
Keluarga kecil itu nampak sangat berbahagia menikmati sarapan pagi mereka. Tanpa suara ponsel berdering mengganggu seperti biasanya. Kebetulan toko hari in tutup sehingga Sara bisa bersantai hari ini. Pun begitu dengan Ryuzen yang sejak tiba di vila sama sekali tak menyentuh ponselnya. Hanya ada suara alat makan yang saling bersentuhan diikuti senda gurau ringan dari keluarga kecil itu.
"Arvin, kenapa kau tadi membuang muka pada Sara?" tanya Ryuzen tiba-tiba pada putranya yang tengah menikmati sepotong pancake di hadapannya.
Arvin tak menjawab, ia masih terus saja mengunyah makanannya.
"Arvin...." ujar Ryuzen sekali lagi.
Arvin menelan makanannya kemudian menatap sang papi yang sudah sejak tadi menatapnya.
"Aku..., aku hanya kesal saja. Aku kesal dengan kalian para orang dewasa yang selalu saja jika ditanya sesuatu, selalu saja berpura-pura tidak ada masalah. Padahal jelas-jelas aku tahu ada masalah, " ungkap Arvin.
Sara yang tadinya akan menyuapkan menu sarapan ke mulutnya pun, tiba-tiba berhenti dan tidak jadi memakannya setelah mendengar di lontarkan Arvin barusan.
Ryuzen sendiri justru langsung mengernyitkan dahinya kemudian tersenyum geli.
"Apa Papi marah dengan perkataanku barusan ya?? " tanya Arvin dengan polosnya.
Sekali lagi Ryuzen kembali tersenyum geli di depan putranya tersebut.
"Kenapa malah tersenyum seperti itu, huh?" tanya Arvin protes.
"Tidak apa. Ternyata kau memang benar-benar anakku," tandas Ryuzen diikuti gelak tawanya yang terlihat lepas.
Di sebelahnya Sara hanya bisa ikut tersenyum kecil. Tatkala melihat sang suami yang jarang sekali, bahkan hampir tak pernah terlihat tertawa lepas, hari ini bisa tertawa dengan lepas saat bersama.
Sesederhana inikah kebahagiaan? Mungkin ya bagi beberapa orang. Begitupun diriku, tak ada yang lebih indah dibanding melihat orang-orang yang paling berharga dalam hidupmu saling bercengkramam Bahkan jika dihadapkan dengan apapun yang berkilau di bumi ini.
Ryuzen menoleh, menatap ke arah Sara yang tengah memperhatikan dirinya saat itu.
"Kenapa kau tersenyum ke arahku seperti itu?" tanya Ryuzen sambil menyipitkan matanya.
"Memangnya kenapa?" balas Sara menatap balik sang suami.
"Tidak apa, hanya saja kalau begitu aku jadi lebih tertarik untuk memakanmu." Ryuzen menatap istrinya dengan tatapan nakalnya.
"Bisa tidak sih, kau itu kalau mau bicara yang begitu lihat situasi sedikit," protes Sara pada suaminya tersebut.
"Memang kenapa kalau aku bicara begitu pada istriku sendiri?" dengan entengnya Ryuzen berujar.
"Ahem!" terdengar suara berdeham yang dibuat oleh Arvin. Sara dan Ryuzen pun sontak menoleh ke arah Arvin yang tengah merasa dirinya terabaikan.
"Aih, kasihan sekali aku ini. Punya orang tua tapi mereka malah sibuk mesra-mesraan dan mengabaikan aku," ujar Arvin yang wajahnya kini terlihat mutung.
Melihat sang putra seperti itu Ryuzen pun buka suara, "Baiklah, selesaikan sarapannya. Setelah itu kita jalan-jalan keluar."
Wajah cemberut laki-laki kecil menggemaskan itu seolah sirna perlahan, mendengar apa yang baru saja di ucapkan sang papi.
"Jadi kita bertiga akan jalan-jalan ke luar?" Arvin mencoba memastikan apa yang dikatakan oleh Ryuzen barusan adalah sungguhan.
Ryuzen pun hanya mengangguk dan kemudian menyesap kopi dicangkir yang dipegangnya. Senyum bahagia pun tersungging di wajah Arvin. Ia pun dengan lahap meneruskan sarapannya.
"Memang kau mau mengajak kami kemana?" tanya Sara yang juga tidak kalah penasaran dengan ajakan Ryuzen.
"Nanti juga kau akan tahu," tutur Ryuzen yang kemudian mencubit pelan hidung mancung kecil istrinya itu.
Setelah selesai sarapan. Ryuzen pun bangkit dari duduknya bersiap untuk ganti pakaian formalnya menjadi pakaian yang lebih santai. Begitupun dengan Arvin yang bersiap berganti pakaian. Sedangkan Sara sendiri kin tengah memberesakan alat makan.
~~
Di tempat lain, dengan wajah penuh rona kebahagiaan, Biyan dengan segelas anggur ditangannya nampak tengah menikmati udara segar dari atas balkon.
Menikmati detik demi detik, hari demi hari sambil menunggu kehancuran sebuah keluarga.
Senyum licik paman Ryuzen itu jelas nampak terurai dibibirnya, seolah tengah berjumawa atas rencananya. Hingga senyum jumawa itu akhirnya nemudar kala ponsel di saku jas Biyan Dao berdering. Ia pun dengan tanpa ragu langsung mengangkatnya.
"Halo?" tukasnya menjawab panggilan sesorang lewat ponselnya.
Kali ini kau akan kalah Ryuzen. Mungkin kata-kata itu yang paling tepat menggambarkan bagaimana perasaan Biyan saat ini.
~~
Di hari Minggu yang cukup cerah, Ryuzen yang kini tengah menyentir mobil akhirnya mengajak Sara dan Arvin untuk pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang pastinya belum pernah di datangi oleh Sara maupun Arvin.
Di kursi belakang Arvin terus saja memandang ke arah luar kaca mobil, memperhatikan dengan seksama jalanan yang dilewatinya tersebut. Jalan yang bagi Arvin adalah jalanan yang terasa sangat asing baginya. Entah dirinya tidak tahu kemana sebenarnya sang papi ingin membawa dirinya dan Sara saat ini. Sampai pada titik puncak dahaga penasarannya yang tak kunjung reda, pria kecil itu pun akhirnya bertanya.
"Papi sebenarnya kau mau mengajak aku dan mami kemana sih?"
Ryuzen tak menjawab dan hanya menyunggingkan senyum kecilnya sambil tetap fokus menyetir mobilnya. Sara yang juga penasaranpun ikut bertanya pada suaminya itu, "Memang sebenarnya kau mau membawa kita kemana Ryu?"
"Jadi kalian benar-benar penasaran ya?" goda Ryuzen pada anak dan istrinya.
"Huh! Menyebalkan," gerutu Arvin mendengar jawaban Ryuzen yang baginya itu terdengar sangat menjengkelkan. Sara yang duduk di sebelah kursi kemudi pun hanya bisa menghela napas. Karena dirinya paham betul suaminya ini memang suka menyebalkan.
Beberapa menit kemudian. Ryuzen perlahan melambatkan kecepatan laju mobilnya, dirinya melajukan mobilnya lamban melewati suatu jalan yang mirip jalan area perumahan yang masih sangatlah asri. Bagaimana tidak, di sepanjang jalannya banyak sekali ditumbuhi pepohonan warna warni yang pancaronanya begitu memanjakan mata.
Wah....
Decak kagum menggema di dalam hati Sara saat ini. Kala dirinya menyaksikan tidak banyak bangunan rumah di sepajang jalan area yang telah mereka lewati. Mungkin hanya sesekali melihat hunian mewah asri yang indah, mungkin bisa dibilang area perumahan cocok jika disebut sebagai area hunian private yang tak banyak para penghuninya.
"Papi, kenapa kau bawa kami kemari?" tanya Arvin yang sejak masihnterus memperhatikan wilayah yang baginya terasa asing itu. Ryuzen yang tanpa berkata banyak tiba-tiba berhenti di depan sebuah mansion yang mewah yang ukurannya cukup besar, meski tak sebesar kediaman utama keluarga Han.
Gerbang otomatis mansion itu pun terbuka. Ryuzen segera mengemudiakan mobilnya memasuki mansion itu. Sara dan Arvin tak berkata apapun, meski banyak pertanyaan berkecamuk dikepala mereka karena bingung tiba-tiba dibawa ke dalam hunian tersebut.
Ryuzen pun menghentikan mobilnya dan mematikan mesinnya lalu meminta pada anak dan istrinya untuk turun dari dalam mobil. Mereka bertiga pun akhirnya sudah keluar dari mobil, Ryuzen dengan wajah santainya berdiri dan menatapi reaksi istri dan anaknya yang masih terlihat bingung.
Arvin pun mendekati Ryuzen menarik blazer yang dikenakan sang ayah dan bertanya, "Papi, ini kediaman siapa?"
"Apa kau punya teman yang tinggal disini?" imbuh Sara melihat ke arah Ryuzen.
Ryuzen mendengkus pelan diiringi seringai kecilnya. Dirinyaa tiba-tiba menggendong Arvin dengan lengan kirinya, dan merangkul pinggang Sara dengan tangan kanannya lalu menatap mansion mewah tersebut sambil tersenyum.
"Bangunan di depan kita ini, bisa juga disebut dengan rumah kita."
Sara membulatkan matanya, mendongak menatap ke arah Ryuzen.
"Ap-apa maksudnya dengan rumah kita?"
Ryuzen mendengkus, "Sara kau ini sudah jadi istrinya Ryuzen Han, tapi kenapa masih saja bodoh dalam menelaah kalimat."
Sara mengerucutkan bibirnya tanda agak kesal mendengar ucapan Ryuzen barusan.
"Papi, jadi nanti kita akan tinggal disini kah?" tanya Arvin antusias.
"Exactly"
"Woahh...keren! Bolehkah aku masuk dan berkeliling di tempat ini?"
"Of course," jawab Ryuzen yang kemudian menurunkan Arvin dari gendongannya. Arvin pun dengan sumringah langsung berjalan menuju ke pintu masuk utama mansion tersebut. Di lain pihak Sara masih saja belum beranjak dari tempatnya berdiri, ia masih berjibaku memandangi sekelilingnya. Melihat Sara yang tak sadar tengah di pandangi olehnya, Keusilan pun muncul di pikiran Ryuzen. Dengan spontan ia menggendong sang istri ala bridal style.
"Eh, Ryuzen turunkan aku!" Sara terus berontak agar suaminya itu menurunkan dirinya.
"Kalau berisik terus aku tidak akan pernah menurunkanmu!" balas Ryuzen yang dengan santai terus saja menggendong Sara mengekor Arvin yang sudah duluan berjalan di depan mereka.
๐น๐น๐น
Thank you for always support me fellas.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, comment, and vote ya...
Happy reading and I hope you like it gaisss. ๐
ย