Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chapter 113 : Guilty


Sementara itu, Sara dan Rony pun memutuskan untuk berhenti sejenak, dan duduk di kursi yang ada di pinggir danau sambil menikmati minuman hangat yang mereka beli tadi.


"Terima kasih," ucap Sara, pada Rony saat ia memberikan jaketnya untuk menghangatkan Sara yang memang hanya menggunakan dress biasa.


Sejenak mereka hanya saling diam, Sara hanya memandangi gelas yang berisi coklat hangat ditangannya. Hingga pada saatnya Rony pun mulai berujar,


"Sara..,"


"Ya, Rony...." sahut Sara yang matanya masih saja memandangi gelas ditangannya dengan tatapan sendu.


"Mau sampai kapan kau bertahan dalam hubungan tidak jelas seperti ini, dengan pamanku?" Rony kemudian menyeruput kopi di gelas yang berada ditangannya.


Sara tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Rony.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu harus sampai kapan begini."


"Sara, bercerailah dari Pamanku!" ujar Rony tiba-tiba.


Sara tersentak, ia meletakan minuman hangatnya di sebelah ia duduk.


"Kau tahu Ron ada pepatah mengatakan, disaat kita memberikan seluruh hati kita kepada orang yang bahkan tidak menginginkannya, maka hal itu akan menjadi salah satu hukuman terberat dalam hidup yang harus kita terima," pungkas Sara dengan tatapan sendu dihiasi senyum palsu diwajahnya.


"Sara..., aku mohon padamu ceraikan Ryuzen Han dan beri aku kesempatan!" Rony meraih tangan Sara dan menggenggamnya.


"Aku memang tidak sekaya dan sehebat Paman, tapi aku yakin aku bisa memberikan apa yang tidak bisa ia berikan padamu," ungkap Rony penuh harapan dan keyakinan dihadapan Sara.


Sara menarik tangannya dari genggaman Rony.


"Rony, kau pria yang baik, dan kau berhak mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan segenap hati. Jadi aku mohon padamu jangan memintaku untuk melakukan hal yang mungkin aku tak bisa lakukan untukmu," jelas Sara.


Rony benar-benar merasa kecewa dengan ucapan Sara, namu ia menyembunyikannya dengan tersenyum pahit, dan mencibir.


"Heh, Sungguh hidup kadang menyedihkan. Wanita sebaik dirimu harus terjebak dengan pria brengs*k seperti pamanku itu!"


Entah mengapa Sara tidak suka mendengar Rony mengatakan hal itu tentang Ryuzen,


"Rony bagaimana pun dia pamanmu, Ayah dari anakku jadi aku harap kau jangan benci dia terlalu dalam. Aku tidak ingin hubunganmu dan Ryuzen rusak karena aku," ucap Sara terdengar sedih.


"Ini bukan salahmu Sara, kau sama sekali tidak bersalah!" balas Rony.


"Justru pamanku yang menghancurkan hubunganku denganmu! Sara aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada Ryuzen. Aku pasti akan melepaskanmu darinya, dan perlahan mendapatkan hatimu," ujar Ryuzen dipikirannya.


Sara yang merasa udara semakin dingin pun bermaksud meminum coklat panasnya, tapi malah,


"Aww...," Sara tak sengaja menyenggol Coklat panasnya hingga terkena tangannya.


Rony pun khawatir dan spontan langsung memegang tangan Sara dan meniupnya supaya tidak kepanasan.


"Panas sekali ya?" ucap Rony.


"Lumayan," balas Sara yang juga ikut meniupi tangannyan yang tekena air coklat panas.


~~


Sementara itu, Ryuzen di perjalanan pulang ke Villa


menyetir dengan kecepatan lebih dari 100km/jam, Ryuzen kini terlihat marah, tatapanya begitu garang


"Sara, tidak bisakah kau berhenti menjadi teka-teki?Apa maumu sebenarnya? Kenapa aku harus melihatmu dengan Rony untuk kesekian kalinya?!"


Ryuzen makin menaikan kecepatanya hingga 120 km/jam.


"Dan kau Rony! Jadi kau benar-benar ingin menguji batas kesabaranku kah?" Ryuzen semakin benar-benar terlihat marah dan terus melajukan mobilnya.


Sara akhirnya pulang diantar oleh Rony ke villa. Sara yang sudah membuka pintu, berjalan menuju ruang utama, tapi Sara justru dibuat kaget bukan main oleh penampakan Ryuzen yang tengah terduduk mematung di single sofa. Kemeja Ryuzen yang tadi Sara lihat terkhir kali masih rapih, kini sudah tidak lagi, kancingnya terbuka hingga setengah dada bidangnya terlihat mencuat dari dalam.


"Eh, Kau sudah pulang ya ternyata...." ungkap Sara kikuk, takut Ryuzen bertanya hal-hal yang sulit untuk ia jawab.


"Ryuzen kau lapar tidak? Kau sudah makan malam atau belum, mau aku buatkan apa untuk makan malam?" tanya Sara panjang lebar.


Anehnya Ryuzen tetap saja tidak bergeming sama sekali, tidak seperti biasanya yang akan langsung mematahkan semua perkataan yang keluar dari mulut Sara. Ryuzen justru tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menatap Sara dengan tatapan bak serigala yang siap menerkam mangsanya.


Ryuzen mendekati Sara, Sara terlihat agak takut melihat Ryuzen yang seperti ini, dingin, kejam dan terlihat sangat mengerikan.


"Kau darimana?!: ucap Ryuzen dengan suara beratnya yang terdengar sangat menakutkan dan mengintimidasi.


"Aku, aku... hanya...."


"Jawab aku!" Bentak Ryuzen, yang berhasil membuat Sara tersentak kaget luar biasa.


"Ryuzen kenapa, ada apa denganmu?"lirih Sara sambil ketakutan.


"Aku bertanya, kau pergi dengan siapa dan kemana?! Kau bisa dengar kan!" ujar Ryuzen marah.


Sara tidak menjawab ia benar-benar takut pada sosok Ryuzen yang ada di hadapannya saat ini.


"Heh, tidak mau jawab? Kalau begitu biar aku hukum dirimu saja," ungkap Ryuzen menatap liar pada Sara.


Ryuzen tiba-tiba langsung mencengkram kedua lengan Sara dengan cukup kuat hingga Sara merasa kesakitan, mendorong tubuh Sara bersandar didinding diikuti dengan kakinya mengunci pergerakan kaki Sara, Ryuzen menciumi tubuh Sara dengan liar bak serigala lapar menyantap buruannya.


Sara tidak berkata apa-apa, air mata kini sudah meluap dari pelupuk matanya. Sara menangis tanpa Suara, yang ada di pikiran Sara saat ini hanyalah, melihat Ryuzen yang dihadapannya saat ini, seperti membawanya kembali pada kejadian pahit enam tahun yang lalu, Ryuzen brengs*k yang menghancurkan hidupnya enam tahun yang lalu seolah hadir dihadapannya Sara saat ini.


Sara menangis dan merintih kesakitan tangannya dicengkram begitu kuat oleh Ryuzen yang kini seperti hilang kendali atas dirinya. Mendengar isak tangis dan rintihan Sara, Ryuzen menatap Sara yang matanya sudah dipenuhi air mata dan rasa takut diwajahnya.


Entah apa yang terjadi pada Ryuzen, Ryuzen tiba-tiba melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Sara dan dengan cepat, mengambil vas bunga kecil diatas meja yang ada di dekatnya, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri.


#Prakkk.. Suara vas pecah yang dihantam ke kepala Ryuzen.


Sara semakin dibuat ketakutan hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan, dengan mata terbelalak melihat dahi sebelah kanan Ryuzen berdarah. Sara mencoba mendekatinya tapi Ryuzen justru menjauh darinya.


"Ry... Ryuzen, kepalamu...." Sara mencoba menyentuh Ryuzen.


"Jangan mendekat Sara!" pekik Ryuzen takut dirinya hilang kendali lagi seperti tadi.


"Tapi... kepalamu berdarah!" seru Sara khawatir.


Ryuzen tanpa berkata apa-apa malah langsung pergi dan menuju ke lantai dua dengan keadaan dahinya yang berdarah.


~~


Ryuzen memasuki kamar mandi untuk membersihkan luka di kepalanya.


Pada dasaranya ia memang sengaja membenturkan vas itu ke kepalanya sendiri untuk menyadarkan dirinya yang lepas kontrol dan dibawah pengaruh alkohol, Ryuzen takut sekali jika tragedi enam tahun lalu akan terulang lagi, Ryuzen tidak mau sampai menyakiti Sara untuk kedua kalinya.


"Maafkan aku yang lepas kendali atas dirimu Sara. Aku benci, aku cemburu melihatmu bersama dan disentuh pria lain sampai-sampai aku ingin sekali rasanya membunuh pria itu. tapi pria itu adalah Rony keponakanku sendiri."


(Ternyata Ryuzen sempat melihat Sara bersama Rony dipinggir danau tadi)


"Argh... sial!" geram Ryuzen di depan kaca wastafel merasa begitu menyesal.


~~


Like, comment dan jangan lupa Vote. ๐ŸŒน


FYI : Noveltoon versi baru udah hadir, jadi yang belum update segera update ya ๐Ÿ˜‰