Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 67 : Ryuzen kecil, takdir atau hukuman?


~Ruang kerja Ryuzen


Di ruang kerjanya, Ryuzen nampak serius, kedua sikunya ia letakan diatas meja, dengan jari-jarinya yag saling menggenggam di depan dagunya.


"Tuan muda, ini kopi anda."


Kenzo masuk mengantarkan kopi yang diminta Ryuzen, dan meletakannya di meja.


"Terima kasih," balas Ryuzen.


"Ada lagi yang kau mau Tuan? Dengan senang hati aku buatkan."


"Tidak usah, ini sudah cukup."


Ryuzen pun mulai menyeruput kopinya yang masih panas.


"Bagaimana? Enak tidak Bos?" ujar Kenzo


"Jujur saja, aku menyesal minta kau buatkan, tapi sudahlah," ungkap Ryuzen lalu menaruh lagi cangkir kopinya di atas meja.


"Tuan..., boleh aku tanya sesuatu?"


"Tentang aku dan Sara?" balas Ryuzen.


Kenzo mengangguk membenarkan kata-kata Ryuzen.


"Tuan, apa alasan kau menikah dengan Nona Sara karena dia ibunya Tuan Kecil?" tanya Kenzo


"Bisa dibilang itu salah satunya," balas Ryuzen dengan tatapan serius.


"Lalu apa alasan sebenarnya? Jujur saja aku belum percaya jika kau yang bahkan memikirkan menikah saja tidak, malah tiba-tiba memutuskan menikah hanya karena hal itu," ungkap Kenzo.


"Aku hanya tidak ingin Arvin merasakan apa yang pernah ku rasaka dulu," ucap Ryuzen dengan suara beratnya yang lebih terdengar seperti ungkapan kekecewaan.


Mendengar itu Kenzo malah makin di buat bingung dengan perkataan Ryuzen, ia pun memperjelas dan bertanya, "Maksudnya, anda dulu juga pernah di posisi Tuan kecil, begitukah?"


"Aku pernah di posisi sama seperti Arvin, tidak pernah melihat ayah kandungku. Mungkin Arvin bisa dibilang lebih beruntung, karena aku bisa lebih cepat mengetahuinya. Sedangkan aku..., hingga saat ini aku tidak pernah melihat pria itu secara langsung," ungkap Ryuzen yang saat ini, tengah menahan rasa sedih dan kecewa di hatinya.


"Tuan anda...?"


"Aku tidak mau menjadi pria brengsek, seperti keturunan laki-laki di keluarga Han terdulu. Kakekku membuat kesalahan yang membuat nenek harus berpisah dengan putra satu-satunya selama puluhan tahun, dan pria itu (Ayahnya Ryuzen) entah dimana dia saat ini, tega meninggalkan anak dan istrinya tanpa pesan,"


"Bahkan hingga Ibuku meninggal pun dia tidak juga muncul... dari pada disebut Ayah, mungkin pria itu lebih cocok di sebut sampah!" ungkap Ryuzen yang masih terlihat tenang, namun tatapan marahnya jelas terlihat dari sorot matanya yang tajam.


*Flashback 26 tahun yang lalu.


Ryuzen kecil yang saat itu berusia empat tahun, tengah bersedih disamping ibunya yang berbaring lemah di rumah sakit.


"Ibu... kau harus sembuh bagaimana pun kau harus sembuh. Kalau Ibu sembuh aku janji, aku akan cari Ayah buat ibu," ucap Ryuzen pada ibunya yang kini tengah sekarat.


Laulin menyentuh kepala putranya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


"Ryu.., berjanjilah pada Ibu, kau akan tumbuh menjadi pria yang hebat di kemudian hari. Jadilah luar biasa seperti Ayahmu nak," ucap Laulin dengan suaranya yang begitu parau, dan lemah. Ryuzen tidak kuasa menahan tangisnya ia memegangi tangan ibunya dan mendekapnya denga kuat.


"Tidak mau, aku tidak mau jadi seperti Ayah yang meninggalkan kita. Yang aku mau hanya melihat Ibu sembuh," ujar Ryuzen kecil dalam tangisnya.


"Ri... Ryu, waktu Ibu sudah tidak banyak. Nanti saat kau sudah tinggal bersama kakek dan nenekmu, kau harus jadi anak penurut. Ibu tahu kau anak yang sangat cerdas jadi menurutlah pada mereka ya," ucap Laulin yang suara semakin lemah bahkan hampir tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku tidak mau tinggal bersama kakek, aku mau bersama Ibu. Kakek orang jahat, aku tidak suka sama dia, Ibu tolong jangan tinggalkan aku! Ibu...!!" Ryuzen menangis sejadi-jadinya. Detak jantung Laulin semakin lemah, nafasnya mulai menghilang sedikit-demi sedikit.


"Ryuzen Han, Ibu menyayangimu dan aku hanya ingin katakan padamu bahwa... Jordan Han adalah .... pria terbaik yang pernah aku cin... cintai..."


Kalimat tersebut menjadi kalimat terakhir Laulin yang ia ucapkan di hadapan Ryuzen saat itu, sekaligus kalimat terakhir dalam hidup Laulin yang kini telah menghembuskan nafas terakhirnya.


~~


Selesai pemakaman sang Ibu, Ryuzen memandangi foto mendiang sang Ibu di Rumah duka. saat itu pula Yerumi Han datang dengan para ajudannya, dan memerintahkan mereka membawa Ryuzen kecil untuk tinggal di kediaman Han, sebagai pewaris utama Emerald.


"Ryuzen, mulai hari ini kau akan tinggal bersama kakek!" ujar Yerumi Han dengan gaya angkuhnya.


Dan sejak saat itu pula, Ryuzen kecil bukan lagi Ryuzen yang dulu, seorang bocah empat tahun pada umumnya. Ia harus mau menerima takdirnya sebagai pewaris utama grup Emerald.


"Ibu.. meski aku tidak suka kakek karena dia tidak suka padamu. Demi memenuhi permintaanmu, mulai hari ini aku akan tinggal dengannya dan nenek di kediaman Han. Ibu ingin aku jadi pria yang hebat kan? Aku akan turuti itu, bahkan aku bersumpah akan jadi seribu kali lebih hebat dibanding Yerumi ataupun Jordan Han, hingga tidak ada yang berani menentang, ataupun melawanku!"


Sejak hari itu, hati Ryuzen mulai diselimuti awan gelap, tanpa cahaya yang meneranginya. Ia berubah baik sikap dan cara pandang hidupnya.


~Kediaman utama keluarga Han.




"Mulai hari ini kau Ryuzen Han, akan menjadi cucuku pewaris utama Emerald," ujar Yerumi saat Ryuzen pertama kali menjejakan kakinya di kediaman Han yang megah.


Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, dengan pria dan wanita disamping kanan kirinya menuruni anak tangga.


"Cucuku, akhirnya aku bisa melihatmu," ujar wanita itu menghampiri Ryuzen, dia adalah Ivy Han, nenek Ryuzen.


"Nenek?" ucap Ryuzen dengan tatapan polosnya.


"Maafkan nenek baru bisa melihatmu sayang. Mulai hari ini aku akan merawatmu," nenek memeluk Ryuzen dengan penuh kasih saya.


"Pelukan nenek hangat, hampir mirip dengan pelukan ibu," batin Ryuzen kecil saat dipeluk oleh neneknya. Setelah memeluk Ryuzen, nenek pun melepaskan pelukan itu dan mulai mengenalkan Ryuzen dengan kakaknya.


"Ryuzen.., ini Miya dia keponakan Ayahmu sekaligus kakakmu dan tentu cucu pertamaku, sedangkan ini Henri Ang suaminya." Nenek mengenalkan Miya dan Henri (Orang tuanya Rony Ang) pada Ryuzen.


"Aku Ryuzen Han, salam kenal!" ujar Ryuzen mengenalkan diri.


Sejak saat itu, Ryuzen resmi dinobatkan sebagai pewaris utama Emerald Group. Dan sejak saat itu pula senyum hangat diwajah Ryuzen mulai pudar sedikit demi sedikit.


*Flashback selesai


Mengingat akan hal itu Ryuzen terlihat begitu emosional, ia marah dan kecewa namun tidak ingin menampakkan sisi lemahnya pada siapun.


"Selama ini aku tidak pernah tahu, dibalik sikap Tuan Ryuzen yang dingin, arogan, dan tanpa belas kasihan, ternyata dia menyimpan kesedihan mendalam dihatinya seorang diri. Tuan..., kau tenang saja, aku akan selalu setia padamu dan tidak akan menghianatimu," ungkap Kenzo di dalam hatinya.


~~


Di kamar, Sara tengah berbaring di sebelah Arvin, mengelus kepala putranya yang kini tengah tertidur lelap.


"Arvin sayang, Mami sudah kabulkan keinginanmu. Sekarang kau punya orang tua yang lengkap, jadi kau tidak perlu lagi merasa bersedih setiap kali melihat anak-anak lain bersama orang tua mereka."


Sara kemudian mencium kening Arvin, Arvin yang bagi Sara saat ini terlihat bagai malaikat kecil yang di berikan Tuhan untuknya. Sara yang tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Arvin, hanya bisa memandangi langit-langit kamar, menatap tiap sisi ruangan tanpa alasan. Ia berkedip dan menghembuskan nafas, seolah membuang bebannya.


"Hari ini, detik ini, aku bukan lagi terjerat oleh perangkap yang bernama Ryuzen Han, tapi aku telah jatuh ke dasar jurang miliknya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur jatuh kedalamnya," ucap Sara pasrah akan nasib dirinya saat ini.


"Akankah aku bahagia dengan pernikahan seperti ini? Akankah kutemukan cinta sejati untuk hidupku kelak? Masih bisakah bunga-bunga dihatiku kembali mekar dengan indah? Tuhan..., jika ini takdir bantulah aku menjalaninya, jika ini hukuman bantulah aku melewatinya, namun jika ini keduanya biarkan aku ikhlas akan semuanya."


Sara akhirnya memejamkan mata indahnya, berharap hidupnya akan bahagia dimasa depan.


๐ŸŒน๐ŸŒน


Like, comment, votenya.. Thank You readers ๐ŸŒท