Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 79 : Meet again


~Toko Buku


Sara hari ini terlihat lebih santai, oleh karena itu ia memutuskan untuk mendatangi salah satu toko buku di Montegi, dan tidak sengaja ia berpapasan dengan Jesper.


"Sara...!" Sapa Jesper.


"Jesper, kau ada disini juga?" balas Sara sumringah


"Ya, aku sedang ada waktu luang, jadi aku datang mencari beberapa buku untuk dibaca, kau sendiri apa sedang tidak sibuk juga kah?"


"Ya begitulah, aku baru saja selesai membuat dekorasi di salah satu gedung pertemuan, dan toko tutup lebih cepat, jadi aku memutuskan pergi kemari."


"Mau mengobrol sebentar?" ajak Jesper.


"Boleh," balas Sara menerima ajakan Jesper.


~~


Sara dan Jesper kini tengah menikmati minuman yang mereka pesan, di salah satu kafe dekat toko buku.


"Oh iya, Sara bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik, dan bagaimana kabar Arvin yang lucu dan menggemaskan itu?"


"Dia sehat, dia tinggal di asrama sekolahnya sekarang, dan pulang setiap weekend dan hari besar, " jelas Sara yang kemudian menyeruput milk tea di hadapannya.


"...., Ryuzen apa kau dan dia..."


"Ya, aku dan Ryuzen memutuskan menikah demi Arvin," ungkap Sara tersenyum getir.


"Kau bahagia?" tanya Jesper.


"Jika Arvin bahagia, aku akan bahagia, karena hidupku dan kebahagiaanku memang hanya untuk dia," ujar Sara.


"Sara.., apa aku masih punya tempat di hatimu?" tanya Jesper dengan lembut.


"Jes, kau pria yang sangat baik, kau pintar, menyenangkan, dan kau selalu mengerti aku. Aku hanya berharap sampai kapanpun kita akan terus seperti ini. Bagiku kau tetap cinta pertama masa kecilku," ungkap Sara malu-malu.


"Begitu ya?" rasa kecewa Jesper untuk kesekian kalinya terlihat lagi.


"Sekali lagi kau menolaku Sara... benarkah sudah tidak ada harapan lagi untuk kita bersatu? Apakah ingatan cinta pertama sama sekali tidak membekas dihatimu?" Jesper kini terlihat melamun.


"Jes kau melamun?" tanya Sara.


"Tidak, hanya kepikiran pekerjaan saja," sangkal Jesper pada Sara.


"Apa kau masih bekerja untuk Emerald?"


"Tentu, aku masih menjadi corporate lawyer untuk Emerald, siapa yang mau pindah bekerja dari perusahaan besar sekelas Emerald?" ujar Jesper dengan sedikit bercanda.


"Aku tahu, sebenarnya kau ingin jadi pelukis bukan pengacara, iya kan?"


"Jes, kenapa kau membuang impianmu begitu saja, kau pelukis yang luar biasa aku tahu itu," ungkap Sara.


"Aku hanya mewujudkan keinginan mendiang Ayahku untuk jadi pengacara," jawab Jesper datar.


"Dan kau sudah wujudkan, sekarang giliran dirimu yang mewujudkan impianmu."


"Kau benar, aku juga tidak pernah berhenti melukis. Mungkin akan aku pertimbangkan lagi soal itu,"


"Tiba-tiba aku jadi rindu melukis pemandangan yang indah. Terutama, jadi rindu dengan suasana di Cardia," ujar Jesper mengenang masa lalu.


"Ya kau benar, terkadang aku rindu juga dengan kampung halamanku itu. Eh aku ada ide, bagaimana kalau kapan-kapan kita berkunjung kesana, aku juga sudah lama tidak ziarah ke makam ayah dan ibuku," ujar Sara terlihat sangat semangat.


"Ide yang bagus!" sahut jesper senang melihat Sara bersemangat begitu.


"Walau tak memiliki hatimu lagi, setidaknya aku masih bisa melihat senyum bahagia di wajahmu Sara," kata Jesper dalam hati.


~Villa constel


Pagi harinya, seperti biasanya Sara dan Ryuzen sarapan sebelum mereka pergi bekerja. Sara membuatkan secangkir kopi rendah gula untuk Ryuzen dan teh hijau untuk dirinya.


Ryuzen hari ini, terlihat sibuk dengan dokumennya. Terkadang Sara benci melihatnya seperti itu tapi, mau bagaimana lagi sebagai CEO perusahaan terbesar di Asia, sudah pasti dia akan sering disibukan dengan berbagai hal yang seperti itu.


Sara pun terus saja memperhatikan wajah serius Ryuzen saat ini.


"Ternyata kalau sedang bekerja, dia terlihat jauh lebih tenang, dan sorot matanya bahkan jauh lebih tajam dari biasanya, aku rasa kalau dia jadi dosen pasti tidak akan ada yang berani mencontek saat ujian," kelakar Sara dipikirannya.


"Memandangi suamimu, sambil menahan tawa bukankah itu tidak sopan Nona Sara?" ucap Ryuzen yang masih fokus pada dokumennya.


"Pria ini sebenarnya matanya ada berapa sih? Kenapa dia bisa sadar sedang aku perhatikan."


"Hehehe, kau menyadarinya ya," ujar Sara malu.


"Hari ini, sebelum kerja kita megunjungi Nenek sebentar," tukas Ryuzen.


"Oke!"


"Kau tidak ada alasan atau bantahan?" tanya Ryuzen.


"Memangnya kapan, aku pernah menolak pergi mengunjungi nenek?" sahut Sara sedikit jengkel dengan Ryuzen.


Ryuzen pun tidak bereaksi apa-apa setelahnya.


~Kediaman utama keluarga Han


"Nenek," sapa Ryuzen sambil berjalan menghampirinya.


"Ryu, Sara... kalian mengunjungiku," ucap nenek Ivy yang terlihat senang, melihat sang cucu dan istrinya.


"Kak Miya apa kabar?" sambung Sara yang juga melihat Miya di sebelah nenek Ivy.


"Baik, kau semakin cantik saja," ucap Miya pada Sara.


"Ah, Kakak bisa saja, Kakak juga cantik," balas Sara jujur.


"Sudahlah, ayo duduk.., kita ngobrol-ngobrol dulu!" ajak nenek Ivy.


"Maaf Nek, tapi aku cuma mampir sebentar karena aku ada meeting satu jam lagi, aku kemari hanya ingin melihat keadaanmu saja," Jelas Ryuzen.


"Aku juga Nek, maaf sekali hari ini aku masih harus mengecek bunga-bunga yang akan dikirim ke toko dan klien," ujar Sara menyesal karena juga tidak bisa berlama-lama berkunjung.


"Baiklah tidak apa-apa, kalian mengunjungiku saja aku sudah bahagia," ungkap nenek diikuti senyum hangatnya.


"Oh iya, Ryuzen kau kemarin yang minta Henri mengirimkan ribuan bunga, dari perkebunan keluarga kita kan, untuk apa?" tanya Miya tiba-tiba.


"Ribuan bunga? Kemarin? Jangan-jangan..?"


"Bunga di perkebunan itu tumbuh bagus dan segar, apa salahnya jika di distribusikan keluar kota, lagi pula dari pada bunga-bunga itu hanya ditanam saja, lebih baik di distribusikan bukan?"


"Ya, kau benar juga sih!" balas Miya setuju dengan perkataan Ryuzen barusan.


Ryuzen melihat Arlojinya, kini saatnya ia sudah harus pergi ke kantor.


"Sudah ya, Nek, Kak, maaf kami harus pergi dulu," Ryuzen pun meninggalkan kediaman Han lebih dulu, baru disusul Sara setelah dia berpamitan pada Nenek dan Miya.


"Aku juga pergi dulu ya Nenek, Kak Miya, maaf tidak bisa berlama-lama menengok Nenek, sampai jumpa lagi..." ucap Sara.


"Tak apa sayang," sahut nenek lalu mereka pun (Sara, Nenek, Miya ) saling cipika cipiki.


"Aku pamit dulu ya...!" ujar Sara lalu pergi.


🌹🌹🌹


Comment, like, vote okeh..😘🌷