
Malam semakin malam, udara dingin pun semakin menusuk, seolah menyusup dan masuk menyerang kerasnya tulang belulang. Ryuzen dengan segala yang ada pikirannya, tampak masih terjaga ditengah rekan - rekannya yang sudah lelap tertidur. Ryu yang sejak tadi mencoba memejamkan mata, seolah selalu kalah dengan hasratnya sebagai seorang pria yang terbiasa tidur dengan seorang wanita disisinya.
Seketika ia menoleh ke samping kirinya, dimana putra kecilnya itu kini tengah tertidur lelap, dengan wajah yang terlihat begitu polos dan tak berdosa. Melihat putranya itu, Ryuzen kadang kala masih tidak percaya dirinya bisa memiliki seorang putra yang begitu tampan dan lucu.
Kau putraku yang akan selalu jadi kebanggaanku kelak! Ia pun menarik selimut yang ada di dekatnya, bermaksud untuk menutupi tubuh Arvin yang meringkuk, seperti merasa kedinginan oleh udara yang memang begitu dingin malam ini.
Ryu tidak ingin mengganggu tidur yang lainnya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan sekedar minum dan menghilangkan rasa penatnya. Pria itu mulai beranjak dari tempat tidur, ia berjalan dengan tanpa suara dari kamarnya ke arah menuju dapur. Dan saat hampir tiba disana, Ryu malah mendengar suara dari arah dapur. Seperti suara gelas yang membentur sisi kaca, entah gelas atau peralatan makan lain.
Mungkinkah ada orang lain yang juga masih terbangun, tapi siapa?
Ryuzen pun berjalan mendekati dapur dan ternyata benar! Ada orang lain selain dirinya yang masih terjaga saat ini. Ryuzen tidak bisa terlalu jelas melihat sosok tersebut, dikarenakan pencahayaan yang hampir tidak ada, hanya lampu yang muncul dari lemari es yang tebuka yang menjadi titik cahaya. Ia pun mendekat ke arah seseorang itu perlahan, untuk memastikan siapakah dirinya dan...
Ryu langsung membungkam mulut orang tersebut dari belakang dengan satu tangannya, dan tangan satunya lagi mengunci pergerakannya agar tidak bisa lari darinya.
"Jangan teriak," bisik Ryuzen yang tangan satunya kini tengah sibuk meraba dinding belakangnya, mencari saklar untuk menyalakan lampu. Ryuzen melepaskan tangannya dari mulut orang tersebut setelah lampu tersebut menyala.
"Ryuzen kau itu gila ya!" Omel orang tersebut yang ternyata adalah istrinya sendiri.
"Kau itu kenapー"
"Ssttt...." Ryu menempelkan telunjuknya ke bibir Sara, menahannya buka suara agar tidak berisik. Sara paham dan langsung menyingkirkan jari itu dari bibirnya. "Kau itu kenapa membuatku kaget, aku hampir saja mati tau tidak sih!" Protes Sara dengan nada berbisik - bisik.
Tanpa menghiraukan ocehan Sara, Ryuzen malah langsung memeluk Sara dengan erat. "Sara, aku tidak bisa tidur. Aku rindu aroma tubuhmu, pelukanmu, aku rindu semua yang ada padamu."
"Heh, dasar kau bayi besar!" Ucap Sara sambil tertawa kecil dan membalas pelukan suaminya tersebut.
"Tuggu! Suara apa itu?" Kata Sara yang tiba - tiba mendengar ada suara langkah orang yang tengah berjalan menuju ke dapur. Kendati begitu, Ryuzen malah tiba-tiba menutup mulut Sara, sambil memberi isyarat lewat tatapan matanya agar diam dan tidak bicara.
Siapa itu? Seseorang itu semakin mendekat ke arah dapur. Lampu yang menyala itu dengan cepat menyorot seseorang yang kini hadir.
Alin Yifei?
"Siapa yang habis dari dapur?" Alin yang baru saja habis dari toilet dan terlihat mengantuk itu ternyata, kemari karena lampu yang belum dimatikan.
"Huh! Siapa orang bodoh yang habis dari dapur tapi tidak mematikan lampu! Bikin repot saja. Hoam... aku mengantuk." Alin berjalan menuju tempat skalar untuk mematikan lampu tapi dirinya tiba-tiba malah merasa horor, "Kenapa rasanya jadi seram begini?" Alin seperti mendengar suara-suara aneh. Bulu-bulu ditubuhnya pun mulai berdiri, belum lagi sugestinya yang mulai memikirkan hal - hal yang aneh.
"Villa ini ternyata seram! Daripada aku mati berdiri disini, lebih baik aku kabur saja deh! Hiyy...." Alin pun tidak jadi mematikan lampu, ia malah lari tebirit-birit karena ketakutan.
Ryu dan Sara pun keluar dari persembunyian mereka. Ryuzen terlihat tersenyum puas, "Dasar wanita aneh!"
"Ryuzen, kau itu jahat sekali! Gara-gara kau buat suara -suara aneh itu. Kak Alin jadi ketakutan begitu," pungkas Sara menegur suaminya yang sudah usil.
"Salah sendiri dia terlalu percaya takhayul!"
Sara mengehela napas, dan kembali ke tempat dimana ia tadi meninggalkan gelas dan juga sendok diatas meja dapur.
"Kau mau minum susu ya?" Tanya Ryuzen yang kini tengah bersandar di meja dapur, dengan tangan menyilang sambil memperhatikan istrinya yang tengah membuat segelas susu.
"Tidak kok!" Kata Sara yang baru saja selesai membuat segelas susu.
"Lalu susu itu untuk siapa?"
"Ini!" Sara menyodorkan segelas susu di tangannya itu kepada sang suami. Ryuzen pun dibuat terheran-heran karena dibuatnya, melihat Sara yang malah menyodorkan segelas susu itu pada dirinya.
"Ini untukー"
"Iya, kau yang harus minum susunya, ini cepat minum susunya," jelas Sara memaksa Ryuzen menerima segelas susu itu.
"Ka- kau serius, minta aku minum susu ini?" Ryuzen menelan ludahnya melihat segelas susu yang kini ada di genggaman tangannya.
"Iya, aku mau kau yang minum. Entah kenapa rasanya ingin sekali melihat kau minum susu itu di hadapanku."
Ryuzen, nampak gelisah. Kenapa harus susu! Aku benci benda cair berbau aneh itu. Aku ingin muntah rasanya.
"Kau tidak mau meminumnya ya...?" ungkap Sara memelas.
Arggh...Sara kau tau, aku benci susu. Tapi melihat wajah istrinya yang mulai murung dan terlihat memelas itu, terpaksa membuat Ryuzen seolah tidak punya pilihan lain. Ryu sekali lagi menelan ludah mencoba menahan rasa mualnya, akhirnya... dengan kilat ia pun meneguk habis segelas susu yang dibuat oleh Sara tadi.
Yikess..., rasanya benar-benar menjijikan!
Perut Ryu kini serasa seperti bergolak bagai air mendidih, seolah semua isi perutnya ingin ia keluarkan saat ini juga.
"Wah, ternyata kau mau meminum susu itu. Aku pikir kau tidak akan mau meminumnya, karena tidak suka susu."
Melihat Sara senang begitu, Ryuzen hanya bisa tersenyum kecil sambil menahan rasa mual di perutnya. Sara tiba-tiba menutup mulutnya yang menguap, sepertinya ia sudah benar-benar sangat mengantuk. Akhirnya ia pun pamit untuk pergi tidur duluan pada Ryuzen.
"Terima kasih ya sayang, sudah mau menurutiku," Sara memeluk Ryuzen.
"Hem," balas Ryu yang masih menahan rasa mual di dalam perutnya.
"Ryu, sepertinya aku sudah benar-benar harus kembali tidur, jadi... selamat tidur suamiku." Sara pun mengecup pipi Ryuzen, dan kemudian beranjak pergi untuk kembali tidur ke kamarnya.
Setelah Sara benar-benar pergi dari hadapannya. Ryuzen langsung membuka mulutnya dan mencoba memuntahkan segala isi perutnya di wastafel. Namun, sepertinya hal itu sia-sia saja. Alhasil ia hanya bisa mengumpat kesal, "Sial! Kalau bukan karena dia yang minta, sudah ku muntahkan sejak tadi!" Ryuzen lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya. Ia berharap air putih itu bisa segera menghilangkan rasa khas susu itu dari indra perasanya, tapi sepertinya rasa itu seolah melekat di lidah dan otaknya.
~~
Pagi hari telah menjelang, setelah sarapan Thomas dan Rina sudah harus kembali lagi ke kota, karena ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
"Kalian hati-hati ya," pesan Sara pada Thomas dan Rina.
"Thomas tolong jaga bibi Rina ya dijalan," sahut Arvin.
"Oke, bos kecilku yang menggemaskan," balas Thomas yang gemas pada Arvin.
Saat melakukan perpisahan Rina terlihat tidak fokus. Dirinya malah terlihat sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil menggerakan bola matanya, seraya mencari sesuatu yang hilang.
Sara pun tahu betul apa yang sedang dicari oleh Rina saat ini. Mencari Kenzo?
Tepat sekali! Siapa lagi kalau bukan mencari asisten pribadi suami Sara, yang memang tidak terlihat saat ini. Tapi dimana Kenzo, membuat Sara jadi ikut bertanya - tanya.
Kenapa Kenzo tidak ada disini? padahal Kenzo sudah bangun dan sarapan bersamaku dan yang lainnya. Tapi mengapa sekarang dia hilang?
"Sepertinya... kalian harus cepat bergegas, karena mobil yang akan mengantar kalian pulang sudah menunggu di depan," jelas Ryuzen yang sengaja mengutus sopir khusus untuk mengantar Thomas dan Rina kembali ke kota.
"Yap! Apa yang dikatakan Ryuzen benar! Lebih baik kalian berangkat lebih awal," sahut Jason yang baru saja muncul setelah selesai sarapan, diikuti Yoshiki di belakangnya.
"Rina..." panggil Sara melihat Rina yang wajahnya terlihat muram karena Kenzo tidak ada untuk mengantarnya pamit.
"Aku baik-baik saja kok Kak," balasnya memaksa tersenyum.
"Kau hati-hati dijalan ya..., Thomas tolong jaga Rina okey?"
"Oke! Nyonya Han," balas Thomas sambil mengangkat ibu jarinya.
"Kalau begitu..., kami pergi ya. Terima kasih tuan muda Han, tuan Jason, tuan Yoshiki, dan tentunya kau Kak Sara, atas liburan singkat yang menyenangkan ini."
"Aku tidak?" Kata Arvin yang belum disebut namanya oleh Rina.
"Tentu saja kau juga Arvin kecil," imbuhnya.
"Kami permisi ya tuan-tuan semua, bye... tuan-tuan tampan, muach..." Thomas memberikan blow kiss pada Semuanya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan vila.
"Sara, rekan kerjamu itu laki-laki atau perempuan sih?" Tanya Jason yang bingung melihat tingkah Thomas barusan.
Sara pun hanya bisa tertawa, "Entah! Aku pun tidak tahu. Yang aku tahu dia rekan kerja yang baik dan sangat luar biasa."
Sara menoleh ke arah Ryuzen yang tampak berdiri gagah di sebelahnya. Ryuzen pun menyadari dan langsung ikut menoleh ke arah Sara, yang tingginya sekitar bahu jika berdiri disebelahnya tanpa alas kaki berhak tinggi.
"Ryu, Kenzo kemana ya? Kenapa dia tidak ada?" Sara yang masih penasaran dimana Kenzo saat ini pun bertanya pada suaminya itu.
Ryu mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, "Kenapa tanya Kenzo? Mau minta disuapi lagi?"
"Heh! Kau ini. Aku mencari Kenzo itu karena ada alasan lain, tapi kau malahー"
"Stop bicara panjang lebarnya, sayang." Ryu menghentikan perkataan Sara dengan menahan bibir Sara dengan telunjuknya yang panjang, dan itu berhasil membuat Sara berhenti berceloteh.
"Kau tidak perlu mencari Kenzo dan mengkhawatirkan pegawaimu itu, sebab Kenzo sudah ada di tempat yang tepat. Oke?" jelas Ryuzen lalu tersenyum kecil.
~~
Di tempat lain, ternyata Kenzo terlihat sedang bersandar pada sebuah mobil sedan mewah, dengan mengenakan setelan rapi. Yang sepertinya tengah siap untuk pergi.
"Baiklah, sudah siap semuanya," tukas Kenzo menyambut Rina dan Thomas yang baru saja muncul.
Melihat Kenzo di hadapannya membuat Rina tersentak kaget, ia tidak menyangka jika pria yang sejak tadi ia cari, yang ia kira sengaja tidak mau mengantar keberangkatannya, ternyata malah disini menunggunya.
"Kenzo kau di sini dari tadi?" Kata Rina penasaran.
"Ya, aku menunggu kalian cukup lama. Aku kan harus mengantarmu pulang," jelas Kenzo. Rina benar - benar dibuat senang karenanya. Pria yang ia pikir tidak peduli padanya, malah ternyata dia akan mengantarnya kembali pulang.
"Ehem!" Thomas berdeham mengingatkan Kenzo dan Rina jika disini masihlah ada dirinya.
"Eh maaf, baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang saja." Kenzo pun langsung membukakan pintu untuk Rina, yang akan duduk di samping kursi kemudi. Disusul Thomas yang duduk di kursi belakang sendirian. Setelah semuanya siap Kenzo pun langsung melajukan mobilnya tersebut menuju kota Montegi untuk mengantar Rina dan Thomas pulang.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
Happy reading and hopefully you