Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 187


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Cinta itu perlu pengorbanan, jika tidak ada pengorbanan maka tidak akan ada yang namanya arti sebuah rasa cinta.


Empat bulan kemudian...


Dengan penuh perhatian, Sara yang meski tengah hamil besar, dengan telaten membantu berjalan sang suami yang kini tidak bisa melihat lagi.


Sara membawa Ryuzen ke taman belakang rumah sakit, ia terlihat merawat sang suami yang kini harus ia terima kenyataannya jika Ryu tidak mampu melihat seperti dulu.


"Sayang... kita sudah berada di taman. Disini cuacanya cerah dan sejuk sekali, aku yakin kau pasti suka," papar Sara menjelaskan keadaan cuaca disekitarnya pada Ryuzen.


Namun Ryuzen tak terlalu merespon, ia hanya tersenyum getir meratapi keadaan dirinya saat ini.


"Sara..."


"Iya sayang?"


Ryuzen mengangkat tangannya mencari-cari tangan Sara, kemudian meraba dan menggenggam jemari sang istri. Dirinya pun mengajak Sara untuk duduk karena tak tega dengan kondisi Sara yang kini tengah hamil besar harus berdiri terlalu lama. Mereka pun akhirnya duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat dimana mereka berdiri tadi.


"Hati-hati... "Ujar Sara membantu sang suami duduk dengan benar.


Ryuzen kembali mengulum senyum getir mendengar perlakuan sang istri. Bagaimana tidak, dirinya yang dulu mampu melakukan apapun, kini bagai manusia tak berdaya dihadapan istrinya.Rasa marah pada diri sendiri seolah membuat batinnya seperti digerogoti oleh perasaan bersalah.


Sara menghela napas, ia membenarkan posisi duduknya agar bisa duduk serileks mungkin, maklum saja usia kehamilan Sara memang sudah memasuki trimester ke tiga. Bahkan untuk berjalan saja Sara semakin sulit, namun ia tetap bersikukuh untuk merawat suaminya yang kini tidak bisa melihat.


"Maaf..."


Sara yang baru saja merasa rileks dengan posisi duduknya pun spontan menjawab, "Maaf untuk apa?"


"Maaf karena aku telah membuatmu lagi-lagi dalam situasi sulit saat menjalani kehamilan." Nada penyesalan begitu terasa di tiap kata yang diucapan Ryuzen. "Seharusnya aku menjagamu dengan baik disaat seperti ini, tapi... lagi-lagi aku malah membuatmu tersiksa, bahkan lebih tersiksa. Keadaanku yang seperti ini seolah menunjukkan betapa tidak bergunanya diriku." Isak tangis Ryu kini tak bisa lagi ia bendung, sambil menggenggam tangan Sara dan menciumnya ia pun menangis. "Aku telah gagal, aku tidak berguna, aku selalu menyakitimu dan membuatmu sengsara..."


Tidak tega melihat sang suami seperti itu, Sara pun tanpa sadar ikut meneteskan air mata. Ia lalu mengusap air mata Ryuzen. "Kau tidak perlu bersalah, karena aku pun tidak pernah merasa keberatan dengan apa yang saat ini terjadi. Karena bagiku, asal kau selalu berada disisiku itu sudah cukup. Jadi aku mohon kau jangan pernah merasa bersalah. Kenyataannya kaulah yang selalu melindungiku, menjagaku, dan menolongku bahkan saat aku tidak tahu pun kau selalu diam-diam membantuku saat aku sulit, jadi kali ini biar aku yang menjagamu."


"Sekarang aku semakin yakin, betapa beruntungnya aku bisa mencintai dan dicintai olehmu Sara."


Karena kebahagiaan yang sempurna itu tidak bisa dicari, tapi dibentuk bersamaan dengan seiring berjalannya waktu.


~~


Ryuzen's P.o.v


Dan hari ini aku menjalani operasi transplatasi kornea. Jujur, aku merasa begitu takut untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Berbagai macam hal buruk berkecamuk di dalam kepalaku sebelum memasuki ruangan operasi. Bagaimana jika operasi ini gagal? Bagaimana jika aku buta selamanya? Tapi segala ketakutanku berkurang, kala aku menyadari Sara yang terus dengan sabar dan kuat, menggenggam tanganku sebelum dan sepanjang diriku menuju ruangan operasi.


"Kau pasti bisa melihat lagi," ujar istriku dengan begitu optimis dan penuh semangat.


Aku pun berharap begitu. Tapi dari semua yang aku takutkan adalah, bagaimana jika aku tidak bisa melihat wujud anak keduaku nanti. Tidak, aku tidak bisa seperti ini aku harus yakin aku bisa kembali melihat. Sara begitu yakin padaku seharusnya akupun bisa seyakin dirinya.


Dan akhirnya... aku tiba di depan ruang operasi. Aku sudah siap dengan segala yang akan terjadi nantinya, aku tidak boleh membuat Sara khawatir padaku. Sebelum aku memasuki ruangan Sara menggenggam pergelangan tanganku erat-erat, dibawanya tanganku dan diletakan diperutnya yang buncit. "Kau harus bisa melihat lagi, karena seseorang di dalam rahimku ini ingin sekali dilihat oleh ayahnya." Mengatakan hal itu aku tahu Sara tengah berusaha menyemangatiku, tapi dibalik ucapan itu aku bisa merasakan adanya perasaan khawatir yang ia coba sembunyikan dariku. Belum lagi, tanggal persalinan Sara hanya tinggal menghitung hari. Aku pun tersenyum, aku meyakinkan istriku jika aku pasti baik-baik saja dan akan bisa kembali melihat lagi. Aku mencium punggung tangan Sara sebelum aku benar-benar memasuki ruangan operasi. Sara aku pasti bisa melihat kembali, bersabarlah dan doakan operasiku lancar.


Aku sudah berada di dalam ruangan operasi yang sangat dingin. Aku benar-benar sudah tidak bisa berpikir apapun lagi, yang aku tahu hanyalah, mulai saat aku dibius aku telah menyerahkan semuanya kepada para dokter yang tengah menangani operasi transplantasi korneaku. Dan anestesi pun dilakukan padaku hingga aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sara's P.o.v


Aku menunggu Ryuzen diluar ruangan bersama putraku dan juga Kenzo serta kerabat dekat lainnya. Aku tidak bisa mengatakan aku tenang karena aku memang tidak terlalu tenang saat ini. Arvin yang berada disampingku sekitka langsung memeluku ia seolah tahu bagaimana perasaanku saat ini. "Mami, papi pasti akan baik-baik saja percaya padaku." Lucu, seharusnya akulah yang mengatakan hal itu pada putraku, tapi apa daya aku memang tidak bisa setenang putraku, aku terlalalu skeptis dengan hal-hal yang terjadi saat ini.


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam putaran waktu terlewati. Aku terus menunggu suamiku yang kini tengah berada di dalam ruangan operasi. Saat aku lelah terus duduk, aku pun mencoba berdiri, tapi entah kenapa saat aku berdiri aku merasa ada yang aneh. Tiba-tiba saja saat aku bediri mengalir cairan basah dikakiku. Dan siapa sangka aku yang seharusnya dijadwalkan melahirkan dua hari lagi, harus mengalami pecah ketuban di hari yang sama dengan jadwal operasi Ryuzen. Aku saat itu tidak tahu harus bagaimana, untungnya dengan sigap Jason yang juga berada menunggu Ryu, langsung membantuku dan membawaku ke ruangan bersalin. Dan lagi-lagi aku harus melahirkan tanpa ditemani oleh Ryuzen. Tapi tidak masalah karena aku tahu Ryuzen pun tengah berjuang saat ini, maka dari itu aku pun harus berjuang untuk melahirkan buah cinta kami meski tanpa dirinya disisiku.


Karena memang *b**egitulah hidup, selalu ada awal dan akhir. Semua berawal dari kelahiran dan kemudian dipisahkan oleh kematian. Tidak ada yang bisa memprediksi apalagi memilih takdir hidup manusia, tapi setiap manusia berhak untuk menentukan pilihan hidupnya. Terkadang kau harus merelakan sesuatu yang harus kau relakan terkadang kau harus bersedih dahulu untuk bisa menemukan kebahagiaan. Tapi yakinlah satu hal jika, apa yang telah ditakdirkan untukmu maka ia akan selalu kembali padamu*.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Goes to final chapter... see ya...


Jangan lupa follow my IG @chrysalisha ๐Ÿ˜˜ vote, like, commentnya jangan lupa gengs...


Love -C