Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 137


Sara mengangkat tubuhnya yang membungkuk itu, dan kembali ke posisi tegap. Kemudian didongakan kepalanya ituke atas, seketika ia pun kaget saat melihat pria yang sudah tidak asing lagi baginya. "Ryu-zen, kau sudah pulang?" Sara tiba-tiba terlihat gugup di hadapan suaminya itu.


"Kenapa kau melihat suamimu sendiri, seperti melihat hantu?"


"Oh tidak kok... aku hanya kaget saja, karena kau datangnya tiba-tiba..." Sara tidak berani menatap wajah Ryuzen yang ia rasa saat ini sedang marah. Tapi sebaliknya, Ryuzen justru semakin mencondongkan tubuhnya dan terus menatap Sara dengan lebih dekat.


"Kau, habis dari mana?" Tanya Ryuzen tiba-tiba.


Wajah Ryuzen kini begitu dekat dengannya. Padahal sudah terbiasa berkontak tubuh sedekat ini tapi kenapa aku malah gugup begini?


"Ka- kau tau dari mana aku habis pergi keluar?"


"Aku tadi ke tokomu dan mereka bilang kau izin pergi ke minimarket, seingatku kau sudah lama meninggalkan minimarket tapi kenapa kau baru pulang jam segini?" Pria ini kenapa selalu saja bisa mengintimidasi siapa lawan bicaranya. Termasuk istrinya sendiri.


Aku harus jawab apa sekarang? Apa lebih baik aku ceritakan saja sesungguhnya apa yang terjadi. Ya... sepertinya memang harus ceritakan hal ini padanya. Alhasil dengan segala keyakinannya, akhirnya Sara memutuskan untuk mencaritakan soal Renji pada Ryuzen, tapi apa dia akan percaya?


"Sara... tatap mataku jika aku sedang berbicara denganmu!" Ryuzen mencubit dagu istrinya itu, mendongakan wajah cantik itu ke hadapan wajahnya. Sara benar-benar gugup saat ini, ia agak bingung ingin mulai bercerita darimana. Ditambah Ryuzen yang sepertinya sedang marah membuatnya agak takut untuk buka suara.


"Kau mau mengatakan apa?" Seperti biasanya, Ryuzen seolah bisa membaca apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya tersebut.


Kita lihat Sara, apa kau masih mau menutupi semua dariku?


"Ryu... sebenarnya aku tadi, tidak langsung pulang. Aku... aku tadi mampir untuk membeli es krim di dekat taman kota danー"


"Dan?" Ryuzen menekankan kata itu, menunggu kelanjutan ucapan Sara yang terhenti.


"A- aku bertemu pria bernama Renji Haoran di taman diaー"


"Dia pria misterius yang selama ini mengirimu bunga itu?" Mata Sara terbuka lebar-lebar menatap Ryuzen. "Dari mana kaー"


"Darimana aku tahu itu tidak penting! Yang ingin aku tanyakan adalah..." Ryu mendekatkan bibirnya ke telinga Sara. "Kenapa aku harus tau soal ini dari orang lain! Sebenarnya kau anggap aku apa Sara...?"


Tubuh Sara gemetar, ia bisa merasakan jika suaminya itu merasa kecewa dan marah sekali padanya saat ini. Tapi dirinya tidak bermaksud untuk menutupi hal ini selamanya dari Ryuzen. "Ryuzen, aku..."


"Kenapa kau sering kali seperti ini?" Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar marah saat ini. Sara bisa tahu dari hanya mendegar geraham giginya yang saling mengatup.


"Ryu, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini darimu. Aku hanya mencoba untuk tidak selalu bergantung padamu."


"Tapi yang aku ingin kau selalu bergantung padaku!" Kali ini dengan nada tinggi Ryuzen mengatakan hal itu pada Sara.


"Maafkan aku..," lirih Sara dengan nada penuh penyeselan.


"Sudah berapa lama kau kenal dengan pria itu (Renji)?"


"Se- sebenarnya... aku sudah mengenalnya jauh sebelum kasusku dengan Biyan Dao di pengadilan itu terjadii. Aku memang kenal dengannya, karena dia bilang saat itu dia adalah RenHao penulis buku favoritku."


"Jadi begitu ya? Bodohnya..." ujar Ryuzen datar, dan kepalanya menunduk. Tapi bukan menunduk menatap ke arah Sara..


"Maaf...., Tapi Ryuzen, aku sebenarnya juga ingin tahu, sebenarnya ada apa antara dirimu dengan Renji?" Ujar Sara terdengar ragu-ragu menanyakan hal itu.


Kenapa dia menatapku begitu? Apa... dia marah padaku karena pertanyaanku? Tapi kenapa? Meski sudah biasa terlihat oleh suaminya dalam keadaan tanpa busana. Tapi jika ditatap seperti sekarang ini, tentu Sara akan bergidik ngeri juga dibuatnya. Matanya yang tajam bak serigala kelaparan itu, seperti tak berkedip sama sekali memandannya.


Sara pun mencoba mendekati tubuh suaminya itu dengan perlahan. Ia mengangkat kedua tangannya bermaksud membelai wajah Ryuzen saat ini, namun tidak disangka, bukan menerima perlakuan Sara itu seperti biasanya, Ryuzen malah langsung menghentikan tangan Sara yang ingin menyentuhnya, dengan langsung menggenggam kedua pergelangan tangannya.


Sontak, hal itu membuat Sara sangat terkejut dan tidak menyangka. "Ryu... ada apa denganmu sayang, kau benar-benar semarah itu padakukah?" Tanya Sara dengan suara yang bergetar. Permukaan kulit tangan Sara pun mulai terasa sakit, karena cengkeraman Ryu di kedua pergelangan tangannya. Tapi Ryuzen tetap saja diam dan tidak menjawab, sorot matanya justru terlihat semakin liar dan mengintimidasi.


Ryuzen! Kau... Sara membelalak kaget. Tiba-tiba Ryuzen mencium Sara dengan kasar, mulai dari bibirnya, leher, hingga ke kebagian tubuh yang tadinya tertutup handuk, namun sudah tidak lagi karena dilepas paksa oleh suaminya itu. Sara bahkan di dorongnya hingga terpelanting di atas ranjang. Marah satu kata yang mungkin bagi Sara mendeskripsikan keadaan suaminya saat ini.


"Ryu..." lirih wanita itu. Ryu tidak mempedulikannya dirinya justru menarik dasinya dari lehernya dengan kasar, sambil terus saja, menghidu, menciumi, dan melahap istrinya tersebut. Hal yang sangat umum dan lumrah dilakukan oleh suami pada istrinya. Tapi kali ini berbeda, bagi Sara... melihat Ryu saat ini seperti mengingatkan Sara pada pria enam tahun lalu, yang memaksanya untuk memenuhi hasratnya.


Air mata itu mulai menerobos keluar dari pelupuk mata Sara. Rintihannya kini bercampur dengan suara tangisnya yang membuat tubuhnya gemetar. "Maafkan aku..." lirih Sara yang kini hanya pasrah oleh apa yang dilakukan suaminya itu.


Denyut nadi Ryuzen seketika bergetar, jantungnya seperti tertusuk belati panas kala mendengar rintihan sedih, terlontar dari mulut belahan jiwanya tersebut. Ryuzen menarik tubuhnya dengan segera, menjauhi Sara yang kini tebujur lemas dan ketakutan di atas ranjang tempat mereka biasa bersenggama.


"Sara...!" Lirih pria itu dengan penuh rasa bersalah. Ryuzen ragu-ragu medekatkan dirinya pada Sara. Dirinya yang kini hanya bisa menyaksikan wanitanya itu menangis membuat batinnya tersiksa.Tapi disisi lain ia masih begitu kecewa pada Sara. Aku ingin sekali mencabik dan mekakannya saat ini untuk menghukumnya. Tapi Ryuzen yang ingin menyentuh Sara langsung mengurungkan niatnya itu, ia menarik kembali tangannya. Ia takut emosinya kembali tak terkontrol jika dirinya mendekati dan menyentuh istrinya itu.


"Maaf aku sudah menyakitimu Sara..." bisik Ryuzen sambil menutupi tubuh polos istrinya itu dengan sebuah selimut.


Ryuzen lalu mengambil jasnya dan kemudian pergi meninggalkan Sara seorang diri di kamar. Sara yang masih meringkuk di atas ranjang, dengan keadaan tubuhnya yang hanya terbungkus selimut untuk menutupinya, tampak begitu syok, takut, dan bersalah atas semua ini.


Melihat sikap suaminya tadi, dirinya seolah dibawa ke masa lalunya dengan Ryuzen yang menyedihkan. Di sisi lain dirinya juga merasa bersalah menyadari semua ini terjadi karena salahnya yang menutupi hal ini. Seharusnya aku sadar diri, jika tidak semua hal bisa aku hadapi sendiri


Ryuzen tampak kacau, bahkan ia terlihat menyetir mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.Wanita bodoh! Kenapa selalu berakhir seperti ini? Tidak bisakah kau memahami diriku! Ryuzen mengehentak kemudinya, dan mempercepat lajunya hingga diatas 100 kilometer per jam.


Tidak bisakah kau hanya bergantung padaku saja? Aku ingin selalu menjadi yang pertama yang kau butuhkan. Kenapa kau seringkali tidak percaya padaku...? Aku jelas bukan pria yang baik, tapi untukmu... apapun itu, akan selalu aku lakukan yang terbaik dari yang terbaik.


Ryuzen memegangi keningnya dengan wajah yang tampak frusatasi dan semrawut. Dan kenapa? Kenapa harus orang itu yang terlibat diantara kita! Renji Haoran, tidak akan kubiarkan kau melakukan apapun sesuka hatimu!


Terkadang bergantung pada orang yang kau cintai adalah salah satu cara untuk membuktikan, jika kau memang yakin dengan kejujuran hatimu.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.


Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98 karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏