Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 57


Keesokan harinya, Ryuzen meminta Kenzo untuk segera menemui dirinya di dalam ruangannya. Selang beberapa menit Kenzo pun akhirnya tiba di ruangan Ryuzen. Diketuknya pintu ruangan itu.


"Masuklah!" Ujar Ryuzen.


Kenzo pun memasuki ruangan bosnya itu untuk segera menghadap.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Ryuzen.


"Semuanya sudah aman Tuan, kekacauan yang terjadi di c-lovely juga sudah ditangani dengan baik, begitupun dengan berita simpang siur yang bertebaran. Paling tidak beberapa redaksi besar sudah men- take down berita tidak benar soal Nona Sara. Begitupun dengan harga saham Emerald sedikit-sedikit mulai kembali stabil."


"Baguslah kalau begitu," tukas Ryuzen yang kini telah beranjak dari singgasananya dan berpindah duduk ke sofa di ruang kerjanya. Pun diikuti oleh Kenzo yang juga ikut duduk disana.


"Tuan, lalu soal kau yang kemarin pergi itu....?" Kenzo bermaksud menanyakan soal kepergian Ryuzen kemarin menemui Biyan Dao di dermaga.


"Sesuai dugaan, Biyan memang jelas-jelas dalang dari masalah ini. Semua ini adalah rencana liciknya untuk menghancurkanku."


Kenzo tampak tidak terlalu kaget, karena dirinya pun juga sudah mengira demikian.


"Jadi benar, jika otak pembunuhan Nyonya Ivy dan juga tewasnya seorang perawat diruangan, itu juga semua adalah skenarionya?"


"Ya!"


"Biyan Dao benar-benar biadab," ucap Kenzo geram.


"Lalu hal apa lagi yang menjadi pembicaraan diantara dirimu dan Biyan?" Ryuzen akhirnta menceritakan perihal pertemuannya dengan Biyan Dao yang tengah terjadi kemarin.


"Apa?! Jadi Biyan memiliki bukti rekaman video yang bisa dijadikan alat bukti kuat di persidangan Kasus nona Sara lusa nanti!" ujar Kenzo kaget.


"Ya, dan dengan hal itu dia mencoba untuk mendesak dan menekanku, agar aku menyetujui jika seluruh saham Emerald yang aku miliki berpindah menjadi miliknya."


"Lalu selanjutnya, apa yang akan kau lakukan Tuan? apa kau berniat akan melakukan seperti apa yang diinginkan Biyan?"


"Menurutmu?" Balas Ryuzen.


"Yang jelas Kenzo, saat ini aku seolah seperti sengaja dibawa berdiri di tengah-tengah dua jurang kematian oleh Biyan. Ternyata si tua bangka itu memang ingin sekali mengahancurkanku sehancur-hancurnya."


"Lalu, kau akan mengikuti apa mau Biyan Dao?"


"Heh! Apa kau pikir, bosmu ini senaif dan sebodoh itu?" Ujar Ryuzen dengan nada mencibir.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk tetap menolong nona Sara?"


"Aku akan berdiskusi dengan Gina, aku tau dia salah satu pengacara terbaik di kota ini. Terlebih dia adalah sahabat Sara, jadi aku yakin pasti ada jalan untuk membuktikan jika Sara tidaklah bersalah di persidangan nanti."


Kenzo mengangguk, namun raut wajahnya masih menunjukkan rasa pesimis mengingat sampai saat ini, pihak Sara belum memiliki bukti yang konkret yang bisa menyelamatkan Sara dari jeratan hukum, terlebih persidangan akan di gelar lusa, ia berpikir akankan cukup waktunya.


"Kenapa ekspresimu seperti itu? Kau tidak yakin denganku?"


"B-bukan begitu tuan! Hanya saja, aku merasa sangat kasihan pada nona Sara. Karena jika kau sampai gagal mendapatkan bukti, maka dia akan...."


"Akan apa?" Ujar Ryuzen


"Akan tersiksa, apalagi dia kan sedang hamil sekarang! Eh," Kenzo kaget menyadari lidahnya terpeleset dan keceplosan mengatakan jika Sara kini sedang hamil. Mendengar hal itu, sontak Ryuzen langsung bereaksi tak biasa saat itu juga.


"Kau bilang apa barusan!?" Tanya Ryu dengan nada penuh rasa khawatir terlukis di ekspresinya saat ini.


"Ak-aku...," Kenzo terlihat sangat gugup.


Ryuzen yang kesal, dengan cepat beranjak dari duduknya dan menghampiri Kenzo lalu mencengkram kerah kemeja asisten pribadinya itu. Dengan penuh emosi Ryuzen menatap Kenzo, yang kini terlihat begitu terintimidasi, serta bingung menghadapi bosnya yang kini terlihat begitu syok, dan penuh emosional.


Kenzo tidak berani menatap langsung bosnya itu, ia bingung bercampur takut. Tapi dirinya juga berpikir jika, bagaimana pun juga Ryuzen berhak tau soal kehamilan Sara


"Ngh, soal itu aku...."


"Cepat katakan atau kubuat lehermu cidera Kenzo!" Ryuzen semakin emosi.


"Ba-baiklah tuan, ya kau tidak salah dengar. Kenyataannya nona Sara kini tengah mengandung anak kalian," terang Kenzo agak terbata-bata karena leher agak tercekik. Ryu pun akhirnya melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja asisten pribadinya itu. Kini suami Sara benar-benar nampak frustasi dan merasa bersalah, ia bahkan mengacak-acak rambutnya yang berwarna gelap sambil memaki dirinya sendiri.


Kenzo yang masih ada disana menyaksikan hal itu pun hanya bisa terdiam dan merasa iba.


Maafkan aku nona Sara, tapi tuan Ryuzen berhak tahu atas dirimu saat ini. Kenapa tuan Ryu dan nona Sara harus mengalami ini semua di tengah-tengah kebahagiaan mereka yang sudah hampir sempurna?


~~


Di tempat lain pria paruh baya itu tengah asyik menikmati olahraga golf di lapangan golf pribadinya. Rona wajah Biyan Dao begitu terlihat senang, seolah tengah merayakan sebuah kemenangan besar dalam hidupnya.


"Kenapa kau terlihat begitu bahagia Tuan Dao?" Ujar seorang pria yang baru saja datang. Biyan yang sedang bersiap memukul bola pun tersenyum mendengar pertanyaan dari seseorang tersebut.


"Tentu saja aku bahagia tuan Haoran!" Balas Biyan setelah berhasil melakukan hole in one.


"Tumben kemari, mau bermain bersama?" Tanya Biyan. Renji yang juga sudah memegang stik golf yang digantungkan diatas pundaknya pun hanya bisa tersenyum geli, "Aku kemari hanya ingin mengisi waktu luangku saja, sambil menyaksikan dirimu yang sepertinya tengah jumawa."


"Begitukah?" balas Biyan yang kini tengah menuang anggur ke dalam gelasnya.


"Lalu, apa rencanamu berikutnya?" Tanya Renji yang tengah bersiap-siap beraksi memukul bola.


"Sederhana saja, melihat Ryuzen dan ayahnya menderita, dan hancur sehancurnya-hancurnya."


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu, bukankah kau sudah tau jika tujuan kita adalah sama, yakni menghancurkan Ryuzen Han," ujar Biyan Dao yang baru saja selesai meneguk anggur dari gelas.


"Iya, memang! Tapi tidak sepenuhnya sama. Ada harga yang harus dibayar mahal oleh CEO Emerald padaku! Tapi aku rasa, kau akan sulit menghancurkan pria seperti Ryuzen Han," Ujar Renji yang kini sudah tidak lagi memegang stik golf.


"Kau tenang saja, selama rekaman kejadian itu masih utuh bersamaku, dan selama istrinya yang cantik itu masih dipenjara, maka aku pastikan Ryuzen mau tidak mau akan melakukan apa yang aku minta!"


Renji terkekeh, "Kau percaya diri sekali tuan Dao? Aku rasa Ryuzen bukan laki2 yang bisa semudah itu kau taklukan, kau tahu sendiri betapa sulit dirinya kan?"


"Aku tahu betul keponakanku, sejak dia kecil. Bahkan aku sendiri yang dulu menjebaknya sehingga dia akhirnya menjadi anggota black serpents,"


Renji yang tengah menuang anggur ke dalam gelasnya pun hanya dapat tertawa getir, "Ya, kita lihat saja nanti apa kau berhasil menghancurkanya atau tidak."


~~


Untuk kesekian harinya, Sara masih harus menjalani hari-harinya di dalam penjara. Meski terasa begitu berat karena dirinya harus menjalani hukuman yang tidak seharusnya ia jalani, namun dirinya harus tetap bertahan demi anak buah cintanya dengan Ryuzen, yang kini ada di dalam perutnya. Dielusnya perut hamilnya yang kini sudah memasuki usia 8 minggu itu dengan lembut.


Nak, mami yakin pasti papimu bisa mengeluarkan kita dari tempat ini, jadi kau harus selalu sehat di dalam perut ya.


Saat tengah merenung sembari mengelus perutnya yang tengah mengandung, tiba-tiba seorang polisi penjaga datang menghampiri Sara.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more information follow my IG @chrysalisha98๐Ÿ˜ฌ thank you.