Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 41


"Paman, sebesar itukah rasa rindumu padaku hingga kau mau repot datang kemari?" Ryuzen mematikan putung Rokoknya dan berjalan mendekati sang paman.


Biyan pun tertawa geli, "Oh ayolah..., kau harus ingat, aku ini masih pemilik dua puluh persen saham Emerald."


Ryuzen yang berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, kini tengah berada disisi kanan pamannya itu. Dirinya hanya diam tanpa berkata apapun.


"Apa kabar?" tanya Biyan basa basi.


Ryuzen mendengkus sinis, "Apa maksud kedatanganmu?"


"Heh, kenapa bicaramu dingin sekali begitu?"


"Jadi kau mau aku bersikap ramah padamu, begitu?"


Sekali lagi Biyan tertawa, mengingat bagaimana Ryuzen mengingatkan dirinya akan sosok Jordan Han. Sebaliknya, Ryuzen bahkan tidak bereaksi sedikitpun.


"Hei keponakan, apa kau mau dengar cerita?" ujar Biyan pelan. Ryuzen nampak menggerakan ekor matanya, terlihat dirinya ada rasa tertarik dengan apa cerita yang dimaksudkan oleh pamannya barusan.


"Terlalu basa basi, bukan hobiku Paman!"


"Baiklah baiklah... tidak kusangka kau ini memang betul-betul mirip seperti ayahmu yang baru saja kutemui dua hari yang lalu, sulit diajak beramah-tamah."


"Apa maksudmu?" Ryuzen tidak bisa lagi berpura-pura tidak tertarik dengan ucapan Biyan Dao.


Senyum seringai mulai menghiasi wajah Biyan, "Aku tahu kau pasti akan tertarik dengan ceritaku."


"Aku bertemu dengan ayahmu di rumah sakit tempat dimana bibi saat ini dirawat," tutur Biyan.


"Apa?" Ryuzen tersentak kaget, dirinya secara otomatis teringat akan cerita neneknya tadi pagi. Dimana sang nenek bercerita jika dirinya merasa seperti bertemu dengan Jordan.


Jadi, yang nenek rasakan soal kehadiran pria itu adalah sungguhan? Tapi kenapa dia datang?


"Jadi pria itu akhirnya mau menampakkan dirinya kah? Atau sudah lelah mencari jati diri luar sana, sehingga merasa rindu pada ibunya?" Nada menyindir terlontar dari bibir Ryuzen.


"Oh come on! Kenapa kau ketus begitu membicarakan ayah kandungmu sendiri," balas Biyan bermaksud memanas-manasi.


"Bukan urusanmu! Lagipula, kau dan pria itu. Bukankah kalian sama-sama ingin menghancurkanku?" Tatapan dingin itu kembali menyelimuti sorot mata Ryuzen.


Gelak tawa mengejek Biyan justru menggelegar. Ryu tentu muak mendengarnya.


"Jadi, kau kemari hanya ingin cerita soal pria brngsek itu?"


"Oh tentunya, bukan itu saja maksud kedatanganku kemari." Biyan mendekati keponakannya yang tengah berdiri itu, dirinya pun hendak menyentuh pundak Ryuzen, namun dengan cepat Ryu langsung menghalau tangan pria yang amat dia bencinya itu.


"Jangan berusaha sok akrab denganku Paman!"


"Heh, keponakanku. Aku tahu kau pria yang hebat, aku tahu kau tidak pernah takut, bahkan menghadapi dewa kematian sekalipun kau pun tak gentar. Tapi..."


Biyan mendekatkan dirinya dengan Ryuzen dan berbisik, "Aku tidak tahu, apa kali ini kau bisa mengalahkan aku." Ryuzen tak bereaksi matanya menatap tajam, ribuan pertanyaan mulai muncul di benak ayah Arvin tersebut.


Apa yang dia pikirkan? Apa aku harus terprovokasi ucapannya kali ini?


Biyan menjauhkan dirinya dari Ryuzen dan tertawa,


"Ada apa keponakan? Apa kau sedang berpikir permainan apa yang sedang aku mainkan saat ini?"


"Cih! Biar kutebak, kau menggunakan orang-orang terdekatku untuk mengahancurkanku, bukan begitu?" tutur Ryuzen dengan nada mengejek.


"Menarik, benar-benar menarik," balas Biyan.


"Biar kuberitahu satu pujian untukmu. Bermain denganmu lebih menyenangkan dibanding ayahmu. Karena harus aku akui, kau jauh lebih menarik dan lebih hebat dibanding Jordan!"


"Kau sebut itu pujian? Baiklah Tuan Dao! Lalu?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal. Terkadang sesuatu yang kau anggap kecil dan tak berguna, bisa jadi hal yang besar jika kau tahu bagaimana mengendalikannya dengan baik. So berhati-hatilah!"


"Oh ya? Kalau begitu, terima kasih atas nasihatnya Paman Biyan," balas Ryuzen dengan nada datar.


"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu! Bersiaplah untuk menerima kejutan dariku!" Biyan Dao pun pergi meninggalkan Ryuzen yang sama sekali belum beranjak dari tempatnya ia berdiri sejak beberapa menit yang lalu.


~~


Sara akhirnya diantar Gina ke rumah sakit, namun bukan untuk memeriksakan dirinya benar sedang hamil atau tidak. Melainkan dirinya di telpon oleh kak Miya untuk menjaga nenek Ivy.


ย 


"Kau yakin tidak mau memeriksakan soal kandunganmu?" tanya Gina sebelum Sara turun dari mobilnya.


Sara menghela napas, "Ya, aku rasa lebih baik besok saja aku periksa soal apa aku benar hamil atau tidak. Hari ini aku harus segera menjaga nenek Ivy, pasalnya kak Miya ada urusan penting yang terpaksa meninggalkan nenek. Jadi aku yang harus menggantikannya, lagipula aku juga rindu dengan nenek."


"Oh baiklah, maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai sini,"


"Tidak apa Gina, terima kasih sudah mau mengantarku, kalau begitu aku pergi dulu ya." Sara pun akhirnya keluar dari mobil Gina. Sebelum pergi sahabat Sara itu menurunkan kaca mobilnya dan pamit pada Sara.


"Sara kau hati-hati ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku okey!"


"Tentu saja Gina."


"Kalau begitu, aku titip salam saja untuk nyonya Ivy. Bye Sara!"


"Bye," balasnya pada sahabatnya itu.


~~


Setelah Gina pergi, Sara pun bergegas menuju ke ruangan nenek Ivy. Gina menaiki lift yang membawanya ke tempat dimana nenek Ivy dirawat saat ini. Call panel lift pun menunjukkan angka 2, dan pintu lift tiba-tiba terbuka, kemudian masuklah seseorang yang berhasil membuat istri Ryuzen Han itu kaget tidak menyangka. Dirinya bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kira akan bertemu lagi sebelumnya.


"Tuan, anda...?" ucap Sara pada pria yang kini membawa buket bunga aster tersebut, dan berdiri bersebelahan dengannya itu.


Pria paruh baya itu membuka kacamata hitamnya, dan menoleh ke arah Sara.


"Yah, dunia begitu sempit ya?" balas pria yang belum diketahui oleh Sara jika dia adalah Jordan Han, yang mana ayah mertuanya sendiri.


"Bunga aster itu, apa bunga untuk diberikan pada orang yang sama dengan waktu itu?" tukas Sara kala melihat Jordan membawa buket bunga aster ditangannya.


Jordan pun hanya dapat tersenyum membalas ucapan Sara barusan. qTak terasa layar call panel pun sudah menunjukkan angka 5, Sara dan Jordan secara bergantian keluar dari dalam kabin lift.


"Jadi anda ingin menjenguk siapa?" tanya Sara penasaran.


"Aku ingin menjenguk ibuku, kau sendiri?"


"Aku? Oh, kalau aku ingin menemani nenekku yang kebetulan juga dirawat di lantai ini."


"Nenek?" Jordan mengangkat sebelah alisnya.


"Um, lebih tepatnya nenek dari suamiku," jelas Sara.


Entah mengapa, Jordan semakin penasaran dengan siapa nenek yang dimaksud oleh Sara itu. Pasalnya, di lantai 5 rumah sakit ini hanya terdapat 4 kamar vvip dan biasanya hanya diperuntukkan untuk orang-orang tertentu saja.


"Begitu ya? Memangnya ada dimana ruangan nenekmu itu?"


"Oh ruangannya ada di san--"


"Sara! Tuan Jordan?! " seru seseorang yang berjalan dari arah koridor. Sara dan Jordan pun sama-sama menoleh ke arah darimana suara yang memanggil mereka itu berasal.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Thank you for always support me fellas.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, comment, and vote ya...


Happy reading and i hope you like it gaisss ๐Ÿ˜‰


*Selamat berpuasa bagi yang menjalankan, semoga dilancarkan puasanya*


ย