
~Atap Gedung Emerald Tower
Kenzo sudah berada di atas atap menara Emerald dengan membawa seorang wanita yang kini tengah diikat tangan dan kakinya, serta di tutup mulutnya dengan plester.
Sedangkan Ryuzen sendiri, nampak berdiri membelakangi Kenzo sambil menghabiskan sisa Rokok dimulutnya yang kini sudah habis.
"Tuan muda apa yang harus kita lakukan pada wanita ini?" tanya Kenzo.
Ryuzen membalikan tubuhnya, ke Arah Kenzo.
"Buka mulutnya!" perintah Ryuzen.
*Srekkk!
Kenzo membuka plester di mulut Yeslin dengan kasar.
"Tuan Han, kenapa kau lakukan ini padaku!" ujar Yeslin yang plester mulutnya baru saja dibuka.
"Kau masih tanya kenapa? Seharusnya aku yang tanya padamu, kenapa kau mencoba mencelakai Sara!" ujar Ryuzen tentunya dengan nada yang terdengar tidak ramah.
"Dia mengetahuinya?!" Yeslin tersentak kaget akan hal itu.
"Kenapa? Kau pikir aku tidak bisa mengetahui trik sampahmu itu? Sekarang jawab pertanyaanku tadi, atau aku lempar kau dari atas sini?!" ucap Ryuzen tenang namun suaranya benar-benar terdengar menakutkan dan mengancam.
Yeslin ketakutan, wajahnya sudah mulai pucat dan tidak bicara apa-apa.
"Tidak mau bicara? Kenzo bawa dia ke pinggir batas dan lempar jasadnya dari atas sini!"
"Baik Tuan!" jawab Kenzo.
"Tu- tunggu dulu, baik-baik aku akan ceritakan semuanya." Akhirnya Yeslin mau menceritakan segalanya setelah diancam akan dijatuhkan dari atas gedung.
"Sebenarnya aku hanya bermaksud mengerjai Sara saja saat itu dengan menguncinya di lift, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang berusia sekitar 50-an berjanji memberikanku 1 juta dollar asal aku mencelakai Sara, dan akhirnya aku menyanggupinya.
"Aku mengambil papan peringatan lift rusak itu dan meminta seorang cleaning service untuk menyuruh Sara masuk ke lift sebelah barat yang faktanya masih mengalami gangguan," ungkap Yeslin.
"Sial! ternyata Si tua bangka itu menggunakan cara licik itu untuk menarik perhatianku," Ryuzen terlihat marah saat mulai menyadari siapa dalang dibalik semua ini, Ryuzen pun langsung beranjak untuk pergi.
"Tuan, lalu wanita ini bagaimana?"
"Aku serahkan dia padamu Kenzo, yang jelas beri dia pelajaran yang setimpal! Atau jika kau mau jual dia untuk diambil organ tubuhnya juga tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang!" ujar Ryuzen lalu melangkah pergi.
"Siap Tuan!"
"Nona, kau beruntung diserahkan padaku, kalau Tuanku yang turun tangan langsung, mungkin saat ini kau sudah habis dilahap singa yang lapar di hutan," ujar Kenzo menakuti-nakuti Yeslin.
"Kau mau apa?" ucap Yeslin bertanya-tanya melihat Kenzo mengeluarkan ponselnya.
"Aku hanya akan membiarkanmu disini dengan tangan dan kaki terikat, sementara itu aku akan menghubungi polisi yang akan menangkapmu. Jadi jangan banyak bicara dan tunggu saja polisi menjemputmu, okey?"
Kenzo pun kembali menutup mulut Yeslin dan meninggalkannya sendirian di atas atap gedung Emerald dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat.
~ Rumah Sakit
Gina menjemput Sara yang sudah siap pulang dari rumah sakit. Disana juga ada Jesper yang ikut menjemputnya. Kini mereka pun sudah berada di lobby rumah sakit untuk menuju pulang.
"Jesper, Gina, terima kasih kalian sudah repot-repot kemari menjemputku," ucap Sara.
"Iya, Gina benar!" ucap Jesper lalu tersenyum.
Ponsel Gina tiba-tiba berdering, ia pun mengangkatnya.
"Ok, baiklah aku kesana!" ucap Gina pada orang yang tengah berkomunikasi dengannya di telepon.
"Um, Sara, Jesper, sepertinya aku tidak bisa ikut mengantar Sara sampai pulang karena aku ada urusan mendadak. Jadi, Sara kau pulang diantar Jesper saja tidak masalah kan?"
"Oh iya tentu saja, kau pergilah jika memang ada urusan aku biar pulang diantar oleh Jesper," jawab Sara.
"Iya, Sara serahkan saja padaku, aku akan mengantarnya dengan selamat sampai tujuan," ujar Jesper.
"Oke, kalau begitu aku pergi naik taksi duluan ya...!"
Gina pun pergi duluan meninggalkan Sara dan Jesper.
~Perjalan pulang
Sara pulang diantar oleh Jesper, di dalam mobil mereka awalnya tidak banyak bicara, hingga akhirnya Jesper membuka obrolan mengenai kejadian di Marigold.
"Sara...."
"Ya...?" sahut Sara pada Jesper yang ada di sebelahnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya aku benci mengatakan hal ini tapi..., sepertinya aku memang harus mengakuinya."
"Apa maksudmu?" ucap Sara yang belum paham ucapan Jesper.
"Sara, aku rasa Ryuzen adalah pria yang layak untukmu. Saat aku berpikir aku bisa melindungimu selalu, ternyata aku salah! Kenyataannya Ryuzen lebih mampu melindunginmu dibanding aku.
"Kau tahu, saat kau terjebak di lift, Ryuzen tanpa ragu sedikit pun ia mencoba menyelamatkanmu dan itu semua benar-benar ia buktikan saat berhasil menolongmu."
"Tu, tunggu..., kenapa perkataanmu barusan, seolah mengatakan kalau Ryuzenlah yang menyelamatkan diriku keluar dari lift?"
"Nyatanya memang dia yang dengan yakin masuk ke hoistway dan menolongmu, apa dia tidak cerita hal itu padamu?" tanya Jesper.
"Jesper bilang Ryuzen yang menolongku, tapi kenapa Rony yang ada bersamaku saat aku sadar?" pikir Sara agak belum paham.
Jesper menghela nafas.
"Jadi Rony tidak mengatakan apa-apa padamu saat kau sadar?" tanya Jesper.
Sara menggeleng.
"Sara, terserah siapa yang lebih ingin kau percaya aku atau Rony, tapi aku bicara begini karena jujur aku mulai bisa percaya pada Ryuzen, dan selebihnya terserah dirimu."
"Dan meski aku mulai percaya pada Ryuzen. Aku tetap tidak akan meninggalkanmu Sara, aku akan selalu ada untukmu sampai kapanpun, meskipun aku bukan lagi seseorang yang ada dihatimu lagi."
"Jes, aku akan percaya pada kata hatiku," kata Sara yakin.
"*Dan hatiku dengan yakin mengatakan, jika dialah pria yang menolongku saat itu*." Sara pun tersenyum senang. Jason pun tersenyum simpul mendengar jawaban dari Sara barusan.
๐น๐น๐น
like, comment, vote. Terimakasih.