
Hari ini c-lovely terlihat lebih ramai dari biasanya. Karena saking ramainya akan pembeli dan pengunjung, Sara dan yang lainnya pun mau tak mau harus ekstra bekerja keras. Belum lagi dirinya yang akhir-akhir ini mudah merasa lelah, sudah pasti membuatnya seolah benar -benar merasa sangat menguras tenaganya.
"Wow! Hari ini benar-benar melelahkan ya...," ujar Sara, sambil menyeka keringat yang mampir saja membanjiri ujung pelipis matanya.
"Ya kau benar! Hari ini seolah tidak ada hentinya pesanan datang, baik yang langsung maupun yang via telepon. Tapi bagusnya, kita jadi untung besar hari ini," sahut Thomas yang kini sedang berleha-leha di atas kursi.
Rina yang mengetahui jika rekan-rekannya kelelahan pun, datang dengan membawa nampan yang berisi gelas-gelas minuman segar guna menghilangkan dahaga para rekannya yang kini tengah haus karena kelelahan.
"Setelah bekerja keras, bagaimana jika kita minum dulu saja," tukas Rina seraya mempersilakan satu persatu rekan kerjanya, untuk mengambil minuman yang dibawanya itu.
Semua pegawai pun minum tak terkecuali Sara. Seolah tak puas hanya minum untuk melepas lelah dan dahaganya, Sara yang mulai lapar padahal belum jam makan siang, memutuskan untuk keluar sekedar mencari makanan pendamping.
"Sepertinya aku lapar! Dan sepertinya aku harus segera pergi mencari beberapa macam makanan untuk menghilangkan rasa laparku ini," Sara berceloteh. Dengan cepat, dirinya langsung meminta izin pada rekan kerja yang lainnya, untuk pergi keluar sebentar guna mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar yang ia rasakan saat ini.
~~
Di tempat lain, dari belakang nampak seorang pria berdiri di pinggir tebing. Menghisap rokok yang berada diantara kedua sisi bibirnya, sambil menatap bentangan hutan berkabut dari atas sisi tebing.
"Wow! Tak ku sangka kau datang jauh lebih cepat keponakanku!" Ryuzen langsung menolehkan kepalanya. Dirinya seolah tau, jika harus menyambut seseorang yang baru saja menyapanya dari arah belakang itu.
"Mau rokok?" tukas Ryuzen kepada sang paman yang kini sudah berada tepat, berdiri di sebelahnya.
"Tidak, aku sudah lama berhenti!" balasnya.
Paman dan keponakan itu berdiri sejajar sambil memandangi alam dari atas tebing. Di depan mereka pun kini terbentang luaspemandangan hutan alam yang memukau. Namun hal itu seolah tak berharga sama sekali, jika mengingat kejadian yang terjadi di antara paman dan keponakan ini 15 tahun yang lalu.
"Aku kira kau sudah akan lupa dengan tempat ini paman?" Ryuzen membuang sisa putung rokoknya dan menginjaknnya lalu menendangnya hingga jatuh dari pinggir tebing.
"Mana mungkin aku lupa. Bukankah tempat ini sudah menjadi saksi bisu peristiwa diantara kita lima belas tahun yang lalu?"
Ryuzen menyeringai tajam, matanya seolah tengah menyaksikan ulang rekaman peristiwa antara dirinya dan sang paman 15 tahun lalu lewat memori di dalam otakny. Peristiwa yang mungkin saja saat itu, hampir merenggut nyawa keduanya.
#flashback 15 tahun lalu.
Ryuzen tengah dalam keadaan marah dan tak terkendali. Ia berlari sambil membawa pistol laras pendeknya, dengan tangan dan pakaian yang bersimbah darah ke atas tebing
"Kau memang pantas mati di tempat ini!"
Sambil menodongkan pistol laras pedek miliknya ke arah Biyan Dao. Ryuzen menatap tajam bak elang yang siap memakan mangsa ya ada di depannya. Biyan Dao tak bergerak sama sekali, kaki kirinya terluka karena tembakan yang dilayangkan oleh Ryuzen kala mengejarnya tadi. Di belakang Biyan sudah membentang jurang yang jaraknya tidak sampai 2 meter dari tempat ia berdiri kala itu.
"Kau ingin membunuhku?" ucap Biyan dengan wajah liciknya yang kini terlihat tengah menahan rasa sakit, akibat tembakan yang ia dapatkan di kaki kirinya.
Ryuzen yang kala itu sudah bersiap untuk menarik pelatuk pada pistolnya, seolah kehilangan kepercayaan diri untuk membunuh sang paman.
Seringai licik terurai di bibir Biyan Dao, kala melihat keraguan yang tiba-tiba menyerang sang ponakan.
"Kau tidak berani Ryuzen Han?"
"Diam!" seru Ryuzen yang kembali menodongkan pistolnya ke arah dada kiri Biyan Dao.
Ryuzen semakin di hantui kebimbangan, bagaimana ia bisa membunuh Pamannya saat itu. Jika dia masih belum mendapatkan jawaban yang ia cari.
"Tiga... dua... sat-"
*Bang!
Suara tembakan menggelegar, namun tembakan itu bukan mengarah pada Biyan, melainkan tembakan yang dilesatkan Ryuzen ke sebarang arah.
"Ha... ha... ha...!" Biyan Dao tertewa puas diatas rasa sakit yang ia rasakan dikakinya. Melihat keponakannya tidak mampu membunuhnya.
"Aku tahu kau tidak akan berani membunuhku saat ini Ryuzen! Kau itu, sama saja dengan ayahmu yang idiot itu! Kau tahu apa? Kau dan Ayahmu itu, sama-sama terlihat mengerikan tapi pada kenyataannya, kalian berdua adalah manusia yang menyedihkan."
Biyan Dao masih terus saja tertawa seolah mengejek sang ponakan. Tidak tahan, dengan itu Ryuzen dengan cepat berjalan ke arah pamannya, dan menghantam wajah Biyan Dao dengan tangan kosongnya hingga menyebabkan Biyan menyemburkan darah dari hidungnya.
"Aku tidak akan membunuhmu, hingga saatnya kau sendiri yang akan menyerahkan nyawamu padaku Paman!" tukas Ryuzen dengan tatapan sedingin es miliknya.
Ryuzen membalikan tubuhnya dan melangkah, meninggalkan Biyan Dao yang terkapar lemah kala itu.
"Kau penasaran dimana dia kan?"
Ucapan Biyan Dao barusan sontak membuat Ryuzen menghentikan langkahnya.
"Kau ingin tahu dimana ayahmu, siapa dia, bagaimana dirinya, itu semua jawaban yang kau tunggu dariku kan keponakanku?"
"Kau!" Ryuzen menolehkan kepalanya menatap Biyan Dao dengan marah. Tentu saja Ryuzen tak bisa menyangkalnya, karena apa yang dikatakan sang paman adalah benar adanya. Walau selama ini Ryuzen selalu mengatakan, dirinya tak membutuhkan dan membenci ayah kandungnya, tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, rasa ingin tahu sosok ayah kandungnya justru semakin besar.
"Kau, membenci pria itu?" tutur Ryuzen.
"Aku tidak membencinya, aku ingin dia tersiksa, hancur dan merasakan yang lebih sakit dari pada yang aku rasakan!" balas Biyan Dao.
"Kau pecundang Paman!" ejek Ryuzen.
"Ter-serah!"
"Paman, akan aku biarkan kau hidup lebih lama. Tapi suatu hari nanti, aku pastikan kau sendiri yang akan menyerahkan nyawamu padaku!" tukas Ryuzen yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Biyan Dao.
Justru suatu hari nanti, kau dan ayahmu yang akan hancur secara bersamaan. Ryuzen, kau hanyalah alat yang aku gunakan untuk membalaskan rasa sakit hatiku terhadap ayahmu. Dan aku tak sabar menanti saat kau tahu siapa ayahmu dan apa yang telah dirinya lakukan padamu hingga kau jadi seperti sekarang ini!
Biyan Dao pun tertawa puas!
#flashback ended
🌹🌹🌹
Mohon maaf atas update yang tertunda ya teman-teman🙏
VOTE, LIKE, COMMENT! THANK YOU🙏