Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 36


Jason menunjukkan ruangan tempat dimana nonya Ivy tengah dirawat.


"Tuan Han, anda bisa masuk sekarang. Sayangnya nyonya Ivy baru saja ku berikan obat tidur, sehingga tidak bisa melihatmu datang."


Jordan masih nampak ragu, hal itu jelas terlukis di wajahnya.


Haruskah aku menemuinya, apakah aku terus harus bersembunyi? Tidak! Aku tidak bisa terus bersembunyi, aku sudah jadi sebab kakacauan semua ini. Aku harus menemuinya, aku tidak ingin menyesal seperti saat aku tidak bisa menemui Laulin dulu.


"Tuan Jordan Han?" kata Jason yang melihat Jordan seperti tengah melamun.


"Aku akan masuk." Jordan akhirnya melangkahkan kakinya, kini dirinya sudah berada di ambang pintu ruangan dimana nyonya Ivy dirawat.


Jordan menarik napas dan menghela napas dalam-dalam.


"Kalau begitu aku persilakan anda masuk, biar aku menunggu di luar."


"Jason tunggu!" Jordan menghentikan Jason yang hendak meninggalkannya,


"Apa yang anda minta dariku lagi Tuan?"


"Tolong, jangan sampai Ryuzen tahu aku datang kemari."


"Maaf Paman, aku bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Tapi, aku akan berusaha agar Ryu tidak tahi akan hal ini."


"Terima kasih," ucap Jordan yang kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Ivy Han dirawat tersebut.


"Huh, aku tidak tahu kedepannya nanti akan jadi sesulit apa. Aku harap ketidak jelasan ini akan segera berakhir," ungkap Jason kala memikirkan situasi saat ini.


~~


[ Di perjalanan ]


Di dalam mobil terasa sangat hening. Kenzo yang biasanya banyak bicara pun terdiam, dirinya yang tengah menyetir mobil, malah lebih fokus memandangi Bosnya itu dari balik kaca spion yang ada di depannya.


Kalau begini terus rasanya lebih baik aku dimarahi olehnya, dibanding melihatnya diam dengan tatapan dingin seperti saat ini.


Ehem (suara berdeham)


"Tuan, sekarang kita mau pergi kemana?" tanya Kenzo yang suaranya terdengar agak canggung. Namun Ryuzen masih tetap saja bergeming, Ia masih terus menampakkan ekspresi sedingin esnya. Kenzo yang bingung, jelas tidak tahu harus bagaimana, pasalnya dirinya sendiri pun tidak tahu harus kemana saat ini.


"Um, Tuan. Apa sebaiknya kita menuju pulang ke vila saja, mungkin saja nona Sa-"


"Pergi ke Kairaku!" Ryuzen memotong kalimat Kenzo.


"Baik Tuan!"


Dan mereka berdua pun akhirnya pergi menuju ke Kairaku.


~~


[Rumah Sakit]


"Ibu..., aku sangat merindukanmu," lirih Jordan di samping Ivy Han, ibunya yang kini tengah berbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.


"Ibu, aku benar-benar minta maaf. Maaf karena sudah mengecewakanmu, maaf telah membuatmu bersedih, dan maaf aku telah gagal menjadi anakmu." Jordan mencium tangan sang ibu yang kini tengah tertidur, dan entah mendengar ucapan maaf dirinya atau tidak.


"Bu, tujuanku saat ini hanyalah ingin membayar dosa-dosaku yang telah aku perbuat pada kalian di masa lalu. Jadi, kumohon restui diriku bu...." Jordan berkali-kali menyeka matanya yang basah karena air matanya yang sejak tadi terjatuh.


Jordan tiba-tiba mengambil setangkai bunga aster dari saku jasnya. Diletakkannya bunga itu di dalam vas kecil diatas nakas, kemudian dirinya kembali duduk. Dipandangi bunga aster itu dari tempatnya duduk, "Bu lihatlah! Aku bawakan bunga aster kesukaanmu." Jordan menolehkan wajah ke arah Ivy Han seolah tengah mengajak sang ibu berkomunikasi.


"Maaf bunganya hanya setangkai, karena bunga yang kubeli tadi kebanyakan sudah layu dan rusak. Hanya satu itu saja yang masih segar. Oleh sebab itu, kuambil dan kuberikan padamu Bu."


~~


[ Kairaku Bar n Louge ]


"Kau ini kebiasaan sekali! Setiap ada masalah kau malah minum-minum tanpa memikirkan kesehatan," ujar Yoshiki yang tengah mengelap gelas-gelas mewahnya.


"Apa yang kau lakukan!" Yoshiki merebut botol ke lima yang akan diteguk oleh Ryuzen.


"Kau punya anak dan istri, akan lebih baik jika kau pulang dan berkumpul dengan mereka. Dan nenekmu juga sedang sakit bukan? Kenapa kau tak mengunjunginya?"


Mendengar perkataan sahabatnya itu membuat Ryuzen frustasi. Ia mengambil sebatang rokok dari sakunya dan dinyalakannya untuk dihisap. Ryuzen menghisap putung rokok itu dan menghembuskannya.


"Yoshiki, apa kau percaya adanya keadilan di dalam hidup? Dan, apa kau percaya apa itu hukuman yang harus diterima di dunia?"


Yoshiki hanya bisa menghela napas mendengarkan ucapan-ucapan Ryuzen saat ini.


"Aku tidak tahu soal hal-hal seperti itu. Kau tanya saja pada orang-orang yang paham soal itu. Aku ini hanya seorang pemilik bar yang kebetulan adalah temanmu sejak lama. Dan jujur saja, aku merasa kau saat ini seperti orang idiot!"


"Heh, begitu ya?" Ryuzen kembali menghisap rokoknya.


"Kau tahu! Kadang aku merasa, bersanding dengannya seolah aku ini bagai noda yang hanya bisa mengotori dirinya yang bersih. Sebenarnya aku yang beruntung atau dia yang sial. Benar-benar lucu, ya... benar-benar sebuah lelucon duniawi." Ryuzen terkekeh dengan matanya yang sedih.


"Ryu..., aku tahu kau bisa hadapi semua masalahmu, " tutur Yoshiki.


Terlalu banyak musuh dan bahaya disekelilingku. Aku takut tak dapat melindungi mereka. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada mereka.


~~


Jordan Han baru saja keluar dari ruangan tempat Ivy Han dirawat. Di luar ruangan sudah ada dokter Jason yang menantinya.


"Anda sudah selesai Tuan?"


"Ya, terima kasih telah merawat ibuku dengan baik. Aku masih ingin sekali berada bersamanya. Tapi aku sadar, aku tidak bisa melakukan hal itu," ungkap Jordan diikutin senyum getirnya.


"Anda tentu bisa kembali lagi Tuan," balas Jason.


"Ya, mungkin. Sudahlah, aku pergi dulu Dokter Jason." Jordan pun melangkah hendak meninggalkan tempat itu.


"Lalu, kapan anda mau bertemu dengan putra anda tuan?"


Langkah Jordan Han terhenti, jantungnya bagai tersambar petir mendengarnya.


"Kau juga ingin dia tahu kau ayahnya bukan?"


Jordan tersenyum mengejek, "Bahkan menyebut diriku ini sebagai ayahnya saja sepertinya tidak pantas!"


"Baiklah... baiklah, aku tidak akan ikut campur. Aku hanya berharap semoga kau beruntung paman Jordan!"


Tanpa berbalik badan, Jordan mengangkat tangan sikunya membentuk sudut 90 derajat dan melambaikan tangan, "Aku pergi dulu dokter Jason!"


~~


Di lobby parkir Jiro sudah sejak tadi menunggu Jordan.


"Sudah selesai? Kau sepertinya habis menangis ya?" ejek Jiro yang berdiri bersandar di samping kaca mobil.


"Kau sudah tua, jangan suka meledek orang tua lain!" balas Jordan pada temannya itu.


"Well, well, well!" ucap suara seorang pria yang tiba-tiba datang sambil bertepuk tangan dengan lambat dari arah pintu masuk lobby parkir.


"Kau!" Mata Jordan menatap tajam bak burung elang yang mengintai mangsa.


"Hai sepupu, apa kabar? Lama tidak jumpa ya?" ucap seorang pria yang tidak lain adalah Biyan Dao.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sekali lagi terima kasih banyak atas waktu kalian yang masih setia membaca karyaku. Dan maaf belum bisa crazy up!


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, Comment, dan vote kalian ya...


I hope you like it. Happy reading fellas ๐Ÿ˜‰