Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 165


Mobil yang membawa Sara itu akhirnya berhenti disebuah kawasan pantai. "Kita sudah sampai nona Sara," kata paman Sopir. Dengan raut wajah yang kelihatan bingung dan tidak tahu apa-apa, Sara membuka pintu dan keluar dari mobil.


Sara dibuat bertanya-tanya, saat menginjakan kakinya ditempat itu. "Ini dimana?" Sara celingak-celinguk keheranan. Bagaimana bisa dirinya malah dibawa ke dekat daerah pantai begini? Sungguh Sara dibuat tidak paham, dengan maksud Ryuzen membawanya kemari. "Kenapa dia menyuruh orang membawaku kemari, sedangkan dia saja tidak terlihat sama sekali disini! Keterlaluan sekali, memangnya kalau mau mengerjai aku harus begini caranya?" Gerutu Sara yang merasa seperti orang hilang.


Saat menoleh kesembarang sudut, tiba-tiba Sara melihat sepasang pria dan wanita, yang masing-masing membawa buket bunga. Mereka seperti berjalan ke arah Sara berada. "Kali ini, siapa lagi?" Sara bertanya-tanya. Dan benar, ternyata kedua orang itu memang menghampiri Sara.


"Ini...!" Tiba-tiba kedua orang itu memberikan dua buket bunga mawar berwarna merah jambu yang mereka bawa itu, kepada Sara.


"Untukku?" Sara memastikannya.


"Iya Nona, ini untukmu..." Sara perpikir jika itu bunga dari Ryu, sehingga ia pun menerimanya.


"Nona... silakan anda dari sini berjalan lurus sedikit, lalu berbelok ke kanan. Disana nanti, anda akan melihat kelopak bunga yang akan menuntun jalan nona," jelas si perempuan yang memberikan bunga pada Sara itu.


"Kelopak bunga apa?" Sara jadi semakin bingung dengan kejutan yang ingin dibuat oleh suaminya itu. Karena penasaran, Sara pun mengikuti apa yang dikatakan oleh si perempuan tersebut.


~~


Sara berjalan ke arah pantai dan berbelok persis seperti petunjuk perempuan tadi. Dan benar, ternyata banyak kelopak bunga berjatuhan di atas pasir pantai yang putih itu. Kelopak itu juga seperti membetuk sebuat penunjuk jalan. Diikutinya petunjuk dari kelopak-kelopak bunga itu, hingga akhirnya Sara tiba di dekat tepi pantai. Disana... Sara melihat sebuah meja makan untuk dua orang, yang mana sudah dihiasi dengan berbagai bunga-bunga bernuansa merah jambu. Dengan dekorasi bak altar pernikahan di sekelilingnya, Sara pun bagai ditarik untuk berjalan mendekatinya.


~~


Setibanya di tempat itu, Sara melihat sebotol anggur mewah terlihat terpajang di atas meja, dengan alat makan yang masih tertata rapi. Sepertinya memang meja makan dan dekorasi ini diperuntukan untuk sepasang kekasih. Sara pun seketika berpikir, "Apa mungkin...?"


"Mungkin apa?"


Huh? Sara terkesiap mendengar suara dari arah belakangnya. Sara sungguh merasa familiar sekali dengan suara itu. Suara seseorang yang ingin sekali ditemuinya saat ini. Sara pun tanpa ragu langsung menoleh ke belakang, memastikan pria pemilik suara tersebut.


"Ryuzen..." Sara tersenyum haru, menatap suaminya yang kini berdiri jauh dihadapannya. Ryuzen berjalan mendekati Sara, degan tuxedo semi formal yang dikenakannya, Ryu benar-benar membuat Sara tidak bisa mengelak, untuk tidak memuji jika suaminya itu begitu tampan.


~~


Ryuzen yang kini sudah berada di hadapan sang istri. Tiba-tiba langsung berucap, "Selamat ulang tahun pernikahan sayang." Dikecupnya kening Sara dengan lembut. Sara tiba-tiba menitikan air mata tak kuasa menahan bahagia, ia pun sampai melepaskan kedua buket bunga yang sejak tadi dipegangnya.


"Hei, kenapa kau menangis, dasar bodoh!" Tukas Ryuzen dengan nada bercanda.Tidak menghiraukan ucapan Ryu, Sara langsung memeluk suaminya itu dengan erat dan membalas ucapan Ryuzen tadi, "Selamat hari ulang tahun pernikahan juga Ryuzen..." Ryuzen langsung membalas pelukan sang istri sambil mencium kepala Sara bekali-kali.


"Sudah jangan menangis, kau ini kan bukan gadis kecil lagi..." ejek Ryuzen pada sang istri. Sara pun kemudian melepaskan pelukannya, dan menghapus air matanya. "Maaf Ryuzen... maafkan aku."


Ryu memegang kepala Sara lalu menundukan wajahnya dan mencium singkat bibir sang istri. "Sudahlah... aku juga minta maaf padamu. Sekarang, aku mau... kita hanya fokus merayakan ulang tahun pernikahan kita! Okey?"


Sara mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong... kau kan sangat sibuk, tapi bagaimana kau masih bisa menyiapkan semua, hari ini?" Tanya Sara yang tidak menyangka jika, di sela-sela kesibukannya, suaminya itu masih bisa memikirkan hal romantis seperti ini.


Ryu mencubit kecil hidung lancip Sara dan berkata, "Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan istriku yang cantik!"


Sara begitu tersanjung mendengarnya.


"Ayo...!" Kata Ryuzen sambil mengulurkan tangannya, mengajak Sara menuju meja makan. Sara menyambut uluran tangan Ryu.


Pertama Ryuzen menarikan kursi untuk Sara duduk, barulah ia duduk. Setelahnya... datanglah para pelayan yang entah dari mana bergantian membawakan santapan-santapan lezat ke meja sepasang suami istri itu. Dua sejoli itu tampak begitu menikmati makan menjelang malam, yang memang dipersiapkan Ryuzen untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Rona kebahagiaan terpacar di wajah Ryu dan Sara. Terutama bagi Sara, dirinya sungguh tidak menyangka, anniversary yang ia pikir akan kelabu, tiba-tiba berubah menjadi sebuah kejutan manis pada akhirnya. Tak pelak, Sara pun terus saja memandangi Ryuzen yang tengah menyantap makanannya.


"Ada apa istriku, sedang mengagumi ketampanan suaminya kah?" Ujar Ryuzen, menggoda Sara.


"Iya, kau sangat tampan!" Jawab Sara dengan sangat jujur.


~~


"Apa kau mau kakek temani?" Tanya Jordan.


Arvin pun langsung malu, dan menolak mentah-mentah tawaran sang kakek. "Kakek, aku ini kan sudah besar, aku bisa kok ke toilet sendiri!"


"Baiklah... kakek tahu, sudah kau pergilah ke toilet, biar kakek tunggu di mobil."


"Oke!" Arvin pun beranjak pergi ke toilet.


~~


Setelah menyantap makanan, Sara dan Ryuzen pun berjalan-jalan di pesisir pantai tanpa alas kaki menikmati pemandangan sunset sambil bergandengan tangan. Mereka berdua saling melempar senyum dan canda. Hingga tiba-tiba... Sara menarik tangan Ryu dan membuatnya berhenti, berjalan.


"Ada apa?" Ryuzen menatap Sara.


Sara seketika meraih kedua tangan Ryuzen dan menggenggamnya erat. Sara mendongak dan menatap wajah sang suami. "Ryuzen... aku ingin minta maaf." Huft...! Sara menghela napas. "Aku juga ingin agar kau tahu, jika... aku percaya padamu. Aku percaya padamu Ryu...," tegas Sara lalu tersenyum.


Mendengar ucapan Sara barusan, Ryuzen pun tersenyum lalu mencium punggung tangan Sara. "Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku janji padamu... kau pasti akan tahu yang sebenarnya."


"Aku paham," ungkap Sara. "Oh iya, selain itu... kau tahu Ryu? Hari ini rasanya.. aku ingin sekali, berterima kasih kepada Tuhan karena sudah begitu baik kepadaku."


"Kenapa?" Ryuzen penasaran.


"Karena... Tuhan telah mengirimkanku pria sepertimu. Pria yang aku pikir hanyalah manusia berhati baja, tapi ternyata aku salah. Justru pria itu yang selalu menjadi pelindungku, menjagaku, bahkan dia begitu memujaku ditiap kali dia mengucap namaku. Oleh karena itu... hari ini, dengan seluruh hidupku, aku ingin mengatakan didepan pria itu, jika... aku begitu mencintaimu Ryuzen Han."


Dengan tatapan lembutnya, Ryu pun membalas perkataan Sara, "Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada seorang wanita. Bagiku... wanita ini tak pelaknya cahaya yang mampu menyinari ruang tergelap di dalam hatiku. Ya... wanita itu memang bodoh, tapi lucunya... dia bisa begitu membuatku tak berdaya untuk melawannya. Wanita itu seperti candu, memabukan sekaligus menyenangkan. Dan aku ingin dia tahu, jika ditiap denyut nadiku... selalu ada namanya... Aku mencintaimu Sara..." Merekapun saling berpelukan dan berciuman dipinggir pantai, bak sepasang dewa dewi yang tengah menikmati indahnya cinta. Hingga semuanya harus terhenti saat ponsel Ryuzen berdering.


Ck! Ryuzen berdecak kesal, ingin rasanya ia melempar ponselnya itu ke tengah-tengah lautan. Sara pun hanya bisa tertawa, lalu meminta Ryuzen agar mengangkatnya, "Angkat saja, aku rasa itu panggilan penting."


Mengikuti perkataan sang istri Ryuzen pun merogoh ponsel disaku celanannya dan melihat layar ponselnya.


Nomor ini? Wajah Ryuzen pun langsung berubah serius, kala melihat layar ponselnya tertera nomor tanpa nama menghubunginya.


"Halo!"


.....


"Kau jangan pernah bercanda denganku!" Ujar Ryuzen dengan nada marah.


Tut tut...


"Sial, dimatikan!"


"Ada apa Ryuzen? Ke- kenapa kau terlihat marah? Apa... telah terjadi sesuatu yang tidak baik?" Sara seketika tampak khawatir melihat mimik wajah sang suami saat ini.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hello... my beloved readers yang masih setia... semoga sehat selalu ya kalian.


Jangan lupa setelah baca kasih LIKE, VOTE, dan COMMENT ya...


next part.... ada kejutan apa ya...? Doain up pagi ya...๐Ÿ˜„


Love -C