Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 40 : Belenggu


Mendengar cerita Arvin tentang pertemuannya dengan Ryuzen, membuat Sara merasa benar-benar berhutang budi pada Ryuzen.


"Terima kasih telah menolong Arvin. Maaf aku tidak tahu akan hal itu," ucap Sara merasa berterima kasih pada Ryuzen.


"Tidak masalah, lagi pula kau sudah membayarnya, bukan?" ucap Ryuzen dibalut senyum penuh intrik diwajahnya.


"Paman, terima kasih hadiahnya aku sangat suka," terang Arvin yang terlihat begitu bahagia menerima pemberian dari Ryuzen.


"Kau juga paman temannya Paman Ryuzen, terima kasih sudah mau menengokku," lanjut Arvin, yang juga berterima kasih pada Kenzo yang berdiri di belakang Ryuzen.


"Sama-sama, aku asistennya Tuan Muda Ryuzen, panggil saja aku Paman Kenzo," ucap Kenzo memperkenalkan dirinya.


"Sara, bisa kita bicara sebentar," pinta Ryuzen pada Sara.


"Oh, iya tentu."


Sara dan Ryuzen pun kemudian keluar, meninggalkan ruangan dimana Arvin dan Kenzo masih disana. Melihat Sara dan Ryuzen yang seolah sudah akrab membuat Arvin dan Kenzo pun bingung.


"Hem..., aku tidak tahu kalau Mami ternyata mengenal Paman Ryuzen," gumam Arvin.


"Paman Asisten, sebenarnya ada hubungan apa Mamiku dengan Paman Ryuzen?" Arvin bertanya pada Kenzo yang juga sebenarnya belum mengerti ada hubungan apa Bosnya dengan Sara.


"Jujur saja ya, aku itu sama denganmu. Aku juga tidak tahu apa-apa," jawab Kenzo yang juga ternyata belum mengetahui perjanjian diantara Ryuzen dan Sara.


~~


Dari atap gedung, langit senja begitu terlihat jelas, dinginnya angin musim gugur pun terasa lebih menusuk tulang, Sara terlihat mengusap-usap tubuhnya karena kedinginan.


"Terima kasih...!" ucap Sara pada Ryuzen yang dengan sigap menutupi tubuh Sara yang kedinginan dengan jasnya.


"Kenapa kau tidak bilang jika sebelumnya kau sudah pernah bertemu dengan Arvin?!" ucap Sara pada Ryuzen yang kini tengah menyalakan sebatang Rokok di mulutnya.


"Huh, apa harus? Bukankah kau sendiri yang membohongiku tentang anakmu, apa pentingnya jika aku ceritakan?" Terang Ryuzen dengan suaranya yang berat.


"Mengenai perjanjian kita..., kau minta aku jadi wanitamu. Apa hal itu tidak masalah dengan pacar-pacarmu yang lain?" tanya Sara dengan tatapan nanar di matanya yang bulat.


"Termasuk segala macam skandal dan rumormu dengan wanita-wanita di luar sana juga kah?" balas Sara.


Ryuzen menghisap rokok di mulutnya dan mengehembuskannya.


"Intinya kau tidak boleh ikut campur apapun masalahku, kecuali aku yang minta. Karena semua keputusan, aku yang tentukan. Jadi, aku harap kau ingat itu," jelas Ryuzen.


"Tenang saja, aku sudah paham dan mengerti. Asalkan kau bisa merahasiakan identitasku dari media dan tidak melibatkan Arvin dalam perjanjian kita, aku bisa menuruti semua kesepakatan diantara kita," balas Sara tersenyum getir.


"Soal itu, kau tidak perlu khawatir," ucap Ryuzen yang kemudian mematikan rokoknya. Ryuzen mendekatkan tubuhnya pada Sara, mencubit dagu Sara dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mendorongnya keatas dengan lembut menghadap wajahnya dan merangkul pinggang ramping Sara dengan tangan satunya.


Aroma kasturi bercampur buah anggur dari tubuh Ryuzen seperti menempel di tubuh Sara yang kini ada di dekapannya.


"Kalau begitu, seharusnya kau sudah tahu apa yang dibutuhkan seorang pria normal dari seorang wanita bukan?" ucap Ryuzen dengan tatapan menggodanya.


"Heh, kita sudah sama-sama dewasa mana mungkin aku tidak paham Tuan Ryuzen.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu aku ini sudah punya anak satu loh..., jadi, jangan berharap kau dapatkan sensasi layaknya seorang gadis perawan," ucap Sara yang mulai membelai wajah Tampan Ryuzen.


"Seumur hidup, aku tidak pernah menyangka akan mengatakan hal-hal intim seperti ini pada seorang pria mesum seperti Ryuzen," batin Sara menahan malu.


Bagi Sara saat ini, sudah tidak ada gunanya ia bersikap layaknya wanita baik-baik, toh Sara berpikir, di hadapan Ryuzen dirinya pasti tidak lebih berharga dari seorang wanita murahan yang dengan rela menjual dirinya sendiri.


"... Aku bukan pria yang peduli dengan hal macam begitu, asalkan kau bisa buat aku puas maka aku tidak peduli tentang hal itu."


Ryuzen kemudian mencium bibir Sara dan melumatnya. Mereka pun akhirnya berciuman di atas gedung dibawah langit senja.


"Menyesal pun sudah terlambat, Sara kau gila? Ya aku sudah gila, karena terlanjur membuat diriku sendiri terbelenggu oleh penjara yang bernama Ryuzen Han. Pria dingin dan kejam yang mampu membius jutaan wanita dengan segala Pesona yang dimilikinya."


🌹🌹🌹


Jangan lupa like, comment, dan vote ya temen-temen. Thank You 😘🌷