Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 186


Dan akhirnya pertarunganpun tidak bisa terelakan, para ajudan suruhan Biyan Dao itu mulai menyerang dan menembak ke arah Ryu dan Renji. Sayangnya satu persatu ajudan suruhan Biyan itu bisa tumbang ditangan kedua pria mantan anggota black serpents. Meski hanya bermodalkan pistol laras pendek, Ryu dan Renji bisa dengan mudah mengimbangi musuh yang jumlahnya puluhan. Mereka bertarung layaknya kembali ke masa lampau saat mereka dulu, sering bekerja sebagai partner di black serpents. Pertarungan sengit pun berlanjut hingga akhirnya semua anak buah Biyan tumbang ditangan kedua pria yang sama-sama mencintai wanita yang sama. Keringat dan luka pun menghiasi tubuh keduanya, napas mereka pun mulai terengah-engah.


"Kau tidak berubah, masih hebat seperti dulu!" Puji Renji pada Ryuzen.


"Heh! Tidak perlu memuji, aku sudah tau. Tapi aku jadi berpikir, bagaimana reaksi penggemarmu, jika mereka tahu penulis novel kesayangan mereka ternyata bisa begitu brutal saat bertarung."


Renji tertawa geli, "Dasar pria brengsek!"


"Ya aku brengsek! Dan kau agen petarung yang baik hati!" Balas Ryuzen dengan nada seperti mengejek, "Dan... aku ingin mengatakan sesuatu!" Ungkap Ryuzen tiba-tiba.


"Apa?"


Ryu pun langsung merogoh saku jasnya yang kini sudah terlihat lusuh. Ternyata ia mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya pada Renji.


"Apa ini?" Renji jadi bertanya-tanya.


"Bukalah dan baca saja!"


Renji pun membuka isi secarik kertas itu dan membacanya dengan seksama. Seketika sorot mata Renji berubah sayu dan berkaca-kaca. Renji pun langsung menatap ke arah Ryuzen. "Surat ini... jadi kau?"


"Ya, itu surat hasil dari autopsi dan pemeriksaan laboraturium atas kematian adikmu Alex yang selama bertahun-tahun aku simpan."


"Ja- jadi... Alex, dia...."


"Ya, adikmu, penyebab sebenarnya meninggalnya Alex adalajlh karena obat-obatan yang selama bertahun-tahun ia konsumsi. Adikmu adalah pengedar obat-obatan terlarang yang sudah bertahun-tahun dicari di negara ini, dan dialah... orang yang saat itu harus kita tangkap saat menjalankan misi waktu itu."


Ryuzen akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya kepada Renji. "Saat misi kita sembilan tahu lalu, aku aku berhasil menangkap pengedar yang kita cari-cari. Dan saat aku membuka topengnya ternyata dia adalah adiku Alex. Saat itu Alex sedang dalam keadaan sakau, sel sarafnya sudah terlanjur sepenuhnya mengalami ketergantungan zat terlarang. Tubuhnya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi. Kejang, gemetar dan sakit luar biasa pun ia rasakan. Hingga akhirnya Alex memohon kepadaku untuk menembak jantungnya saat itu juga."


Lidah Renji terasa kelu, ia tak bisa berkata-kata mendengar apa yang diceritakan oleh Ryuzen. "Kau- kau pasti sedang membodohiku?"


Ryuzen mengela napas, "Kau tahu? Saat sebelum adikmu mati, dia mengatakan permintaan terakhirnya padaku. Alex, dia memohon kepadaku agar aku tidak memberitahukan padamu jika dirinya adalah pengguna dan pengedar obat-obatan terlarang, karena dia tidak mau kau membencinya jika tau hal itu. Dan dia takut kau akan kecewa padanya karena telah membohongimu. Dia begitu bangga padamu, hingga dia tidak ingin kau tahu jika dirinya seorang pengedar obat-obatan paling dicari saat itu."


Mendengar kenyataan yang diucapkan oleh Ryuzen, tanpa sadar air mata Renji menetes. "Ja- jadi selama ini, kau rela disalahkan atas hal yang seharusnya bukan salahmu. Bertahun-tahun kau rela aku anggap sebagai pembunuh adikku, tapi kenyataannya kauー"


"Aku hanya melakukan apa yang aku telah janjikan pada Alex untuk tidak menceritakan hal ini padamu, tapi nyatanya aku gagal. Aku mengatakan semuanya. Aku sadar aku tidak bisa sekuat itu ternyata." Ryu tersenyum kecil.


"Kau tidak kalah Ryu, akulah yang pecundang, akuー"


"Renji awas!" Ryuzen melihat salah satu anak buah Biyan Dao yang ternyata masih bisa bangkit. Ia mencoba menembak Renji, untungnya Ryu segera menepis pria itu hingga tembakannya meleset dan malah melukai lengannya. Ryuzen pun langsung saja ingin menghabisi pria itu. Namun tak disangka, pria itu malah melemparkan sesuatu ke arah mata Ryuzen, yang membuatnya meringis kesakitan. "Sial sakit sekali!" Ternyata mata Ryuzen dilempari dengan serbuk pecahan kaca, alhasil mata Ryuzen pun terluka dan pandangannya pun perlahan memudar. "Argh, mataku!" Umpat Ryuzen yang bagian matanya sudah terluka dan membuatnya tak bisa melihat.


Renji yang berada di dekatnya pun syok, ia pun akhirnya yang menghabisi pria tersebut, kemudian mendekati Ryuzen, "Matamu... matamu terluka, seharusnya kau tidak perlu menolongku bodoh!" Pekik Renji yang terlihat sangat khawatir melihat keadaan Ryuzen saat ini


"Aku tidak bisa melihat, penglihatanku semakin gelap!" ujar Ryuzen sambil menahan rasa sakit di bagian matanya.


~~


"Kau tenanglah Sara, percaya padaku, suamimu itu sering bergelut dengan maut sebelumnya. Jadi kau harus percaya jika dia pasti baik-baik saja," ucap Jason mencoba menenangkan Sara yang duduk di kursi belakang.


Melihat istri bosnya begitu, Kenzo pun tak kuasa jadi ikut merasa gelisah, dirinya juga hanya bisa berharap jika semua akan baik-baik saja. Tuan muda aku harap kau baik-baik saja.


~~


Renji tampak begitu mengkhawatirkan Ryu yang kini sedang terluka matanya. Ia bahkan begitu panik, hingga memapah Ryuzen untuk segera keluar dari tempat tersebut. "Kita harus segera ke rumah sakit! Aku akan membawamu kesana!"


Ryuzen yang sudah hampir sama sekali tidak bisa melihat malah tertawa geli, "Aku tidak menyangka kita akan kembali berpartner!"


"Dasar idiot, dalam keadaan begini kau sempat-sempat berseloroh dengan konyol!"


Sayangnya, saat Renji tengah memapah Ryuzen keluar, sialnya mereka malah harus dihadang oleh Biyan Dao yang tengah memegang pistol yang sudah siap tembak. Melihat hal itu Renji pun murka, ia ingin sekali menyingkirkan pria tua itu dari hadapannya, namun dirinya kini tengah memapah Ryuzen.


"Ingin pergi? Tidak semudah itu!" Ujar Biyan Dao yang sudah membidikan pistolnya ke arah Ryuzen yang kini tampak tidak berdaya. Renji pun berniat menghabisi Biyan yang ingin menembak Ryuzen yang kini dalam keadaan tidak bisa melihat. Namun alih-alih melindungi Ryuzen, ternyata Biyan memang tidak berencana membidik Ryu melainkan...


*Bang! Suara timah panas melesat tepat di bagian perut Renji. Seketika Renji yang awalnya tegap berdiri memapah Ryuzen malah tumbang. Ryuzen yang meski tak bisa melihat mengetahui jika Renji telah tertembak pun marah, dirinya yang baru saja kembali bisa akrab dengan sahabat lamanya malah harus seperti ini jadinya. Ryuzen dengan sisa-sisa dan secercah harapan pun memegangi Renji yang sudah mulai sekarat karena banyak mengeluarkan darah. "Renji kenapa kau!"


"Uhuk, a- aku tid- tidak... Ryuzen to- long jaga..."


"Sudah diam!" Ryuzen benar-benar marah. Saat ini ia merasa seperti manusia yang tidak berguna sama sekali.


Tapi sebaliknya Biyan Dao yang menyaksikan hal itu justru tertawa riang dan merasa menang. " Akhirnya aku bisa melihatmu merasa tidak berguna Ryuzen!" Ujar Biyan dengan bangga.


Ryuzen menggertakan gerahamnya, "Keparat kau Biyan Dao! Tempatmu adalah neraka!"


*Bang! Bang! Bang! Bang! Tembakan berkali-kali dilesatkan oleh Ryuzen dengan segala kemampuan dan penglihatannya yang sudah benar-benar hampir menghitam. Ryuzen akhirnya menghabisi Biyan Dao dengan menembaknya bekali-kali. "Pergilah ke neraka dengan tenang Biyan Dao!"


Ryuzen yang sedih dan kesakitan akhirnya terkulai tepat disebelah Renji yang kini tengah sekarat karena kehabisan darah. Ryuzen ingin pergi dari tempat itu. Sayangnya Ryuzen semakin lelah, tubuhnya pun mulai tak berdaya, matanya perih dan penglihatannya gelap, lengan Ryu yang tertembak pun terus saja masih mengeluarkan darah.


*Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, aku pun ti*dak tahu apa yang akan dikatakan Sara saat melihatku begini nantinya, bagaimana Arvin memandangku nanti. Heh, aku kini tidak tahu bagaimana pulang, mataku tak bisa melihat... dan tubuhku kini mulai lelah... bahkan angin saja seperti bisa menumbangkanku saat ini. Jujur aku ingin tidur...


Tapi... kenapa aku merasakan kehadirannya, Aku bisa merasakan kehadiran cintaku, wanitaku, ia seperti tengah berlari menghampiriku dan memanggilku saat ini. Sara... kau kah itu?


"Ryuzen!" Pekik suara wanita dengan nada yang terasa bergetar. Langkah kaki wanita hamil itu pun semakin cepat. Air mata dan peluh yang menetes pun tak ia pedulikan, karena yang hanya ia pedulikan saat ini hanyalah,, ingin segera berada disamping suaminya menemaninya dan selalu ada untuknya meski keadaan itu mungkin sangat perih.


Bersambung....


🌹🌹🌹