Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 71


Jason sedang memeriksa keadaan Sara yang kini tengah terbaring dan tidak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ryu dengan nada yang sudah pasti terdengar khawatir.


Jason baru saja selesai mengecek keadaan Sara pun menjelaskan, "Ryu kau tenang saja, Sara sudah baik-baik saja tidak ada hal serius yang terjadi padanya."


"Dan bayinya?" telisik Ryuzen.


"Kandungannya pun baik-baik saja,"


"Lalu kenapa Sara bisa tiba-tiba pingsan?"


"Istrimu pingsan karena beban pikirannya yang sudah terlalu berat sehingga membuatnya stress, ditambah situasi di ruang sidang tadi membuatnya tertekan dan itu mengakibatka tubuhnya jadi melemah dan akhirnya pingsan."


Ryuzen terlihat sangat panik, Jason langsung menepuk pundaknya. "Kau jangan cemas sebentar lagi juga dia akan sadarkan diri."


Baru dibicarakan, ternyata beberapa saat kemudian tubuh Sara bereaksi.


"Sara, sayang..." ucap Ryuzen yang langsung menggengam tangan istrinya itu.


"Ryu...," lirih Sara dengan kondisinya yang masih lemas.


"Jangan bicara dulu, dasar wanita bodoh!" Omel Ryuzen yang masih agak khawatir.


Karena tidak ingin mengganggu pasangan itu. Jason pun diam-diam meninggalkan mereka berdua disana.


Sara tersenyum kepada Ryuzen lalu bertanya, "Bagaimana sidangnya?"


Ryu hanya terdiam membisu menampakan ekspresi datarnya.


"Ryuzen...."


"Kau pasti lelah dan tertekan dengan ini semua ya?" Ryuzen menyibakkan rambut Sara ke belakang telinganya. Disentuhnya tangan Ryuzen yang jauh lebih besar dari tangannya itu, dan diusapkannya lembut ke pipinya.


"Kau tidak tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Aku akan selalu kuat jika ada kau bersamaku."


"Sara, ayo kita pergi dari sini!"


Sara tersentak dengan ucapan Ryu yang tiba-tiba barusan.


"A- apa maksudmu berbicara begitu?"


Ryuzen menatap Sara dalam-dalam dengan matanya yang terlihat sayu.


"Aku tidak sanggup melihatmu berada disini lebih lama lagi. Hatiku tersiksa, terutama saat orang-orang itu menghujanimu dengan pertanyaan-pertanyaam yang tidak masuk akal buatku, ingin sekali rasanya aku membungkam mulut mereka saat itu juga."


Ryuzen membelai wajah Sara dengan lembut. Matanya yang kini penuh dengan rasa tersiksa membuat Sara tak tega menatapnya.


"Kau tidak bersalah, tapi mereka dengan tanpa dosa berani mencecarmu. Aku ingin sekali membawamu pergi dari sini, aku tidak peduli lagi jika aku harus membunuh orang atau membakar tempat ini asalkan kau bisa keluar dari belenggu ini."


"Ryuzen kau..." lirih Sara khawatir.


"Kau tahu? Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu disisiku. Kau, Arvin, dan calon anak kita yang ada di dalam perutmu itulah alasanku untuk hidup saat ini. Aku berani tinggalkan semuanya asal kau selalu ada bersamaku, aku bisa membangun bisnisku sendiri dari awal. Aku punya cukup modal di luar saham Emerald. Jadi kau tidak perlu khawatir dengan masa depan kita. Jadi Sara, aku mohon padamu jangan membuatku jadi tidak berguna. Biarkan aku menolongmu, keluar dari jeratan yang menyiksamu ini." Pungkas Ryu emosional.


"Ryu...."


Sara yang takut Ryuzen benar-benar hilang kendali pun mencoba menenangkan suaminya itu dengan memeluk Ryuzen ke dalam dekapannya. Berhasil Ryu pun tenggelam dalam dekapan hangat Sara dan mulai tenang. Dari tubuhnya yang agak gemetar, Sara dapat merasakan dengan jelas kekhawatiran dan kegetiran yang di rasakan Ryuzen saat ini.


Sara tidak tahu harus senang atau sedih, dirinya sanang karena semua kata-kata dan tindakan Ryuzen seolah menegaskan betapa dirinya mencintai Sara. Tapi disisi lain Sara merasa iba dan pilu melihat Ryuzen seperti merasa tidak berguna.


Ini pertama kalinya aku melihat Ryu begini. Tapi mana mungkin aku membiarkan dia melukai banyak orang hanya demi menolong aku.


Sara membelai lembut kepala Ryu yang saat ini tenggelam di dalam dekapannya itu. "Semua akan baik-baik saja Ryu, percayalah... akan ada jalan untuk kita menyelesaikan semuanya ini. Kau tenang ya.:


Ryuzen tiba-tiba menarik diri dirinya dari dekapan Sang istri. Sara pun agak tersentak melihat Ryuzen tiba-tiba menarik dirinya.


"Ada apa?" Tanya Sara.


"Sebenarnya ada cara lain untuk mengeluarkanmu dari sini Sara."


Sara menyipitkan matanya, "Cara lain? Apa maksudmu?"


"Kita minta Erika untuk menjadi saksi sidang lanjutan nanti."


"Huh? Tapi bukankah, Gina bilang dia tidak bersedia menjadi saksi untukku? Lalu kenapa kau malah menyarankan hal itu?" Sara terheran-heran.


Ryuzen pada akhirnya menyerah dan mengatakan sejujurnya pada Sara, tentang semua yang terjadi saat melakukan pertemuan dengan erika waktu itu.


"Sebenarnya..., Erika mau bersaksi untukmu."


"Benarkah? Lalu kenapa dia-?" Sara terlihat semakin penasaran.


"Syarat? Syarat apa maksudmu, apa yang dia inginkan?" Sara semakin mendesak Ryuzen.


Ryuzen mengehela napas, "Erika bersedia jadi saksi untukmu asalkan aku...."


"Tidak Ryu!" Sara emosi saat mengetahui syarat yang diajukan oleh Erika tersebut.


"Sara...." panggil Ryuzen menenangkan Sara.


"Tidak akan pernah hal itu terjadi, aku lebih baik terpenjara seumur hidup dibanding harus bercerai darimu Ryuzen!"


"Sara aku-"


"Dan kau! Bagaimana bisa kau berpikit aku akan setuju kau melakukan hal itu? Apa jangan-jangan..." Sara mulai emosi. Ryuzen yang takut Sara kembali stres pun langsung mencoba membuatnya lebih tenang.


"Sara, Sara..., sayang, dengarkan aku!" Ryuzen menggenggam wajah Sara dengan kedua tangannya agar lebih tenang. Sara yang ternyata sudah mulai menangis itu pun menatap Ryuzen dengan mata yang bercucuran air mata.


"Kau lihat aku Sara," Sara menatap mata tajam Ryu.


"Aku tahu ini pasti akan sangat tidak mungkin untukmu. Tapi masalahnya, kau-"


"Hentikan ucapanmu Ryuzen!"


"Sara?"


"Kau harus tahu, sampai kapanpun, bahkan sampai aku mati pun. Aku tidak akan pernah mau bercerai apalagi berpisah darimu. Jadi, aku mohon... tolong jangan memintaku menyetujui hal yang mustahil aku lakukan." tukas Sara dengan suara yang bergetar.


Ryu menghapus air mata Sara yang sudah jatuh dipipinya.


"Maafkan aku sayang..."


Sara memeluk erat Ryuzen sambil menangis, "Aku lebih baik terpenjara seumur hidup daripada harus melihatmu dengan wanita lain Ryuzen."


Kenapa semua harus jadi seperti ini. Kenapa perjalanan cinta kami begitu berat, apa yang harus di korbankan.


Sara, jika pun aku harus tersiksa berkali-kali agar bisa bersatu denganmu di kehidupan lain. Maka akan aku lakukan!


~~


Sidang lanjutan akhirnya di mulai kembali, Sara juga sudah kembali duduk di kursi pesakitannya. Setelah hakim dan jaksa mengkaji tuntutan dari orang tua perawat yang telah terbunuh itu. Hakim pun kembali memberikan kesempatan bagi Gina selaku kuasa hukum sara untuk memberi pembelaan terkait kematian nyonya Ivy.


Gina terus memutar otak, ia bingung siapa lagi yang harus ia minta sebagai saksi saat ini.


Tidak boleh menyerah aku tidak boleh menyerah! Sara tidak bersalah.


"Pengacara Gina, jika kau tidak memiliki saksi untuk pembelaan terdakwa atas kasus pembunuhan nyonya ivy dan seorang perawat di rumah sakit. Maka kami akan segera mengkaji masalah ini untuk menjatuhkan vonis."


Sara tertunduk pilu mendengar perkataan hakim barusan, ia tidak tahu lagi apa yang bisa dirinya lakukan selain memasrahkan semua ini dengan berlapang dada.


"Aku sudah merelakan semuanya, jika memang aku harus mendekam di jeruji besi ini, aku pasrah." Air mata kini sudah mengucur dari pelupuk mata Sara.


Mungkin memang takdirku harus menjalani kehamilan di penjara ini. Tidak apa-apa jikalaupun harus begini.


Sara tersenyum getir mencoba menguatkan dirinya sambil mengelus perutnya, "Nak maafkan mami ya..., karena sepertinya kita terpaksa harus tinggal di jeruji lebih lama lagi."


Ryuzen sudah siap merogoh saku jasnya, "Sara, maaf! Tapi jika cara baik-baik tidak bisa melepaskanmu dari jeratan hukum ini. Maka biar aku selesaikan dengan caraku sendiri." Ditariknya tangan Ryu dari dalam sakunya. Terlihat tangan itu kini telah menggenggam sebuah pistol dibalik jas Ryu.


Jika pertumpahan darah adalah cara satu-satunya. Demi kau, maka akan aku lakukan!


"Skali lagi aku bertanya pada pihak terdakwa, apa kalian memiliki saksi lain?"


"Aku tidak tahu."


"Nona Gina waktu terus berjalan, tolong jangan menghambat jalannya persidangan," terang hakim.


"Sial! Aku harus bagaimana?" Gina merasa geram dengan dirinya sendiri karena merasa tidak berguna saat ini.


"Jika memang tidak ada lagi saksi dari pihak terdakwa, maka aku selaku hakim ketua pada persidangan ini akan-"


"Tunggu yang mulia hakim!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.๐Ÿ˜‰