Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 118


Ryuzen membawa Sara ke salah satu distrik kota, yang biasa di penuhi oleh muda mudi di kota ini.


"Ini tempat apa Ryu?" Tanya Sara yang sama sekali belum pernah ke tempat yang ia datanginya saat ini. Tempat yang terlihat seperti sebuah wilayah kecil yang mana, di sepanjang mata memandang terdapat spot-spot kekinian di tiap sudutnya. Restoran, kafe juga dibangun saling berjejeran. Orang-orang yang memenuhi distrik ini pun, sejauh Sara melihatnya, di dominasi oleh para kaum muda-mudi usianya mungkin dibawah dua puluh lima tahun.


Seketika Ryuzen pada akhirnya memilih untuk, menepikan motornya di sebuah kafe yang berada di dekat salah satu area olahraga esktrim. Disana juga terlihat banyak pemuda yang tengah unjuk kebolehan.


"Ayo!" Ajak Ryuzen, meminta Sara untuk menggenggam tangannya, dan langsung dilakukan oleh Sara.


"Ryuzen, tempat ini seperti tempat anak-anak muda di kota ini menghabiskan kegiatan malam mereka bukan sih?"


"Ya tepat sekali! Sejak dulu, distrik tujuh belas memang surganya anak muda di kota ini," jelas Ryuzen yang kemudian mengajak Sara duduk di salah satu meja di kafe tersebut untuk menemaninya, memesan secangkir kopi. Di atas meja Ryu mendapati Sara terlihat menggosok-gosokan telapak tangannya yang terasa dingin, yang kemudian sesekali ia dekatkan ke mulutnya agar bisa di hembuskan udara hangat dari mulutnya.


"Kau kedinginan?"


Sara mengangguk pelan. Ryuzen pun langsung menggosokan kedua telapak tangannya, kemudian diraih dan di genggamnya kedua tangan Sara dengan erat-erat ke dalam genggaman tangannya yang hangat.


"Sekarang sudah hangat?"


"Ya, sudah lebih baik," balas Sara yang kini tangannya terasa begitu hangat berada di dalam genggaman tangan suaminya itu.


Dan lagi-lagi, Sara terlihat kembali memandangi suasana di sekelilingnya. Ia merasa bisa melihat dengan jelas apa yang ia saksikan disekitarnya saat ini jika, hampir sembilan puluh persen pengunjung kafe ini adalah anak muda. Dan rata-rata dari mereka adalah sepasang kekasih. Ryuzen yang melihat Sara menatap tiap sudut ruangan restoran dengan tatapan aneh dan bingung pun, tak kuasa untuk langsung menegurnya dengan pelan. "Hei, kau sedang memperhatikan apa sebenarnya?"


Sara menatap Ryuzen, lalu berbicara dengan nada bisik-bisik "Ryuzen, apa kita tidak terlalu tua untuk berada disini? Kita kan bukan anak muda lagi, anakku saja sudah hampir dua," ujar Sara.


"Lalu?"


~~


"Maaf menunggu, ini kopi pesanannya," ucap pelayan kafe tersebut dengan santainya mengantarkan secangkir kopi pesanan Ryu tadi.


"Hei pelayan!" Ryuzen memanggil kembali pelayan perempuan yang baru saja mengantarkan pesanannya itu ke mejanya, agar kembali ke tempat Ryuzen dan Sara.


"Iya, apa ada lagi yang bisa ku bantu untukmu?" Tanya pelayan tersebut.


"Tidak! Aku hanya mau kau bawakan aku susu hangat untuk pacarku yang cantik ini," ujar Ryuzen sambil menatap Sara dan tersenyum seraya menggodanya.


"Baiklah, pacarmu baik sekali nona. Kau terlihat malu-malu, kau pasti baru lulus SMA ya?" Ujar si pelayan dengan nada santai cenderung menebak-nebak, dan kemudian pergi.


"Kau lihat? Pelayan itu saja mengira kau baru lulus SMA." Ledek Ryuzen.


Sara tertawa geli, "Heh, dia tidak tahu saja kalau sebenarnya, aku adalah wanita yang sedang hamil dan punya seorang anak laki-laki yang sudah sekolah."


"Jadi, malam ini. Kita berkecan layaknya anak\-anak muda disini ya? Pa-car-ku?" Ujar Ryuzen lalu mengerlingkan sebelah matanya. Sara pun dengan malu-malu mengangguk setuju.


~~


Setelah istirahat di kafe tadi. Mereka pun memutuskan untuk menikmati malam mereka layaknya pasangan muda lain yang ada disini. Berpegangan tangan, makan popcorn berdua, menonton pertunjukan olahraga esktrim bersama. Sara terlihat sangat senang, seolah sejenak ia bisa melupakan masalah-masalanya sebagai orang dewasa. Bahkan dirinya sejak tadi, terlihat tidak pernah melepas rangkulannnya dari lengan Ryuzen yang nyaman itu. Sara juga terlihat agak lebih manja pada suaminya saat ini, persis seperti abg yang baru pertama kali pergi berkencan. Hingga dirinya tiba-tiba sadar, dan mendengar ada sekumpulan gadis muda yang memperhatikannya dengan Ryu, sambil berbisik bisik.


Eh kalian lihat pasangan itu! (Sara dan Ryu) mereka serasi sekali ya?


Iya kau benar.


Tapi aku rasa, aku lebih cocok jadi pacarnya si laki-laki itu dibanding dia.


Heh dasar genit!


Em... tapi, kenapa mereka mirip seperti pasangan yang ada di majalah itu ya? Wanitanya itu mirip dengan Sara Chen yang kemarin kasusnya sangat viral itu.


Oh iya mereka mirip Tuan Han dan Nona Sara kan? Tapi mereka kan orang dewasa mana mungkin ketempat seperti ini, sepertinya tidak mungkin, orang kaya raya ke tempat ini.


Sara yang merasa risih dengan obrolan para gadis yang tengah membicarakannya itu, pun langsung meminta Ryuzen agar segera pergi dari area tersebut.


"Ryu, kita pergi dari sini ya.. aku mulai lelah!"


"Kalau begitu biar aku gendong saja,"


"No! Tidak usah, aku hanya mau kita pergi saja dari tempat ini." Tidak mau membuat Sara kesal Ryuzen pun langsung menuruti maunya itu, dan kembali ke tempat awal.


~~


Akhirnya Sara dan Ryuzen pun meninggalkan tempat tadi, dan memilih kembali tempat Ryu memarkirkan motornya. Mereka berencana pergi berkeliling lagi sebelum akhirnya pulang. Tapi karena tidak ingin Sara terlalu lelah, Ryuzen meminta agar Sara menunggunya di dekat kursi taman saja, sementara dia megambil motornya. Sara pun mengiyakan hal tersebut, terlebih dirinya memang sedikit agak lelah jadi bisa beristirahat senjenak. Tapi siapa sangaka, dirinya yang sedang nyaman duduk menunggu sang suami malah tiba-tiba di hampiri oleh empat orang pemuda, yang sepertinya mereka adalah sekelompok kawanan geng. Mereka datang menghampiri Sara lalu menggodanya.


"Hai cantik kau sendirian? Mau kami temani?" Ujar salah satu laki-laki itu.


Sara pun spontan memasang wajah tidak peduli, karena sejatinya ia malas meladeni pria-pria yang sepertinya usianya masih dibawahnya itu. Dasar anak-anak muda kurang kerjaan, mengganggu ibu hamil yang sedang istirahat saja! Pekik Sara dalam hatinya.


Sara yang sudah mencoba diam dan tidak menggubris para pemuda itu, agar tidak terjadi masalah malah sebaliknya, para pemuda itu justru semakin menggoda dan mengganggunya. Sara yang tidak bisa diam saja pun akhirnya angkat bicara.


"Kalian anak muda, biar kuberitahu. Aku ini lebih tua dari kalian, jadi tidak bisakah kalian bertingkah lebih sopan padaku?"


"Dengar! Kalian ini masih muda, tapi sepertinya... kalian masih perlu belajar sopan santun pada wanita!" Tegas Sara yang kini sudah berdiri dari duduknya. Merasa tidak senang diberitahu begitu, salah seorang pemuda itu malah makin nekat mengganggu Sara. "Dibalik wajah cantik dan polos itu, kau ternyata galak juga ya kak! Tapi aku tidak akan pergi sebelum kau ikut dengan kami." Pria itu mulai memaksa dan mulai berani mencoba menarik tangan Sara, tapi untungnya langsung ditepis oleh seseorang yang tiba-tiba datang dari belakang Sara.


"Berani menyentuh wanitaku sedikit saja, aku pastikan nyawamu sebagai tebusannya!" Ujar Ryuzen dengan nada berat, dengan sorot matanya yang tajam menatap laki-laki yang mencoba mengganggu istrinya itu.


Laki-laki itu memeganggi tangannya yang tadi dihempas oleh Ryuzen. Sial tanganku sakit sekali di hempas olehnya.


"Kau itu siapa memangnya?" Ujar salah seorang pemuda dari geng itu, dengan nada menantang.


"Kau bertanya aku siapa?" Ryuzen tertawa kecil


"Dia suamiku!" Jawab Sara dengan tegas dan jelas.


Seketika wajah para pemuda itu langsung terlihat kaget dan menganga. Mereka seperti tidak percaya jika, ucapan Sara yang mengaku istri Ryuzen itu adalah fakta.


"Apa buktinya kalian sudah menikah?" Tanya pemuda itu yang masih belum percaya.


Tidak percaya? Baiklah...


Ryuzen tiba-tiba menarik Sara kedekapannya dan mencium bibirnya di hadapan para pemuda itu. Sontak mereka pun lagi-lagi dibuat menganga melihat sepasang suami istri itu berciuman cukup lama, dan kemudian berhenti.


"Anak kecil seperti kalian belum boleh melakukan ciuman seperti itu, lebih baik kalian pulang saja. Dan kerjakan tugas dari dosen kalian!" Ujar Ryuzen, yang mana membuat salah satu dari pemuda itu naik pitam dan mencoba untuk memukulnya.


"Dasar pria tua, sok tahu!" Ryuzen pun langsung menahan pukulan itu dengan satu tangannya.


"Ryu..." liri Sara.


Ryuzen tersenyum dingin. "Awalnya aku pikir kalian anak-anak yang masih bisa diberitahu. Tapi sepertinya tidak, baiklah kalau kau mau di ajari dengan cara seperti ini!" Ryuzen tiba-tiba memelintir lengan pemuda itu pelan yang kemudian perlahan makin kuat, hingga pria itu meringis kesakitan.


"Minta maaf pada istriku, atau aku buat lenganmu dan teman-temanmu hilang selamanya!" Suara Ryuzen terdengar pelan namun mengintimidasi.


"Ryu..." Sara sebenarnya agak tidak tega melihatnya, tapi dirinya tahu Ryuzen hanya memberi pelajaran pada para pemuda itu.


"Sakit...! Jangan patahkan lenganku! Ba- baik tu-an, aku... da- dan, teman-temanku akan minta maaf pada istrimu tuan...!"


"Umm... baiklah!" Ryuzen pun akhirnya melepaskan pemuda itu. Dan para pemuda itu pun akhirnya meminta maaf pada Sara, dan berjanji bahwa mereka tidak akan lagi berlaku tidak sopan pada siapa pun kedepannya. Para pemuda itu pun dengan terbirit-birit pergi dari hadapan Ryu dan Sara.


"Cih! Anak muda jaman sekarang!" Ejek Ryuzen, dan sebaliknya Sara malah cekikikan kecil. "Ada apa?" tanya Ryuzen melihat Sara yang malah cekikikan begitu.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa kasihan saja pada para pemuda tadi. Kau merasa agak keterlaluan tidak sih pada mereka? Pasti tangannya sakit!"


"Tidak! Bagiku tidak ada kata kasihan untuk orang yang sudah berani mengganggu istriku!"


Sara tiba-tiba mengecup pipi Ryuzen lalu berkata, "Terima kasih ya suamiku! Karena selalu menjagaku dan melindungiku." Ryuzen pun hanya bisa tersenyum senang, mendapati istrinya yang terlihat bahagia karena dirinya itu. Ryu sangat senang bisa membuat Sara bahagia, karena itu memang itulah tujuan hidupnya.


"Jadi masih mau berkencan kemana lagi?"


Sara menggeleng, "Sejujurnya aku lebih suka kita jadi pasangan suami istri yang biasanya saja. Tapi... terima kasih ya, karena sudah membuatku jadi bisa merasakan masa-masa muda yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan."


"Kau tidak perlu berterima kasih, karena membuatmu bahagia adalah hak dan kewajibanku."


"Aku mencintaimu Ryuzen," ujar Sara dalam hatinya dengan penuh cinta.


"Aku pun padamu!" Mereka pun beberpelukan


Beberapa saat sebelum akhirnya mereka benar-benar kembali pulang.


~~


Keesokan harinya...


Sesampainya di tokon, lagi-lagi Sara mendapati jika dirinya kembali dikirimi buket bunga tulip dengan warna yang berbeda. "Kali ini, apa dari orang yang sama lagi? Huft sebenarnya siapa pengirimnya?" Tanya Sara pada Rina dan yang lain. Tentu saja mereka tidak menjawab, karena mereka pun tidak tahu siapa nama orang yang memberikan bunga tersebut padanya.


Sebenarnya siapa kau yang mengirimkan bunga ini?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian semua, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf karena seringkali tidak bisa update harian, dikarenakan author juga punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐Ÿ™


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.


Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐Ÿ˜Š


FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..๐Ÿ™