pada lantai yang dituju, pintu lift pun terbuka. Dan mereka berdua langsung disambut oleh sosok Erika yang berada di luar lobby lift.
"Rony? Kau dan...." Erika langsung terperanjat, saat matanya berganti fokus pada sosok menggemaskan Arvin yang duduk disebelah Rony.
Untuk apa bocah ini menemuiku lagi?
Tidak ada sepatah kata apapun keluar dari mulut Arvin. Justru Arvin yang kakinya terluka malah memaksakan kakinya yang sakit itu, untuk berlutut di depan Erika sambil memohon. "Bibi Erika, aku bukan anak yang baik, aku juga masih suka nakal. Tapi aku mohon padamu kali ini... saja. Izinkan aku menjadi anak yang berguna untuk mamiku."
"Apa maksudmu, kenapa kau begini, huh!" Ujar Erika yang mulai terusik.
Rony tidak tega melihatnya, ia pun segera meminta Arvin untuk bangkit, sayangnya Arvin sama sekali tidak beranjak, malah terus saja berlutut dan memohon pada Erika, "Aku berjanji akan melakukan apapun untuk bibi, asalkan Bibi mau menolong mami di persidangan. Aku mohon padamu Bibi... atau kalau perlu, aku akan bersujud dikakimu, asalkan kau mau membantu mamiku." Isak tangis Arvin mulai terdengar kala Erika tak juga kunjung memberikan jawaban padanya.
"Sudahlah nak... kau cepat berdiri dan pergi dari sini. Soal mamimu itu bukan urusanku!" Pungkas wanita itu pada pria kecil malang tersebut. Tapi Arvin tentu tidak menyerah, ia masih tetap saja berlutut di hadapan Erika.
"Bibi! Aku tau kau bukan orang yang jahat, aku pun yakin, jika kau ada di posisiku kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku saat ini. Iya kan Bi?"
Anak ini?
Erika seolah merasakan getaran di hatinya, hingga membuat hatinya kini diselimuti rasa tidak tega bercampur bimbang. Perasaan aneh ini menyebalkan! Kata Erika.
Getaran itu semakin terasa, saat Rony yang juga tiba-tiba ikut memohon pada dirinya agar mau bersaksi di persidangan Sara.
"Kalian berdua?"
Kenapa Sara begitu di cintai oleh banyak orang, sedangkan aku? Aku sendirian! Tapi bagaimana pun, yang dikatakan anak ini benar, aku pun akan melakukan apapun untuk ibuku jika ada di posisinya saat ini.
"Baiklah... aku bersedia!" Ujar Erika, yang akhirnya menyanggupi permohonan mereka.
"Terima kasih banyak Bibi Erika...," ucap Arvin yang terharu sambil membungkukan tubuhnya.
*Flashback off
~~
Dan saat itu aku mengambil keputusan yang aku sendiri tidak tahu baik untukku atau tidak. Dan
entah kenapa... sejak saat itu, aku pun merasa jadi lebih bisa menerima keadaan.
"Erika...?"
Erika terlihat melamun, "Oh ya? Ada apa?"
"Kau melamunkan sesuatu?"
"Oh tidak, aku hanya sedang berpikir jika selama ini, aku seperti telah melakukan hal yang sia-sia di hidupku."
Sara yang tidak mengerti maksud ucapan Erika pun hanya bisa memasang wajah bingung.
"Kau tahu? Aku rasa selama ini aku seperti tidak pernah bersyukur. Delapan tahun lalu ,aku sudah mendapatkan semuanya yang wanita manapun inginkan. Fisik yang menarik, karir yang bagus, dan... cinta dari pria yang begitu luar biasa. Tapi sayang semua itu telah ku rusak dengan keegoisanku sendiri. Dengan bodohnya aku meninggalkan pria itu, hingga aku sadar jika aku selalu menginginkannya."
Sara sekarang paham apa yang sedang dikatakan oleh Erika dengan ekspresi sendunya itu.
"Lalu aku bertekad untuk meminta pria itu kembali padaku, aku pikir dengan apa yang aku miliki, semua akan mudah, namun ternyata tidak. Pria itu malah semakin dan semakin jauh dariku."
Sara dapat melihat kesedihan dan kekecewaan dari sorot mata Erika saat ia mengungkapkan semua hal tersebut.
"Oleh karena itu, aku hanya bisa bilang, Selamat untukmu! Aku ternyata tidak sesempurna dirimu Sara Chen, kaulah pemenangnya."
Sara tiba-tiba menghela napas panjang, mraih satu tangan Erika dengan satu tangannya, kemudian menatap wanita yang ada di hadapannya itu.
"Erika, dalam hal ini tidak ada istilah menang atau kalah. Sejak awal aku tahu dirimu, aku yakin kau bukan wanita yang jahat."
"Kenapa kau bisa berpikir begitu Sara?"
"Karena aku dan kau tahu persis. Ryuzen bukan pria yang mudah jatuh cinta pada wanita. Jadi, jika dia jatuh cinta pada seseorang, sudah pasti wanita itu adalah yang paling spesial diantara jutaan wanita spesial dan kau pernah menjadi wanita spesial itu. Ryu pasti setuju jika aku bilang, Ryu adalah pria paling luar biasa yang pernah ada dimuka bumi. Bayangkan bagimana semua wanita akan iri saat melihat bagaimana Ryu memperlakukan pasangannya, iya kan?"
Aku benci mengakuinya, tapi apa yang dikatakan Sara adalah benar adanya. Di masa lalu aku pernah merasakan dicintai olehnya, dan aku yakin saat itu semua wanita ingin menjadi sepertiku.
"Kau benar! Hingga akhirnya aku sendiri yang mencampakkannya."
"Erika, tidak ada hal yang terlambat selagi kita masih memiliki harapan untuk bahagia."
"Kau sok pintar! Aku tidak suka, bagaimana pun aku lebih tua darimu," Celoteh Erika dengan nada bergurau.
Mungkin aku memang harus melangkah dan meninggalkan semua beban di masa laluku bersama Ryuzen.
"Jadi, apa rencanamu berikutnya Erika?" Tanya Sara tiba-tiba.
Erika meminum kembali minumannya.
"Entahlah, tapi yang jelas, dalam waktu dekat ini. Aku akan kembali ke New York dengan membawa ibuku."
"Ibumu?"
"Hem, ibuku sudah mulai membaik, aku ingin mendedikasikan hidupku untuknya setelah ini. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mengganggumu hubunganmu lagi dengan Ryu."
Sara tersenyum, "Ya, baiklah... aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu setelah ini."
"Tolong jangan mencoba menghiburku Sara, please!"
"Baiklah..."
---
Terkadang kita tidak harus membenci mereka yang pernah menyakiti kita. Kau bisa saja mengambil sebuah pisau dan menyerang balik musuhmu. Tapi untuk apa kau lakukan itu? Selagi kau bisa menggunakan sepotong roti untuk membalas kejahatannya dengan sebuah kelembutan.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Happy reading and hopefully you like it all...
[Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]