
Di dalam mobil Sara mulai bosan menunggu, dirinya pun memutuskan untuk menyusul Ryu ke dalam coffee shop.
~~
"Ryuzen ka-kau?"
Apa Ryu menanggapi aku? Heh, kenapa bingung? Aku ini kan cantik, mana mungkin dia bisa menolak pesonaku saat ini. Wanita bepakaian dress ketat itu mulai mencuri-curi pandang pada Ryuzen. Tangannya pun berniat menyentuh Ryu.
"Ups! Maaf," ujar seseorang yang tiba-tiba menyenggol tubuh Nana.
"Kau! Kau punya mata atau tidak!" Nana membentak seseorang yang menyenggolnya itu.
"Aku tidak sengaja maaf ya, Bibi!"
"Kau berani panggil aku bibi? Kurang ajar!"
"Lalu harus panggil apa, kalau bukan bibi?"
"Kau sedang cari mati ya? "
"Huh? Bukannya bibi yang sedang cari mati denganku?" balas wanita yang ternyata adalah Sara chen.
"Dasar wanita tidak tahu malu!"
"Kau yang tidak tahu malu!" Bentak Ryuzen kepada Nana.
"Ry- Ryuzen, ke- kenapa kau membentaku?" Nana terlihat syok melihat Ryuzen yang barusan membentak dirinya. Hingga beberapa pengunjung pun menoleh dibuatnya.
"Iya aku membentakmu! Kau pikir kau siapa berani mengatakan hal itu pada Sara?"
"Sa- Sara, siapa?" Nana terlihat bingung.
Pengunjung mulai mengumpat dan berbisik saat menyadari jika, Ryuzen Han ada disini ternyata adalah Ryuzen Han seorang CEO Emerald bersama dengan istrinya Sara.
Sara mengulurkan tangannya dan berkata, "Oh bibi belum tahu ya? Baiklah... perkenalkan aku Sara atau kau bisa panggil aku Nyonya Ryuzen Han!"
Apa?! Ja-jadi rumor Ryuzen saat aku di Los Angeles jika dia sudah punya istri dan anak itu benar adanya?
Ryuzen mengehalangi tangan Sara yang mau mengajak Nana untuk berjabat tangan. "Sayang kau tidak perlu berjabat tangan dengannya, karena dia tidak layak mendapat perkenalan darimu sebelum dia meminta maaf padamu!"
"Kau dengar kata suamiku Bibu? Oh ya tadi kau mau menyentuh lengan suamiku, memangnya ada apa di lengan suamiku?" Cecar Sara.
Sepertinya wanita itu mau menggoda Tuan Han.
Tidak tahu malu, apa dia tidak punya cermin?
Nona Sara jauh lebih cantik dari wanita itu.
Para pengunjung mulai saling begunjing dan bergosip membicarakan Nana. Wanita itu benar-benar merasa kesal. Mau tidak mau, dirinya pun terpaksa harus minta maaf, agar sesegera mungkin bisa pergi dari tempat ini.
"Ma- maafkan aku Nona Sara, aku tidak tahu jika kau istrinya Ryuzen."
"Sama-sama, aku sudah memaafkanmu kok."
"Tapi lain kali, jangan menggoda suami orang ya bibi," bisik Sara dengan nada santai namun jelas sangat menohok. Wanita itu pun pergi setelah meminta maaf. Dan setelah pesanannya jadi, Sara langsung menggandeng suaminya itu keluar dari coffee shop menuju ke parkiran.
~~
Setibanya di parkiran tiba-tiba Sara langsung melepaskan renkuhan tangannya dari Ryuzen, dan memasang ekspresi wajah tidak senangnya.
"Kenapa tiba-tiba melepas tanganmu dariku?"
"Aku mau pulang naik taksi saja!"
Ryuzen menyeringai, kemudian memeluk Sara dari belekang dengan erat.
"Kau marah karena cemburu ya?"
"Siapa yang cemburu! Sudah lepas jangan peluk aku, aku tidak suka bau wanita itu tercium dari pakaianmu!"
Ryuzen mengecup pipi Sara yang kini merah padam. Lalu melepaskan pelukannya, tapi sayang, Sara terlihat masih mutung.
"Baiklah, baiklah... tuan putri, Aku yang salah! Tolong ampuni aku," Ryuzen memohon.
Sebenarnya Sara tidak marah pada suaminya itu, karena nyatanya suaminya itu tidak menggoda apalagi menyentuh wanita tadi. Hanya saja, entah mengapa dirinya benar-benar seperti tidak bisa mengontrol emosinya jika melihat Ryuzen dekat wanita lain.
"Wanita tadi siapa? Mantan pacarmu?"
Ryuzen tergelak, "Iya!"
"Kenapa tertaw? Oh iya aku lupa, mantanmu kan kalau dihitung-hitung bisa ada ratusan bahkan ribuan." Cibir Sara yang jelas terlihat cemburu.
Ryuzen tiba-tiba berlutut pada Sara yang membelakanginya saat ini.
"Sara Chen istriku tercinta, aku minta maaf padamu. Aku tidak suka pada wanita itu, jangankan suka tertarik saja tidak, aku tidak suka perempuan yang sudah banyak permak ditubuhnya. Lagipula aku ini sudah memiliki berlian diantara berlian, kenapa aku harus tergoda dengan yang imitasi."
"Baiklah aku maafkan, sekarang berdiri!"
Ryuzen pun berdiri. Tampaknya Sara masih sedikit kesal mengingat kejadian saat Ryuzen bersama wanita yang dulu seniornya itu.
"Kau bilang sudah memaafkan, tapi masih cemberut begitu?"
"Habis, aku kesal ka-"
"Kau cemburu kan?" Ungkap Ryuzen sambil menyentuh kedua pipi Sara, lalu mengarahkan padangannya ke matanya.
"Aku..."
"Sara, tatap mataku saat bicara denganku." Sara pun pada akhirnya tidak mampu menghindari sorot mata tajam sang suami.
"Iya aku cemburu, puas!"
"Nice!"
"Mmm..." Ryuzen langsung membungkam sang istri dengan bibirnya.
"Kau ini! Kenapa?"
"Aku hanya sedang meluapkan rasa bahagiaku padamu," tukas pria yang kini tengah membuka jasnya itu.
"Rasa bahagia apa?"
"Bahagia karena kau cemburu."
Sara hanya bisa menggeleng-geleng heran, mendengar alasan Ryuzen barusan. Bagaimana bisa bahagia karena istrinya cemburu.
"Kau ini memang pria aneh!"
"Biar saja aku aneh, asal kau tidak pergi dariku."
Ryuzen tiba-tiba memakaikan jas yang dibukanya tadi, pada Sara yang terlihat kedingingan. Mengingat pakaian yang dikenakannya saat ini, tidak menutup sempurna bagian pundaknya.
"Kita masuk ke mobil ya, kau bisa kedinginan, kalau berlama-lama disini tanpa pakaian tebal. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan bayi kita," bisik Ryuzen di telinga Sara.
Yang dikatakan Ryu benar, lagipula aku tidak seharusnya bersikap begini seperti ini. Terlebih, Ryuzen jelas-jelas tidak menggoda wanita itu. Mungkin emosiku ikut berubah sejak kandunganku semakin membesar.
Sara membuang egonya, iya merasa memang harus menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu agar segera masuk ke dalam mobil.
~~
Sebelum melajukan mobilnya, Ryuzen pun kembali meminta maaf pada Sara. "Maaf membuatmu kesal, maaf juga karena membuatmu jadi menunggu di dalam mobil sendirian tadi."
Sara membuka jas yang diberikan Ryuzen tadi, dan meletakannya ke kursi belakang.
"Kenapa dibuka?"
"Aku tidak suka ada bau wanita itu tadi, dan kemejamu juga aku mau lepaskan saja, atau kau bisa berikan saja kemeja itu ke orang lain."
Aku tidak tahu dia bisa jadi seposesif ini, tapi aku suka saat dia posesif. Ryuzen menggumam sambil menahan rasa senangnya.
"Pokoknya lepas kemejamu itu, jangan dipakai lagi!"
Ryuzen tersenyum penuh intrik, "Kau mau aku lepas kemejaku sekarang?"
Sara mengangguk, "Ya!"
"Baiklah, setelah buka kemeja kau harus duduk di pangkuanku dan terus memelukku sampai kita tiba di rumah."
"Huh? Ka- kau gila!"
"Kan kau yang menyuruhku melepasnya sekarang." Ryu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu tapi Sara malah menyuruhnya behenti tiba-tiba
"Stop! Sudah tidak usah! Nanti saja dirumah kau lakukan, sekarang kita pulang!" Titah Sara.
"Baiklah, kau bosnya...." ujar Ryuzen yang kemudian langsung melajukan mobilnya menuju pulang ke kediamannya.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Happy reading and hopefully you like it all...
Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😉