
Kenapa tuan muda malah tersenyum begitu? Apa pertanyaanku barusan itu aneh?
"Kau tidak usah bingung, melihat kenapa aku membiarkan para awak media itu mengambil gambar Arvin!"
"Maksudmu?" Melirik ke arah Ryuzen.
"Alasanku untuk merahasiakan Arvin sudah tidak ada, jadi biarkan saja semua terjadi. Lagipula mau disembunyikan seberapa lamanya pun akhirnya pasti akan tercium juga oleh media."
"Oh, jadi kau berniat memperkenalkan Arvin sebagai putramu secara resmi ya?" Tanya Kenzo sambil menyentuh dagunya dengan jari-jari miliknya.
"Ya, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena untuk sekarang ini, aku hanya ingin menikmati waktuku dengan keluargaku," jelas Ryu yang kemudian berjalan menghampiri Sara dan Arvin.
"Hai Jagoan!" Seru Ryuzen.
"Papi....!" melihat sang ayah, Arvin pun langsung menerjang berlari memeluk papinya. Senada dengan putranya itu, Ryuzen juga dengan sigap langsung meraih tubuh Arvin, memeluknya, dan menggendongnya tinggi-tinggi, seolah mainan pesawat terbang yang ringan.
"Apa kabarmu nak, dan kenapa kau bisa datang kemari?" Kata Ryuzen berbisik di telinga Arvin sambil menurunkannya dari gendongan. Ditanya begitu secara tiba-tiba oleh sang ayah, Arvin pun jadi agak kebingungan. Ryuzen menurunkan Arvin dan bertanya sekali lagi.
"Arvin, jawab pertanyaanku! Kenapa kau bisa sampai ke tempat ini?"
"Ryu benar! Arvin sayang, kenapa kau bisa sampai kemari?" Imbuh Sara yang juga sebenarnya sejak tadi ingin menanyakan hal serupa.
Apa jangan-jangan Arvin dari awal memang sudah mengetahui soal diriku?
Arvin tidak menjawab apa-apa, dirinya hanya terlihat tengah memutar-mutar bola matanya sambil memaikan jari-jari kecil miliknya.
"Arvin Han, aku menunggu jawabanmu," tukas Ryuzen memperingakan.
"Um..., mm... soal itu, sebenarnya...."
"Aku yang membawanya kemari!" Ujar seorang pria yang kini tengah berjalan ke arah mereka.
"Paman, eh maksudku, Kak Rony!" Seru Arvin melihat Rony yang datang bak dewa penolong, disaat dirinya kebingungan menjawab pertanyaan orang tuanya.
"Jadi kau yang membawa putraku kemari?" Tanya Ryuzen pada Rony sambil menatap keponakannya itu dengan tatapan dingin.
"Iya, memang aku yang membawanya kemari."
"Rony jadi kau?"
"Iya Sara, um... maksudku bibi. Aku yang membawa Arvin kesini," Jelas Rony nampak jujur.
"Tunggu dulu!" Seru Arvin yang tidak ingin orang tuanya salah paham, dan berpikir hal buruk terhadap Rony yang padahal sudah membantunya.
"Kenapa Arvin?" Tanya Sara bingung.
"Arvin!" Seru Ryuzen terlihat memperingatkan Arvin.
"Papi tenang dulu! Aku akan jelaskan, agar kalian semua tidak bingung dan salah paham pada kak Rony."
"Arvin benar, coba dengarkan dulu alasan putramu itu tuan CEO," sahut Gina.
"Ryu, kita dengarkan dulu penjelasan Arvin ya?" pinta Sara dengan lembut.
Ryuzen pun akhirnya menurut juga, "Argh! Baiklah! Sekarang jelaskan dengan detail dan sesingkat mugkin."
Arvin akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya, hingga alasan kenapa Rony bisa sampai mengantarnya kemari.
"Jadi begitu ceritanya, aku yang memaksa kak Rony untuk mengantarku kemari." Jelas Arvin,
"Jadi tadi kakimu terjatuh dan terluka? Mana biar mami lihat!" Sara langsung mendadak panik saat tahu jika Arvin tadi habis terjatuh di aspal.
"Mami, sudahlah aku kan sudah besar jangan terlalu berlebihan begitu. Ak- aku tidak apa-apa, melihat mami sudah bisa berkumpul lagi bersamaku aku sudah sangat bahagia. Lagipula sakit ini buka apa-apa dibanding penderitaan mami."
Sara tersenyum haru, ia langsung memeluk putranya itu dengan erat.
"Maafkan mami yang sudah membuatmu khawatir ya sayang."
"Maafkan aku juga kalau begitu," ucap Ryuzen yang ikut merangkul anak dan istrinya itu.
Benar-benar keluarga yang serasi dan sempurna.
Melihat pemandangan tersebut membuat suasana hati Gina terasa hangat.
"Uhum! Maaf aku kemari hanya mengatar Arvin untuk melihat Sara, dan karena sudah ada kalian jadi lebih baik aku pamit pergi!" Rony pun berbalik arah kemudian melenggang pergi.
"Rony tunggu...!"
Langkah Rony terhenti mendengar Seruan Sara memanggil namanya. Sara dengan santainya langsung berjalan untuk menghampiri pria yang kini berstatus sebagai keponakannya itu.
"Ron, terima kasih ya," ucap Sara diikuti senyuman manis dan tulus.
"Aku tidak melakukan apapun Sara, jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku."
Karena bagiku saat ini, bisa melihatmu kembali bebas, itu sudah lebih dari cukup untukku.
Ternyata masih belum bisa bicara tanpa kecanggungan. Sara juga terlihat agak kikuk saat itu juga. Untuk menghilangkan kecanggungan itu, akhirnya Ryuzen pun mendekat, lalu merangkul pinggang ramping istrinya tersebut.
"Sayang, sepertinya... wartawan semakin tidak terkendali. Sudah saatnya kita pulang bukan?" Ujar Ryuzen yang sengaja mengatakan hal tersebut agar menghilangkan rasa kikuk Sara saat ini.
"Iya mami, mari kita pulang bersama!" Sahut Arvin yang juga sudah tidak sabar ingin kembali pulang.
"Baiklah," balas Sara setuju.
"Ron, apapun itu... aku ucapkan terima kasih atas semua yang kau lakukan."
"Ya! Sama-sama bi," balas Rony sambil menahan perasaan getir yang kini menyelimuti suasana hatinya.
Ryuzen meminta Kenzo untuk membawa Sara dan Arvin ke mobil terlebih dahulu.
"Tidak apa kan, jika aku disini sebentar lagi?" Kata Ryuzen. Sara pun mengangguk tanda tidak keberatan. Akhirnya dirinya dan Arvin dibawa oleh Kenzo untuk ke mobil terlebih dulu, kemudian disusul Gina yang juga pamit untuk pulang.
Tinggalah Ryuzen bersama dengan sang keponakannya itu.
"Kau memang hebat paman!"
Ryuzen tersenyum kecil, "Terima kasih pujiannya. Tapi aku rasa sudah kewajibanku untuk selalu ada untui istriku sendiri."
"Ya kau benar!" balas Rony diikuti senyum getirnya yang tersungging.
Ryuzen berjalan ke hadapan Rony. Ia menepuk pundak keponakannya itu dengan kedua tangannya dan mengatakan, "Kau, adalah keponakanku. Jadi apapun dan bagaimanapun, kau tetap akan jadi keponakanku. Oleh karena itu aku berharap suatu hari nanti, kita bisa berbincang seperti dulu lagi."
Rony tersenyum mengejek, "Aku tidak tahu apa kita bisa kembali seperti dulu. Tapi bagiku sekarang, melihat Sara bahagia rasanya sudah cukup untuk membuatku ikut bahagia, jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mengambilnya paksa darimu. Tapi jika suatu hari aku lihat kau menyakitinya sedikit saja, maka aku tidak akan segan-segan lagi."
Ryuzen tersenyum kecil, "Jadi Rony kecil sekarang benar-benar sudah tumbuh dewasa ya?"
Rony menelisik, memicingkan matanya ke arah sang paman.
"Huh! Tapi baiklah, aku rasa aku hanya ingin mengatakan hal itu," ungkap Ryuzen.
Disentuhnya pundak sang ponakan sebelum Ryu benar-benar pergi dari tempat itu, "Kau jaga baik-baik dirimu, dan carilah kebahagiaanmu!"
Rony tersenyum kecut.
Ryuzen pun meninggalkan Rony untuk menyusul istri dan anaknya yang sudah terlebih dahulu menuju ke mobil. Dari tempatnya berdiri, Rony hanya bisa menghela napas panjang.
Sepertinya memang sudah usai. Entah sampai kapan, tapi sepertinya memang mencintainya dari jauh adalah lebih baik untukku.
Cinta itu....
Rasa yang diciptakan Tuhan dengan jutaan emosi sebagai elemenya termasuk rasa sakit. Maka.... ketika kau memilih jatuh cinta pada dia yang tidak memilihmu maka kau harus bersiap untuk merasakan rasa sakit.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update ðŸ˜. Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian yang masih setia, masih sabar untuk membaca ceritaku ini. Walau mungkin pembaca udah banyak yang pergi tapi aku akan tetap selesaikan cerita ini.
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mau tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote aku sangat berterima kasih🥺
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and I hope you like it.
For more info follow my instagram account @chrysalisha98 thank you.😉